Langsung ke konten utama

YOGYAKARTA, KOTA LAMA part 2

Menelusuri kota Yogya, jangan hanya di jantung Malioboro. Tapi sungguh berjalan sampai batas-batas kota: utara -- Karangwaru (Jln. Magelang), timur -- IAIN Kalijaga (Jln. Solo), selatan -- Pugeran (Jln. Bantul), dan barat -- Wirobrajan (Jln. Wates) atau radius ruas jalan lain yang sejajar dengan tugu batas kotamadia. Pusat pemerintahan kota sendiri berada di kompleks Timoho.

Landmark khas Yogyakarta sebagian besar masih bertahan sampai hari ini: Tugu, Stasiun Tugu, Pasar Kembang, Hotel Garuda, Malioboro, Gedung DPRD, Kompleks Kepatihan (Kantor dinas gubernur), Pasar Beringharjo, Jam kota (Ngejaman), Istana Negara, Benteng Vredeburg, Senisono, Gereja katolik Kidul Loji, Kantor Pos Besar, Bank Indonesia, Alun-alun utara, Pagelaran, Siti Hinggil, Masjid Besar Kauman, Pasar Burung Ngasem, Tamansari, Asdrafi (?), Keraton, Sasana Hinggil, dan Alun-alun Selatan. Sebelah timur kali Code terdapat Stasiun Lempuyangan, Kompleks Keraton Pura Pakualaman, Taman Makam Pahlawan, dan Kebun Binatang Gembiraloka.

Beberapa bangunan lain terkesan baru atau beralih fungsi seperti Hotel Tugu, Malioboro Mal, Hotel Purosani, Toko Kohinoor, Hin Hoo Sing, dan Perpustakaan Daerah. Digerus keadaan atau memang peremajaan fungsi tata kota. Hanya PKL sepanjang Malioboro yang tak pernah bisa digusur oleh trantib seperti terjadi pada kota-kota lain yang menggeliat. Gempa dahsyat yang memporakporandakan Bantul dan sekitarnya hanya meliburkan untuk sementara kesibukan para pedagang dan pejalan setia di kota pelajar dan kota budaya ini. Yogyakarta Bangkit yand digelorakan warga mampu mengembalikan luka menjadi modal perjuangan hidup kotaku. Memang, bencana itu menelan korban, sekaligus mengundang simpati dan bantuan dari berbagai pihak. Saya sendiri hanya mengikuti beritanya dari media tv, surat kabar, telepon setelah jaringan pulih kembali, dan berkunjung setelah pemulihan tanggap bencana. Mereka telah ditempa prahara, dan kini bangkit seperti judul novel Ashadi Siregar -- Badai Pasti Berlalu -- karena -- Cintaku di Kampus Biru --

Ruas jalan utama kota satu arah mulai dari Tugu ke arah selatan dikenal sebagai Jalan Mangkubumi, setelah Stasiun Tugu barulah Jalan Malioboro yang sebenarnya hingga ruas perempatan Jalan Gandekan (dulu terdapat trafic light gantung di atas jalan). Dari sini ke arah Pasar Beringharjo (Pasar Gedhe) dikenal jalan Ahmad Yani sampai Bundaran Air Mancur (tidak ada lagi sejak ada Monumen Serangan Umum 1 Maret). Jalan menurun menuju Alun-alun dikenal Jalan Dwikora.

Sebelum dipusatkan di Gedung Kesenian Yogyakarta, Bulaksumur, Senisono menjadi pusat pertunjukan berbagai event seni, di samping Gedung PPBI. Saat akan beralih fungsi, masyarakat pemerhati seni berjuang agar Senisono tidak dibongkar. Di Depan gedung bahkan telah berdiri panggung terbuka yang diarsiteki Y.B. Mangunwijaya (alm.) sebagai ajang pertunjukan seni untuk rakyat secara gratis.

Itulah sketsa kota Yogya yang selalu menjadi inspirasi budaya, dialog rakyat, dan bagian profil perjuangan Republik ini untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dan menciptakan suasana hati 'lerem', teduh di antara suara gamelan Guntur Madu dan Naga Wilaga pada pesta rakyat Sekaten. (Sampai terkumpul data baru lagi....)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENIKMATI PUNCAK BUNTU, GUNUNG SUMBING

Setelah semalam diguyur hujan dalam tenda dome di pelataran Pestan, kami dibangunkan oleh suara-suara di luar yang tampaknya ada rombongan pendaki lain sampai di tempat kami berkemah. Menilik suaranya, tampaknya mereka baru naik sebab nafas dan langkahnya masih ringan bersemangat tinggi. Biasanya pendaki yang turun langkahnya lebih berat menghentak tanah. Benarn saja, ketika pintu tenda saya buka sebagian dari mereka duduk-duduk dan sebagian yang lain mulai memasang tenda baru yang sebelumnya tak terdapat tenda lain di sekitar kami. Tenda yang kemarin sore berada di sekitar kami telah dibongkar dan pendakinya telah turun ke basecamp. Saya keluar tenda untuk menunggu sunrise. Jam di tangan menunjukkan waktu pukul 04.55 WIB. Udara tidak terlalu dingin, angin tidak begitu kuat, tapi jangan coba menyentuh rumput, karena embun akan menangkap kulit Anda. Teman satu tenda saya bangunkan untuk menjerang air buat kopi pagi, sementara tenda sebelah yang masih serombongan saya tampaknya tak berge...

CATATAN SAYA KE GUNUNG-GUNUNG

1974, PLAWANGAN      Kekaguman akan wujud gunung yang paling nyata pertama kali saya hadapi ketika rombongan anak-anak paroki yang tergabung dalam putra-putri altar gereja katolik Maria Asumpta, Kumetiran berekreasi ke Kaliurang. Perubahan suasana kota dengan hiruk-pikuk keseharian menjadi suasana lingkungan alam pegunungan dan vila-vila taman sepanjang kompleks wisata Kaliurang yang terkenal itu menyejukkan hati para pengunjung. Terminal kedatangan selalu silih berganti mobil angkutan masuk dan keluar meninggalkannya menandai tempat rekreasi ini lebih akrab dengan suara alam, antara lain gemericik air sungai kecil, juga pancuran di sudut-sudut jalan yang digunakan oleh pedagang dan pengunjung, suara kicau burung di ranting pohon pinus, serta desau angin. Hawa sejuk khas pegunungan dan dingin air gunung sebelum terkena sinar matahari siang. Pemandian 'Tlogo Putri' masih tampak sepi, airnya sangat dingin. Sementara di sisi lain air gemericik di dinding 'Tlogo Muncar' te...

MENJENGUK PENGALAMAN, MERENUNGKAN HAKIKAT, MENANGKAP MAKNA

Meski tak seaktif dulu lagi, melakukan petualanagan ke alam menjadikan semangat hidup punya bara, paling tidak punya cerita yang bisa dibagikan. Tumpukan pengalaman, walaupun tercerai-berai menjadi fragmen-fragmentaris dalam rentang waktu lama, bisa direkonstruksi tahap demi tahap yang masih berseliweran pada berbagai kesempatan selama masih bernapas dan mampu memanggil suara ingatan. Tahap norma manusia dibagi dalam 5 tingkatan: masa kanak-kanak, mulai sekolah dasar, sekolah lanjutan, kuliah, dan bekerja. Selama masa itu, kita sangat banyak bergantung kepada orang-orang baik di sekitar kita. Keluarga inti tentu saja sangat kita kenal entah dalam kurun waktu lama atau hanya sekejap ingatan mampu menyimpannya. Sanak saudara dan tetangga dekat menjadi orang-orang yang mengajari hidup tanpa memperhitungkan untung rugi. Ia memberi bantuan pertolongan dengan sukarela, ikhlas hati, dan ramah. Bermain dan belajar bebas memilih waktu sesuai kesepakatan, bahkan kalau harus mengorbankan waktu-...