Menelusuri kota Yogya, jangan hanya di jantung Malioboro. Tapi sungguh berjalan sampai batas-batas kota: utara -- Karangwaru (Jln. Magelang), timur -- IAIN Kalijaga (Jln. Solo), selatan -- Pugeran (Jln. Bantul), dan barat -- Wirobrajan (Jln. Wates) atau radius ruas jalan lain yang sejajar dengan tugu batas kotamadia. Pusat pemerintahan kota sendiri berada di kompleks Timoho.
Landmark khas Yogyakarta sebagian besar masih bertahan sampai hari ini: Tugu, Stasiun Tugu, Pasar Kembang, Hotel Garuda, Malioboro, Gedung DPRD, Kompleks Kepatihan (Kantor dinas gubernur), Pasar Beringharjo, Jam kota (Ngejaman), Istana Negara, Benteng Vredeburg, Senisono, Gereja katolik Kidul Loji, Kantor Pos Besar, Bank Indonesia, Alun-alun utara, Pagelaran, Siti Hinggil, Masjid Besar Kauman, Pasar Burung Ngasem, Tamansari, Asdrafi (?), Keraton, Sasana Hinggil, dan Alun-alun Selatan. Sebelah timur kali Code terdapat Stasiun Lempuyangan, Kompleks Keraton Pura Pakualaman, Taman Makam Pahlawan, dan Kebun Binatang Gembiraloka.
Beberapa bangunan lain terkesan baru atau beralih fungsi seperti Hotel Tugu, Malioboro Mal, Hotel Purosani, Toko Kohinoor, Hin Hoo Sing, dan Perpustakaan Daerah. Digerus keadaan atau memang peremajaan fungsi tata kota. Hanya PKL sepanjang Malioboro yang tak pernah bisa digusur oleh trantib seperti terjadi pada kota-kota lain yang menggeliat. Gempa dahsyat yang memporakporandakan Bantul dan sekitarnya hanya meliburkan untuk sementara kesibukan para pedagang dan pejalan setia di kota pelajar dan kota budaya ini. Yogyakarta Bangkit yand digelorakan warga mampu mengembalikan luka menjadi modal perjuangan hidup kotaku. Memang, bencana itu menelan korban, sekaligus mengundang simpati dan bantuan dari berbagai pihak. Saya sendiri hanya mengikuti beritanya dari media tv, surat kabar, telepon setelah jaringan pulih kembali, dan berkunjung setelah pemulihan tanggap bencana. Mereka telah ditempa prahara, dan kini bangkit seperti judul novel Ashadi Siregar -- Badai Pasti Berlalu -- karena -- Cintaku di Kampus Biru --
Ruas jalan utama kota satu arah mulai dari Tugu ke arah selatan dikenal sebagai Jalan Mangkubumi, setelah Stasiun Tugu barulah Jalan Malioboro yang sebenarnya hingga ruas perempatan Jalan Gandekan (dulu terdapat trafic light gantung di atas jalan). Dari sini ke arah Pasar Beringharjo (Pasar Gedhe) dikenal jalan Ahmad Yani sampai Bundaran Air Mancur (tidak ada lagi sejak ada Monumen Serangan Umum 1 Maret). Jalan menurun menuju Alun-alun dikenal Jalan Dwikora.
Sebelum dipusatkan di Gedung Kesenian Yogyakarta, Bulaksumur, Senisono menjadi pusat pertunjukan berbagai event seni, di samping Gedung PPBI. Saat akan beralih fungsi, masyarakat pemerhati seni berjuang agar Senisono tidak dibongkar. Di Depan gedung bahkan telah berdiri panggung terbuka yang diarsiteki Y.B. Mangunwijaya (alm.) sebagai ajang pertunjukan seni untuk rakyat secara gratis.
Itulah sketsa kota Yogya yang selalu menjadi inspirasi budaya, dialog rakyat, dan bagian profil perjuangan Republik ini untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dan menciptakan suasana hati 'lerem', teduh di antara suara gamelan Guntur Madu dan Naga Wilaga pada pesta rakyat Sekaten. (Sampai terkumpul data baru lagi....)
Landmark khas Yogyakarta sebagian besar masih bertahan sampai hari ini: Tugu, Stasiun Tugu, Pasar Kembang, Hotel Garuda, Malioboro, Gedung DPRD, Kompleks Kepatihan (Kantor dinas gubernur), Pasar Beringharjo, Jam kota (Ngejaman), Istana Negara, Benteng Vredeburg, Senisono, Gereja katolik Kidul Loji, Kantor Pos Besar, Bank Indonesia, Alun-alun utara, Pagelaran, Siti Hinggil, Masjid Besar Kauman, Pasar Burung Ngasem, Tamansari, Asdrafi (?), Keraton, Sasana Hinggil, dan Alun-alun Selatan. Sebelah timur kali Code terdapat Stasiun Lempuyangan, Kompleks Keraton Pura Pakualaman, Taman Makam Pahlawan, dan Kebun Binatang Gembiraloka.
Beberapa bangunan lain terkesan baru atau beralih fungsi seperti Hotel Tugu, Malioboro Mal, Hotel Purosani, Toko Kohinoor, Hin Hoo Sing, dan Perpustakaan Daerah. Digerus keadaan atau memang peremajaan fungsi tata kota. Hanya PKL sepanjang Malioboro yang tak pernah bisa digusur oleh trantib seperti terjadi pada kota-kota lain yang menggeliat. Gempa dahsyat yang memporakporandakan Bantul dan sekitarnya hanya meliburkan untuk sementara kesibukan para pedagang dan pejalan setia di kota pelajar dan kota budaya ini. Yogyakarta Bangkit yand digelorakan warga mampu mengembalikan luka menjadi modal perjuangan hidup kotaku. Memang, bencana itu menelan korban, sekaligus mengundang simpati dan bantuan dari berbagai pihak. Saya sendiri hanya mengikuti beritanya dari media tv, surat kabar, telepon setelah jaringan pulih kembali, dan berkunjung setelah pemulihan tanggap bencana. Mereka telah ditempa prahara, dan kini bangkit seperti judul novel Ashadi Siregar -- Badai Pasti Berlalu -- karena -- Cintaku di Kampus Biru --
Ruas jalan utama kota satu arah mulai dari Tugu ke arah selatan dikenal sebagai Jalan Mangkubumi, setelah Stasiun Tugu barulah Jalan Malioboro yang sebenarnya hingga ruas perempatan Jalan Gandekan (dulu terdapat trafic light gantung di atas jalan). Dari sini ke arah Pasar Beringharjo (Pasar Gedhe) dikenal jalan Ahmad Yani sampai Bundaran Air Mancur (tidak ada lagi sejak ada Monumen Serangan Umum 1 Maret). Jalan menurun menuju Alun-alun dikenal Jalan Dwikora.
Sebelum dipusatkan di Gedung Kesenian Yogyakarta, Bulaksumur, Senisono menjadi pusat pertunjukan berbagai event seni, di samping Gedung PPBI. Saat akan beralih fungsi, masyarakat pemerhati seni berjuang agar Senisono tidak dibongkar. Di Depan gedung bahkan telah berdiri panggung terbuka yang diarsiteki Y.B. Mangunwijaya (alm.) sebagai ajang pertunjukan seni untuk rakyat secara gratis.
Itulah sketsa kota Yogya yang selalu menjadi inspirasi budaya, dialog rakyat, dan bagian profil perjuangan Republik ini untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dan menciptakan suasana hati 'lerem', teduh di antara suara gamelan Guntur Madu dan Naga Wilaga pada pesta rakyat Sekaten. (Sampai terkumpul data baru lagi....)
Komentar