Langsung ke konten utama

YOGYAKARTA, KOTA LAMA part 1

Lahir dan dibesarkan di Yogyakarta merupakan cerita panjang dalam perjalanan usiaku. Meski daerahku tinggal beberapa puluh meter dengan batas kota kabupaten Bantul di barat daya dan dua ratusan meter batas kabupaten Sleman di utara kantor kecamatan Tegalrejo, aku menikmati keseharian yang sungguh-sungguh kampung tapi tidak menjadi kampungan.

Keluarga begitu gigih memerhatikan pendidikan anak-anaknya yang kala itu KB menjadi program besar pemerintah orde baru sampai mendatangkan pengamat luar negeri segala. Faham Jawa: banyak anak banyak rejeki jelas tak berlaku dalam keluarga; walaupun garis keluarga ibu asli Jawa. Perjuangan untuk membiayai sekolah -- masih relatif murah untuk ukuran swasta -- Bapak PNS guru SD golongan terakhir IId dan ibu RT dengan usaha warung, spesialisasi kerja sosial memasak bila ada hajatan tetangga dan memandikan jenazah bila tak ada petugas khusus. Pengasuh kami di rumah yang setia adalah nenek dengan spesialisasi ritual kejawen dan dongeng sebelum tidur. Kalau Bapak di rumah, tukang dongeng beralih kepada beliau yang spesialisasinya guru agama. Jadilah dongeng yang bersumber kitab suci. Nenek berpulang setelah aku selesai kuliah, sedang Bapak menunggu giliran sampai adik bungsu selesai kuliah. Kami berdelapan dan semuanya masih dikaruniai hidup sampai hari ini dalam jaringan wilayah kerja swasta semua, tak ada yang tertarik masuk PNS seperti almarhum Bapak. Kenapa? Jawabnya tegas: Persaingan!

Di pinggir kota Yogyakarta ini ibu dengan dua adik perempuan menemani, menjaga, menjalani hidup dalam rumah kontrakan setelah eksodus dari rumah dulu gara-gara berebut hak harta warisan. (Bersambung yaaaa....)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENIKMATI PUNCAK BUNTU, GUNUNG SUMBING

Setelah semalam diguyur hujan dalam tenda dome di pelataran Pestan, kami dibangunkan oleh suara-suara di luar yang tampaknya ada rombongan pendaki lain sampai di tempat kami berkemah. Menilik suaranya, tampaknya mereka baru naik sebab nafas dan langkahnya masih ringan bersemangat tinggi. Biasanya pendaki yang turun langkahnya lebih berat menghentak tanah. Benarn saja, ketika pintu tenda saya buka sebagian dari mereka duduk-duduk dan sebagian yang lain mulai memasang tenda baru yang sebelumnya tak terdapat tenda lain di sekitar kami. Tenda yang kemarin sore berada di sekitar kami telah dibongkar dan pendakinya telah turun ke basecamp. Saya keluar tenda untuk menunggu sunrise. Jam di tangan menunjukkan waktu pukul 04.55 WIB. Udara tidak terlalu dingin, angin tidak begitu kuat, tapi jangan coba menyentuh rumput, karena embun akan menangkap kulit Anda. Teman satu tenda saya bangunkan untuk menjerang air buat kopi pagi, sementara tenda sebelah yang masih serombongan saya tampaknya tak berge...

CATATAN SAYA KE GUNUNG-GUNUNG

1974, PLAWANGAN      Kekaguman akan wujud gunung yang paling nyata pertama kali saya hadapi ketika rombongan anak-anak paroki yang tergabung dalam putra-putri altar gereja katolik Maria Asumpta, Kumetiran berekreasi ke Kaliurang. Perubahan suasana kota dengan hiruk-pikuk keseharian menjadi suasana lingkungan alam pegunungan dan vila-vila taman sepanjang kompleks wisata Kaliurang yang terkenal itu menyejukkan hati para pengunjung. Terminal kedatangan selalu silih berganti mobil angkutan masuk dan keluar meninggalkannya menandai tempat rekreasi ini lebih akrab dengan suara alam, antara lain gemericik air sungai kecil, juga pancuran di sudut-sudut jalan yang digunakan oleh pedagang dan pengunjung, suara kicau burung di ranting pohon pinus, serta desau angin. Hawa sejuk khas pegunungan dan dingin air gunung sebelum terkena sinar matahari siang. Pemandian 'Tlogo Putri' masih tampak sepi, airnya sangat dingin. Sementara di sisi lain air gemericik di dinding 'Tlogo Muncar' te...

MENJENGUK PENGALAMAN, MERENUNGKAN HAKIKAT, MENANGKAP MAKNA

Meski tak seaktif dulu lagi, melakukan petualanagan ke alam menjadikan semangat hidup punya bara, paling tidak punya cerita yang bisa dibagikan. Tumpukan pengalaman, walaupun tercerai-berai menjadi fragmen-fragmentaris dalam rentang waktu lama, bisa direkonstruksi tahap demi tahap yang masih berseliweran pada berbagai kesempatan selama masih bernapas dan mampu memanggil suara ingatan. Tahap norma manusia dibagi dalam 5 tingkatan: masa kanak-kanak, mulai sekolah dasar, sekolah lanjutan, kuliah, dan bekerja. Selama masa itu, kita sangat banyak bergantung kepada orang-orang baik di sekitar kita. Keluarga inti tentu saja sangat kita kenal entah dalam kurun waktu lama atau hanya sekejap ingatan mampu menyimpannya. Sanak saudara dan tetangga dekat menjadi orang-orang yang mengajari hidup tanpa memperhitungkan untung rugi. Ia memberi bantuan pertolongan dengan sukarela, ikhlas hati, dan ramah. Bermain dan belajar bebas memilih waktu sesuai kesepakatan, bahkan kalau harus mengorbankan waktu-...