Lahir dan dibesarkan di Yogyakarta merupakan cerita panjang dalam perjalanan usiaku. Meski daerahku tinggal beberapa puluh meter dengan batas kota kabupaten Bantul di barat daya dan dua ratusan meter batas kabupaten Sleman di utara kantor kecamatan Tegalrejo, aku menikmati keseharian yang sungguh-sungguh kampung tapi tidak menjadi kampungan.
Keluarga begitu gigih memerhatikan pendidikan anak-anaknya yang kala itu KB menjadi program besar pemerintah orde baru sampai mendatangkan pengamat luar negeri segala. Faham Jawa: banyak anak banyak rejeki jelas tak berlaku dalam keluarga; walaupun garis keluarga ibu asli Jawa. Perjuangan untuk membiayai sekolah -- masih relatif murah untuk ukuran swasta -- Bapak PNS guru SD golongan terakhir IId dan ibu RT dengan usaha warung, spesialisasi kerja sosial memasak bila ada hajatan tetangga dan memandikan jenazah bila tak ada petugas khusus. Pengasuh kami di rumah yang setia adalah nenek dengan spesialisasi ritual kejawen dan dongeng sebelum tidur. Kalau Bapak di rumah, tukang dongeng beralih kepada beliau yang spesialisasinya guru agama. Jadilah dongeng yang bersumber kitab suci. Nenek berpulang setelah aku selesai kuliah, sedang Bapak menunggu giliran sampai adik bungsu selesai kuliah. Kami berdelapan dan semuanya masih dikaruniai hidup sampai hari ini dalam jaringan wilayah kerja swasta semua, tak ada yang tertarik masuk PNS seperti almarhum Bapak. Kenapa? Jawabnya tegas: Persaingan!
Di pinggir kota Yogyakarta ini ibu dengan dua adik perempuan menemani, menjaga, menjalani hidup dalam rumah kontrakan setelah eksodus dari rumah dulu gara-gara berebut hak harta warisan. (Bersambung yaaaa....)
Keluarga begitu gigih memerhatikan pendidikan anak-anaknya yang kala itu KB menjadi program besar pemerintah orde baru sampai mendatangkan pengamat luar negeri segala. Faham Jawa: banyak anak banyak rejeki jelas tak berlaku dalam keluarga; walaupun garis keluarga ibu asli Jawa. Perjuangan untuk membiayai sekolah -- masih relatif murah untuk ukuran swasta -- Bapak PNS guru SD golongan terakhir IId dan ibu RT dengan usaha warung, spesialisasi kerja sosial memasak bila ada hajatan tetangga dan memandikan jenazah bila tak ada petugas khusus. Pengasuh kami di rumah yang setia adalah nenek dengan spesialisasi ritual kejawen dan dongeng sebelum tidur. Kalau Bapak di rumah, tukang dongeng beralih kepada beliau yang spesialisasinya guru agama. Jadilah dongeng yang bersumber kitab suci. Nenek berpulang setelah aku selesai kuliah, sedang Bapak menunggu giliran sampai adik bungsu selesai kuliah. Kami berdelapan dan semuanya masih dikaruniai hidup sampai hari ini dalam jaringan wilayah kerja swasta semua, tak ada yang tertarik masuk PNS seperti almarhum Bapak. Kenapa? Jawabnya tegas: Persaingan!
Di pinggir kota Yogyakarta ini ibu dengan dua adik perempuan menemani, menjaga, menjalani hidup dalam rumah kontrakan setelah eksodus dari rumah dulu gara-gara berebut hak harta warisan. (Bersambung yaaaa....)
Komentar