Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2008

EPISODE KERJA SAMBIL KULIAH

Karena ortu masuk masa pensiun, sementara saya, 8 bersaudara dan nenek masih menjadi tanggungan keluarga, terpaksa saya mencoba sambil kerja mengajar di SMP (almamater saya dulu) sebagai honorer. Maklum, semester akhir tinggal mengulang/memperbaiki nilai sks yang masih bisa diambil untuk mendongkrak IPK. Meski tidak seberapa banyak, saya rasa cukup membantu budget sendiri sehari-hari. Di sela kerja sambilan, saya sempatkan bergerilya dari kost ke kost teman-teman yang kreatif untuk menimba 'idealisme' di malioboro menjajakan kartu ucapan dengan gambar foto alam. Wah, dari sisi ini saya harus mengakui kalah jauh dari mereka yang memang punya bakat seni. Tapi proses mencoba sudah saya pilih di tengah budaya masyarakat yang membesarkan saya. Malioboro telah menjadi komunitas multi interest bagi pencinta Yogya. Gaya hidup di sini mengalir dari pagi ke pagi dalam irama yang sama. Lalu lintas di jalur tengah yang digerakkan solar dan bensin menyuarakan roda kehidupan panas, sed...

EPISODE GUNUNG LAWU

Pengalaman menapaki gunung sebenarnya baru mulai kelas 2 SMA. Motivasi awalnya hanya rekreasi plus membuang stress karena tahun 1977-1978 sistem tahun ajaran mengalami perpanjangan semester. Pelajaran yang sebelumnya berlangsung Januari hingga Desember, diperpanjang sampai Juni tahun berikutnya. Saya merasa tidak naik kelas secara massal. Saya ngambek sebagai bentuk protes remaja yang merasa dirugikan, karena rapor saya masuk peringkat lima besar paralel. Saya banting 'ayam jago' celengan uang saku selama satu tahun, lalu saya kumpulkan teman lain yang berminat sama. Kami berempat, cowok semua berangkat dengan persiapan seadanya. Meski protes pada keadaan, kami tetap minta izin ortu agar ditambah uang saku dan restu. Jadilah kami 'empat sekawan' pengembara gunung lawu. Baru di perjalanan ke Tawangmangu, kami sadar bahwa tak satu pun dari kami yang punya pengalaman mendaki gunung. Modal kami nekad saja. Sore hari, Jumat, lupa tanggal, bulan Juli 1978 kami sudah berada di...

WAYANG KULIT

Wayang menjadi seni pertunjukan yang saya kagumi sejak diperkenalkan oleh nenek almarhumah. Kedekatan dengan wayang dikembangkan dengan adanya gambar-gambar tokoh wayang populer: semar. gareng, petruk, bagong. Mereka ini tokoh rakyat yang lucu sekaligus punya analisis sosial yang lugas. Orang menyebut punakawan. Kesederhanaan didukung prinsip hidup pengabdian dan berwawasan lingkungan justru sering dianggap rendah dan 'ndeso' Tetapi, di tangan sang dalang (baru kemudian saya tahu ada gaya solo dan yogya) ternyata peran punakawan, seperti ditulis Emha, dapat manjing, ajur, ajer dengan semua lapisan maysarakat: penguasa, pejabat, teknokrat, ilmuwan, seniman, bahkan petani. Mungkin yang perlu ditambahkan properti laut, perahu/rakit/satang, dan kampung nelayan dalam tradisi wayang. Pertunjukan wayang sangat manjur untuk sarasehan, duduk bersama, introspeksi, refleksi, dan menyatukan tekad membangun niat baru untuk masa datang. Tentu saja butuh biaya besar jika memilih dalang kondan...

Merapi di Mataku

Sebelum perubahan kota seperti sekarang ini, keseharian masa kecil bermain di tanah lapang dadakan karena sawah dibiarkan kering setelah masa panen padi. Pemandangan yang segera tertangkap mata adalah bayangan gunung Merapi-Merbabu berwarna abu-abu saat sore cerah. Jika beruntung, masih dapat melihat pucuk gunung Sumbing-Sindoro di barat laut. Malam-malam purnama sering kami bermain di sawah dan menyaksikan guguran lava kemerah-merahan ke arah tenggara dan barat. Kami senang menyaksikan peristiwa itu sampai merasa kantuk untuk pulang dan tidur. Dalam tidur, kami berharap agar Merapi tidak marah sampai pagi tiba

Tanah Kelahiran

Yogyakarta bagian barat dialiri sungai Winongo. Meski masih termasuk kotamadia, kampung saya ada di pinggiran. Rumah saya di pinggir sungai Winongo ini. Suara air akrab di telinga kami anak-anak yang bisa berenang karena bakat alam. Pada musim banjir gemuruhnya menakutkan ditambah mitos pasukan ratu kidul yang tiap malam Jumat lewati sungai menuju kerajaan laut selatan. Ngaglik Sudagaran nama kampungnya, Tegalrejo kecamatannya karena ada ndalem monumen Diponegoro sebagai objek wisata sejarah. Perkembangan pembangunan kota mengubah wajah persawahan petani menjadi perumahan dan kompleks perkantoran modern lengkap dengan hotel dan tempat hiburan lainnya. Rel kereta api yang menghubungkan stasiun Yogya dengan kota lain merupakan prasasti kolonial dalam alunan lagu perjuangan: " hampir malam di Yogya, ketika keretaku tiba... ." Tapi suara kereta yang biasa lewat itu menjadi penunjuk waktu warga kampung kami yang tak memiliki jam dinding. Lalu raungan pesawat yang melintas di atas ...

MENIMBA KABAR GUNUNG

Mengenal lingkungan sekitar dengan jalan kaki atau bersepeda onthel menjadi awal ketertarikan saya pada lingkungan di luar rumah. Kesadaran ke luar rumah mulai dengan bermain dan menelusuri suasana pedesaan. kalau cuaca cerah pemandangan yang selalu tampak adalah bayangan gunung Merapi dan gunung Merbabu yang waktu itu terkesan sangat tinggi dan angker. saya sebut angker karena hampir tiap malam melelehkan lahar panas memerah ke arah barat dan tenggara. sampai suatu saat saya bersama kawan-kawan berwisata ke Kaliurang, tempat rekreasi di lembah kawasan Merapi yang semakin dekat saja. Dengan semangat 45 saya naik ke Pos Pengamatan gunung Merapi di Plawangan 1275mdpl. Saya merasa berhadapan langsung dengan wajah anggunnya. tapi kabut sering tak mau bersahabat. Dapatkah saya lebih dekat lagi? Kapan ya? (Bersambung) ...Lanjutan 1 Pengenalan saya selanjutnya merambah desa Kinahrejo, kaki Merapi, tempat juru kunci mBah Hargo (mBah Maridjan). Setiap malam minggu datang berbondong-bondong nong...