Langsung ke konten utama

MERAH PUTIH, 64 TH INDONESIA MERDEKA

Hari-hari ini dapat kita jumpai berkibaran kain bendera dan umbul-umbul baru dijual oleh pedagang musiman di pinggir jalan. Untuk urusan satu ini petugas trantib tak tampak menggusur dengan dalih menertibkan kawasan hijau atau alasan lain seperti image yang selama ini diterakan bagi pegawai pemkot ini kepada pedagang kaki lima. Simbol nasionalime mengalahkan humanisme keseharian warga negara tercinta ini.

Pedagang begitu fasih mengibarkan bendera-bendera dagangannya tanpa peserta dan penghormatan khusus layaknya anggota pasukan pengibar bendera pusaka. Tiupan angin jalan raya mengumandangkan Indonesia Raya keringat keseharian kita bangsa merdeka. Lalu lintas berseliweran melindas aspal kebutuhan hidup layak. Dan orang-orang akan terus memandang lepas ke tiang jauh bernama "kebebasan" dari belenggu-belenggu keterjajahan silih berganti. Harga sembako yang terus bergoyang, arah pendidikan yang bias politik mengalahkan hakikat pencerdasan kehidupan bangsa, ikut mengupayakankan perdamaian abadi jauh dari pluralisme.

Bara 'merah' di mana-mana, menyala tak mau padam, memisahkan putih dalam cengkeramannya. Selalu merah, selalu marah, keberingasan, dendam, dominasi kekuasaan, dan kebakaran menjadi bencana. Asap mengepul dari kegersangan lahan kosong, jerit warga yang mengungsi, hutan digunduli untuk usaha yang lebih mendatangkan devisa. Satwa berlarian terengah, mati diterkam keganasan hidup.

Awan 'putih' hanya bayang-bayang yang segera tersaput mendung, keruh, menutup langit, matahari, dan udara bersih yang tersisa di tengah kota. Berita abu-abu disebarluaskan begitu cepat oleh zaman teknologi tak terbendung. Gelombang radio, komunikasi, televisi, hiburan, permusuhan, gaya hidup mengaduk peradaban budaya tradisi, pelan tapi pasti. Mimpi-mimpi generasi tak bersambung, tak berpijak ke bumi pertiwi, ibu segala cipta, rasa, dan karsa para pendahulu bangsa.

Aku, sebagai salah satu warga kampung negeri ini, sadar dengan memasang bendera yang selama setahun lalu tersimpan, entah kapan dicucinya. Anakku bersemangat membantuku memegangi tiang bambu untuk ditegakkan di pagar rumah sebagai pelajaran dasar ikut memiliki negara ini, tumpah darah kelahiran, kesehatan, kehidupan, harapan kesempatan kerja sekaligus kesejahteraan rata-rata. Nyanyian kemerdekaan selalu disiapkan untuk dihapalkan kembali walau suara kita tidak semerdu burung berkicau pagi hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENIKMATI PUNCAK BUNTU, GUNUNG SUMBING

Setelah semalam diguyur hujan dalam tenda dome di pelataran Pestan, kami dibangunkan oleh suara-suara di luar yang tampaknya ada rombongan pendaki lain sampai di tempat kami berkemah. Menilik suaranya, tampaknya mereka baru naik sebab nafas dan langkahnya masih ringan bersemangat tinggi. Biasanya pendaki yang turun langkahnya lebih berat menghentak tanah. Benarn saja, ketika pintu tenda saya buka sebagian dari mereka duduk-duduk dan sebagian yang lain mulai memasang tenda baru yang sebelumnya tak terdapat tenda lain di sekitar kami. Tenda yang kemarin sore berada di sekitar kami telah dibongkar dan pendakinya telah turun ke basecamp. Saya keluar tenda untuk menunggu sunrise. Jam di tangan menunjukkan waktu pukul 04.55 WIB. Udara tidak terlalu dingin, angin tidak begitu kuat, tapi jangan coba menyentuh rumput, karena embun akan menangkap kulit Anda. Teman satu tenda saya bangunkan untuk menjerang air buat kopi pagi, sementara tenda sebelah yang masih serombongan saya tampaknya tak berge...

CATATAN SAYA KE GUNUNG-GUNUNG

1974, PLAWANGAN      Kekaguman akan wujud gunung yang paling nyata pertama kali saya hadapi ketika rombongan anak-anak paroki yang tergabung dalam putra-putri altar gereja katolik Maria Asumpta, Kumetiran berekreasi ke Kaliurang. Perubahan suasana kota dengan hiruk-pikuk keseharian menjadi suasana lingkungan alam pegunungan dan vila-vila taman sepanjang kompleks wisata Kaliurang yang terkenal itu menyejukkan hati para pengunjung. Terminal kedatangan selalu silih berganti mobil angkutan masuk dan keluar meninggalkannya menandai tempat rekreasi ini lebih akrab dengan suara alam, antara lain gemericik air sungai kecil, juga pancuran di sudut-sudut jalan yang digunakan oleh pedagang dan pengunjung, suara kicau burung di ranting pohon pinus, serta desau angin. Hawa sejuk khas pegunungan dan dingin air gunung sebelum terkena sinar matahari siang. Pemandian 'Tlogo Putri' masih tampak sepi, airnya sangat dingin. Sementara di sisi lain air gemericik di dinding 'Tlogo Muncar' te...

MENJENGUK PENGALAMAN, MERENUNGKAN HAKIKAT, MENANGKAP MAKNA

Meski tak seaktif dulu lagi, melakukan petualanagan ke alam menjadikan semangat hidup punya bara, paling tidak punya cerita yang bisa dibagikan. Tumpukan pengalaman, walaupun tercerai-berai menjadi fragmen-fragmentaris dalam rentang waktu lama, bisa direkonstruksi tahap demi tahap yang masih berseliweran pada berbagai kesempatan selama masih bernapas dan mampu memanggil suara ingatan. Tahap norma manusia dibagi dalam 5 tingkatan: masa kanak-kanak, mulai sekolah dasar, sekolah lanjutan, kuliah, dan bekerja. Selama masa itu, kita sangat banyak bergantung kepada orang-orang baik di sekitar kita. Keluarga inti tentu saja sangat kita kenal entah dalam kurun waktu lama atau hanya sekejap ingatan mampu menyimpannya. Sanak saudara dan tetangga dekat menjadi orang-orang yang mengajari hidup tanpa memperhitungkan untung rugi. Ia memberi bantuan pertolongan dengan sukarela, ikhlas hati, dan ramah. Bermain dan belajar bebas memilih waktu sesuai kesepakatan, bahkan kalau harus mengorbankan waktu-...