Setelah semalam diguyur hujan dalam tenda dome di pelataran Pestan, kami dibangunkan oleh suara-suara di luar yang tampaknya ada rombongan pendaki lain sampai di tempat kami berkemah. Menilik suaranya, tampaknya mereka baru naik sebab nafas dan langkahnya masih ringan bersemangat tinggi. Biasanya pendaki yang turun langkahnya lebih berat menghentak tanah. Benarn saja, ketika pintu tenda saya buka sebagian dari mereka duduk-duduk dan sebagian yang lain mulai memasang tenda baru yang sebelumnya tak terdapat tenda lain di sekitar kami. Tenda yang kemarin sore berada di sekitar kami telah dibongkar dan pendakinya telah turun ke basecamp.
Saya keluar tenda untuk menunggu sunrise. Jam di tangan menunjukkan waktu pukul 04.55 WIB. Udara tidak terlalu dingin, angin tidak begitu kuat, tapi jangan coba menyentuh rumput, karena embun akan menangkap kulit Anda. Teman satu tenda saya bangunkan untuk menjerang air buat kopi pagi, sementara tenda sebelah yang masih serombongan saya tampaknya tak bergerak sama sekali. Mungkin mereka masih terlelap dalam tenda.
Sayang, saya tak bisa mengabadikan sunrise yang hanya sekejap muncul karena kabut menutupi pandangan lereng gunung bergerak dari lembah ke lereng gunung. Kami segera menyiapkan sarapan sebelum bergegas naik ke puncak. Satu teman pendamping perjalanan kami, Bange, Mapasadha, secara sukarela bersedia tinggal di tenda untuk menjaga semua barang perbekalan kami. Ini pengalaman baru bagi kami dalam rombongan pendakian bahwa ada personil yang bersedia tinggal di pos pendakian padahal puncak sebenarnya masih cukup jauh dari tempat kami berkemah. Barangkali ini sebuah antisipasi keamanan di gunung yang sekarang ini mulai tidak nyaman.
Setelah sarapan, kami merangkak naik tanpa membawa banyak beban di punggung. Akibatnya langkah kami tentu lebih ringan menapaki tanjakan ke puncak. Setengah jam perjalanan kami telah mencapai pasar watu berupa punggungan datar terhampar batu-batu besar. Tak kami sia-siakan kesempatan berfoto di sini yang memang eksotik. Naik lagi jalur tambah terjal berbatu. Di beberapa tempat kami jumpai tenda kosong ditinggalkan penghuni ke puncak pagi-pagi. Dan pada suatu turunan, kami jumpai lagi tenda-tenda pendaki lain berserak dengan barang-barang bawaan mereka. Dinding batu menjulang tinggi di tempat ini. Para pendaki mengenalnya sebagai Wau Kotak. Langit di atas kepala jernih tak berawan. Tanda baik bagi kami untuk segera meneruskan pendakian ke puncak sebelum sinar matahari semakin tak bersahabat. Di tanah putih kami berpapasan dengan pendaki lain yang sedang turun dari puncak. Sejenak kami berhenti untuk memberikan jalan bagi mereka turun.
Batu-batu semakin menjadi pemandangan rapat di depan mata. Itu berarti puncak semakin dekat saja. Terpaksa mata kami harus lebih cermat untuk menentukan ke mana jalur yang harus kami jejak menuju puncak. Napas yang terengah, tenggorokan yang semakin kering memacu adrenalin segera mengakhiri pendakian ke puncak. Sayup-sayup dari arah puncak kami mendengar lagu syukur bergema di dinding batu tebing. Ada rombongan pendaki lain yang sedang merayakan keberhasilan mencapai puncak. Dan ketika kami tiba di sana, hanya ada rombongan mereka bertujuh dan rombongan kami berenam. Kami saling bersalaman, mengucap syukur telah menjejakkan kaki di puncak gunung ini pada hari yang cerah. Jarum jam menunjukkan pukul 10.50 WIB. Saatnya kamera beraksi untuk mengabadikan keberhasilan kami tiba di puncak dengan selamat. Bekal yang kami bawa kami santap sekaligus pengganti makan siang.
Sejenak kami merayakannya dengan ekspresi yang terasa pas untuk anak muda. Sejurus kemudian kami harus bersiap kembali untuk turun ke tenda. Rombongan pendaki Mapala Unisi masih tertinggal di puncak saat kami mulai beranjak turun. Lebih lama di puncak berarti siap untuk dipanggang sinar matahari langsung. Dengan sedikit berlari jalur turun terasa lebih cepat kami lewati. Tenda-tenda yang terserak di jalan tadi sudah dikemas dan berangsur masuk tas punggung mereka untuk dibawa turun. Tak sampai dua jam kami telah bergabung di tenda kami. Makan siang kami siapkan sebelum turun.
Ketika kami bongkar tenda untuk persiapan turun, rombongan yang dari puncak melewati kami. Mereka membuat kemah lebih ke bawah lagi pada jalur baru. Sementara rombongan yang berbeda baru naik dan bersiap meneruskan ke puncak. Memang pada musim liburan sekolah, pendakian ke gunung biasanya ramai. Kami pun tak membuang waktu lagi untuk segera melangkah turun meninggalkan tempat itu. Kabut tipis, gerimis mulai terasa sedikit menghambat langkah. Jalan menjadi lebih licin sisa pendaki lain. Risikonya salah langkah berarti terpeleset jatuh. Dan itu menyakitkan. Beban bahu, kaki, pantat dan stamina jalan langsung ngedrop tak terkecuali saya. Meski mampu bertahan berdiri tapi sudah terasa bahwa jari jempol kaki dan lainnya terjepit sakit.
Semakin lama menahan pada jalur turun, semakin terasa ketahanan fisik ini di jalan terjal. Jalur baru terasa lebih curam ketika turun, saya tidak membayangkan ketika kita harus naik melewati jalur baru ini.
Malam mulai menyergap langkah kami setelah kami tiba di pos 2. Semak gunung dan hutan semakin kabur dalam penglihatan. Senter mulai menyorot jalan di depan kami. Ada yang disandang di kepala, ada yang dipegang di tangan. Kabut dan jurang menyatu dalam kegelapan malam ini. Angin dari lembah menyergap kami kembali. Kami berhenti sejenak mempertahankan posisi kaki berdiri. Tak terlalu penting lagi di mana kami sekarang berada. Yang terpikir di benak kami adalah berapa lama lagi kami harus tersiksa di jalan menurun sebelummencapai ujung perkampungan penduduk.
Ladang penduduk masih berjejer di kanan kiri jalan setapak. Sesekali mata kami mencoba mengamati apakah lampu rumah penduduk sudah kelihatan. Tak ada celah rupanya untuk melihat dengan jelas. Pohon alang-alang masih lebat di hadapan kami. Sampai gerimis semakin lebat dan pohon bambu berderet rimbun di sisi jembatan. Kita sudah semakin dekat pada pemukiman penduduk. Lampu-lampu, suara air sungai dan bau pupuk kandang di bilik-bilik kosong di pinggir jalan menandai tak lama lagi kita sampai di pemukiman. Jalan batu yang ditata rapi menyambung jembatan ini. Pintu-pintu tertutup rapat menyambut langkah kami. Kepulan asap rokok sesekali menebarkan aroma kemenyan khas rokok di pegunungan. Di masjid masih terdengar orang mengaji. Kami melewatinya tanpa berhenti sampai pintu basecamp yang terasa hingar bingar oleh suara para pendaki yang memenuhi rumah banjar itu.
Malam itu kami mandi dengan air jernih di kamar mandi yang luas. Dinginnya tak kami pikirkan yang penting kami bisa merasakan guyuran air disekujur tubuh, dan nanti bisa ganti baju kering, tidur nyenyak untuk mengembalikan kondisi fisik kembali. Perjalanan telah berakhir di sini dan berharap masih ada perjalanan berikutnya.
Saya keluar tenda untuk menunggu sunrise. Jam di tangan menunjukkan waktu pukul 04.55 WIB. Udara tidak terlalu dingin, angin tidak begitu kuat, tapi jangan coba menyentuh rumput, karena embun akan menangkap kulit Anda. Teman satu tenda saya bangunkan untuk menjerang air buat kopi pagi, sementara tenda sebelah yang masih serombongan saya tampaknya tak bergerak sama sekali. Mungkin mereka masih terlelap dalam tenda.
Sayang, saya tak bisa mengabadikan sunrise yang hanya sekejap muncul karena kabut menutupi pandangan lereng gunung bergerak dari lembah ke lereng gunung. Kami segera menyiapkan sarapan sebelum bergegas naik ke puncak. Satu teman pendamping perjalanan kami, Bange, Mapasadha, secara sukarela bersedia tinggal di tenda untuk menjaga semua barang perbekalan kami. Ini pengalaman baru bagi kami dalam rombongan pendakian bahwa ada personil yang bersedia tinggal di pos pendakian padahal puncak sebenarnya masih cukup jauh dari tempat kami berkemah. Barangkali ini sebuah antisipasi keamanan di gunung yang sekarang ini mulai tidak nyaman.
Setelah sarapan, kami merangkak naik tanpa membawa banyak beban di punggung. Akibatnya langkah kami tentu lebih ringan menapaki tanjakan ke puncak. Setengah jam perjalanan kami telah mencapai pasar watu berupa punggungan datar terhampar batu-batu besar. Tak kami sia-siakan kesempatan berfoto di sini yang memang eksotik. Naik lagi jalur tambah terjal berbatu. Di beberapa tempat kami jumpai tenda kosong ditinggalkan penghuni ke puncak pagi-pagi. Dan pada suatu turunan, kami jumpai lagi tenda-tenda pendaki lain berserak dengan barang-barang bawaan mereka. Dinding batu menjulang tinggi di tempat ini. Para pendaki mengenalnya sebagai Wau Kotak. Langit di atas kepala jernih tak berawan. Tanda baik bagi kami untuk segera meneruskan pendakian ke puncak sebelum sinar matahari semakin tak bersahabat. Di tanah putih kami berpapasan dengan pendaki lain yang sedang turun dari puncak. Sejenak kami berhenti untuk memberikan jalan bagi mereka turun.
Batu-batu semakin menjadi pemandangan rapat di depan mata. Itu berarti puncak semakin dekat saja. Terpaksa mata kami harus lebih cermat untuk menentukan ke mana jalur yang harus kami jejak menuju puncak. Napas yang terengah, tenggorokan yang semakin kering memacu adrenalin segera mengakhiri pendakian ke puncak. Sayup-sayup dari arah puncak kami mendengar lagu syukur bergema di dinding batu tebing. Ada rombongan pendaki lain yang sedang merayakan keberhasilan mencapai puncak. Dan ketika kami tiba di sana, hanya ada rombongan mereka bertujuh dan rombongan kami berenam. Kami saling bersalaman, mengucap syukur telah menjejakkan kaki di puncak gunung ini pada hari yang cerah. Jarum jam menunjukkan pukul 10.50 WIB. Saatnya kamera beraksi untuk mengabadikan keberhasilan kami tiba di puncak dengan selamat. Bekal yang kami bawa kami santap sekaligus pengganti makan siang.
Sejenak kami merayakannya dengan ekspresi yang terasa pas untuk anak muda. Sejurus kemudian kami harus bersiap kembali untuk turun ke tenda. Rombongan pendaki Mapala Unisi masih tertinggal di puncak saat kami mulai beranjak turun. Lebih lama di puncak berarti siap untuk dipanggang sinar matahari langsung. Dengan sedikit berlari jalur turun terasa lebih cepat kami lewati. Tenda-tenda yang terserak di jalan tadi sudah dikemas dan berangsur masuk tas punggung mereka untuk dibawa turun. Tak sampai dua jam kami telah bergabung di tenda kami. Makan siang kami siapkan sebelum turun.
Ketika kami bongkar tenda untuk persiapan turun, rombongan yang dari puncak melewati kami. Mereka membuat kemah lebih ke bawah lagi pada jalur baru. Sementara rombongan yang berbeda baru naik dan bersiap meneruskan ke puncak. Memang pada musim liburan sekolah, pendakian ke gunung biasanya ramai. Kami pun tak membuang waktu lagi untuk segera melangkah turun meninggalkan tempat itu. Kabut tipis, gerimis mulai terasa sedikit menghambat langkah. Jalan menjadi lebih licin sisa pendaki lain. Risikonya salah langkah berarti terpeleset jatuh. Dan itu menyakitkan. Beban bahu, kaki, pantat dan stamina jalan langsung ngedrop tak terkecuali saya. Meski mampu bertahan berdiri tapi sudah terasa bahwa jari jempol kaki dan lainnya terjepit sakit.
Semakin lama menahan pada jalur turun, semakin terasa ketahanan fisik ini di jalan terjal. Jalur baru terasa lebih curam ketika turun, saya tidak membayangkan ketika kita harus naik melewati jalur baru ini.
Malam mulai menyergap langkah kami setelah kami tiba di pos 2. Semak gunung dan hutan semakin kabur dalam penglihatan. Senter mulai menyorot jalan di depan kami. Ada yang disandang di kepala, ada yang dipegang di tangan. Kabut dan jurang menyatu dalam kegelapan malam ini. Angin dari lembah menyergap kami kembali. Kami berhenti sejenak mempertahankan posisi kaki berdiri. Tak terlalu penting lagi di mana kami sekarang berada. Yang terpikir di benak kami adalah berapa lama lagi kami harus tersiksa di jalan menurun sebelummencapai ujung perkampungan penduduk.
Ladang penduduk masih berjejer di kanan kiri jalan setapak. Sesekali mata kami mencoba mengamati apakah lampu rumah penduduk sudah kelihatan. Tak ada celah rupanya untuk melihat dengan jelas. Pohon alang-alang masih lebat di hadapan kami. Sampai gerimis semakin lebat dan pohon bambu berderet rimbun di sisi jembatan. Kita sudah semakin dekat pada pemukiman penduduk. Lampu-lampu, suara air sungai dan bau pupuk kandang di bilik-bilik kosong di pinggir jalan menandai tak lama lagi kita sampai di pemukiman. Jalan batu yang ditata rapi menyambung jembatan ini. Pintu-pintu tertutup rapat menyambut langkah kami. Kepulan asap rokok sesekali menebarkan aroma kemenyan khas rokok di pegunungan. Di masjid masih terdengar orang mengaji. Kami melewatinya tanpa berhenti sampai pintu basecamp yang terasa hingar bingar oleh suara para pendaki yang memenuhi rumah banjar itu.
Malam itu kami mandi dengan air jernih di kamar mandi yang luas. Dinginnya tak kami pikirkan yang penting kami bisa merasakan guyuran air disekujur tubuh, dan nanti bisa ganti baju kering, tidur nyenyak untuk mengembalikan kondisi fisik kembali. Perjalanan telah berakhir di sini dan berharap masih ada perjalanan berikutnya.
Komentar