Malam-malam di kampungku, Sudagaran, Jogyakarta, aku sering diajak teman bermain di pematang. Apalagi kalau habis panen, selalu menumpuk sisa jerami kering yang masih berasap karena dibakar sejak sore. Dan bukan suatu kebetulan kalau sawah tetangga telah ditanami ubi. Salah satu dari kami akan mengendap-endap di antara tanaman lalu kembali dengan beberapa ubi untuk diselipkan ke dalam jerami. Kami bergantian meniup bara jerami agar ubi cepat matang terpanggang. Ada atau tak ada bintang, ada bulan atau tanpa bulan, makan ubi bakar sambil memandang arah gunung Merapi di utara seperti bayangan tumpeng nasi kebuli. Kami menatapnya berlama-lama ke arah gunung. Lampu-lampu berkelip di lerengnya menunjukkan geliat kawasan wisata Kaliurang. Ketika dari puncaknya menyembul lelehan magma berwarna merah, kami menghitung sampai seberapa banyak lahar panas ditumpahkan dari dapur magma. Jika dalam tiga sampai lima hitungan lelehan lahar tak kelihatan lagi, kami akan segera membalik ubi di tumpukan j...
Pengenalanku tentang Gunung dan Orang-orang Sederhana tapi Peduli