Hari-hari ini dapat kita jumpai berkibaran kain bendera dan umbul-umbul baru dijual oleh pedagang musiman di pinggir jalan. Untuk urusan satu ini petugas trantib tak tampak menggusur dengan dalih menertibkan kawasan hijau atau alasan lain seperti image yang selama ini diterakan bagi pegawai pemkot ini kepada pedagang kaki lima. Simbol nasionalime mengalahkan humanisme keseharian warga negara tercinta ini.
Pedagang begitu fasih mengibarkan bendera-bendera dagangannya tanpa peserta dan penghormatan khusus layaknya anggota pasukan pengibar bendera pusaka. Tiupan angin jalan raya mengumandangkan Indonesia Raya keringat keseharian kita bangsa merdeka. Lalu lintas berseliweran melindas aspal kebutuhan hidup layak. Dan orang-orang akan terus memandang lepas ke tiang jauh bernama "kebebasan" dari belenggu-belenggu keterjajahan silih berganti. Harga sembako yang terus bergoyang, arah pendidikan yang bias politik mengalahkan hakikat pencerdasan kehidupan bangsa, ikut mengupayakankan perdamaian abadi jauh dari pluralisme.
Bara 'merah' di mana-mana, menyala tak mau padam, memisahkan putih dalam cengkeramannya. Selalu merah, selalu marah, keberingasan, dendam, dominasi kekuasaan, dan kebakaran menjadi bencana. Asap mengepul dari kegersangan lahan kosong, jerit warga yang mengungsi, hutan digunduli untuk usaha yang lebih mendatangkan devisa. Satwa berlarian terengah, mati diterkam keganasan hidup.
Awan 'putih' hanya bayang-bayang yang segera tersaput mendung, keruh, menutup langit, matahari, dan udara bersih yang tersisa di tengah kota. Berita abu-abu disebarluaskan begitu cepat oleh zaman teknologi tak terbendung. Gelombang radio, komunikasi, televisi, hiburan, permusuhan, gaya hidup mengaduk peradaban budaya tradisi, pelan tapi pasti. Mimpi-mimpi generasi tak bersambung, tak berpijak ke bumi pertiwi, ibu segala cipta, rasa, dan karsa para pendahulu bangsa.
Aku, sebagai salah satu warga kampung negeri ini, sadar dengan memasang bendera yang selama setahun lalu tersimpan, entah kapan dicucinya. Anakku bersemangat membantuku memegangi tiang bambu untuk ditegakkan di pagar rumah sebagai pelajaran dasar ikut memiliki negara ini, tumpah darah kelahiran, kesehatan, kehidupan, harapan kesempatan kerja sekaligus kesejahteraan rata-rata. Nyanyian kemerdekaan selalu disiapkan untuk dihapalkan kembali walau suara kita tidak semerdu burung berkicau pagi hari.
Pedagang begitu fasih mengibarkan bendera-bendera dagangannya tanpa peserta dan penghormatan khusus layaknya anggota pasukan pengibar bendera pusaka. Tiupan angin jalan raya mengumandangkan Indonesia Raya keringat keseharian kita bangsa merdeka. Lalu lintas berseliweran melindas aspal kebutuhan hidup layak. Dan orang-orang akan terus memandang lepas ke tiang jauh bernama "kebebasan" dari belenggu-belenggu keterjajahan silih berganti. Harga sembako yang terus bergoyang, arah pendidikan yang bias politik mengalahkan hakikat pencerdasan kehidupan bangsa, ikut mengupayakankan perdamaian abadi jauh dari pluralisme.
Bara 'merah' di mana-mana, menyala tak mau padam, memisahkan putih dalam cengkeramannya. Selalu merah, selalu marah, keberingasan, dendam, dominasi kekuasaan, dan kebakaran menjadi bencana. Asap mengepul dari kegersangan lahan kosong, jerit warga yang mengungsi, hutan digunduli untuk usaha yang lebih mendatangkan devisa. Satwa berlarian terengah, mati diterkam keganasan hidup.
Awan 'putih' hanya bayang-bayang yang segera tersaput mendung, keruh, menutup langit, matahari, dan udara bersih yang tersisa di tengah kota. Berita abu-abu disebarluaskan begitu cepat oleh zaman teknologi tak terbendung. Gelombang radio, komunikasi, televisi, hiburan, permusuhan, gaya hidup mengaduk peradaban budaya tradisi, pelan tapi pasti. Mimpi-mimpi generasi tak bersambung, tak berpijak ke bumi pertiwi, ibu segala cipta, rasa, dan karsa para pendahulu bangsa.
Aku, sebagai salah satu warga kampung negeri ini, sadar dengan memasang bendera yang selama setahun lalu tersimpan, entah kapan dicucinya. Anakku bersemangat membantuku memegangi tiang bambu untuk ditegakkan di pagar rumah sebagai pelajaran dasar ikut memiliki negara ini, tumpah darah kelahiran, kesehatan, kehidupan, harapan kesempatan kerja sekaligus kesejahteraan rata-rata. Nyanyian kemerdekaan selalu disiapkan untuk dihapalkan kembali walau suara kita tidak semerdu burung berkicau pagi hari.
Komentar