Nah, ini dia Wisata Alam dengan peserta melebihi perkiraan. Tahun 1994, Palaxsa membuat gebrakan kegiatan beruntun: Lomba Foto Lingkungan tingkat SLTA sekodia Palembang, Reli sepeda wisata kota, dan Tour de Kaba.
Menurut cerita, Palaxsa diresmikan pertama kali dengan mendaki Bukit Kaba ini. Saya sebagai pendatang baru di Palembang, otomatis tertarik untuk melihat langsung panorama gunung di sini. Rute perjalanan menggunakan transport kereta Sindangmarga dari stasiun Kertapati menuju stasiun Lubuk Linggau. Panitia harus booking ticket kereta dua gerbong kelas bisnis karena musim libur sekolah waktu itu masih caturwulan. Suasana di kereta sangat meriah, guru pendampin, panitia, dan peserta yang penuh semangat dan tak ketinggalan alumni yang masih concern pada kegiatan adik-adik kelasnya.
Dari stasiun Lubuk Linggau, rombongan diangkut menuju Simpang Kaba, Curup dengan konvoi angdes mobil bak terbuka dan minicolt station. Udara pagi, jalan berkelok, barang perbekalan penuh sesak, dan sebagian peserta belum sarapan campur aduk di sepanjang perjalanan. Tiba di Simpang Kaba, kami harus jalan kaki sejauh 4 km menuju balai desa Sumber Urip, desa terakhir di kaki Bukit. Balai desa yang sebagian tak terawat kami sulap untuk penempatan istirahat sejenak dan sarapan pagi di warung-warung penduduk. Sementara panitia mengurus izin ke kepala desa, aparat setempat, peserta bebas sejenak mengenal masyarakat di sana.
Setelah perizinan selesai, rombongan tamu dari SMA Xaverius Linggau dan SMA Xaverius Curup bergabung untuk bergerak secara bergelombang karena jalan menanjak dan berdebu di sana sini. Sampai di gerbang jalur pendakian, rombongan dibagi lagi agar tidak saling berdesakan pada jalan setapak menurun ke sungai. Di sini peserta dihibur oleh pancuran air hangat berbelerang yang berasal dari dinding cadas, sementara jalur sungai bawah sedikit debit airnya. dulu jalur sungai ini dipakai sebagai jalur pendakian, tetapi sekarang sudah ada jalur baru lebih menanjak ke sisi kiri sungai. Ada juga jalur mobil ke atas sampai di gardu pandang (seperti Bromo, Pananjakan), hanya tidak diminati pencinta alam yang lebih suka masuk hutan dan jalan terjal banyak pacet.
Di sinilah pelajaran olahraga, biologi, geografi, psikologi, moral, etika, bahasa dikomunikasikan antarguru, siswa, masyarakat yang kita jumpai. Suara air, kicau burung, satwa hutan, tetapi juga nafas, keluh kesah, nyanyian didendangkan bersahutan. Keringat bercucuran setiap langkah bertambah tinggi. Sesekali teriakan gaya tarsan menandai batas-batas jarak peserta dan rombongan lain. Sampai pada suatu punggungan bukit yang terbuka perjalanan telah memakan waktu sekitar 3-4 jam. Ada bangunan rumah/shelter dan dinding beratap beton untuk isitrahat dan makan sejenak. Jika ingin berkemah pun di sini dapat didirikan tenda, tetapi tidak ada sumber air. Untuk memperoleh air, kita harus turun ke lembah cerukan batu yang masih menampung atau mengalirkan air. Sayang, banyak sampah dan kotoran pendaki lain ditinggalkan di sini bercampur air dan tanah. Peserta yang belum terbiasa melihat pemandangan itu menjadi jijik untuk menggunakannya. Tetapi mereka akan menyerah juga karena terpaksa hanya itulah sumber daya alam yang ada demi penghematan air yang mereka bawa.
Untuk ke puncak kawah 1 kita harus menuruni dinding batu tajam tetapi kokoh sampai ke lembah cerukan air. Bila ingin membawa cadangan air, botol jerigen air harus diisi dari sini, belakangan panitialah yang terpaksa malam-malam harus mengambil air dari cerukan batu ini ketika persediaan air menipis. Setelah cerukan, jalur kembali menanjak berbatuan lepas. Oleh sebab itu, peserta harus berhati-hati saat melangkahkan kaki agar tak terpeleset atau jatuh.
Sampai puncak punggungan jalan setapak sempit dan tak ada tumbuhan lagi karena sisi kanan jurang kawah menganga, sedangkan sisi kiri jurang dengan kemiringan terjal menghadang. Dari sini panorama di bawah sangat mempesona bila cuaca serah. Tetapi di sinilah tantangannya: keberanian berjalan di jalan setapak di antara jurang melawan phobia. Lalu menuruni dinidng pasir batu menuju pinggiran kawah berupa hamparan pasir untuk berkemah. Pada musim hujan, dataran pasir yang lebih rendah membentuk danau akibat genangan air yang tertahan di sini. Sekeliling kawah berdiri tegak dinding tebing ke puncak kawah hidup. (Bersambung)
Menurut cerita, Palaxsa diresmikan pertama kali dengan mendaki Bukit Kaba ini. Saya sebagai pendatang baru di Palembang, otomatis tertarik untuk melihat langsung panorama gunung di sini. Rute perjalanan menggunakan transport kereta Sindangmarga dari stasiun Kertapati menuju stasiun Lubuk Linggau. Panitia harus booking ticket kereta dua gerbong kelas bisnis karena musim libur sekolah waktu itu masih caturwulan. Suasana di kereta sangat meriah, guru pendampin, panitia, dan peserta yang penuh semangat dan tak ketinggalan alumni yang masih concern pada kegiatan adik-adik kelasnya.
Dari stasiun Lubuk Linggau, rombongan diangkut menuju Simpang Kaba, Curup dengan konvoi angdes mobil bak terbuka dan minicolt station. Udara pagi, jalan berkelok, barang perbekalan penuh sesak, dan sebagian peserta belum sarapan campur aduk di sepanjang perjalanan. Tiba di Simpang Kaba, kami harus jalan kaki sejauh 4 km menuju balai desa Sumber Urip, desa terakhir di kaki Bukit. Balai desa yang sebagian tak terawat kami sulap untuk penempatan istirahat sejenak dan sarapan pagi di warung-warung penduduk. Sementara panitia mengurus izin ke kepala desa, aparat setempat, peserta bebas sejenak mengenal masyarakat di sana.
Setelah perizinan selesai, rombongan tamu dari SMA Xaverius Linggau dan SMA Xaverius Curup bergabung untuk bergerak secara bergelombang karena jalan menanjak dan berdebu di sana sini. Sampai di gerbang jalur pendakian, rombongan dibagi lagi agar tidak saling berdesakan pada jalan setapak menurun ke sungai. Di sini peserta dihibur oleh pancuran air hangat berbelerang yang berasal dari dinding cadas, sementara jalur sungai bawah sedikit debit airnya. dulu jalur sungai ini dipakai sebagai jalur pendakian, tetapi sekarang sudah ada jalur baru lebih menanjak ke sisi kiri sungai. Ada juga jalur mobil ke atas sampai di gardu pandang (seperti Bromo, Pananjakan), hanya tidak diminati pencinta alam yang lebih suka masuk hutan dan jalan terjal banyak pacet.
Di sinilah pelajaran olahraga, biologi, geografi, psikologi, moral, etika, bahasa dikomunikasikan antarguru, siswa, masyarakat yang kita jumpai. Suara air, kicau burung, satwa hutan, tetapi juga nafas, keluh kesah, nyanyian didendangkan bersahutan. Keringat bercucuran setiap langkah bertambah tinggi. Sesekali teriakan gaya tarsan menandai batas-batas jarak peserta dan rombongan lain. Sampai pada suatu punggungan bukit yang terbuka perjalanan telah memakan waktu sekitar 3-4 jam. Ada bangunan rumah/shelter dan dinding beratap beton untuk isitrahat dan makan sejenak. Jika ingin berkemah pun di sini dapat didirikan tenda, tetapi tidak ada sumber air. Untuk memperoleh air, kita harus turun ke lembah cerukan batu yang masih menampung atau mengalirkan air. Sayang, banyak sampah dan kotoran pendaki lain ditinggalkan di sini bercampur air dan tanah. Peserta yang belum terbiasa melihat pemandangan itu menjadi jijik untuk menggunakannya. Tetapi mereka akan menyerah juga karena terpaksa hanya itulah sumber daya alam yang ada demi penghematan air yang mereka bawa.
Untuk ke puncak kawah 1 kita harus menuruni dinding batu tajam tetapi kokoh sampai ke lembah cerukan air. Bila ingin membawa cadangan air, botol jerigen air harus diisi dari sini, belakangan panitialah yang terpaksa malam-malam harus mengambil air dari cerukan batu ini ketika persediaan air menipis. Setelah cerukan, jalur kembali menanjak berbatuan lepas. Oleh sebab itu, peserta harus berhati-hati saat melangkahkan kaki agar tak terpeleset atau jatuh.
Sampai puncak punggungan jalan setapak sempit dan tak ada tumbuhan lagi karena sisi kanan jurang kawah menganga, sedangkan sisi kiri jurang dengan kemiringan terjal menghadang. Dari sini panorama di bawah sangat mempesona bila cuaca serah. Tetapi di sinilah tantangannya: keberanian berjalan di jalan setapak di antara jurang melawan phobia. Lalu menuruni dinidng pasir batu menuju pinggiran kawah berupa hamparan pasir untuk berkemah. Pada musim hujan, dataran pasir yang lebih rendah membentuk danau akibat genangan air yang tertahan di sini. Sekeliling kawah berdiri tegak dinding tebing ke puncak kawah hidup. (Bersambung)
Komentar
Alumni SMA XAVERIUS CURUP dari angkatan pertama
yuk gabung disini ,ikatan Alumni SMA Xaverius....,
coba deh kita liat ikatan alumni SMA Lain...weh pada banyak
kemapa kita ngak ada ?
nah ini dia jawabanya....
apa ngk kangen dengan Masa - masa SMA Dulu...
di tilang Pak Budi....
di marah Pak Sis...pak Turnip
atau kenangan indah lainya....
ok let\'s Start...
apa aja data-data yang diperlukan
1. Nama Lengkap
2. Nama Tenar Kamu Waktu SMA
3. Angkatan Berapa
4. Alamat dicurup atau alamat sekarang kamu tinggal
5. no.Telp/HP kamu (dirahasiakn,hanya untuk data admin)
6. pekerjaan,kuliah dimana sekarang
7. Photo Tercantik dan terganteng kamu yanh nanti akan kita pajang di blog ini
dan hal2 lain yang kamu anggap perlu di infokan.
nah kuwat2 kalo ada yang kurang mohon ditambahkan.....
kirim ke email smaxaveriuscurup@ymail.com untuk photo2nya
atau kunjungi
http://smaxaveriuscurup.blogspot.com/