Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2008

ANAK BAJANG

Fenomena budaya yang masih terjaga dalam tradisi pada beberapa masyarakat kaki gunung adalah rambut gimbal. Di lereng Gunung Merbabu, Jawa Tengah, dapat kita jumpai anak-anak dengan rambut yang dibiarkan tidak dipotong bahkan mungkin tidak dikeramas sejak lahir. Umumnya mereka ini perempuan, meski ada juga beberapa laki-laki. Bedanya, laki-laki pada usia menjelang dewasa berubah dengan sendirinya. Jika ingin mengamati budaya ini, usahakan jangan terlalu agresif mengejar terlalu dekat. Mereka cenderung menghindar dan malu untuk berkomunikasi. Perjumpaan harus berkesan alami, meski sekedar berhenti untuk duduk istirahat, menyapa, dan lewat begitu saja. Andai punya banyak waktu, menginaplah di salah satu rumah perangkat desa, tentu dengan izin pendekatan yang baik-baik. Dianjurkan untuk mengenal dan memahami bahasa Jawa agar lebih cepat beradaptasi dengan masyarakat. Mereka akan berkumpul saat di dapur, berdiang di depan tungku, memasak, minum teh atau kopi, lalu cerita sana-sini: tanaman...

GUA CERME, IMOGIRI, DIY

Pengembangan aktivitas kepencintaalaman tidak berhenti pada mendaki gunung saja, tetapi mulai merambah ke berbagai kegiatan yang memiliki tantangan tersendiri di alam, mulai lintas alam(cross country), penelusur gua (caving), arung jeram(rafting), jungle survival, paralayang, dan Search and Rescue. Panjat Tebing dan Panjat Dinding buatan kini telah menjadi cabang olahraga tersendiri yang disejajarkan dengan atlet. Fokus aktivitas petualangan bersinggungan dengan olah raga, konservasi, pariwisata, kemanusiaan, riset, dan jurnalistik. Akibatnya, penguasaan ilmu dan praktik di lapangan harus terus dibina pada diri pelakunya, perorangan maupun kelompok organisasi, formal maupun informal. Pengenalan gua dimulai dengan memahami topografi dan pemetaan gua itu sendiri. Ada dua jenis gua yang dapat dikenal di Indonesia, yaitu tipe horisontal dan tipe vertikal. Ciri gua horisontal berupa lorong(tunnel), sedang gua vertikal berupa lubang (hole). Ciri khas lain adalah perubahan terang ke gelap(zon...

YOGYAKARTA, KOTA LAMA part 2

Menelusuri kota Yogya, jangan hanya di jantung Malioboro. Tapi sungguh berjalan sampai batas-batas kota: utara -- Karangwaru (Jln. Magelang), timur -- IAIN Kalijaga (Jln. Solo), selatan -- Pugeran (Jln. Bantul), dan barat -- Wirobrajan (Jln. Wates) atau radius ruas jalan lain yang sejajar dengan tugu batas kotamadia. Pusat pemerintahan kota sendiri berada di kompleks Timoho. Landmark khas Yogyakarta sebagian besar masih bertahan sampai hari ini: Tugu, Stasiun Tugu, Pasar Kembang, Hotel Garuda, Malioboro, Gedung DPRD, Kompleks Kepatihan (Kantor dinas gubernur), Pasar Beringharjo, Jam kota (Ngejaman), Istana Negara, Benteng Vredeburg, Senisono, Gereja katolik Kidul Loji, Kantor Pos Besar, Bank Indonesia, Alun-alun utara, Pagelaran, Siti Hinggil, Masjid Besar Kauman, Pasar Burung Ngasem, Tamansari, Asdrafi (?), Keraton, Sasana Hinggil, dan Alun-alun Selatan. Sebelah timur kali Code terdapat Stasiun Lempuyangan, Kompleks Keraton Pura Pakualaman, Taman Makam Pahlawan, dan Kebun Binatang Gem...

YOGYAKARTA, KOTA LAMA part 1

Lahir dan dibesarkan di Yogyakarta merupakan cerita panjang dalam perjalanan usiaku. Meski daerahku tinggal beberapa puluh meter dengan batas kota kabupaten Bantul di barat daya dan dua ratusan meter batas kabupaten Sleman di utara kantor kecamatan Tegalrejo, aku menikmati keseharian yang sungguh-sungguh kampung tapi tidak menjadi kampungan. Keluarga begitu gigih memerhatikan pendidikan anak-anaknya yang kala itu KB menjadi program besar pemerintah orde baru sampai mendatangkan pengamat luar negeri segala. Faham Jawa: banyak anak banyak rejeki jelas tak berlaku dalam keluarga; walaupun garis keluarga ibu asli Jawa. Perjuangan untuk membiayai sekolah -- masih relatif murah untuk ukuran swasta -- Bapak PNS guru SD golongan terakhir IId dan ibu RT dengan usaha warung, spesialisasi kerja sosial memasak bila ada hajatan tetangga dan memandikan jenazah bila tak ada petugas khusus. Pengasuh kami di rumah yang setia adalah nenek dengan spesialisasi ritual kejawen dan dongeng sebelum tidur. Kal...

JALANI HIDUP DENGAN KREDIT

Budaya konsumtif yang tinggi menggoda gaya hidup modern yang disebut kreditan. Tingkat kesejahteraan masyarakat menengah ke bawah tidak dapat bersaing dengan kelas sebagian masyarakat yang bergelimang kemewahan, pejabat, selebriti, artis. Sementara kebutuhan dasar untuk tetap bertahan hidup minimal layak disebut manusia perlu kerja keras membanting tulang, memeras keringat dan otak. Peredaran uang keluarga yang keluar untuk dibelanjakan tidak sebanding dengan uang yang dikumpulkan setiap bulannya. Sebagian besar dibelanjakan untuk makan, sisanya dibagi-bagi menurut cabang dan ranting keinginan terencana dan celakanya banyak yang insidental, bersamaan, mendadak dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Jarang manajemen ekonomi keluarga membuat cadangan anggaran bahkan menabung atau asuransi, deposito di bank. Yang terjadi bank plecit alias bank keliling dengan bunga mencekik. Maka jadilah dunia ekonomi kita Dunia dalam Kredit. Terpaksa atau dipaksa keadaan, tergoda atau digoda situasi yang mem...

PAHLAWAN

10 November, di Indonesia diperingati sebagai Hari Pahlawan. Hanya perkembangan sekarang, tidak banyak masyarakat memperingatinya secara khusus karena sudah tergeser oleh kepentingan lain. Bagi saya pribadi, pahlawan kehidupan saya adalah orang tua. Kebetulan beliau (ayah alm.) meninggal tanggal 2 Nov. Mengenang jasa beliau toh tidak meninggalkan tradisi rasa hormat kepada leluhur. Tidak perlu mengibarkan bendera, berteriak lantang, dan mengkultuskan figur setinggi menara eiffel; cukup mengirimkan sepenggal doa sebagai tanda hubungan batin bahwa kita pernah hidup bersama di dunia manusia yang fana. Ada ibu sebagai pendamping jiwa, kakak yang mewarisi watak, saya yang suka keluyuran, adik-adik yang berebut oleh-oleh makanan. Dan kini kami beranjak dewasa, tersebar mengikuti medan kerja di jalan yang engkau ajarkan -- guru -- Warisan inilah yang sebagian kami teruskan, sementara adik-adik yang lain mencoba bidang kerja berbeda. Masa-masa perjuangan dulu telah kami lalui dalam keprihatina...