Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2008

EPISODE GUNUNG SLAMET

Dengan ketinggian 3428 mdpl, gunung Slamet tercatat sebagai gunung tertinggi di wilayah Jateng. Sesudah cari info sana-sini, kami rancang berangkat juga ke Purwokerto dengan bus umum dari terminal Jogya. Biasanya kami turun sebelum terminal, simpang jembatan Sukaraja lalu sambung bus engkel jurusan Pemalang lewat kota Purbalingga. Turun di pertigaan Pratin(waduh lupa), sambung dengan angkutan pedesaan sampai pasar Kutabawa, Bambangan(izin di BKSDA Purbalingga dan Polsek Kutabawa). Di sini bisa nambah bekal sayur-mayur, makanan kecil, dan kebutuhan lain. Untuk mencapai desa Bambangan, kita jalan kaki sekitar 4 km karena jalan masih berbatu, belum diaspal-- entah sekarang-- dengan keramahan warga Banyumas yang khas. Di desa ini kita lapor ke Pak Kamitua (juru kunci) sekaligus Base Camp para pendaki, walau agak sedikit ke atas sudah dibangun Pondok Pendaki Gunung Slamet tapi sepi. Mendaki pada malam hari membutuhkan konsentrasi pengenalan jalur pendakian dengan baik, salah-salah tidak ket...

SHIO DAN BONUS NAMA DI MAPASADHA

Alam, tempat kita berpijak suatu saat harus kita tinggalkan kecaplah sarinya untuk bekal semangat di perjalanan! (Oktober, 1985) Ungkapan puitis itulah kenangan manis bersama organisasi mapasadha yang mengenalkan saya pada aktivitas perjalanan gunung-gunung selanjutnya. Salam Kaonak, untuk para perintis: Kang Markus dkk., saudara tua: Endang 'Green Sand', Usmanto, Cithok, Grasyanto, Kasdut, Tacik Novi, Mas Rosa; saudara muda: Bendol, Soel, Dombley, Guplo, Simbah Edy, Surowo, Sumbogo, Plenthong, Kencot, dll. Juga sahabat parkiran RS Bethesda, DIY sebagai forum SARDA dan ajang ngumpul bareng: Kang Mamad, Jhon Poni, Samer, Lukas, Kopet cs. Sampai angkatan keempat, rasanya belum dikenal gelar tambahan di belakang nama calon anggota muda. Mereka masih menggunakan lambang shio yang diadaptasi dari sistem kalender Cina. Gagasan bonus nama tersebut awalnya seperti games saat orientasi latihan di pondok belak...

PUNCAK GARUDA, MERAPI 2911mdpl

Naik gunung yang sebenarnya baru dimulai tahun 1984, sesudah melewati diklatsar di Wonolelo, Sawangan, Magelang. Sesuai lambang badge mapasadha merah-biru dalam kemesraan Merapi-Merbabu, kami mencoba mendaki Merapi lewat jalur selatan, dari Kinahrejo. Waktu itu bulan Juli. Kondisi medan masih asri menantang. Saat persiapan, kami tinggal di rumah mbah Maridjan/mbah Argo (jurukunci Merapi belum sepopuler sekarang). yang tidak berubah hanya keramahtamahan beliau kepada setiap pengunjung terutama teman-teman pendaki. Berdiang dan memasak di dapur merupakan ajang ngobrol sana-sini paling favorit sebelum istirahat malam. bahkan sampai larut malam masih banyak pendaki lain berdatangan ke sana. Rumah panjang yang dulu masih sebagian dindingnya bambu membuat angin malam nan dingin begitu leluasa masuk. Sekarang jauh berubah, dan tentu saja keramaian saat labuhan keraton yogyakarta hadiningrat. Nanti cerita labuhan di pos 2 Srimanganti sendiri saja. Pukul 00.30 dini hari biasanya kami sudah ban...