Langsung ke konten utama

MALAM-MALAM DI PEMATANG

Malam-malam di kampungku, Sudagaran, Jogyakarta, aku sering diajak teman bermain di pematang. Apalagi kalau habis panen, selalu menumpuk sisa jerami kering yang masih berasap karena dibakar sejak sore. Dan bukan suatu kebetulan kalau sawah tetangga telah ditanami ubi. Salah satu dari kami akan mengendap-endap di antara tanaman lalu kembali dengan beberapa ubi untuk diselipkan ke dalam jerami. Kami bergantian meniup bara jerami agar ubi cepat matang terpanggang.

Ada atau tak ada bintang, ada bulan atau tanpa bulan, makan ubi bakar sambil memandang arah gunung Merapi di utara seperti bayangan tumpeng nasi kebuli. Kami menatapnya berlama-lama ke arah gunung. Lampu-lampu berkelip di lerengnya menunjukkan geliat kawasan wisata Kaliurang.

Ketika dari puncaknya menyembul lelehan magma berwarna merah, kami menghitung sampai seberapa banyak lahar panas ditumpahkan dari dapur magma. Jika dalam tiga sampai lima hitungan lelehan lahar tak kelihatan lagi, kami akan segera membalik ubi di tumpukan jerami agar tidak gosong. Anehnya, kami sangat menikmati pemandangan seperti itu berlama-lama sampai kantuk menyergap. Malam telah bergeser ke dini hari.

Berhari-hari kami berkumpul sambil makan ubi bakar atau jagung bakar di sawah kering. Menikmati malam, memandang Merapi yang memuntahkan lava pijar ke arah barat atau tenggara, sangatlah mengesan di benak kami masa kanak-kanak.

Sawah-sawah itu kini telah menjadi kompleks perumahan megah sampai ke pinggir jalan raya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENIKMATI PUNCAK BUNTU, GUNUNG SUMBING

Setelah semalam diguyur hujan dalam tenda dome di pelataran Pestan, kami dibangunkan oleh suara-suara di luar yang tampaknya ada rombongan pendaki lain sampai di tempat kami berkemah. Menilik suaranya, tampaknya mereka baru naik sebab nafas dan langkahnya masih ringan bersemangat tinggi. Biasanya pendaki yang turun langkahnya lebih berat menghentak tanah. Benarn saja, ketika pintu tenda saya buka sebagian dari mereka duduk-duduk dan sebagian yang lain mulai memasang tenda baru yang sebelumnya tak terdapat tenda lain di sekitar kami. Tenda yang kemarin sore berada di sekitar kami telah dibongkar dan pendakinya telah turun ke basecamp. Saya keluar tenda untuk menunggu sunrise. Jam di tangan menunjukkan waktu pukul 04.55 WIB. Udara tidak terlalu dingin, angin tidak begitu kuat, tapi jangan coba menyentuh rumput, karena embun akan menangkap kulit Anda. Teman satu tenda saya bangunkan untuk menjerang air buat kopi pagi, sementara tenda sebelah yang masih serombongan saya tampaknya tak berge...

CATATAN SAYA KE GUNUNG-GUNUNG

1974, PLAWANGAN      Kekaguman akan wujud gunung yang paling nyata pertama kali saya hadapi ketika rombongan anak-anak paroki yang tergabung dalam putra-putri altar gereja katolik Maria Asumpta, Kumetiran berekreasi ke Kaliurang. Perubahan suasana kota dengan hiruk-pikuk keseharian menjadi suasana lingkungan alam pegunungan dan vila-vila taman sepanjang kompleks wisata Kaliurang yang terkenal itu menyejukkan hati para pengunjung. Terminal kedatangan selalu silih berganti mobil angkutan masuk dan keluar meninggalkannya menandai tempat rekreasi ini lebih akrab dengan suara alam, antara lain gemericik air sungai kecil, juga pancuran di sudut-sudut jalan yang digunakan oleh pedagang dan pengunjung, suara kicau burung di ranting pohon pinus, serta desau angin. Hawa sejuk khas pegunungan dan dingin air gunung sebelum terkena sinar matahari siang. Pemandian 'Tlogo Putri' masih tampak sepi, airnya sangat dingin. Sementara di sisi lain air gemericik di dinding 'Tlogo Muncar' te...

MENJENGUK PENGALAMAN, MERENUNGKAN HAKIKAT, MENANGKAP MAKNA

Meski tak seaktif dulu lagi, melakukan petualanagan ke alam menjadikan semangat hidup punya bara, paling tidak punya cerita yang bisa dibagikan. Tumpukan pengalaman, walaupun tercerai-berai menjadi fragmen-fragmentaris dalam rentang waktu lama, bisa direkonstruksi tahap demi tahap yang masih berseliweran pada berbagai kesempatan selama masih bernapas dan mampu memanggil suara ingatan. Tahap norma manusia dibagi dalam 5 tingkatan: masa kanak-kanak, mulai sekolah dasar, sekolah lanjutan, kuliah, dan bekerja. Selama masa itu, kita sangat banyak bergantung kepada orang-orang baik di sekitar kita. Keluarga inti tentu saja sangat kita kenal entah dalam kurun waktu lama atau hanya sekejap ingatan mampu menyimpannya. Sanak saudara dan tetangga dekat menjadi orang-orang yang mengajari hidup tanpa memperhitungkan untung rugi. Ia memberi bantuan pertolongan dengan sukarela, ikhlas hati, dan ramah. Bermain dan belajar bebas memilih waktu sesuai kesepakatan, bahkan kalau harus mengorbankan waktu-...