Langsung ke konten utama

ANAK BAJANG

Fenomena budaya yang masih terjaga dalam tradisi pada beberapa masyarakat kaki gunung adalah rambut gimbal. Di lereng Gunung Merbabu, Jawa Tengah, dapat kita jumpai anak-anak dengan rambut yang dibiarkan tidak dipotong bahkan mungkin tidak dikeramas sejak lahir. Umumnya mereka ini perempuan, meski ada juga beberapa laki-laki. Bedanya, laki-laki pada usia menjelang dewasa berubah dengan sendirinya.

Jika ingin mengamati budaya ini, usahakan jangan terlalu agresif mengejar terlalu dekat. Mereka cenderung menghindar dan malu untuk berkomunikasi. Perjumpaan harus berkesan alami, meski sekedar berhenti untuk duduk istirahat, menyapa, dan lewat begitu saja. Andai punya banyak waktu, menginaplah di salah satu rumah perangkat desa, tentu dengan izin pendekatan yang baik-baik. Dianjurkan untuk mengenal dan memahami bahasa Jawa agar lebih cepat beradaptasi dengan masyarakat. Mereka akan berkumpul saat di dapur, berdiang di depan tungku, memasak, minum teh atau kopi, lalu cerita sana-sini: tanaman sayur, pupuk, binatang piaraan, hasil panen, sumber air, dan cerita rakyat setempat. Orang-orang sederhana, atau meminjam istilah W.S. Rendra: Orang-orang Tercinta, lebih cepat akrab berdialog sambil minum atau makan di depan tungku perapian. Orang Jawa bilang, "wedang" arti bebasnya 'ngawe kadang' (memanggil saudara) sebagai ungkapan diterima di tempat itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENIKMATI PUNCAK BUNTU, GUNUNG SUMBING

Setelah semalam diguyur hujan dalam tenda dome di pelataran Pestan, kami dibangunkan oleh suara-suara di luar yang tampaknya ada rombongan pendaki lain sampai di tempat kami berkemah. Menilik suaranya, tampaknya mereka baru naik sebab nafas dan langkahnya masih ringan bersemangat tinggi. Biasanya pendaki yang turun langkahnya lebih berat menghentak tanah. Benarn saja, ketika pintu tenda saya buka sebagian dari mereka duduk-duduk dan sebagian yang lain mulai memasang tenda baru yang sebelumnya tak terdapat tenda lain di sekitar kami. Tenda yang kemarin sore berada di sekitar kami telah dibongkar dan pendakinya telah turun ke basecamp. Saya keluar tenda untuk menunggu sunrise. Jam di tangan menunjukkan waktu pukul 04.55 WIB. Udara tidak terlalu dingin, angin tidak begitu kuat, tapi jangan coba menyentuh rumput, karena embun akan menangkap kulit Anda. Teman satu tenda saya bangunkan untuk menjerang air buat kopi pagi, sementara tenda sebelah yang masih serombongan saya tampaknya tak berge...

CATATAN SAYA KE GUNUNG-GUNUNG

1974, PLAWANGAN      Kekaguman akan wujud gunung yang paling nyata pertama kali saya hadapi ketika rombongan anak-anak paroki yang tergabung dalam putra-putri altar gereja katolik Maria Asumpta, Kumetiran berekreasi ke Kaliurang. Perubahan suasana kota dengan hiruk-pikuk keseharian menjadi suasana lingkungan alam pegunungan dan vila-vila taman sepanjang kompleks wisata Kaliurang yang terkenal itu menyejukkan hati para pengunjung. Terminal kedatangan selalu silih berganti mobil angkutan masuk dan keluar meninggalkannya menandai tempat rekreasi ini lebih akrab dengan suara alam, antara lain gemericik air sungai kecil, juga pancuran di sudut-sudut jalan yang digunakan oleh pedagang dan pengunjung, suara kicau burung di ranting pohon pinus, serta desau angin. Hawa sejuk khas pegunungan dan dingin air gunung sebelum terkena sinar matahari siang. Pemandian 'Tlogo Putri' masih tampak sepi, airnya sangat dingin. Sementara di sisi lain air gemericik di dinding 'Tlogo Muncar' te...

MENJENGUK PENGALAMAN, MERENUNGKAN HAKIKAT, MENANGKAP MAKNA

Meski tak seaktif dulu lagi, melakukan petualanagan ke alam menjadikan semangat hidup punya bara, paling tidak punya cerita yang bisa dibagikan. Tumpukan pengalaman, walaupun tercerai-berai menjadi fragmen-fragmentaris dalam rentang waktu lama, bisa direkonstruksi tahap demi tahap yang masih berseliweran pada berbagai kesempatan selama masih bernapas dan mampu memanggil suara ingatan. Tahap norma manusia dibagi dalam 5 tingkatan: masa kanak-kanak, mulai sekolah dasar, sekolah lanjutan, kuliah, dan bekerja. Selama masa itu, kita sangat banyak bergantung kepada orang-orang baik di sekitar kita. Keluarga inti tentu saja sangat kita kenal entah dalam kurun waktu lama atau hanya sekejap ingatan mampu menyimpannya. Sanak saudara dan tetangga dekat menjadi orang-orang yang mengajari hidup tanpa memperhitungkan untung rugi. Ia memberi bantuan pertolongan dengan sukarela, ikhlas hati, dan ramah. Bermain dan belajar bebas memilih waktu sesuai kesepakatan, bahkan kalau harus mengorbankan waktu-...