Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2009

ORANG GUNUNG TURUN GUNUNG

Ada baiknya sekali waktu pada akhir tahun tidak selalu di puncak gunung untuk memandang panorama bawah, tetapi kita berada di bawah, di lembah untuk memberikan kesempatan bernapas tanah, batu, dan angin puncak berbicara dari hati ke hati. Orang-orang yang mencintai puncak gunung hendaklah bercerita secara gamblang, mengapa teman lain juga ingin memandang keindahan dari puncaknya. Bagaimana kita bersiap diri dengan ketakterdugaan kondisi alam yang seringkali kita tidak siap mengantisipasinya sekaligus. Berita-berita petaka yang menimpa saudara pendaki hendaknya menjadi permenungan sepanjang hobi ini dikembangkan. Berita keberhasilan berdiri atau duduk, bersujud atau tengadah di atas ketinggian hendaklah menjadi kesadaran baru akan perlunya pemahaman baru tentang medan gunung yang tak sepenuhnya kita tahu jalannya, apalagi jalan-Nya yang sering tak diperhitungkan eksistensinya dari waktu ke waktu secara arif. Buku referensi memang kadang tak mudah direvisi seperti media cerita yang seger...

DIRGAHAYU, 28 TAHUN MAPASADHA

"Iringan bendera kemenangan...." Penggal lagu itu sekedar mengingatkan masa muda kuliah dengan bergabung pada unit kegiatan mapala di USD (dulu IKIP) bernama MAPASADHA Jogyakarta. Jiwa muda yang energik perlu diwadahi dan difasilitasi layaknya para pembalap liar yang menemukan trek sirkuit relatif permanen. Pemberontakan kreatif sejalan pencarian eksistensi, pembentukan karakter, pengembangan bakat dan minat perlu didengar, diakomodasikan oleh almamater sebagai Ibu Pawiyatan olah pikir dan olah rasa individual dan sosial. Generasi penerus bangsa disiapkan dan dipilih menurut jurusannya masing-masing. Pada zaman IKIP, orientasi lulusan/alumnus jelas jadi 'guru' terpaksa atau kesadaran. Walaupun tidak semua alumnus (termasuk yang terkena DO, lolos sebelum waktunya) pada akhirnya menjadi tenaga pengajar atau pendidik tangguh di tempat kerjanya, paling tidak bekal akta IV yang bergabung dengan ijazah resminya menjadi acuan dalam etos kerja hariannya (kecuali lupa). Orient...

ORANG GUNUNG PAKAI BATIK

Siapa mau ke gunung pakai kain batik? Jawaban umum: Kurang kerjaan. Lalu ke gunung sendiri apakah sebuah pekerjaan? Gunung tidak meminta apalagi memerintahkan, tetapi memanggil rasa ingin tahu. Gunung tidak mewajibkan apalagi mengharuskan untuk didaki, tetapi menggugah kesadaran berjalan pada permukaan tanah yang berbeda kemiringan dan ketinggiannya di atas permukaan air laut. Lalu ke gunung pakai batik sendiri apakah sebuah pemikiran? Gunung tidak berpikir, tetapi dipikirkan. Batik tidak dipikirkan, tetapi dipakai dengan pikiran. 1. Catwalk alam Banyak peragawan dan peragawati, apalagi kontes miss universe, berlomba di ajang bergengsi. Banyak pihak berkepentingan terhadap ajang gengsi ini, baik yang pro maupun yang kontra. Tahapan dilewati dengan berbagai bonus sponsor, dukungan, tetapi juga hujatan. Mata-mata juri, mata-mata penonton fokus tertuju pada lenggak-lenggok penampil kontes mengikuti sorot lampu dan kamera paparrazi. Dalam keheningan gunung, jauh dari dewan juri, jauh dari ...

MERAH PUTIH, 64 TH INDONESIA MERDEKA

Hari-hari ini dapat kita jumpai berkibaran kain bendera dan umbul-umbul baru dijual oleh pedagang musiman di pinggir jalan. Untuk urusan satu ini petugas trantib tak tampak menggusur dengan dalih menertibkan kawasan hijau atau alasan lain seperti image yang selama ini diterakan bagi pegawai pemkot ini kepada pedagang kaki lima. Simbol nasionalime mengalahkan humanisme keseharian warga negara tercinta ini. Pedagang begitu fasih mengibarkan bendera-bendera dagangannya tanpa peserta dan penghormatan khusus layaknya anggota pasukan pengibar bendera pusaka. Tiupan angin jalan raya mengumandangkan Indonesia Raya keringat keseharian kita bangsa merdeka. Lalu lintas berseliweran melindas aspal kebutuhan hidup layak. Dan orang-orang akan terus memandang lepas ke tiang jauh bernama "kebebasan" dari belenggu-belenggu keterjajahan silih berganti. Harga sembako yang terus bergoyang, arah pendidikan yang bias politik mengalahkan hakikat pencerdasan kehidupan bangsa, ikut mengupayakankan pe...

PANTAI SIUNG, JEPITU, GUNUNG KIDUL DIY

Berangkat dari undangan teman-teman Mapasadha, USD, kami ikut Dikjut materi caving dan panjat tebing di daerah Wonosari, Gunung Kidul, DIY, 2-5 Juli 2009 lalu. Dari Pondok Mapasadha rombongan diangkut dua mobil kampus yang dipinjamkan. Beberapa anggota lain berkonvoi motocycle to highland. Mengisi BBM sejenak, lalu tancap gas ke arah Prambanan, belok kanan arah Boko, terus tanjakan mesra Piyungan, Patuk, Wonosari city, eee terus ke arah Pantai Baron, Kukup, Krakal, Drini, Sundak dan berhenti di pinggir jalan tanjakan. Sempat nylonong alias kebablasan sih karena miskomunikasi dengan sopir tentang drop area. Logistik diturunkan, dipanggul menuju basecamp caving gua Kemucing. Mobil transpor kembali ke kampus. Dan matahari semakin redup di balik bukit kapur. Bias sinarnya masih menuntun langkah kami menuju lokasi camp 1 di bibir gua. Beberapa personil sempat nyasar karena camp berada di bawah di antara tanaman casava, pisang dan pepaya. Untunglah bulan membantu menghemat baterei senter kam...

HARI BUMI, 22 APRIL 2009

Apa isu global tentang bumi kita? Tanda-tanda bencana di mana-mana, ada yang murni terjadi bersumber dari gejolak alam, tapi banyak yang justru akibat ulah manusia bumi itu sendiri. Gambaran globe yang bulat (walau sebagian besar berupa air) berapa kecepatan rotasinya. Siapa tahu energi bumi berlebihan, tidak konstant, dan gangguan makhluk luar angkasa seperti cerita hollywood. Beberapa gunung menunjukkan peningkatan aktivitas, beberapa satwa lari ke kebun pekarangan petani, dan beberapa pendaki sempat kehilangan orientasi jalurnya. Beberapa banjir menjadi langganan kota, beberapa angin memporakporandakan rumah, dan beberapa orang terganggu akal sehatnya. Beberapa dari beberapa yang tidak seberapa itu akan kita tanam ke mana? Suhu yang semakin tak bersahabat, lingkungan yang semakin tak ramah berada dalam ekskalasi kepadatan manusia buni.

MENDUNG MENGGANTUNG DI SITU GINTUNG

Peristiwa jebolnya tanggul resapan situ gintung, tangerang, menyisakan persoalan lingkungan sosial perkotaan yang mendasar. Pembangunan kembali, penataan ruang kembali dan pemberdayaan manusia pengambil kebijakan bersama korban perlu diupayakan secara komprehensif yang menjangkau jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Adanya otonomi daerah yang telah dipatenkan lewat undang-undang harus didorong proaktif tanpa menunggu komando pusat pemerintahan walau lokasi pusat pemerintahan tidak jauh dari tempat kejadian. Harus disadarkan bahwa tanggung jawab komponen teritoriallah yang berperan penuh terhadap pengembalian fungsi awal sambil dilakukan penataan ulang relokasi pemukiman penduduk dan peluang usaha/kerja yang menopang kelangsungan hidup korban. Tentu, kondisi semula tidak mungkin diwujudkan. Data penduduk resmi yang masih tersimpan bisa menjadi acuan izin pembangunan rumah penduduk untuk menempati area aman, walau mengorbankan sebagian fungsi awal situ dibangun masa sebelum ledak...

ANAKKU BELAJAR AKTING

Sabtu, 21 Februari 2009 Pukul 14.30 saya masih berada di sekolah untuk membimbing ekstrakurikuler pencinta alam SMA Xaverius 1. Disiplin kerja yang saya bangun sejak lama di aktivitas mahasiswa adalah kalau saya sedang on fire di sana, saya tidak boleh diganggu kecuali sangat mendesak. Imbasnya adalah anak harus menunggu bermain, kecuali mau pulang naik angkot sendiri; Hp saya matikan atau saya tinggal di rumah supaya konsentrasi penuh pada aktivitas saat itu. Yang celaka kalau lupa membawa dompet atau uang. Tiba-tiba, Rm. Agus, ekonom Seminari Menengah Santo Paulus memberitahu bahwa ada berita sms berkaitan dengan anak saya yang kedua bermasalah 'tertelan satu kartu gaple plastik saat main di rumah, sedang dalam perjalanan ke rumah sakit diantar mobil, akan menuju ke tempat saya, lalu bersama Romo ke UGD Rumah Sakit Charitas pusat. Keluhannya sudah tertelan ke perut, terus muntah berwarna cokelat, kesan suster muntah darah. Memang sedikit tegang dan terus bertanya-tanya di benak s...

EPISODE KERINCI, JAMBI: PENDAKIAN AKHIR TAHUN 2008

27 Desember 2008 s.d. 3 Januari 2009 " Kita memilih hobi yang aneh, jadilah kita orang-orang aneh yang selalu rindu berkeliaran ke hutan, gunung, sungai dan tempat-tempat yang memiliki tantangan sendiri ", (percakapan di shelter 1 gunung Kerinci dengan rombongan Himawan cs, pendaki tertua Indonesia dari Bandung 29 Desember 2008) Tak dapat subsidi sekolah, bukan halangan untuk membatalkan niat pergi ke gunung saat libur sekolah. Kapan lagi ekskul yang fokus bertualang ke alam bebas ini dapat berjalan kalau bukan masa liburan. Proposal sudah diupayakan, prosedeur formal sudah ditempuh, persiapan sudah dilakukan, niat sudah bulat, berangkat dengan restu orang-orang terdekat dean sepengetahuan pihak sekolah. Jadilah semua biaya ditanggung peserta, itulah intinya: penanaman Kemandirian! Tim berjumlah 10 orang (Pak Eka Rst., Ari, Budi S., JK, Wirawan, Quina, Mumut, Leni, Hanna, dan Derry) ini menyiapkan diri di antara kesibukan belajar dan ulangan akhir semester untuk melakukan pen...