Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2008

EPISODE BUKIT KABA, CURUP - BENGKULU

Nah, ini dia Wisata Alam dengan peserta melebihi perkiraan. Tahun 1994, Palaxsa membuat gebrakan kegiatan beruntun: Lomba Foto Lingkungan tingkat SLTA sekodia Palembang, Reli sepeda wisata kota, dan Tour de Kaba. Menurut cerita, Palaxsa diresmikan pertama kali dengan mendaki Bukit Kaba ini. Saya sebagai pendatang baru di Palembang, otomatis tertarik untuk melihat langsung panorama gunung di sini. Rute perjalanan menggunakan transport kereta Sindangmarga dari stasiun Kertapati menuju stasiun Lubuk Linggau. Panitia harus booking ticket kereta dua gerbong kelas bisnis karena musim libur sekolah waktu itu masih caturwulan. Suasana di kereta sangat meriah, guru pendampin, panitia, dan peserta yang penuh semangat dan tak ketinggalan alumni yang masih concern pada kegiatan adik-adik kelasnya. Dari stasiun Lubuk Linggau, rombongan diangkut menuju Simpang Kaba, Curup dengan konvoi angdes mobil bak terbuka dan minicolt station. Udara pagi, jalan berkelok, barang perbekalan penuh sesak, dan sebag...

EPISODE GUNUNG DEMPO

Tahun pertama saya kerja di Palembang, Desember 1992, saya diajak mendampingi anak-anak Pecinta Alam SMA Xaverius 1 sekitar 20-an orang mendaki Gunung Dempo, Pagaralam,Lahat, Sumatera Selatan. Dari Palembang waktu itu berangkat sore hari sekitar pukul 17.30 dengan menyeberangi Sungai Musi naik perahu penyeberangan ke pool bus Telaga Biru di terminal 7 Ulu. Waktu itu terminal Karya Jaya belum selesai dibangun. Kami sengaja memilih perjalanan malam di bus karena berharap sampai sana cepat beradaptasi dengan situasi lingkungan. Untuk pertama kali itu juga yang saya ingat sepanjang perjalanan hanya sekali berhenti untuk makan malam di rumah makan padang Siang-Malam di Prabumulih. Selanjutnya semua serba gelap kecuali suara musik dari kaset sopir dengan lagu irama melayu. Udara dingin menunjukkan perbedaan ketinggian tempat dan waktu yang sudah memasuki dini hari. Karena sudah melakukan kontak interlokal dengan Kepsek SMP Xaverius Pagaralam, rombongan kami diantar sampai ke pelataran sekola...

MEMAKNAI SUMPAH PEMUDA

Bulan Oktober selalu identik dengan aktivitas peringatan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, yang berisikan Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu - bangsa Indonesia, bertanah air satu - tanah air Indonesia, dan menjunjung tinggi bahasa persatuan - bahasa Indonesia. Menjadi gerakan yang sarat kepentingan nasionalisme ketika tahun ini diberi gerakan 100 Tahun Kebangkitan Nasional - Indonesia Bisa! Secara formal, bangsa Indonesia memang satu; tanah air Indonesia juga satu; bahasa Indonesia resmi menjadi bahasa nasional dan bahasa negara. Tetapi, gejolak reformasi dan globalisasi justru memberikan tantangan tersendiri untuk disimak. Banyak orang berebut kekuasaan, berebut kekayaan, dan berebut memikat wanita. Otak saja tidak cukup jernih berpikir ke masa depan, uang berhamburan dengan mengorbankan moralitas, massa dimobilisasi dengan janji kesejahteraan, emosi rakyat dibakar dalam perlakuan hukum dan lapangan kerja. Tak punya modal dan ketrampilan menjadi tumbal kemanusiaan yan...