Langsung ke konten utama

Tanah Kelahiran

Yogyakarta bagian barat dialiri sungai Winongo. Meski masih termasuk kotamadia, kampung saya ada di pinggiran. Rumah saya di pinggir sungai Winongo ini. Suara air akrab di telinga kami anak-anak yang bisa berenang karena bakat alam.
Pada musim banjir gemuruhnya menakutkan ditambah mitos pasukan ratu kidul yang tiap malam Jumat lewati sungai menuju kerajaan laut selatan.

Ngaglik Sudagaran nama kampungnya, Tegalrejo kecamatannya karena ada ndalem monumen Diponegoro sebagai objek wisata sejarah. Perkembangan pembangunan kota mengubah wajah persawahan petani menjadi perumahan dan kompleks perkantoran modern lengkap dengan hotel dan tempat hiburan lainnya. Rel kereta api yang menghubungkan stasiun Yogya dengan kota lain merupakan prasasti kolonial dalam alunan lagu perjuangan: "hampir malam di Yogya, ketika keretaku tiba...." Tapi suara kereta yang biasa lewat itu menjadi penunjuk waktu warga kampung kami yang tak memiliki jam dinding. Lalu raungan pesawat yang melintas di atas rumah, silih berganti menjadi pertunjukkan yang menggembirakan anak-anak balita untuk mengenali tulisan pada sayap dan lambung montor mabur (pesawat terbang) kesayangannya. Limbah asap hitam dari cerobong pabrik tahu dengan bahan bakar karet ban bekas sudah akrab di tubuh kami, dan ampas tahu sebagian dibuat tempe gembus sedang sisanya untuk makanan ternah ayam dan babi. Sampai nenek saya meninggal, Mei 1990, dan saya selesai kuliah, keluarga masih tinggal di sini.

Lalu kakak sulung menikah dan bekerja di Jakarta, saya berangkat kerja ke Belinyu, Bangka, keluarga kami pindah ke kampung Bener, Kecamatan Tegalrejo karena alasan keluarga berebut status tanah warisan. Ayah saya tidak suka bertengkar soal hak tanah, dan memilih mengalah untuk meninggalkan tanah kelahiran yang tak lagi ramah kepada kami. Anehnya, bertahun-tahun ayah saya menjabat ketua RT dengan penuh pengabdian tanpa dibayar sampai ada orang lain yang lebih muda yang mau menggantikannya. Beberapa waktu setelah itu kami harus rela hijrah ke rumah kontrak berkat jasa kenalan baik ayah dalam tugas menyebarkan ajaran katolik. Lewat surat yang ditulis tangan atau diketik manual oleh ayah, saya mengetahui keadaan keluarga di Yogya. Adik-adik yang menikah dan kerja serta kesehatan ayah dan emak diceritakan dengan bahasa Jawa yang lugas. Suatu kali, saya mau pulang liburan, ayah ingin ikut mengantar kami ambil tiket bus AKAB dengan membonceng motor. Meski kondisi fisiknya tak setegar dulu, semangat hidup beliau masih berkobar.

Tahun 1992, saya pindah kerja ke Palembang. Tiga tahun kemudian, saya menikah dan menempati rumah sangat sederhana secaraKPR BTN jangka 10 tahun. Kemudian lahir dua anak laki-laki yang mengisi suka duka hidup keluarga muda. Bererapa kali kami masih sempat ke Yogya. Sampai 2 November 200... saya dan adik yang kerja di Palembang ditelepon harus pulang ke Yogya karena ayah meninggal. Dengan dana talangan, kami berdua berangkat naik pesawat ke Jakarta untuk mengejar waktu. Dari bandara kami naik bus DAMRI ke stasiun Gambir. Tiket kereta eksekutif Arga Lawu keliru naik Arga Anggrek, tengah malam kami turun di stasiun (lupa) untuk ganti menunggu kereta Argo Lawu. Kami makan nasi goreng di kereta makan yang tidak nyaman dan relatif mahal, tapi terpaksa daripada kelaparan dan jaga kondisi.
Tiba di stasiun Tugu masih pagi, naik ojek ke rumah Bener. Rumah berkabung, keluarga berkumpul, tetangga, kenalan dan kawan-kawan yang tinggal di Yogya sungguh meneguhkan ketabahan kami sampai mengantarkan jenasah ke pemakaman pingit, dekat dengan makam keluarga ayah almarhum.

Selamat jalan ayah, terima kasih atas kasih sayang keluarga selama ini. Tangis syukur dan haru saya tak bisa terbendung di sisi pusara, setelah pelayat pulang dan tinggal kami anggota keluarga. Itulah perpisahan keluarga dengan mendiang ayah di tanah kelahiran hingga di tanah pemakaman ayah.

Kini rumah di Bener tinggal emak, dan dua adik perempuan saya yang setia menemani emak. Adik bungsu juga telah selesai kuliah, kerja sedapatnya dan 6 Juli 2008 kemarin meresmikan pernikahan di gereja katolik Santa Maria Tak Bernoda, Kumetiran. Kondisi emak sudah sangat jauh dari bugar, dan mereka, adik-adik perempuan saya ditambah adik laki-laki yang kerja di PMI cabang Yogya yang merawat dan menemani hidup di rumah. Emak tetap tabah dan tekun berdoa, walau usia dan kesehatan banyak menghalangi aktivitas dan keinginan terpendam dalam keseharian.

Kami, anak-anakmu yang beranjak dewasa dalam hidup mendoakan emak untuk bersemangat. Kakak sulung di Jakarta, saya dan satu adik laki-laki di Palembang, satu adik laki-laki di Palangkaraya. Adik laki-laki, dan tiga adik perempuan masih tinggal di Yogya. Tapi yang di rumah, tinggal emak dan dua adik perempuan, termasuk bungsu.

Terbanglah burung mencari cakarawala
dari sarang rumah yang sama
dari induk yang sama
dari kasih sayang yang sama

walau kita dulu bertengkar
memperebutkan makanan
kanak-kanak yang tumbuh
dalam pemberontakan yang semestinya...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENIKMATI PUNCAK BUNTU, GUNUNG SUMBING

Setelah semalam diguyur hujan dalam tenda dome di pelataran Pestan, kami dibangunkan oleh suara-suara di luar yang tampaknya ada rombongan pendaki lain sampai di tempat kami berkemah. Menilik suaranya, tampaknya mereka baru naik sebab nafas dan langkahnya masih ringan bersemangat tinggi. Biasanya pendaki yang turun langkahnya lebih berat menghentak tanah. Benarn saja, ketika pintu tenda saya buka sebagian dari mereka duduk-duduk dan sebagian yang lain mulai memasang tenda baru yang sebelumnya tak terdapat tenda lain di sekitar kami. Tenda yang kemarin sore berada di sekitar kami telah dibongkar dan pendakinya telah turun ke basecamp. Saya keluar tenda untuk menunggu sunrise. Jam di tangan menunjukkan waktu pukul 04.55 WIB. Udara tidak terlalu dingin, angin tidak begitu kuat, tapi jangan coba menyentuh rumput, karena embun akan menangkap kulit Anda. Teman satu tenda saya bangunkan untuk menjerang air buat kopi pagi, sementara tenda sebelah yang masih serombongan saya tampaknya tak berge...

CATATAN SAYA KE GUNUNG-GUNUNG

1974, PLAWANGAN      Kekaguman akan wujud gunung yang paling nyata pertama kali saya hadapi ketika rombongan anak-anak paroki yang tergabung dalam putra-putri altar gereja katolik Maria Asumpta, Kumetiran berekreasi ke Kaliurang. Perubahan suasana kota dengan hiruk-pikuk keseharian menjadi suasana lingkungan alam pegunungan dan vila-vila taman sepanjang kompleks wisata Kaliurang yang terkenal itu menyejukkan hati para pengunjung. Terminal kedatangan selalu silih berganti mobil angkutan masuk dan keluar meninggalkannya menandai tempat rekreasi ini lebih akrab dengan suara alam, antara lain gemericik air sungai kecil, juga pancuran di sudut-sudut jalan yang digunakan oleh pedagang dan pengunjung, suara kicau burung di ranting pohon pinus, serta desau angin. Hawa sejuk khas pegunungan dan dingin air gunung sebelum terkena sinar matahari siang. Pemandian 'Tlogo Putri' masih tampak sepi, airnya sangat dingin. Sementara di sisi lain air gemericik di dinding 'Tlogo Muncar' te...

MENJENGUK PENGALAMAN, MERENUNGKAN HAKIKAT, MENANGKAP MAKNA

Meski tak seaktif dulu lagi, melakukan petualanagan ke alam menjadikan semangat hidup punya bara, paling tidak punya cerita yang bisa dibagikan. Tumpukan pengalaman, walaupun tercerai-berai menjadi fragmen-fragmentaris dalam rentang waktu lama, bisa direkonstruksi tahap demi tahap yang masih berseliweran pada berbagai kesempatan selama masih bernapas dan mampu memanggil suara ingatan. Tahap norma manusia dibagi dalam 5 tingkatan: masa kanak-kanak, mulai sekolah dasar, sekolah lanjutan, kuliah, dan bekerja. Selama masa itu, kita sangat banyak bergantung kepada orang-orang baik di sekitar kita. Keluarga inti tentu saja sangat kita kenal entah dalam kurun waktu lama atau hanya sekejap ingatan mampu menyimpannya. Sanak saudara dan tetangga dekat menjadi orang-orang yang mengajari hidup tanpa memperhitungkan untung rugi. Ia memberi bantuan pertolongan dengan sukarela, ikhlas hati, dan ramah. Bermain dan belajar bebas memilih waktu sesuai kesepakatan, bahkan kalau harus mengorbankan waktu-...