Alam,
tempat kita berpijak suatu saat harus kita tinggalkan
kecaplah sarinya untuk bekal semangat di perjalanan!
(Oktober, 1985)
Ungkapan puitis itulah kenangan manis bersama organisasi mapasadha yang mengenalkan saya pada aktivitas perjalanan gunung-gunung selanjutnya. Salam Kaonak, untuk para perintis: Kang Markus dkk., saudara tua: Endang 'Green Sand', Usmanto, Cithok, Grasyanto, Kasdut, Tacik Novi, Mas Rosa; saudara muda: Bendol, Soel, Dombley, Guplo, Simbah Edy, Surowo, Sumbogo, Plenthong, Kencot, dll. Juga sahabat parkiran RS Bethesda, DIY sebagai forum SARDA dan ajang ngumpul bareng: Kang Mamad, Jhon Poni, Samer, Lukas, Kopet cs.
Sampai angkatan keempat, rasanya belum dikenal gelar tambahan di belakang nama calon anggota muda. Mereka masih menggunakan lambang shio yang diadaptasi dari sistem kalender Cina. Gagasan bonus nama tersebut awalnya seperti games saat orientasi latihan di pondok belakang kampus lama (gaya plonco, kali..)
Peran Qleewon dan Beni menciptakan suasana baru yang lebih heboh pada generasi baru 'calon guru' karena status IKIP. Perkembangan selanjutnya menjalar bagai virus yang wajib dimiliki tanpa dapat ditolak. Ada pro dan kontra dengan alasan image atau citra diri jadi absurd, jorok, dan urakan. Tapi lama kelamaan sekat-sekat keterasingan tidak saling kenal jadi berubah akrab dan gaul. Komunikasi antarpribadi lintas angkatan bertambah, jaringan kegiatan meluas, bahkan pernah pentas seni parade puisi, musikalisasi puisi, dan dramatisasi puisi alam dalam antologi KEPIS di Karta Pustaka. Terima kasih untuk Joko Pinurbo, Mas Landung Rusyanto, Uut, Pedhet, dan kru pendukung musikalisasi, serta tim karawitannya.
Peran saya saat itu diwakili ungkapan mbak Nik dan beberapa aktivis kampus lain dengan: "Asal ada foto kegiatan mapala, di situ ada saya". Begitulah saya diminta mengabadikan gambar dengan kamera pinjaman PH BKK RICOH GX-1 manual sampai digantikan entah siapa selanjutnya. Fokus kegiatan masih sekitar pendakian gunung karena peralatan yang minim. Dengan dikembangkannya jaringan aktivitas keluar: temu mapala kampus, forum SEKBER DIY, dan latihan bersama di jembatan Babarsari, parangendog, mulailah perubahan signifikan dalam agenda kegiatan kampus. Ruang sekretariat darurat di belakang WC (pasar burung) samping pintu masuk aula, berpindah di pondok belakang kampus, lalu ke bekas kantin samping aula. Berita terbaru pindah lagi ke gedung realino?
Sebagai penutup, shio-shio itu masih dikenang, tetapi bonus nama baptis lebih banyak digunakan dalam panggilan anggota mapasadha sehari-hari di kampus. Sampai-sampai nama aslinya sendiri jarang diingat kecuali registrasi mahasiswa awal tahun kuliah semester. Saat wisuda sarjana pun nama akrab itulah yang terucap dari kawan-kawan kampusnya. Dirgahayu Mapasadha setiap 10 Oktober di puncak Lawu!
tempat kita berpijak suatu saat harus kita tinggalkan
kecaplah sarinya untuk bekal semangat di perjalanan!
(Oktober, 1985)
Ungkapan puitis itulah kenangan manis bersama organisasi mapasadha yang mengenalkan saya pada aktivitas perjalanan gunung-gunung selanjutnya. Salam Kaonak, untuk para perintis: Kang Markus dkk., saudara tua: Endang 'Green Sand', Usmanto, Cithok, Grasyanto, Kasdut, Tacik Novi, Mas Rosa; saudara muda: Bendol, Soel, Dombley, Guplo, Simbah Edy, Surowo, Sumbogo, Plenthong, Kencot, dll. Juga sahabat parkiran RS Bethesda, DIY sebagai forum SARDA dan ajang ngumpul bareng: Kang Mamad, Jhon Poni, Samer, Lukas, Kopet cs.
Sampai angkatan keempat, rasanya belum dikenal gelar tambahan di belakang nama calon anggota muda. Mereka masih menggunakan lambang shio yang diadaptasi dari sistem kalender Cina. Gagasan bonus nama tersebut awalnya seperti games saat orientasi latihan di pondok belakang kampus lama (gaya plonco, kali..)
Peran Qleewon dan Beni menciptakan suasana baru yang lebih heboh pada generasi baru 'calon guru' karena status IKIP. Perkembangan selanjutnya menjalar bagai virus yang wajib dimiliki tanpa dapat ditolak. Ada pro dan kontra dengan alasan image atau citra diri jadi absurd, jorok, dan urakan. Tapi lama kelamaan sekat-sekat keterasingan tidak saling kenal jadi berubah akrab dan gaul. Komunikasi antarpribadi lintas angkatan bertambah, jaringan kegiatan meluas, bahkan pernah pentas seni parade puisi, musikalisasi puisi, dan dramatisasi puisi alam dalam antologi KEPIS di Karta Pustaka. Terima kasih untuk Joko Pinurbo, Mas Landung Rusyanto, Uut, Pedhet, dan kru pendukung musikalisasi, serta tim karawitannya.
Peran saya saat itu diwakili ungkapan mbak Nik dan beberapa aktivis kampus lain dengan: "Asal ada foto kegiatan mapala, di situ ada saya". Begitulah saya diminta mengabadikan gambar dengan kamera pinjaman PH BKK RICOH GX-1 manual sampai digantikan entah siapa selanjutnya. Fokus kegiatan masih sekitar pendakian gunung karena peralatan yang minim. Dengan dikembangkannya jaringan aktivitas keluar: temu mapala kampus, forum SEKBER DIY, dan latihan bersama di jembatan Babarsari, parangendog, mulailah perubahan signifikan dalam agenda kegiatan kampus. Ruang sekretariat darurat di belakang WC (pasar burung) samping pintu masuk aula, berpindah di pondok belakang kampus, lalu ke bekas kantin samping aula. Berita terbaru pindah lagi ke gedung realino?
Sebagai penutup, shio-shio itu masih dikenang, tetapi bonus nama baptis lebih banyak digunakan dalam panggilan anggota mapasadha sehari-hari di kampus. Sampai-sampai nama aslinya sendiri jarang diingat kecuali registrasi mahasiswa awal tahun kuliah semester. Saat wisuda sarjana pun nama akrab itulah yang terucap dari kawan-kawan kampusnya. Dirgahayu Mapasadha setiap 10 Oktober di puncak Lawu!
Komentar