Di kalangan sastrawan Indonesia, penulis Subagyo Sastrowardoyo mungkin mewakili citraan dalam cerpen"Kejantanan di Sumbing" yang mengambil lanskap kehidupan khas pegunungan membentang di antara kota dan jalur transportasi di lembah hijau perkebunan sayuran, tembakau, dan tanaman teh Wonosobo - Parakan - Temanggung.
Saya kaitkan perjalanan ini dengan judul cerita di atas karena sebenarnya tujuan awal pendakian bukan ke tempat ini. Rencana awal kami semula mau menuju gunung Rinjani, di Lombok, NTB. Info terakhir gunung tersebut belum boleh didaki mengingat status aktif gunung Barujari di Segara Anakan, yang merupakan lokasi terdekat sebelum perjalanan ke puncaknya. Tujuan pendakian kemudian dibelokkan ke sasaran cadangan yang masih memiliki tantangan tinggi yakni Gunung Slamet, Purwokerto, Jawa Tengah dengan pertimbangan kondisi terakhir normal setelah tahun lalu gagal ke sana karena status waspada.
Kontak temen-temen di Jogja juga menyatakan bahwa pendakian ke gunung Slamet its ok! Jadi ketika kami uda sampai di Jogja, rencana ke Slamet tak berubah. Sambil persiapan logistik, kami sempatkan keliling objek sejarah dan kuliner di seputar Jogja: Malioboro, Alun-alun Utara, Benteng Vredeburg, Monumen SO 1 Maret, Bonbin Gembiraloka, dan tentu saja mampir pondok Mapasadha di kampus USD, Mrican. Ternyata, kami disambut dengan beberapa undangan pernikahan yang pelaksanaannya berdekatan. Wow, betapa bahagia warga pondok menyiapkan tim kerja 'njagong manten' bagi warganya. Undangan canggih dipublikasikan via mailist/facebook di samping undangan formal konvensional. Desain undangan dikerjakan sendiri dengan sentuhan citarasa budaya alam sebagai nuansa seni grafisnya.
Touring berikutnya menuju kawasan Bandungan, Candi Gedongsongo, dan air terjun Curug Tujuh Bidadari, Sumowono, Jawa Tengah. Ada satu yang menarik dari touring ini, pengenalan objek Curug Tujuh Bidadari berawal dari kiriman video temen di Semarang, keluarga Bavo MN yang tinggal di daerah Pedurungan, Semarang. Ketika kami sampai di Bandungan, keluarga ini menelepon untuk mampir (turun) ke Semarang sekaligus silaturahmi setelah lama kami tak ketemu. Dengan bantuan panduan telepon seluler, kami mencari jalan menuju rumah yang dimaksudkan, padahal waktu saat itu (Kamis, 24 Juni) telah menunjukkan pukul 23.15 WIB. Kami putuskan ke sana setelah memperoleh penginapan di kompleks Candi Gedongsongo. Jadilah kami menikmati suasana malam di kota Semarang: Simpang Lima, Tugu Muda, Lawang Sewu, dan taman di Bundaran Tugu Muda. Hari berikutnya kami kembali ke Jogja, tak lupa menitipkan dua anak saya berlibur di rumah kakek neneknya di Sukorejo, Kendal.
Mulailah jadwal pendakian sebenarnya. Dua teman Mapasadha siap menemani pendakian kami (Sober dan Bange, walaupun mereka ini baru pulang dari pendakian gunung Gede Pangrango, Jawa Barat). Siang itu kami berkumpul di terminal Giwangan sesuai kesepakatan. Kami mencoba naik bus PATAS EFISIENSI jurusan Purwokerto untuk menghemat waktu tempuh. Empat jam perjalanan kami nikmati dalam suasana ramah dan nyaman. Pukul 17.30 kami tiba dan turun di Sukaraja. Rupanya kami telah ditunggu oleh teman dari Purbalingga yang akan mengantar kami kek kaki gunung Slamet. Dan di sinilah awal perubahan rencana berulang kembali. Teman dari Purbalingga me nginformasikan bahwa untuk saat ini jalur pendakian ke Gunung Slamet ditutup dalam status siaga. Koordinasi segera kami lakukan dalam keremangan senja dan gerimis. Tak berlama-lama kami putuskan untuk mengarahkan pendakian ke Gunung Sumbing malam itu juga. Jalur yang kami lalui dari Sukaraja menuju Purbalingga, Pratin, Banjarnegara, Wonosobo, basecamp Sumbing di Garung. Di perjalanan, kami sempat mengisi perut dengan nasi goreng spesial yang memang banyak tersedia di warung sepanjang perjalanan menuju Banjarnegara. Hujan dan suasana malam tak membuat patah semangat, walau penumpang di bak belakang tanpa kursi tentu terguncang dan sebagian basah.
Tiba di kota Wonosobo, suasana sudah sangat sepi dari lalu-lalang kendaraan dan orang-orang. Beberapa warung atau rumah yang masih terbuka terdengar siaran langsung sepakbola piala dunia. Toko dan pusat keramaian di kota sudah lama tutup. Basecamp Sumbing masih harus ditempuh berupa jalur tanjakan berkelok dari arah kota Wonosobo menuju Garung. Jalur ini tentu sangat ramai dan padat saat siang hari. Tiba di basecamp Garung, ternyata ada beberapa kelompok pendaki dari Tasikmalaya yang bernasib sama untuk mengalihkan pendakian semula ke Gunung Slamet ke Gunung Sumbing. Beberapa jam kemudia berdatangan rombongan bermotor dari mapala UII Jogja untuk merayakan Dies Natalis mapalanya di Sumbing. Di basecamp ini para pendaki wajib melapor untuk pendataan.
Pagi harinya, datang lagi rombongan dari Tasikmalaya dan Jakarta. Sementara informasi dari petugas basecamp, masih ada beberapa rombongan pendaki lain yang telah brada di atas gunung karena memang pada musim liburan sekolah biasanya pendakian cukup ramai. Kami mencoba mencari informasi tambahan tentang jalur pendakian yang sebaiknya kami lalui serta sumber air yang mungkin bisa diperoleh sepanjang perjalanan ke puncak. Informasi ini perlu agar perkiraan logistik dan lokasi berkemah para pendaki tidak terkonsentrasi pada satu tempat yang memang terbatas kapasitasnya. Kami memutuskan untuk berkemah di Pestan yang dianggap lokasi ideal untuk berkemah dalam jumlah cukup banyak walaupun masih cukup jauh dari puncak. Jalur yang kami pilih pun melalui jalur lama dengan pertimbangan lebih landai walaupun lebih panjang, daripada jalur baru yang terjal dan menghindari konsentrasi pertemuan dengan pendaki lain di jalan sempit akan menghambat waktu tempuh. Karena target perjalanan yang longgar kami memilih jalur lama ini.
Sampai batas hutan, penduduk telah membuka ladang dan mencari rumput, menebang kayu bakar, atau pembuatan arang dengan bantuan motor modifikasi bebek trail yang tiap hari meraung-raung naik turun lereng gunung ini. Jalur setapak di sini akan berlubang cerukan panjang ditengahnya bekas roda motor yang diberi rantai khusus pada musim hujan atau berlumpur. Para pendaki sering berseloroh kalau mau ke puncak bisa naik ojek juga lho.
Jalur yang berliku dan bervariasi di sini tentu tidak membosankan untuk dinikmati apalagi kalau jalan siang hari. Panorama khas pegunungan dapat dinikmati dari tempat kita berhenti jauh ke seberang jarak pandang kita. Tanjakan demi tanjakan menunjukkan bahwa kita menambah ketinggian dan mendekati jalur ke puncak sebenarnya. Pestan akhirnya berada pada jarak pandang kami setelah melewati beberapa tanjakan dan punggungan. Tempat terbuka lebar karena tanaman dominan rumput alang-alang, hanya ada beberapa pohon peneduh di beberapa tempat. Masih ada beberapa tenda bisu tak berpenghuni barangkali mereka masih di puncak. Kami memilih lokasi datar untuk mendirikan tenda di sini. Kami akan bermalam di sini sesuai rencana, daripada dipaksa naik lagi dan tempat berkemah berebut dengan rombongan pendaki lain. Dan ternyata perkiraan kami ini terbukti benar pada keesokan harinya saat kami menuju puncak. (Bersambung....)
Komentar