Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2010

CAPING ISTIMEWA

1 sURO, 1432 H, 7 Desember 2010 Kumaki RUU yang tak peduli ke-Istimewaan! Survei membuktikan bahwa PEMILUKADA berpotensi liar: konflik kepentingan, adu domba antarelemen masyarakat, boros anggaran, chaos, dan anarkis = kemunduran DEMOKRASI PANCASILA, khas demokrasi ala Indonesia tulen. Pra petinggi negeri ini memang jago-jago kampanye yang mendesain janji-janji 'gombal' untuk 'korban massal' projek iming-iming itu. Dan kita terbius suasana euforia itu. Jika pola Top to bottom tak apat menjangkau 'jiwa' istimewa, mari kita pakai pola bottom to up yang memang dikehendaki oleh pemilik hak ulayat tanah babad alas Mentaok. NKRI jauh lebih demokratis di mata penggagas tekad awal yang golong gilig untuk merdeka dari tangan penjajah tanp reserve. Bagimana dapat merasakan merdeka bila utang LN tak sebanding dengan laju kesejahteraan perkapita? MINUS MALUM atau the best among the worst mengajarkan kepada kita untuk memberlakukan yang terbaik di antara yang jelek. UU itu b...

MALAM-MALAM DI PEMATANG

Malam-malam di kampungku, Sudagaran, Jogyakarta, aku sering diajak teman bermain di pematang. Apalagi kalau habis panen, selalu menumpuk sisa jerami kering yang masih berasap karena dibakar sejak sore. Dan bukan suatu kebetulan kalau sawah tetangga telah ditanami ubi. Salah satu dari kami akan mengendap-endap di antara tanaman lalu kembali dengan beberapa ubi untuk diselipkan ke dalam jerami. Kami bergantian meniup bara jerami agar ubi cepat matang terpanggang. Ada atau tak ada bintang, ada bulan atau tanpa bulan, makan ubi bakar sambil memandang arah gunung Merapi di utara seperti bayangan tumpeng nasi kebuli. Kami menatapnya berlama-lama ke arah gunung. Lampu-lampu berkelip di lerengnya menunjukkan geliat kawasan wisata Kaliurang. Ketika dari puncaknya menyembul lelehan magma berwarna merah, kami menghitung sampai seberapa banyak lahar panas ditumpahkan dari dapur magma. Jika dalam tiga sampai lima hitungan lelehan lahar tak kelihatan lagi, kami akan segera membalik ubi di tumpukan j...

1 SYAWAL 1431 H

Pendakian gunung batin manusia beriman sampai pada puncaknya ketika menyadari bahwa puncak cahaya hati harus kembali pada hidup keseharian yang mereka jalani. Berbagai laku ritual sebagai perwujudan kesaksian hidup imannya telah membawa nilai-nilai akhlak, moral, religiositas pribadi maupun komunitas. Matiraga dalam puasa yang terlewati adalah pengendalian paling manusiawi yang bisa diupayakan terus-menerus setelah menemukan titik triangulasi tingkat keimanan yang terukur. Amal dan zakat melengkapi bentuk kepedulian kepada orang lain yang membutuhkan uluran rizki harian yang semakin mencekik di sana sini. Kepada saudaraisaudaraku yang merayakan kegembiraan hari raya ini, saya sampaikan SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, mohon maaf lahir dan batin.

MERAH PUTIH, 65 TH INDONESIA MERDEKA

Tiap tahun diperingati, tiap bulan Agustus sederet umbu-umbul menyertai kibar bendera pusaka ini. Sudah sejak setahun yang lalu saya menuliskan bentuk pemaknaan di blog ini. Tentu ada alasan yang menyebabkannya begitu. Pertama, karena peringatan kemerdekaan tahun ini di awal saudara kita menjalankan puasa. Laku puasa untuk sebuah tujuan mulia tentu sangat diharapkan oleh umat beriman sebagai bentuk pendewasaan rohani. Saya yakin semua ajaran agama memberikan sentuhan laku puasa ini bagi para pengikutnya. Puasa merupakan bentuk matiraga terpola yang disadari mampu membangun kesadaran baru akan ziarah iman masing-masing umat kepada Sang Pencipta. Dalam rumusan sila Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa, sangat jelas nuansanya. Kedua, 65 Tahun bila dilacak mundur ke Tahun 1945 saat kumandang proklamasi pertama kali di Pegangsaan Timur 56, Jakarta, juga memberikan petunjuk bilangan umur cukup dewasa di negara MERDEKA. Apakah dua alasan di atas cukup bermakna bagimu? Tentu tidak pernah cukup u...

MENIKMATI PUNCAK BUNTU, GUNUNG SUMBING

Setelah semalam diguyur hujan dalam tenda dome di pelataran Pestan, kami dibangunkan oleh suara-suara di luar yang tampaknya ada rombongan pendaki lain sampai di tempat kami berkemah. Menilik suaranya, tampaknya mereka baru naik sebab nafas dan langkahnya masih ringan bersemangat tinggi. Biasanya pendaki yang turun langkahnya lebih berat menghentak tanah. Benarn saja, ketika pintu tenda saya buka sebagian dari mereka duduk-duduk dan sebagian yang lain mulai memasang tenda baru yang sebelumnya tak terdapat tenda lain di sekitar kami. Tenda yang kemarin sore berada di sekitar kami telah dibongkar dan pendakinya telah turun ke basecamp. Saya keluar tenda untuk menunggu sunrise. Jam di tangan menunjukkan waktu pukul 04.55 WIB. Udara tidak terlalu dingin, angin tidak begitu kuat, tapi jangan coba menyentuh rumput, karena embun akan menangkap kulit Anda. Teman satu tenda saya bangunkan untuk menjerang air buat kopi pagi, sementara tenda sebelah yang masih serombongan saya tampaknya tak berge...

JALUR MENUJU PUNCAK BUNTU, SUMBING

Di kalangan sastrawan Indonesia, penulis Subagyo Sastrowardoyo mungkin mewakili citraan dalam cerpen"Kejantanan di Sumbing" yang mengambil lanskap kehidupan khas pegunungan membentang di antara kota dan jalur transportasi di lembah hijau perkebunan sayuran, tembakau, dan tanaman teh Wonosobo - Parakan - Temanggung. Saya kaitkan perjalanan ini dengan judul cerita di atas karena sebenarnya tujuan awal pendakian bukan ke tempat ini. Rencana awal kami semula mau menuju gunung Rinjani, di Lombok, NTB. Info terakhir gunung tersebut belum boleh didaki mengingat status aktif gunung Barujari di Segara Anakan, yang merupakan lokasi terdekat sebelum perjalanan ke puncaknya. Tujuan pendakian kemudian dibelokkan ke sasaran cadangan yang masih memiliki tantangan tinggi yakni Gunung Slamet, Purwokerto, Jawa Tengah dengan pertimbangan kondisi terakhir normal setelah tahun lalu gagal ke sana karena status waspada. Kontak temen-temen di Jogja juga menyatakan bahwa pendakian ke gunung Slamet it...

LOGO MPSD

Jauh sesudah hingar bingar RENDEZVOUS berakhir, saya kembali merenungkan ungkapan saudara Agus Subagya (Jlitheng) yang merasa ada yang kurang terpajang dalam menu acara temu kangen lereng gunung itu, yakni bendera pusaka awal berdirinya mapasadha itu. Buat Agus yang cukup emosional berucap bahwa simbol itu memiliki ikatan batin tersendiri saat kita masih aktif di sana. Dalam kapasitas formal, benar bahwa simbol-simbol memang perlu hadir sebagai cerminan panji kebesaran yang mewarnai motivasi korps. Kalau uniform (PDH/PDL) tak berkait dengan semangat awal rintisan. Bagaimana ceremony dapat tercermin dalam suasana yang lebih fleksibellah. Saya sendiri tidak mengalami secara intens terhadap 'pergulatan jiwa' tualang yang terwujud kristalisasinya pada lembar kain sablon bernama bendera tersebut. Proses terciptanya benda itu tentu memiliki ceritanya sendiri, dan bukan wewenang saya untuk bercerita di sini karena memang tak punya referensi cukup. Tetapi, gagasan bahwa ada mata rantai...