Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2008

PENDAKIAN AKHIR TAHUN, KERINCI JAMBI

Meski masih dalam persiapan, suasana perbincangan tentang gunung selalu seru di antara anggota di ruang sekretariat. Apalagi sebagian besar anggota berstatus remaja sma yang baru selesai mengikuti ulangan semester. Keinginan untuk mendaki gunung rata-rata menjadi motivasi awal mereka masuk dan bergabung dengan anggota lama yang sebagian memang sudah mendekati kelas akhir sehingga semester depan tidak aktif daripada di-recall kepsek. Lima pertanyaan dasar yang sering muncul: berapa biayanya? apa saja yang perlu dibawa? menginap di mana? bagaimana kondisi medan pendakian? dan berapa lama sampai ke puncak? Prosedur formal yang harus mereka lewati adalah: mematangkan rencana dalam bentuk proposal ke kepala sekolah, latihan fisik, pengenalan rute medan pendakian, konsolidasi anggota, pengecekan peralatan dan perbekalan, perizinan ortu secara tertulis, dan pembagian tugas individu. Inilah cara pelatihan kemandirian bagi anak terhadap proses manajerial ekspedisi petualangan di alam bebas. Den...

ANAK BAJANG

Fenomena budaya yang masih terjaga dalam tradisi pada beberapa masyarakat kaki gunung adalah rambut gimbal. Di lereng Gunung Merbabu, Jawa Tengah, dapat kita jumpai anak-anak dengan rambut yang dibiarkan tidak dipotong bahkan mungkin tidak dikeramas sejak lahir. Umumnya mereka ini perempuan, meski ada juga beberapa laki-laki. Bedanya, laki-laki pada usia menjelang dewasa berubah dengan sendirinya. Jika ingin mengamati budaya ini, usahakan jangan terlalu agresif mengejar terlalu dekat. Mereka cenderung menghindar dan malu untuk berkomunikasi. Perjumpaan harus berkesan alami, meski sekedar berhenti untuk duduk istirahat, menyapa, dan lewat begitu saja. Andai punya banyak waktu, menginaplah di salah satu rumah perangkat desa, tentu dengan izin pendekatan yang baik-baik. Dianjurkan untuk mengenal dan memahami bahasa Jawa agar lebih cepat beradaptasi dengan masyarakat. Mereka akan berkumpul saat di dapur, berdiang di depan tungku, memasak, minum teh atau kopi, lalu cerita sana-sini: tanaman...

GUA CERME, IMOGIRI, DIY

Pengembangan aktivitas kepencintaalaman tidak berhenti pada mendaki gunung saja, tetapi mulai merambah ke berbagai kegiatan yang memiliki tantangan tersendiri di alam, mulai lintas alam(cross country), penelusur gua (caving), arung jeram(rafting), jungle survival, paralayang, dan Search and Rescue. Panjat Tebing dan Panjat Dinding buatan kini telah menjadi cabang olahraga tersendiri yang disejajarkan dengan atlet. Fokus aktivitas petualangan bersinggungan dengan olah raga, konservasi, pariwisata, kemanusiaan, riset, dan jurnalistik. Akibatnya, penguasaan ilmu dan praktik di lapangan harus terus dibina pada diri pelakunya, perorangan maupun kelompok organisasi, formal maupun informal. Pengenalan gua dimulai dengan memahami topografi dan pemetaan gua itu sendiri. Ada dua jenis gua yang dapat dikenal di Indonesia, yaitu tipe horisontal dan tipe vertikal. Ciri gua horisontal berupa lorong(tunnel), sedang gua vertikal berupa lubang (hole). Ciri khas lain adalah perubahan terang ke gelap(zon...

YOGYAKARTA, KOTA LAMA part 2

Menelusuri kota Yogya, jangan hanya di jantung Malioboro. Tapi sungguh berjalan sampai batas-batas kota: utara -- Karangwaru (Jln. Magelang), timur -- IAIN Kalijaga (Jln. Solo), selatan -- Pugeran (Jln. Bantul), dan barat -- Wirobrajan (Jln. Wates) atau radius ruas jalan lain yang sejajar dengan tugu batas kotamadia. Pusat pemerintahan kota sendiri berada di kompleks Timoho. Landmark khas Yogyakarta sebagian besar masih bertahan sampai hari ini: Tugu, Stasiun Tugu, Pasar Kembang, Hotel Garuda, Malioboro, Gedung DPRD, Kompleks Kepatihan (Kantor dinas gubernur), Pasar Beringharjo, Jam kota (Ngejaman), Istana Negara, Benteng Vredeburg, Senisono, Gereja katolik Kidul Loji, Kantor Pos Besar, Bank Indonesia, Alun-alun utara, Pagelaran, Siti Hinggil, Masjid Besar Kauman, Pasar Burung Ngasem, Tamansari, Asdrafi (?), Keraton, Sasana Hinggil, dan Alun-alun Selatan. Sebelah timur kali Code terdapat Stasiun Lempuyangan, Kompleks Keraton Pura Pakualaman, Taman Makam Pahlawan, dan Kebun Binatang Gem...

YOGYAKARTA, KOTA LAMA part 1

Lahir dan dibesarkan di Yogyakarta merupakan cerita panjang dalam perjalanan usiaku. Meski daerahku tinggal beberapa puluh meter dengan batas kota kabupaten Bantul di barat daya dan dua ratusan meter batas kabupaten Sleman di utara kantor kecamatan Tegalrejo, aku menikmati keseharian yang sungguh-sungguh kampung tapi tidak menjadi kampungan. Keluarga begitu gigih memerhatikan pendidikan anak-anaknya yang kala itu KB menjadi program besar pemerintah orde baru sampai mendatangkan pengamat luar negeri segala. Faham Jawa: banyak anak banyak rejeki jelas tak berlaku dalam keluarga; walaupun garis keluarga ibu asli Jawa. Perjuangan untuk membiayai sekolah -- masih relatif murah untuk ukuran swasta -- Bapak PNS guru SD golongan terakhir IId dan ibu RT dengan usaha warung, spesialisasi kerja sosial memasak bila ada hajatan tetangga dan memandikan jenazah bila tak ada petugas khusus. Pengasuh kami di rumah yang setia adalah nenek dengan spesialisasi ritual kejawen dan dongeng sebelum tidur. Kal...

JALANI HIDUP DENGAN KREDIT

Budaya konsumtif yang tinggi menggoda gaya hidup modern yang disebut kreditan. Tingkat kesejahteraan masyarakat menengah ke bawah tidak dapat bersaing dengan kelas sebagian masyarakat yang bergelimang kemewahan, pejabat, selebriti, artis. Sementara kebutuhan dasar untuk tetap bertahan hidup minimal layak disebut manusia perlu kerja keras membanting tulang, memeras keringat dan otak. Peredaran uang keluarga yang keluar untuk dibelanjakan tidak sebanding dengan uang yang dikumpulkan setiap bulannya. Sebagian besar dibelanjakan untuk makan, sisanya dibagi-bagi menurut cabang dan ranting keinginan terencana dan celakanya banyak yang insidental, bersamaan, mendadak dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Jarang manajemen ekonomi keluarga membuat cadangan anggaran bahkan menabung atau asuransi, deposito di bank. Yang terjadi bank plecit alias bank keliling dengan bunga mencekik. Maka jadilah dunia ekonomi kita Dunia dalam Kredit. Terpaksa atau dipaksa keadaan, tergoda atau digoda situasi yang mem...

PAHLAWAN

10 November, di Indonesia diperingati sebagai Hari Pahlawan. Hanya perkembangan sekarang, tidak banyak masyarakat memperingatinya secara khusus karena sudah tergeser oleh kepentingan lain. Bagi saya pribadi, pahlawan kehidupan saya adalah orang tua. Kebetulan beliau (ayah alm.) meninggal tanggal 2 Nov. Mengenang jasa beliau toh tidak meninggalkan tradisi rasa hormat kepada leluhur. Tidak perlu mengibarkan bendera, berteriak lantang, dan mengkultuskan figur setinggi menara eiffel; cukup mengirimkan sepenggal doa sebagai tanda hubungan batin bahwa kita pernah hidup bersama di dunia manusia yang fana. Ada ibu sebagai pendamping jiwa, kakak yang mewarisi watak, saya yang suka keluyuran, adik-adik yang berebut oleh-oleh makanan. Dan kini kami beranjak dewasa, tersebar mengikuti medan kerja di jalan yang engkau ajarkan -- guru -- Warisan inilah yang sebagian kami teruskan, sementara adik-adik yang lain mencoba bidang kerja berbeda. Masa-masa perjuangan dulu telah kami lalui dalam keprihatina...

EPISODE BUKIT KABA, CURUP - BENGKULU

Nah, ini dia Wisata Alam dengan peserta melebihi perkiraan. Tahun 1994, Palaxsa membuat gebrakan kegiatan beruntun: Lomba Foto Lingkungan tingkat SLTA sekodia Palembang, Reli sepeda wisata kota, dan Tour de Kaba. Menurut cerita, Palaxsa diresmikan pertama kali dengan mendaki Bukit Kaba ini. Saya sebagai pendatang baru di Palembang, otomatis tertarik untuk melihat langsung panorama gunung di sini. Rute perjalanan menggunakan transport kereta Sindangmarga dari stasiun Kertapati menuju stasiun Lubuk Linggau. Panitia harus booking ticket kereta dua gerbong kelas bisnis karena musim libur sekolah waktu itu masih caturwulan. Suasana di kereta sangat meriah, guru pendampin, panitia, dan peserta yang penuh semangat dan tak ketinggalan alumni yang masih concern pada kegiatan adik-adik kelasnya. Dari stasiun Lubuk Linggau, rombongan diangkut menuju Simpang Kaba, Curup dengan konvoi angdes mobil bak terbuka dan minicolt station. Udara pagi, jalan berkelok, barang perbekalan penuh sesak, dan sebag...

EPISODE GUNUNG DEMPO

Tahun pertama saya kerja di Palembang, Desember 1992, saya diajak mendampingi anak-anak Pecinta Alam SMA Xaverius 1 sekitar 20-an orang mendaki Gunung Dempo, Pagaralam,Lahat, Sumatera Selatan. Dari Palembang waktu itu berangkat sore hari sekitar pukul 17.30 dengan menyeberangi Sungai Musi naik perahu penyeberangan ke pool bus Telaga Biru di terminal 7 Ulu. Waktu itu terminal Karya Jaya belum selesai dibangun. Kami sengaja memilih perjalanan malam di bus karena berharap sampai sana cepat beradaptasi dengan situasi lingkungan. Untuk pertama kali itu juga yang saya ingat sepanjang perjalanan hanya sekali berhenti untuk makan malam di rumah makan padang Siang-Malam di Prabumulih. Selanjutnya semua serba gelap kecuali suara musik dari kaset sopir dengan lagu irama melayu. Udara dingin menunjukkan perbedaan ketinggian tempat dan waktu yang sudah memasuki dini hari. Karena sudah melakukan kontak interlokal dengan Kepsek SMP Xaverius Pagaralam, rombongan kami diantar sampai ke pelataran sekola...

MEMAKNAI SUMPAH PEMUDA

Bulan Oktober selalu identik dengan aktivitas peringatan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, yang berisikan Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu - bangsa Indonesia, bertanah air satu - tanah air Indonesia, dan menjunjung tinggi bahasa persatuan - bahasa Indonesia. Menjadi gerakan yang sarat kepentingan nasionalisme ketika tahun ini diberi gerakan 100 Tahun Kebangkitan Nasional - Indonesia Bisa! Secara formal, bangsa Indonesia memang satu; tanah air Indonesia juga satu; bahasa Indonesia resmi menjadi bahasa nasional dan bahasa negara. Tetapi, gejolak reformasi dan globalisasi justru memberikan tantangan tersendiri untuk disimak. Banyak orang berebut kekuasaan, berebut kekayaan, dan berebut memikat wanita. Otak saja tidak cukup jernih berpikir ke masa depan, uang berhamburan dengan mengorbankan moralitas, massa dimobilisasi dengan janji kesejahteraan, emosi rakyat dibakar dalam perlakuan hukum dan lapangan kerja. Tak punya modal dan ketrampilan menjadi tumbal kemanusiaan yan...

EPISODE PULAU BANGKA

Bekerja ke luar Jawa merupakan tantangan bagi saya yang baru selesaikan sarjana pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Sebelum selesai skripsi, sudah banyak tawaran kerja yang dipajang di papan pengumuman kampus, lengkap dengan berbagai fasilitas yang disediakan. Syukurlah pihak kampus memiliki jaringan penyediaan lapangan kerja cukup luas, sehingga alumni siap bekerja ke mana pun tawaran itu ada. Keputusan saya bulat untuk berangkat ke salah satu lembaga pendidikan Tunas Karya di Bangka. Kebetulan dari jurusan lain seangkatan ada yang siap berangkat ke sana juga. Jadi kami berdua memulai petualangan darat ke sana. Rute yang kami tempuh melewati Yogya-Jakarta-Merak-Bakauheuni-Rajabasa-Palembang selama dua hari dua malam. Gila, di terminal Rajabasa dipaksa beli air mineral botol besar yang sebetulnya tidak kami butuhkan dalam todongan pisau. Daripada ribut berisiko di tanah seberang yang belum kami kenal, kami merelakan kocek berkurang. Tapi fenomena itu membent...

DEMAM MENULIS

Beberapa hari ini saya kena penyakit demam untuk menulis. alasannya sederhana. mesin ketik manual sudah lama saya simpan dan mungkin pitanya kering serta besinya berkarat. saya mendapat pinjaman uang dari pimpinan kantor untuk membeli laptop yang sudah sekian bulan saya impikan seperti mengandung bayi. Begitu permohonan pinjaman dikabulkan saya bersemangat untuk segera menggunakannya. Karena ada kemudahan lain, barang diterima sebelum dibayar. Syukur Tuhan tahun ini engkau membuka cakrawala teknologi informasi pada hidup kerja keseharianku. Dengan sarana baru yang bisa dibawa dalam tas ada kecenderungan menggantikan fungsi buku harian. waktu luang atau istirahat bisa dimanfaatkan dengan mengaktifkan jendela elektronik berjaringan wireless frequency. paling dasar yang saya lakukan mengetik untuk disimpan atau diposting sendiri. Saya masih mengandalkan aji mumpung gratis di kantor (belum terbayar kalau langganan sendiri berhubung gaji terbatas). Maklum guru swasta golongan IIIc di Indon...

MEMAKNAI 63 TAHUN KEMERDEKAAN

17 Agustus 2008 menjadi peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-63. Peringatan itu menjadi lebih hingar bingar karena berbagai aksesoris dipasang; karena berbagai kegiatan dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat. Tidak ketinggalan tentu pengibaran bendera merah putih. Yang menarik tentu bagaimana masyarakat memahami makna bendera itu. Ada berbagai ekspresi yang tampil. Bendera merah putih berkibar dalam berbagai ukuran dan variasi modifikasi lainnya. Akibatnya pemaknaan tidak hanya penghormatan jiwa sejarah kemerdekaan bangsa dari tangan penjajah, tetapi juga harga bisnis kain benderanya. Orang boleh saja mengganti bendera yang lama yang telah kusam, kusut atau rusak dengan yang baru, yang warnanya bersih cemerlang layaknya iklan walau butuh dana tambahan untuk mengadakannya. Lalu ke mana bendera-bendera yang lama? Disimpan? Bendera itu meski lama, tetap saja merah putih jiwanya. Asal dipelihara, dicuci secara berkala, dan disimpan di almari secara baik, tetap layak berkibar untuk pering...

MENJAJAL DEBURAN SERAYU

Di tepinya sungai Serayu, waktu fajar menyingsing desir angin lemah gemulai, mengalirberkilauan.... Barangkali ingat syair lagu langgam keroncong yang romantis seperti itu, jiwa kembali muda. betapa tidak? Kami berniat mengarunginya bersama anggota Pencinta Alam SMA Xaverius 1 Palembang dan Mahasiswa USD Yogyakarta tanggal 27 Juli 2008 lalu. Pak Tom dan Pak Eka sebagai pendamping kegiatan lapangan ikut merasakan berbasah ria di jeram-jeramnya. Berangkat dari Yogyakarta, 2 mobil Xenia dan Kijang meluncur menembus malam. Kami pilih malam untuk mengurangi kemacetan jalan raya. Untuk memangkas jalur, kami melewati Borobudur menuju tanjakan Kepil tembus Wonosobo. Hujan rintik membasahi sepanjang jalan yang kami lalui. Tiba di persimpangan jalan, terpasksa kami harus bertanya sana-sini agar tidak salah jalan. Tiba di Wonosobo, kami menikmati makan malam di pinggir jalan yang masih buka dengan menu spesial Bebek goreng hangat. Lepas dari Wonosobo, hujan deras mengguyur jalanan. Kami menuju ba...

EPISODE GUNUNG LAWU LANJUTAN

Akhirnya terjadi juga, pendakian itu. ke puncakmu Gunung Lawu. Kami datang dari Palembang dengan 9 anggota Palaxsa: Pak Tom. Pal Eka, Cecil. Monic, Tanti, Seto, Budi, Theo, Leni dibantu 4 personil anggota Mapasadha USD Yogyakarta: Pecek, Larso, Mas Wie, Sempal berangkat dari pondok ke Janti dengan menumpang bus kota. Dari Janti kami melanjutkan ke kota Solo dengan bus Sri Mulyo. Udara panas yang membuat gerah berubah setelah mendapatkan tambahan teman pengamen muda bernama Mas Muji. Terminal Tirtonadi kami lewati untu bergerak ke Tawangmangu arah pendakian Gunung Lawu kali ini. Dengan sedikit negosiasi harga jadilah kami berangkat ke objek wisata ini. Sore tak menyurutkan semangat untuk segera tiba di sana. Bayangan gunung yang kebiru-biruan menyembul di antara sawah dan pohon-pohon di depan mata. Angin dingin menerpa kami ketika kaki menjejakkan sepatunya di terminal Tawangmangu. Ada yang berubah tentu. pasar yang rata dengan bumi berpindah untuk alasan yang menjanjikan para pedagang ...

EPISODE GUNUNG SLAMET

Dengan ketinggian 3428 mdpl, gunung Slamet tercatat sebagai gunung tertinggi di wilayah Jateng. Sesudah cari info sana-sini, kami rancang berangkat juga ke Purwokerto dengan bus umum dari terminal Jogya. Biasanya kami turun sebelum terminal, simpang jembatan Sukaraja lalu sambung bus engkel jurusan Pemalang lewat kota Purbalingga. Turun di pertigaan Pratin(waduh lupa), sambung dengan angkutan pedesaan sampai pasar Kutabawa, Bambangan(izin di BKSDA Purbalingga dan Polsek Kutabawa). Di sini bisa nambah bekal sayur-mayur, makanan kecil, dan kebutuhan lain. Untuk mencapai desa Bambangan, kita jalan kaki sekitar 4 km karena jalan masih berbatu, belum diaspal-- entah sekarang-- dengan keramahan warga Banyumas yang khas. Di desa ini kita lapor ke Pak Kamitua (juru kunci) sekaligus Base Camp para pendaki, walau agak sedikit ke atas sudah dibangun Pondok Pendaki Gunung Slamet tapi sepi. Mendaki pada malam hari membutuhkan konsentrasi pengenalan jalur pendakian dengan baik, salah-salah tidak ket...

SHIO DAN BONUS NAMA DI MAPASADHA

Alam, tempat kita berpijak suatu saat harus kita tinggalkan kecaplah sarinya untuk bekal semangat di perjalanan! (Oktober, 1985) Ungkapan puitis itulah kenangan manis bersama organisasi mapasadha yang mengenalkan saya pada aktivitas perjalanan gunung-gunung selanjutnya. Salam Kaonak, untuk para perintis: Kang Markus dkk., saudara tua: Endang 'Green Sand', Usmanto, Cithok, Grasyanto, Kasdut, Tacik Novi, Mas Rosa; saudara muda: Bendol, Soel, Dombley, Guplo, Simbah Edy, Surowo, Sumbogo, Plenthong, Kencot, dll. Juga sahabat parkiran RS Bethesda, DIY sebagai forum SARDA dan ajang ngumpul bareng: Kang Mamad, Jhon Poni, Samer, Lukas, Kopet cs. Sampai angkatan keempat, rasanya belum dikenal gelar tambahan di belakang nama calon anggota muda. Mereka masih menggunakan lambang shio yang diadaptasi dari sistem kalender Cina. Gagasan bonus nama tersebut awalnya seperti games saat orientasi latihan di pondok belak...

PUNCAK GARUDA, MERAPI 2911mdpl

Naik gunung yang sebenarnya baru dimulai tahun 1984, sesudah melewati diklatsar di Wonolelo, Sawangan, Magelang. Sesuai lambang badge mapasadha merah-biru dalam kemesraan Merapi-Merbabu, kami mencoba mendaki Merapi lewat jalur selatan, dari Kinahrejo. Waktu itu bulan Juli. Kondisi medan masih asri menantang. Saat persiapan, kami tinggal di rumah mbah Maridjan/mbah Argo (jurukunci Merapi belum sepopuler sekarang). yang tidak berubah hanya keramahtamahan beliau kepada setiap pengunjung terutama teman-teman pendaki. Berdiang dan memasak di dapur merupakan ajang ngobrol sana-sini paling favorit sebelum istirahat malam. bahkan sampai larut malam masih banyak pendaki lain berdatangan ke sana. Rumah panjang yang dulu masih sebagian dindingnya bambu membuat angin malam nan dingin begitu leluasa masuk. Sekarang jauh berubah, dan tentu saja keramaian saat labuhan keraton yogyakarta hadiningrat. Nanti cerita labuhan di pos 2 Srimanganti sendiri saja. Pukul 00.30 dini hari biasanya kami sudah ban...

EPISODE KERJA SAMBIL KULIAH

Karena ortu masuk masa pensiun, sementara saya, 8 bersaudara dan nenek masih menjadi tanggungan keluarga, terpaksa saya mencoba sambil kerja mengajar di SMP (almamater saya dulu) sebagai honorer. Maklum, semester akhir tinggal mengulang/memperbaiki nilai sks yang masih bisa diambil untuk mendongkrak IPK. Meski tidak seberapa banyak, saya rasa cukup membantu budget sendiri sehari-hari. Di sela kerja sambilan, saya sempatkan bergerilya dari kost ke kost teman-teman yang kreatif untuk menimba 'idealisme' di malioboro menjajakan kartu ucapan dengan gambar foto alam. Wah, dari sisi ini saya harus mengakui kalah jauh dari mereka yang memang punya bakat seni. Tapi proses mencoba sudah saya pilih di tengah budaya masyarakat yang membesarkan saya. Malioboro telah menjadi komunitas multi interest bagi pencinta Yogya. Gaya hidup di sini mengalir dari pagi ke pagi dalam irama yang sama. Lalu lintas di jalur tengah yang digerakkan solar dan bensin menyuarakan roda kehidupan panas, sed...

EPISODE GUNUNG LAWU

Pengalaman menapaki gunung sebenarnya baru mulai kelas 2 SMA. Motivasi awalnya hanya rekreasi plus membuang stress karena tahun 1977-1978 sistem tahun ajaran mengalami perpanjangan semester. Pelajaran yang sebelumnya berlangsung Januari hingga Desember, diperpanjang sampai Juni tahun berikutnya. Saya merasa tidak naik kelas secara massal. Saya ngambek sebagai bentuk protes remaja yang merasa dirugikan, karena rapor saya masuk peringkat lima besar paralel. Saya banting 'ayam jago' celengan uang saku selama satu tahun, lalu saya kumpulkan teman lain yang berminat sama. Kami berempat, cowok semua berangkat dengan persiapan seadanya. Meski protes pada keadaan, kami tetap minta izin ortu agar ditambah uang saku dan restu. Jadilah kami 'empat sekawan' pengembara gunung lawu. Baru di perjalanan ke Tawangmangu, kami sadar bahwa tak satu pun dari kami yang punya pengalaman mendaki gunung. Modal kami nekad saja. Sore hari, Jumat, lupa tanggal, bulan Juli 1978 kami sudah berada di...

WAYANG KULIT

Wayang menjadi seni pertunjukan yang saya kagumi sejak diperkenalkan oleh nenek almarhumah. Kedekatan dengan wayang dikembangkan dengan adanya gambar-gambar tokoh wayang populer: semar. gareng, petruk, bagong. Mereka ini tokoh rakyat yang lucu sekaligus punya analisis sosial yang lugas. Orang menyebut punakawan. Kesederhanaan didukung prinsip hidup pengabdian dan berwawasan lingkungan justru sering dianggap rendah dan 'ndeso' Tetapi, di tangan sang dalang (baru kemudian saya tahu ada gaya solo dan yogya) ternyata peran punakawan, seperti ditulis Emha, dapat manjing, ajur, ajer dengan semua lapisan maysarakat: penguasa, pejabat, teknokrat, ilmuwan, seniman, bahkan petani. Mungkin yang perlu ditambahkan properti laut, perahu/rakit/satang, dan kampung nelayan dalam tradisi wayang. Pertunjukan wayang sangat manjur untuk sarasehan, duduk bersama, introspeksi, refleksi, dan menyatukan tekad membangun niat baru untuk masa datang. Tentu saja butuh biaya besar jika memilih dalang kondan...

Merapi di Mataku

Sebelum perubahan kota seperti sekarang ini, keseharian masa kecil bermain di tanah lapang dadakan karena sawah dibiarkan kering setelah masa panen padi. Pemandangan yang segera tertangkap mata adalah bayangan gunung Merapi-Merbabu berwarna abu-abu saat sore cerah. Jika beruntung, masih dapat melihat pucuk gunung Sumbing-Sindoro di barat laut. Malam-malam purnama sering kami bermain di sawah dan menyaksikan guguran lava kemerah-merahan ke arah tenggara dan barat. Kami senang menyaksikan peristiwa itu sampai merasa kantuk untuk pulang dan tidur. Dalam tidur, kami berharap agar Merapi tidak marah sampai pagi tiba

Tanah Kelahiran

Yogyakarta bagian barat dialiri sungai Winongo. Meski masih termasuk kotamadia, kampung saya ada di pinggiran. Rumah saya di pinggir sungai Winongo ini. Suara air akrab di telinga kami anak-anak yang bisa berenang karena bakat alam. Pada musim banjir gemuruhnya menakutkan ditambah mitos pasukan ratu kidul yang tiap malam Jumat lewati sungai menuju kerajaan laut selatan. Ngaglik Sudagaran nama kampungnya, Tegalrejo kecamatannya karena ada ndalem monumen Diponegoro sebagai objek wisata sejarah. Perkembangan pembangunan kota mengubah wajah persawahan petani menjadi perumahan dan kompleks perkantoran modern lengkap dengan hotel dan tempat hiburan lainnya. Rel kereta api yang menghubungkan stasiun Yogya dengan kota lain merupakan prasasti kolonial dalam alunan lagu perjuangan: " hampir malam di Yogya, ketika keretaku tiba... ." Tapi suara kereta yang biasa lewat itu menjadi penunjuk waktu warga kampung kami yang tak memiliki jam dinding. Lalu raungan pesawat yang melintas di atas ...

MENIMBA KABAR GUNUNG

Mengenal lingkungan sekitar dengan jalan kaki atau bersepeda onthel menjadi awal ketertarikan saya pada lingkungan di luar rumah. Kesadaran ke luar rumah mulai dengan bermain dan menelusuri suasana pedesaan. kalau cuaca cerah pemandangan yang selalu tampak adalah bayangan gunung Merapi dan gunung Merbabu yang waktu itu terkesan sangat tinggi dan angker. saya sebut angker karena hampir tiap malam melelehkan lahar panas memerah ke arah barat dan tenggara. sampai suatu saat saya bersama kawan-kawan berwisata ke Kaliurang, tempat rekreasi di lembah kawasan Merapi yang semakin dekat saja. Dengan semangat 45 saya naik ke Pos Pengamatan gunung Merapi di Plawangan 1275mdpl. Saya merasa berhadapan langsung dengan wajah anggunnya. tapi kabut sering tak mau bersahabat. Dapatkah saya lebih dekat lagi? Kapan ya? (Bersambung) ...Lanjutan 1 Pengenalan saya selanjutnya merambah desa Kinahrejo, kaki Merapi, tempat juru kunci mBah Hargo (mBah Maridjan). Setiap malam minggu datang berbondong-bondong nong...