Langsung ke konten utama

LOGO MPSD

Jauh sesudah hingar bingar RENDEZVOUS berakhir, saya kembali merenungkan ungkapan saudara Agus Subagya (Jlitheng) yang merasa ada yang kurang terpajang dalam menu acara temu kangen lereng gunung itu, yakni bendera pusaka awal berdirinya mapasadha itu. Buat Agus yang cukup emosional berucap bahwa simbol itu memiliki ikatan batin tersendiri saat kita masih aktif di sana.

Dalam kapasitas formal, benar bahwa simbol-simbol memang perlu hadir sebagai cerminan panji kebesaran yang mewarnai motivasi korps. Kalau uniform (PDH/PDL) tak berkait dengan semangat awal rintisan. Bagaimana ceremony dapat tercermin dalam suasana yang lebih fleksibellah.

Saya sendiri tidak mengalami secara intens terhadap 'pergulatan jiwa' tualang yang terwujud kristalisasinya pada lembar kain sablon bernama bendera tersebut. Proses terciptanya benda itu tentu memiliki ceritanya sendiri, dan bukan wewenang saya untuk bercerita di sini karena memang tak punya referensi cukup.

Tetapi, gagasan bahwa ada mata rantai yang mampu menghubungkan aktivitas kita dari angkatan ke angkatan sampai hari ini tentu suatu kenyataan yang patut disyukuri eksistensinya.
Bentuk syukur inilah yang ingin saya tampilkan di sini.

Orientasi WONOLELO 1983 -Angkatan III

Ciri khas keberangkatan dulu menumpang truk sebagai angkutan massal menuju lokasi dan tentu sama saat kembali ke kampus. Seingat saya truk langganan kita saat itu berangkat dari sebuah garasi dekat pasar Samirono, Gejayan. Entah siapa yang bisa menjelaskan pertemanan dengan transportasi khas warna dominan kuning ini.

Panitia pendamping dan calon anggota baru bergabung dalam truk yang sama, kecuali panitia mobile dengan armada motornya sendiri yang memang blusak-blusuk ke lokasi untuk perizinan kegiatan lapangan.

Tak terbantahkan bahwa kondisi fisik, cuaca, dan emosi beradaptasi sangat alami. Ada keringat berbagi keringat, ada beban berbagi beban, dan ada umpatan yang lantang menggelora di dada kita sejak acara sebenarnya dimulai.

Peserta diturunkan di suatu tempat (sisi jalan tak dikenal saat itu oleh cata). Gerimis tipis dan kabut dingin menyambut kedatangan kami. Ponco segera kami kenakan, meski begitu, tetap saja kami basah kuyup sekujur badan. Pos demi pos kami jalani sampai upacara pembukaan orientasi lapangan dengan sambutan kepala desa setempat. Tak ada lagi tempat berpijak yang tak basah oleh guyuran hujan, dan kalau bukan karena hujan berarti basah oleh keringatnya sendiri dalam aktivitas fisik yang menggila.

Berbagi kehangatan di dapur umum yang lazimnya dihuni panitia konsumsi. Dalam waktu terbatas dibagikan ransum teh hangat dan makan malam. Energi bertambah untuk menunggu aktivitas berikutnya. Suasana malam yang lembab dan basah membuat kekompakan antarcata dibangun. Dalam balutan ponco masing-masing menjadi tak jelas siapa panitia dan siapa peserta. Sungguh sebuah drama sangat lucu dalam situasi serius ketika kami (cata) harus saling tegur ketika berpapasan di rute pos menganggap mereka ini panitia karena kami memang belum banyak kenal. Dia laki-laki atau perempuan juga tak jelas sebelum saling menjawab teguran. Kegiatan malam itu berlangsung sampai menjelang pagi. Sebagian istirahat di tenda darurat, sebagian lain tidur di pinggir jalan dalam ponco masing-masing.

Hari berikutnya tak satupun mandi. Udara dingin, berubah hangat saat sinar matahari menyorot tubuh kami. Habis sarapan, kami menerima materi kepencintaalaman. Walau kantuk masih terasa, kami mencoba bertahan buka mata. Selanjutnya praktik rapelling dengan tali 'dhadhung' di salah satu tebing bukit. Inilah kejanggalannya. Beberapa instruktur ternyata juga masih calon anggota seperti lainnya, hanya karena punya pengalaman di sekolah sebelumnya. Baru tampak nanti saat pelantikan semuanya menjadi jelas.

Setelah makan siang, kami digiring ke tempat pembaptisan. Sebuah cerukan sungai kecil yang bening airnya dipilih menjadi kolam pelantikan. Dalam apel singkat itu, ketua panitia memimpin prosesi suci pengesahan anggota baru. Satu demi satu anggota dipanggil dan dikalungkan syal putih tanda resmi menjadi anggota muda mapasadha. Bonusnya diceburkan ke kolam dan kepalanya disiram air dengan ember yang sudah disiapkan. Rasa haru saat ujung bendera merah putih dan mapasadha bergantian menyentuh bibir kering dalam penggojlokan sejak kemarin. Ucapan selamat disampaikan dalam jabat tangan. Lokasi selanjutnya dibersihkan, dan kami berjalan kembali menuju tempat penjemputan truk.

Begitulah sepenggal suasana emosional yang dapat menjadi latar mengapa bendera itu memberi makna tersendiri. Berakhirlah permenunganku di sini. Salam buat teman-teman seangkatan: Basir, Wiyoto, Atik, Santi, Agus, Ludo, Endang (D3 Ind), dll. yang saya lupa karena memang sungguh lupa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENIKMATI PUNCAK BUNTU, GUNUNG SUMBING

Setelah semalam diguyur hujan dalam tenda dome di pelataran Pestan, kami dibangunkan oleh suara-suara di luar yang tampaknya ada rombongan pendaki lain sampai di tempat kami berkemah. Menilik suaranya, tampaknya mereka baru naik sebab nafas dan langkahnya masih ringan bersemangat tinggi. Biasanya pendaki yang turun langkahnya lebih berat menghentak tanah. Benarn saja, ketika pintu tenda saya buka sebagian dari mereka duduk-duduk dan sebagian yang lain mulai memasang tenda baru yang sebelumnya tak terdapat tenda lain di sekitar kami. Tenda yang kemarin sore berada di sekitar kami telah dibongkar dan pendakinya telah turun ke basecamp. Saya keluar tenda untuk menunggu sunrise. Jam di tangan menunjukkan waktu pukul 04.55 WIB. Udara tidak terlalu dingin, angin tidak begitu kuat, tapi jangan coba menyentuh rumput, karena embun akan menangkap kulit Anda. Teman satu tenda saya bangunkan untuk menjerang air buat kopi pagi, sementara tenda sebelah yang masih serombongan saya tampaknya tak berge...

CATATAN SAYA KE GUNUNG-GUNUNG

1974, PLAWANGAN      Kekaguman akan wujud gunung yang paling nyata pertama kali saya hadapi ketika rombongan anak-anak paroki yang tergabung dalam putra-putri altar gereja katolik Maria Asumpta, Kumetiran berekreasi ke Kaliurang. Perubahan suasana kota dengan hiruk-pikuk keseharian menjadi suasana lingkungan alam pegunungan dan vila-vila taman sepanjang kompleks wisata Kaliurang yang terkenal itu menyejukkan hati para pengunjung. Terminal kedatangan selalu silih berganti mobil angkutan masuk dan keluar meninggalkannya menandai tempat rekreasi ini lebih akrab dengan suara alam, antara lain gemericik air sungai kecil, juga pancuran di sudut-sudut jalan yang digunakan oleh pedagang dan pengunjung, suara kicau burung di ranting pohon pinus, serta desau angin. Hawa sejuk khas pegunungan dan dingin air gunung sebelum terkena sinar matahari siang. Pemandian 'Tlogo Putri' masih tampak sepi, airnya sangat dingin. Sementara di sisi lain air gemericik di dinding 'Tlogo Muncar' te...

MENJENGUK PENGALAMAN, MERENUNGKAN HAKIKAT, MENANGKAP MAKNA

Meski tak seaktif dulu lagi, melakukan petualanagan ke alam menjadikan semangat hidup punya bara, paling tidak punya cerita yang bisa dibagikan. Tumpukan pengalaman, walaupun tercerai-berai menjadi fragmen-fragmentaris dalam rentang waktu lama, bisa direkonstruksi tahap demi tahap yang masih berseliweran pada berbagai kesempatan selama masih bernapas dan mampu memanggil suara ingatan. Tahap norma manusia dibagi dalam 5 tingkatan: masa kanak-kanak, mulai sekolah dasar, sekolah lanjutan, kuliah, dan bekerja. Selama masa itu, kita sangat banyak bergantung kepada orang-orang baik di sekitar kita. Keluarga inti tentu saja sangat kita kenal entah dalam kurun waktu lama atau hanya sekejap ingatan mampu menyimpannya. Sanak saudara dan tetangga dekat menjadi orang-orang yang mengajari hidup tanpa memperhitungkan untung rugi. Ia memberi bantuan pertolongan dengan sukarela, ikhlas hati, dan ramah. Bermain dan belajar bebas memilih waktu sesuai kesepakatan, bahkan kalau harus mengorbankan waktu-...