Meski tak seaktif dulu lagi, melakukan petualanagan ke alam menjadikan semangat hidup punya bara, paling tidak punya cerita yang bisa dibagikan. Tumpukan pengalaman, walaupun tercerai-berai menjadi fragmen-fragmentaris dalam rentang waktu lama, bisa direkonstruksi tahap demi tahap yang masih berseliweran pada berbagai kesempatan selama masih bernapas dan mampu memanggil suara ingatan. Tahap norma manusia dibagi dalam 5 tingkatan: masa kanak-kanak, mulai sekolah dasar, sekolah lanjutan, kuliah, dan bekerja.
Selama masa itu, kita sangat banyak bergantung kepada orang-orang baik di sekitar kita. Keluarga inti tentu saja sangat kita kenal entah dalam kurun waktu lama atau hanya sekejap ingatan mampu menyimpannya. Sanak saudara dan tetangga dekat menjadi orang-orang yang mengajari hidup tanpa memperhitungkan untung rugi. Ia memberi bantuan pertolongan dengan sukarela, ikhlas hati, dan ramah. Bermain dan belajar bebas memilih waktu sesuai kesepakatan, bahkan kalau harus mengorbankan waktu-waktu lain yang seharusnya bukan waktu bermain.
Sebagian dari kita, diantar dan ditunggui saat berseragam TK. Memang belum benar-benar belajar, namun perubahan suasana santai di rumah mulai tampak dari seragam, bangun pagi, mandi, gosok gigi, sarapan, dan berangkat. Bertemu anak-anak dari keluarga lain adalah pemandangan gaduh yang tak terlupakan. Berbaris rapi sebelum masuk ruangan, dengan tertib masuk sesuai antrean, bersalaman dengan tangan guru dan cium tangan seperti aliran gerak dasar tarian hidup. Mencari tempat duduk berkelompok meja dan kursi warna-warni. Memulai belajar dengan doa bersama sampai hapal di luar kepala.
Jam istirahat ditandai lonceng, lalu anak-anak berhamburan ke luar ruang mencari para penjaga hati di halaman. Makan dan minum menurut bekal yang telah disiapkan oleh para pengantar jemput masing-masing. Di luar bekal bawaan dari rumah, ada saja penjual di kantin yang dikelola bersama pengurus yayasan sekolah. Di luar gerbang sekolah masih berjajar lapak mainan dan jajanan ringan lain yang ditawarkan, tentu saja tidak gratis. Uang saku sesungguhnya menjadi penanda anak orang berkecukupan atau berkekurangan. Memiliki uang saku di kantung serasa menjadi orang kaya sehari sebelum dihabiskan untuk jajanan.
Pesta ulang tahun teman yang dirayakan di sekolah biasanya menyelipkan hadiah yang dibagikan rata untuk setiap anak. Teman bermain bertambah banyak karena pergaulan ini. Latihan upacara bendera di halaman dengan menghormat bendera merah putih dan bernyanyi keras-keras meski jauh dari suara merdu seakan menggelorakan semangat memiliki rasa kebangsaan dan kemerdekaan negara ini.
Di belakang tembok sekolah itu bila pagi tiba, jalan kampung Kumetiran, Kecamatan Gedongtengen, DI Yogyakarta, menjadi pasar tradisional perpanjangan pasar Patuk, pasar Senen, terus memanjang sampai kampung Pringgokusuman dan kampung Jlagran. Kita bisa ikut berdesak-desakan di antata pedagang dan pembeli sambil mendengarkan apa percakapan mereka setiap kali kita lewat. Menjelang pukul 09.00 pedagang semakin berkurang karena tutup atau memang barang dagangan sudah habis terjual. Petuga kebersihan sering menyapu sampah sisa dagangan untuk diangkut gerobak sampah. Waktu itu saya kira mobil angkutan sampah masih tergolong barang mewah. Sesekali petugas kebersihan itu memberikan mainan atau buah segar yang ditemukan karena tertinggal atau dianggap tak layak jual lagi karena rusak. Tentu saja kami menerima pemberian itu dengan senang hati. (bersambung)
Selama masa itu, kita sangat banyak bergantung kepada orang-orang baik di sekitar kita. Keluarga inti tentu saja sangat kita kenal entah dalam kurun waktu lama atau hanya sekejap ingatan mampu menyimpannya. Sanak saudara dan tetangga dekat menjadi orang-orang yang mengajari hidup tanpa memperhitungkan untung rugi. Ia memberi bantuan pertolongan dengan sukarela, ikhlas hati, dan ramah. Bermain dan belajar bebas memilih waktu sesuai kesepakatan, bahkan kalau harus mengorbankan waktu-waktu lain yang seharusnya bukan waktu bermain.
Sebagian dari kita, diantar dan ditunggui saat berseragam TK. Memang belum benar-benar belajar, namun perubahan suasana santai di rumah mulai tampak dari seragam, bangun pagi, mandi, gosok gigi, sarapan, dan berangkat. Bertemu anak-anak dari keluarga lain adalah pemandangan gaduh yang tak terlupakan. Berbaris rapi sebelum masuk ruangan, dengan tertib masuk sesuai antrean, bersalaman dengan tangan guru dan cium tangan seperti aliran gerak dasar tarian hidup. Mencari tempat duduk berkelompok meja dan kursi warna-warni. Memulai belajar dengan doa bersama sampai hapal di luar kepala.
Jam istirahat ditandai lonceng, lalu anak-anak berhamburan ke luar ruang mencari para penjaga hati di halaman. Makan dan minum menurut bekal yang telah disiapkan oleh para pengantar jemput masing-masing. Di luar bekal bawaan dari rumah, ada saja penjual di kantin yang dikelola bersama pengurus yayasan sekolah. Di luar gerbang sekolah masih berjajar lapak mainan dan jajanan ringan lain yang ditawarkan, tentu saja tidak gratis. Uang saku sesungguhnya menjadi penanda anak orang berkecukupan atau berkekurangan. Memiliki uang saku di kantung serasa menjadi orang kaya sehari sebelum dihabiskan untuk jajanan.
Pesta ulang tahun teman yang dirayakan di sekolah biasanya menyelipkan hadiah yang dibagikan rata untuk setiap anak. Teman bermain bertambah banyak karena pergaulan ini. Latihan upacara bendera di halaman dengan menghormat bendera merah putih dan bernyanyi keras-keras meski jauh dari suara merdu seakan menggelorakan semangat memiliki rasa kebangsaan dan kemerdekaan negara ini.
Di belakang tembok sekolah itu bila pagi tiba, jalan kampung Kumetiran, Kecamatan Gedongtengen, DI Yogyakarta, menjadi pasar tradisional perpanjangan pasar Patuk, pasar Senen, terus memanjang sampai kampung Pringgokusuman dan kampung Jlagran. Kita bisa ikut berdesak-desakan di antata pedagang dan pembeli sambil mendengarkan apa percakapan mereka setiap kali kita lewat. Menjelang pukul 09.00 pedagang semakin berkurang karena tutup atau memang barang dagangan sudah habis terjual. Petuga kebersihan sering menyapu sampah sisa dagangan untuk diangkut gerobak sampah. Waktu itu saya kira mobil angkutan sampah masih tergolong barang mewah. Sesekali petugas kebersihan itu memberikan mainan atau buah segar yang ditemukan karena tertinggal atau dianggap tak layak jual lagi karena rusak. Tentu saja kami menerima pemberian itu dengan senang hati. (bersambung)
Komentar