1974, PLAWANGAN
Kekaguman akan wujud gunung yang paling nyata pertama kali saya hadapi ketika rombongan anak-anak paroki yang tergabung dalam putra-putri altar gereja katolik Maria Asumpta, Kumetiran berekreasi ke Kaliurang. Perubahan suasana kota dengan hiruk-pikuk keseharian menjadi suasana lingkungan alam pegunungan dan vila-vila taman sepanjang kompleks wisata Kaliurang yang terkenal itu menyejukkan hati para pengunjung. Terminal kedatangan selalu silih berganti mobil angkutan masuk dan keluar meninggalkannya menandai tempat rekreasi ini lebih akrab dengan suara alam, antara lain gemericik air sungai kecil, juga pancuran di sudut-sudut jalan yang digunakan oleh pedagang dan pengunjung, suara kicau burung di ranting pohon pinus, serta desau angin. Hawa sejuk khas pegunungan dan dingin air gunung sebelum terkena sinar matahari siang. Pemandian 'Tlogo Putri' masih tampak sepi, airnya sangat dingin. Sementara di sisi lain air gemericik di dinding 'Tlogo Muncar' terdengar menggoda untuk dikunjungi berikutnya.
Tantangan baru bagi saya dan kawan-kawan saat itu adalah menapaki jalan bertangga-tangga naik menuju Pos Pengamatan Gunung Merapi di puncak bukit Plawangan, 1274mdpl. Terengah-engah, berkeringat, berhenti sejenak untuk mengatur langkah dan napas, minum dan makan di jalan mendaki menjadi riuh semangat ingin tahu seperti apa bangunan Pos Pengamatan itu. Di kiri-kanan jalan setapak menganga jurang, tanah lembab, terowongan bersejarah "Gua peninggalan Jepang" di tengah perjalanan, jalan simpang menuju objek air terjun pemandian Tlogo Nirmolo menghentikan sesaat langkah kami.
Tekad kembali melangkah karena lama berhenti berarti siap merasakan dingin menyusup ke badan walau sudah berlapis jaket. Semakin dekat saja menuju Plawangan itu. Dan benar di pelataran atas anak tangga batu bukit Plawangan berdiri antene pemancar radio dengan bangunan tembok sekitar 3x4 m, ruang utama meja dan kursi standar, peralatan radio, HT, lampu badai, dapur kecil di sudut dengan kompor minyak dan beberapa panci bekas pakai, asbak penuh puntung rokok kretek dan filter, kain-kain bekas untuk lap. Satu dua orang petugas Pos bergantian sesuai jadwal jaga. Fungsi pengamatan lebih ditandai dengan sejumlah jendela kaca transparan di sekeliling bangunan pos.
Bila kita berdiri tegak menghadap Gunung Merapi, betapa kita sangat kecil dibandingkan dinding pasir dan batu menjulang ke langit sana yang berdasarkan data gunung puncak Merapi identik 2911mdpl (GILAS). Barangkali pemandangan sekarang jauh berbeda dibandingkan gambaran daya ingat saya saat itu ketika saya kisahkan kembali sekarang untuk dipahami. Betapa agung ciptaan Tuhan ini.
1978, POS 3 GUNUNG LAWU DARI JALUR CEMORO KANDANG
Cukup lama terlupakan kekaguman akan gunung itu tersimpan dalam kesibukan belajar di SMP karena tak ada kegiatan rekreasi ke arah gunung. Kalau ada rekreasi paling pindah suasana kebun binatang, pantai, dan objek wisata sejarah lainnya, seperti candi dan museum. Baru setelah memasuki tahun ajaran di SMA, perjalanan ke gunung itu sungguh dilaksanakan. Alasan kepergian ke gunung itu sangat tidak relevan, namun sebagai remaja laki-laki, saya tertantang ke sana karena perubahan masa belajar siswa dari 1 tahun pelajaran per 1 Januari - 31 Desember menjadi per 1 Juli - 30 Juni tahun berikutnya.
Saya dan kawan-kawan seangkatan saya saat itu berada di kelas 1 SMA harus mengikuti perpanjangan masa belajar yang semestinya berakhir per 31 Desember 1977, terpaksa menambah waktu belajar per 1 Januari 1978 hingga 30 Juni 1978. Terus terang, saya merasa hak belajar reguler saya dirampas 'pemerintah' bukan karena kami tidak naik kelas, melainkan sistem yang diubah pada masa menteri P&K Daud Yusuf. Semester perpanjangan masa belajar jelas bukan 'bonus' pendidikan yang menggembirakan.
Protes saya ini didukung beberapa teman saya yang juga merasa dirugikan. Niat naik gunung lebih didorong untuk melupakan duka pendidikan, bukan rekreasi yang penuh syukur. Kami berangkat ke Gunung Lawu bukan dengan motivasi 'murni' penuh syukur atas libur sekolah melainkan pengalihan suasana hati yang kecewa.
Persiapan kami rancang untuk keberangkatan dan budget anggaran perjalanan ke gunung. Tekad bulat telah mengantarkan kami meninggalkan rumah dengan bekal yang kami siapkan. Rute normal dari Jogja adalah Terminal bus Umbulharjo, saat itu masih baru pindah dari terminal lama THR, Jalan Brigjen Katamso. Tujuan pertama bus antarkota tentu menuju Solo yang berjarak 60 km dari Jogja. Sesampai di Terminal Tirtonadi, kami cari bus umum jurusan Solo-Tawangmangu. Dengan makan siang seadanya di warung, kami lanjutkan perjalanan ke Tawangmangu. Sore itu kami tiba di terminal akhir bus di Tawangmangu. Sambil mencari angkutan ke Cemoro Kandang, kami sempatkan makan di warung dekat terminal pemberangkatan di sana. Negosiasi harga yang disepakati berjalan alot juga karena alasan budget terbatas. Toh, akhirnya kami bisa terangkut ke Cemoro Kandang.
Hari sudah senja saat kami tiba, udara berkabut, pos jaga sepi dari petugas. Kami putuskan untuk berjalan ke Pos Cemoro Sewu yang ada petugas jaga dan penduduk setempat dengan berjalan kaki berjarak sekitar 1.2 km di perbatasan wilayah Jawa Tengah-Jawa Timur. Kami meminta ijin bermalam atau beristirahat kepada petugas jaga di ruang tamu rumahnya. Hari itu ada berita bahwa ada rombongan pendaki belum kembali dan info terakhirnya ada yang jatuh ke jurang lereng gunung antara Pos 3 jalur Cemoro Kandang dan Pos 4 Cokro Srengenge. Semula kami dilarang untuk melanjutkan pendakian sampai korban pendaki yang jatuh ditemukan dan dievakuasi. Namun kami telah bulat tekad untuk mendaki malam itu juga dengan dalih nanti ikut membantu menemukan dan menolong korban pendaki yang jatuh ke jurang.
Malam itu kami nekad berangkat. Kami kembali ke jalur Cemoro Kandang sambil aklimasi suhu badan dalam perjalanan ke gunung. Kabut cukup tebal di bulan Desember. Gerimis sedikit menyulitkan kami memulai pendakian lewat jalur lama di kiri jembatan perbatasan provinsi ini.Angin gunung membawa bau belerang dari kawah yang cukup menyengat hidung. Setelah menyibak jalan setapak di lereng sungai, kami tiba pada jalan setapak yang datar. Kami berhenti sejenak untuk mengatur napas dan membetulkan letak ransel di punggung. Konon jalan setapak ini bila ditelusuri terus ke bawah akan tembus ke jalur pemacar stasiun relay TVRI dan pemancar TELKOM.
Satu setengah jam perjalanan kami telah melewati Pos 1 yang saat itu sepi dan tak cukup aman tempatnya untuk beristirahat shelternya sudah lapuk dimakan usia. Kami putuskan terus berjalan menuju Pos 2 menjelang air terjun kawah belerang. Entah pukul berapa ketika kami sampai di Pos 2 yang agak datar untuk beristirahat tidur walau agak susah tidur juga karena angin bau belerang yang terus menyengat membuat batuk-batuk, susah bernapas, dan udara semakin dingin dini hari. Tapi rasa kantuk lebih dominan di mata kami, dan satu demi satu kami tertidur dengan alas seadanya.
Udara dingin fajar pagi membangunkan kami. Kami menghangatkan diri sejenak dengan api unggun kecil dari ranting dan sisa unggun orang yang pernah menggunakannya sebelum kami tiba di situ. Kami memasak air dengan parafin yang kami bawa dari rumah dan jadilah teh manis, kopi susu dalam cangkir penghangat kerongkongan dan perut. Beberapa roti dan potongan cokelat kami santap untuk mengganjal tenaga cadangan. Setelah berkemas, kami lanjutkan pendakian. Bayangan sinar matahari semakin terang tanah, menghemat cahaya lampu senter yang kami bawa di tangan. Beberapa penduduk turun dari Pos 3 dengan mengangkut tanaman obat dalam karung-karung plastik besar meluncur lari-lari kecil ke bawah. Kami berhenti saat berpapasan agar mereka bisa lewat. Sampai kami tiba di Pos 3. Shelter Pos 3 cukup luas untuk berteduh dari angin dan dingin. Sebagian tempat terisi tumpukan karung berisi tanaman obat yang dikumpulkan penduduk untuk ditampung sebelum mereka bawa turun. dan kami ikut berhenti di sini. Dalam jarak 20 m dari tempat ini kami temukan sumber air berbentuk cerukan cadas tebing yang menampung tetesan air dinding tebing, dan airnya jernih langsung bisa diminum. Botol yang kosong kami isi kembali dengan air ini untuk persediaan perjalanan selanjutnya. Tapi di sinilah masalahnya. Kami mulai kehilangan semangat terus mendaki. Pemandangan di depan berupa jalan menanjak di tebing curam dan melingkar-lingkar tak berujung menyurutkan semangat kami untuk meneruskan perjalanan. Kami harus mempertimbangkan waktu tempuh pulang jika tak mau kehabisan angkutan turun, kemalaman di jalan, dan esok hari harus ke sekolah lagi.
Maka, berakhirlah pendakian kami di Pos 3 ini. Tak ada yang membantah. Kami gagal mencapai puncak Gunung Lawu. Kami turun dengan cepat, sampai di Pos Cemoro Sewu siang hari. Sambil menunggu angkutan yang lewat, kami sambil berjalan menyusuri jalan ke arah terminal Tawangmangu. Entah sudah berapa angkutan lewat yang sarat mengangkut penumpang dan barang ke Gondosuli. Sampai kami dapat tumpangan angkot ke terminal. Di bus jurusan Solo kami tertidur dan baru dibangunkan kernet setibanya di terminal Tirtonadi. Kami turun dan mencari bus jurusan ke Jogja. Tak banyak cerita lagi, sengaja kami simpan untuk cerita episode gunung yang lain. Terima kasih kepada teman-teman seperjalanan saat itu, dan juga bekal ongkos dari orang tua kami yang mau mengerti kegalauan kami anak-anak yang beranjak remaja.
1984: MERAPI yang GAGAL JUGA
1985: SEMERU
1986: MERBABU, SUMBING, LAWU, SINDORO, SLAMET, RINJANI yang GAGAL, AGUNG, GEDE-PANGRANGO, CIREMAI, TANGKUBAN PERAHU
1992: PERIODE SUMATERA: DEMPO, KERINCI, DANAU GUNUNG TUJUH, TANGGAMUS, KABA, SERELO, SINGGALANG, MARAPI
2000, BROMO, KAWAH IJEN
AKTIVITAS LAIN: GUA CERME, CANDI-CANDI, ARUNGJERAM, PANJAT TEBING, PENTAS SENI DRAMA DAN PUISI, KAWAH DIENG, AIR TERJUN TUJUH BIDADARI
.
Kekaguman akan wujud gunung yang paling nyata pertama kali saya hadapi ketika rombongan anak-anak paroki yang tergabung dalam putra-putri altar gereja katolik Maria Asumpta, Kumetiran berekreasi ke Kaliurang. Perubahan suasana kota dengan hiruk-pikuk keseharian menjadi suasana lingkungan alam pegunungan dan vila-vila taman sepanjang kompleks wisata Kaliurang yang terkenal itu menyejukkan hati para pengunjung. Terminal kedatangan selalu silih berganti mobil angkutan masuk dan keluar meninggalkannya menandai tempat rekreasi ini lebih akrab dengan suara alam, antara lain gemericik air sungai kecil, juga pancuran di sudut-sudut jalan yang digunakan oleh pedagang dan pengunjung, suara kicau burung di ranting pohon pinus, serta desau angin. Hawa sejuk khas pegunungan dan dingin air gunung sebelum terkena sinar matahari siang. Pemandian 'Tlogo Putri' masih tampak sepi, airnya sangat dingin. Sementara di sisi lain air gemericik di dinding 'Tlogo Muncar' terdengar menggoda untuk dikunjungi berikutnya.
Tantangan baru bagi saya dan kawan-kawan saat itu adalah menapaki jalan bertangga-tangga naik menuju Pos Pengamatan Gunung Merapi di puncak bukit Plawangan, 1274mdpl. Terengah-engah, berkeringat, berhenti sejenak untuk mengatur langkah dan napas, minum dan makan di jalan mendaki menjadi riuh semangat ingin tahu seperti apa bangunan Pos Pengamatan itu. Di kiri-kanan jalan setapak menganga jurang, tanah lembab, terowongan bersejarah "Gua peninggalan Jepang" di tengah perjalanan, jalan simpang menuju objek air terjun pemandian Tlogo Nirmolo menghentikan sesaat langkah kami.
Tekad kembali melangkah karena lama berhenti berarti siap merasakan dingin menyusup ke badan walau sudah berlapis jaket. Semakin dekat saja menuju Plawangan itu. Dan benar di pelataran atas anak tangga batu bukit Plawangan berdiri antene pemancar radio dengan bangunan tembok sekitar 3x4 m, ruang utama meja dan kursi standar, peralatan radio, HT, lampu badai, dapur kecil di sudut dengan kompor minyak dan beberapa panci bekas pakai, asbak penuh puntung rokok kretek dan filter, kain-kain bekas untuk lap. Satu dua orang petugas Pos bergantian sesuai jadwal jaga. Fungsi pengamatan lebih ditandai dengan sejumlah jendela kaca transparan di sekeliling bangunan pos.
Bila kita berdiri tegak menghadap Gunung Merapi, betapa kita sangat kecil dibandingkan dinding pasir dan batu menjulang ke langit sana yang berdasarkan data gunung puncak Merapi identik 2911mdpl (GILAS). Barangkali pemandangan sekarang jauh berbeda dibandingkan gambaran daya ingat saya saat itu ketika saya kisahkan kembali sekarang untuk dipahami. Betapa agung ciptaan Tuhan ini.
1978, POS 3 GUNUNG LAWU DARI JALUR CEMORO KANDANG
Cukup lama terlupakan kekaguman akan gunung itu tersimpan dalam kesibukan belajar di SMP karena tak ada kegiatan rekreasi ke arah gunung. Kalau ada rekreasi paling pindah suasana kebun binatang, pantai, dan objek wisata sejarah lainnya, seperti candi dan museum. Baru setelah memasuki tahun ajaran di SMA, perjalanan ke gunung itu sungguh dilaksanakan. Alasan kepergian ke gunung itu sangat tidak relevan, namun sebagai remaja laki-laki, saya tertantang ke sana karena perubahan masa belajar siswa dari 1 tahun pelajaran per 1 Januari - 31 Desember menjadi per 1 Juli - 30 Juni tahun berikutnya.
Saya dan kawan-kawan seangkatan saya saat itu berada di kelas 1 SMA harus mengikuti perpanjangan masa belajar yang semestinya berakhir per 31 Desember 1977, terpaksa menambah waktu belajar per 1 Januari 1978 hingga 30 Juni 1978. Terus terang, saya merasa hak belajar reguler saya dirampas 'pemerintah' bukan karena kami tidak naik kelas, melainkan sistem yang diubah pada masa menteri P&K Daud Yusuf. Semester perpanjangan masa belajar jelas bukan 'bonus' pendidikan yang menggembirakan.
Protes saya ini didukung beberapa teman saya yang juga merasa dirugikan. Niat naik gunung lebih didorong untuk melupakan duka pendidikan, bukan rekreasi yang penuh syukur. Kami berangkat ke Gunung Lawu bukan dengan motivasi 'murni' penuh syukur atas libur sekolah melainkan pengalihan suasana hati yang kecewa.
Persiapan kami rancang untuk keberangkatan dan budget anggaran perjalanan ke gunung. Tekad bulat telah mengantarkan kami meninggalkan rumah dengan bekal yang kami siapkan. Rute normal dari Jogja adalah Terminal bus Umbulharjo, saat itu masih baru pindah dari terminal lama THR, Jalan Brigjen Katamso. Tujuan pertama bus antarkota tentu menuju Solo yang berjarak 60 km dari Jogja. Sesampai di Terminal Tirtonadi, kami cari bus umum jurusan Solo-Tawangmangu. Dengan makan siang seadanya di warung, kami lanjutkan perjalanan ke Tawangmangu. Sore itu kami tiba di terminal akhir bus di Tawangmangu. Sambil mencari angkutan ke Cemoro Kandang, kami sempatkan makan di warung dekat terminal pemberangkatan di sana. Negosiasi harga yang disepakati berjalan alot juga karena alasan budget terbatas. Toh, akhirnya kami bisa terangkut ke Cemoro Kandang.
Hari sudah senja saat kami tiba, udara berkabut, pos jaga sepi dari petugas. Kami putuskan untuk berjalan ke Pos Cemoro Sewu yang ada petugas jaga dan penduduk setempat dengan berjalan kaki berjarak sekitar 1.2 km di perbatasan wilayah Jawa Tengah-Jawa Timur. Kami meminta ijin bermalam atau beristirahat kepada petugas jaga di ruang tamu rumahnya. Hari itu ada berita bahwa ada rombongan pendaki belum kembali dan info terakhirnya ada yang jatuh ke jurang lereng gunung antara Pos 3 jalur Cemoro Kandang dan Pos 4 Cokro Srengenge. Semula kami dilarang untuk melanjutkan pendakian sampai korban pendaki yang jatuh ditemukan dan dievakuasi. Namun kami telah bulat tekad untuk mendaki malam itu juga dengan dalih nanti ikut membantu menemukan dan menolong korban pendaki yang jatuh ke jurang.
Malam itu kami nekad berangkat. Kami kembali ke jalur Cemoro Kandang sambil aklimasi suhu badan dalam perjalanan ke gunung. Kabut cukup tebal di bulan Desember. Gerimis sedikit menyulitkan kami memulai pendakian lewat jalur lama di kiri jembatan perbatasan provinsi ini.Angin gunung membawa bau belerang dari kawah yang cukup menyengat hidung. Setelah menyibak jalan setapak di lereng sungai, kami tiba pada jalan setapak yang datar. Kami berhenti sejenak untuk mengatur napas dan membetulkan letak ransel di punggung. Konon jalan setapak ini bila ditelusuri terus ke bawah akan tembus ke jalur pemacar stasiun relay TVRI dan pemancar TELKOM.
Satu setengah jam perjalanan kami telah melewati Pos 1 yang saat itu sepi dan tak cukup aman tempatnya untuk beristirahat shelternya sudah lapuk dimakan usia. Kami putuskan terus berjalan menuju Pos 2 menjelang air terjun kawah belerang. Entah pukul berapa ketika kami sampai di Pos 2 yang agak datar untuk beristirahat tidur walau agak susah tidur juga karena angin bau belerang yang terus menyengat membuat batuk-batuk, susah bernapas, dan udara semakin dingin dini hari. Tapi rasa kantuk lebih dominan di mata kami, dan satu demi satu kami tertidur dengan alas seadanya.
Udara dingin fajar pagi membangunkan kami. Kami menghangatkan diri sejenak dengan api unggun kecil dari ranting dan sisa unggun orang yang pernah menggunakannya sebelum kami tiba di situ. Kami memasak air dengan parafin yang kami bawa dari rumah dan jadilah teh manis, kopi susu dalam cangkir penghangat kerongkongan dan perut. Beberapa roti dan potongan cokelat kami santap untuk mengganjal tenaga cadangan. Setelah berkemas, kami lanjutkan pendakian. Bayangan sinar matahari semakin terang tanah, menghemat cahaya lampu senter yang kami bawa di tangan. Beberapa penduduk turun dari Pos 3 dengan mengangkut tanaman obat dalam karung-karung plastik besar meluncur lari-lari kecil ke bawah. Kami berhenti saat berpapasan agar mereka bisa lewat. Sampai kami tiba di Pos 3. Shelter Pos 3 cukup luas untuk berteduh dari angin dan dingin. Sebagian tempat terisi tumpukan karung berisi tanaman obat yang dikumpulkan penduduk untuk ditampung sebelum mereka bawa turun. dan kami ikut berhenti di sini. Dalam jarak 20 m dari tempat ini kami temukan sumber air berbentuk cerukan cadas tebing yang menampung tetesan air dinding tebing, dan airnya jernih langsung bisa diminum. Botol yang kosong kami isi kembali dengan air ini untuk persediaan perjalanan selanjutnya. Tapi di sinilah masalahnya. Kami mulai kehilangan semangat terus mendaki. Pemandangan di depan berupa jalan menanjak di tebing curam dan melingkar-lingkar tak berujung menyurutkan semangat kami untuk meneruskan perjalanan. Kami harus mempertimbangkan waktu tempuh pulang jika tak mau kehabisan angkutan turun, kemalaman di jalan, dan esok hari harus ke sekolah lagi.
Maka, berakhirlah pendakian kami di Pos 3 ini. Tak ada yang membantah. Kami gagal mencapai puncak Gunung Lawu. Kami turun dengan cepat, sampai di Pos Cemoro Sewu siang hari. Sambil menunggu angkutan yang lewat, kami sambil berjalan menyusuri jalan ke arah terminal Tawangmangu. Entah sudah berapa angkutan lewat yang sarat mengangkut penumpang dan barang ke Gondosuli. Sampai kami dapat tumpangan angkot ke terminal. Di bus jurusan Solo kami tertidur dan baru dibangunkan kernet setibanya di terminal Tirtonadi. Kami turun dan mencari bus jurusan ke Jogja. Tak banyak cerita lagi, sengaja kami simpan untuk cerita episode gunung yang lain. Terima kasih kepada teman-teman seperjalanan saat itu, dan juga bekal ongkos dari orang tua kami yang mau mengerti kegalauan kami anak-anak yang beranjak remaja.
1984: MERAPI yang GAGAL JUGA
1985: SEMERU
1986: MERBABU, SUMBING, LAWU, SINDORO, SLAMET, RINJANI yang GAGAL, AGUNG, GEDE-PANGRANGO, CIREMAI, TANGKUBAN PERAHU
1992: PERIODE SUMATERA: DEMPO, KERINCI, DANAU GUNUNG TUJUH, TANGGAMUS, KABA, SERELO, SINGGALANG, MARAPI
2000, BROMO, KAWAH IJEN
AKTIVITAS LAIN: GUA CERME, CANDI-CANDI, ARUNGJERAM, PANJAT TEBING, PENTAS SENI DRAMA DAN PUISI, KAWAH DIENG, AIR TERJUN TUJUH BIDADARI
.
Komentar