Tiap tahun diperingati, tiap bulan Agustus sederet umbu-umbul menyertai kibar bendera pusaka ini. Sudah sejak setahun yang lalu saya menuliskan bentuk pemaknaan di blog ini. Tentu ada alasan yang menyebabkannya begitu.
Pertama, karena peringatan kemerdekaan tahun ini di awal saudara kita menjalankan puasa. Laku puasa untuk sebuah tujuan mulia tentu sangat diharapkan oleh umat beriman sebagai bentuk pendewasaan rohani. Saya yakin semua ajaran agama memberikan sentuhan laku puasa ini bagi para pengikutnya. Puasa merupakan bentuk matiraga terpola yang disadari mampu membangun kesadaran baru akan ziarah iman masing-masing umat kepada Sang Pencipta. Dalam rumusan sila Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa, sangat jelas nuansanya.
Kedua, 65 Tahun bila dilacak mundur ke Tahun 1945 saat kumandang proklamasi pertama kali di Pegangsaan Timur 56, Jakarta, juga memberikan petunjuk bilangan umur cukup dewasa di negara MERDEKA.
Apakah dua alasan di atas cukup bermakna bagimu? Tentu tidak pernah cukup untuk takaran orang lain, karena kita dilahirkan memiliki keunikan tersendiri. Takaran cukup menjadi relatif untuk setiap orang.
Dan kalau itu jawabannya, memang peringatan kemerdekaan selalu relevan untuk dibahas dan diaktualisasikan dalam praksis hidup berbangsa dan bernegara. Dalam berbangsa, berbagai pergulatan hidup pribadi menemukan dialogisnya ketika berhadapan dengan pribadi lain di tengah keluarga, masyarakat sekitar, dan persoalan bangsanya. Dan dalam bernegara, batas-batas wilayah pribadi dengan wilayah publik sering bersinggungan pada aturan main yang berlaku.
Pergulatan hidup berbangsa pada bangsa yang terus berkembang tentu takkan pernah selesai hari-hari ini. Persoalan demi persoalan tak pernah habis didiskusikan. Jurang pemisah antara yang kaya dengan yang miskin terlalu lebar, mentalitas warga yang tangguh dengan yang loyo terlalu kentara, dan memuncak pada sikap moral yang serba pura-pura tak sampai nurani. Teori-teori yang dibuat dalam rangka membangun kehidupan bangsa yang utuh tak pernah menemukan kata sepakat dalam keputusan akhirnya, karena ada pihak yang dikorbankan. Bhinneka tunggal ika yang dislogankan digerogoti sendiri dalam banyak hal, terutama tuntutan ketidakpuasan, ketidakadilan, dan ketidakramahan.
Sementara dalam hidup bernegara, kita tak pernah mencoba konsekuen dengan sistem ketatanegaraan yang kita bangun dari waktu ke waktu. Para pejabat yang dipercaya masyarakat untuk mengelola negara ini dari periode ke periode berikutnya meninggalkan utang kesejahteraan tergadai tujuh turunan. Politik yang dibangun bukan upaya pencerdasan, melainkan upaya pembodohan. Wilayah yang ditempati penuh sengketa dan konflik kepentingan. Sampai pada figur kekuasaan yang beradu popularitas dan bukan prestasi kerja pembangunan yang nyata bagi sebagian besar warganya.
Memang, mengatur negara dengan bangsa yang besar itu tidak semudah teori yang telah diindoktrinasikan sejak di bangku pendidikan formal, tetapi juga telah diuji dalam berbagai aktivitas kerja nyata untuk kemakmuran rakyat, khususnya yang lemah di luar struktur formal. Dan itu butuh orang yang tidak hanya duduk, atau pandai bicara, tapi juga memberikan contoh keteladanan yang konkret. Tanah air ini membutuhkan orang-orang bernyali.
DIRGAHAYU BANGSAKU, DIRGAHAYU NEGARAKU yang ke-65.
Pertama, karena peringatan kemerdekaan tahun ini di awal saudara kita menjalankan puasa. Laku puasa untuk sebuah tujuan mulia tentu sangat diharapkan oleh umat beriman sebagai bentuk pendewasaan rohani. Saya yakin semua ajaran agama memberikan sentuhan laku puasa ini bagi para pengikutnya. Puasa merupakan bentuk matiraga terpola yang disadari mampu membangun kesadaran baru akan ziarah iman masing-masing umat kepada Sang Pencipta. Dalam rumusan sila Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa, sangat jelas nuansanya.
Kedua, 65 Tahun bila dilacak mundur ke Tahun 1945 saat kumandang proklamasi pertama kali di Pegangsaan Timur 56, Jakarta, juga memberikan petunjuk bilangan umur cukup dewasa di negara MERDEKA.
Apakah dua alasan di atas cukup bermakna bagimu? Tentu tidak pernah cukup untuk takaran orang lain, karena kita dilahirkan memiliki keunikan tersendiri. Takaran cukup menjadi relatif untuk setiap orang.
Dan kalau itu jawabannya, memang peringatan kemerdekaan selalu relevan untuk dibahas dan diaktualisasikan dalam praksis hidup berbangsa dan bernegara. Dalam berbangsa, berbagai pergulatan hidup pribadi menemukan dialogisnya ketika berhadapan dengan pribadi lain di tengah keluarga, masyarakat sekitar, dan persoalan bangsanya. Dan dalam bernegara, batas-batas wilayah pribadi dengan wilayah publik sering bersinggungan pada aturan main yang berlaku.
Pergulatan hidup berbangsa pada bangsa yang terus berkembang tentu takkan pernah selesai hari-hari ini. Persoalan demi persoalan tak pernah habis didiskusikan. Jurang pemisah antara yang kaya dengan yang miskin terlalu lebar, mentalitas warga yang tangguh dengan yang loyo terlalu kentara, dan memuncak pada sikap moral yang serba pura-pura tak sampai nurani. Teori-teori yang dibuat dalam rangka membangun kehidupan bangsa yang utuh tak pernah menemukan kata sepakat dalam keputusan akhirnya, karena ada pihak yang dikorbankan. Bhinneka tunggal ika yang dislogankan digerogoti sendiri dalam banyak hal, terutama tuntutan ketidakpuasan, ketidakadilan, dan ketidakramahan.
Sementara dalam hidup bernegara, kita tak pernah mencoba konsekuen dengan sistem ketatanegaraan yang kita bangun dari waktu ke waktu. Para pejabat yang dipercaya masyarakat untuk mengelola negara ini dari periode ke periode berikutnya meninggalkan utang kesejahteraan tergadai tujuh turunan. Politik yang dibangun bukan upaya pencerdasan, melainkan upaya pembodohan. Wilayah yang ditempati penuh sengketa dan konflik kepentingan. Sampai pada figur kekuasaan yang beradu popularitas dan bukan prestasi kerja pembangunan yang nyata bagi sebagian besar warganya.
Memang, mengatur negara dengan bangsa yang besar itu tidak semudah teori yang telah diindoktrinasikan sejak di bangku pendidikan formal, tetapi juga telah diuji dalam berbagai aktivitas kerja nyata untuk kemakmuran rakyat, khususnya yang lemah di luar struktur formal. Dan itu butuh orang yang tidak hanya duduk, atau pandai bicara, tapi juga memberikan contoh keteladanan yang konkret. Tanah air ini membutuhkan orang-orang bernyali.
DIRGAHAYU BANGSAKU, DIRGAHAYU NEGARAKU yang ke-65.
Komentar