Langsung ke konten utama

MERAH PUTIH, 65 TH INDONESIA MERDEKA

Tiap tahun diperingati, tiap bulan Agustus sederet umbu-umbul menyertai kibar bendera pusaka ini. Sudah sejak setahun yang lalu saya menuliskan bentuk pemaknaan di blog ini. Tentu ada alasan yang menyebabkannya begitu.

Pertama, karena peringatan kemerdekaan tahun ini di awal saudara kita menjalankan puasa. Laku puasa untuk sebuah tujuan mulia tentu sangat diharapkan oleh umat beriman sebagai bentuk pendewasaan rohani. Saya yakin semua ajaran agama memberikan sentuhan laku puasa ini bagi para pengikutnya. Puasa merupakan bentuk matiraga terpola yang disadari mampu membangun kesadaran baru akan ziarah iman masing-masing umat kepada Sang Pencipta. Dalam rumusan sila Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa, sangat jelas nuansanya.

Kedua, 65 Tahun bila dilacak mundur ke Tahun 1945 saat kumandang proklamasi pertama kali di Pegangsaan Timur 56, Jakarta, juga memberikan petunjuk bilangan umur cukup dewasa di negara MERDEKA.

Apakah dua alasan di atas cukup bermakna bagimu? Tentu tidak pernah cukup untuk takaran orang lain, karena kita dilahirkan memiliki keunikan tersendiri. Takaran cukup menjadi relatif untuk setiap orang.

Dan kalau itu jawabannya, memang peringatan kemerdekaan selalu relevan untuk dibahas dan diaktualisasikan dalam praksis hidup berbangsa dan bernegara. Dalam berbangsa, berbagai pergulatan hidup pribadi menemukan dialogisnya ketika berhadapan dengan pribadi lain di tengah keluarga, masyarakat sekitar, dan persoalan bangsanya. Dan dalam bernegara, batas-batas wilayah pribadi dengan wilayah publik sering bersinggungan pada aturan main yang berlaku.

Pergulatan hidup berbangsa pada bangsa yang terus berkembang tentu takkan pernah selesai hari-hari ini. Persoalan demi persoalan tak pernah habis didiskusikan. Jurang pemisah antara yang kaya dengan yang miskin terlalu lebar, mentalitas warga yang tangguh dengan yang loyo terlalu kentara, dan memuncak pada sikap moral yang serba pura-pura tak sampai nurani. Teori-teori yang dibuat dalam rangka membangun kehidupan bangsa yang utuh tak pernah menemukan kata sepakat dalam keputusan akhirnya, karena ada pihak yang dikorbankan. Bhinneka tunggal ika yang dislogankan digerogoti sendiri dalam banyak hal, terutama tuntutan ketidakpuasan, ketidakadilan, dan ketidakramahan.

Sementara dalam hidup bernegara, kita tak pernah mencoba konsekuen dengan sistem ketatanegaraan yang kita bangun dari waktu ke waktu. Para pejabat yang dipercaya masyarakat untuk mengelola negara ini dari periode ke periode berikutnya meninggalkan utang kesejahteraan tergadai tujuh turunan. Politik yang dibangun bukan upaya pencerdasan, melainkan upaya pembodohan. Wilayah yang ditempati penuh sengketa dan konflik kepentingan. Sampai pada figur kekuasaan yang beradu popularitas dan bukan prestasi kerja pembangunan yang nyata bagi sebagian besar warganya.

Memang, mengatur negara dengan bangsa yang besar itu tidak semudah teori yang telah diindoktrinasikan sejak di bangku pendidikan formal, tetapi juga telah diuji dalam berbagai aktivitas kerja nyata untuk kemakmuran rakyat, khususnya yang lemah di luar struktur formal. Dan itu butuh orang yang tidak hanya duduk, atau pandai bicara, tapi juga memberikan contoh keteladanan yang konkret. Tanah air ini membutuhkan orang-orang bernyali.

DIRGAHAYU BANGSAKU, DIRGAHAYU NEGARAKU yang ke-65.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENIKMATI PUNCAK BUNTU, GUNUNG SUMBING

Setelah semalam diguyur hujan dalam tenda dome di pelataran Pestan, kami dibangunkan oleh suara-suara di luar yang tampaknya ada rombongan pendaki lain sampai di tempat kami berkemah. Menilik suaranya, tampaknya mereka baru naik sebab nafas dan langkahnya masih ringan bersemangat tinggi. Biasanya pendaki yang turun langkahnya lebih berat menghentak tanah. Benarn saja, ketika pintu tenda saya buka sebagian dari mereka duduk-duduk dan sebagian yang lain mulai memasang tenda baru yang sebelumnya tak terdapat tenda lain di sekitar kami. Tenda yang kemarin sore berada di sekitar kami telah dibongkar dan pendakinya telah turun ke basecamp. Saya keluar tenda untuk menunggu sunrise. Jam di tangan menunjukkan waktu pukul 04.55 WIB. Udara tidak terlalu dingin, angin tidak begitu kuat, tapi jangan coba menyentuh rumput, karena embun akan menangkap kulit Anda. Teman satu tenda saya bangunkan untuk menjerang air buat kopi pagi, sementara tenda sebelah yang masih serombongan saya tampaknya tak berge...

CATATAN SAYA KE GUNUNG-GUNUNG

1974, PLAWANGAN      Kekaguman akan wujud gunung yang paling nyata pertama kali saya hadapi ketika rombongan anak-anak paroki yang tergabung dalam putra-putri altar gereja katolik Maria Asumpta, Kumetiran berekreasi ke Kaliurang. Perubahan suasana kota dengan hiruk-pikuk keseharian menjadi suasana lingkungan alam pegunungan dan vila-vila taman sepanjang kompleks wisata Kaliurang yang terkenal itu menyejukkan hati para pengunjung. Terminal kedatangan selalu silih berganti mobil angkutan masuk dan keluar meninggalkannya menandai tempat rekreasi ini lebih akrab dengan suara alam, antara lain gemericik air sungai kecil, juga pancuran di sudut-sudut jalan yang digunakan oleh pedagang dan pengunjung, suara kicau burung di ranting pohon pinus, serta desau angin. Hawa sejuk khas pegunungan dan dingin air gunung sebelum terkena sinar matahari siang. Pemandian 'Tlogo Putri' masih tampak sepi, airnya sangat dingin. Sementara di sisi lain air gemericik di dinding 'Tlogo Muncar' te...

MENJENGUK PENGALAMAN, MERENUNGKAN HAKIKAT, MENANGKAP MAKNA

Meski tak seaktif dulu lagi, melakukan petualanagan ke alam menjadikan semangat hidup punya bara, paling tidak punya cerita yang bisa dibagikan. Tumpukan pengalaman, walaupun tercerai-berai menjadi fragmen-fragmentaris dalam rentang waktu lama, bisa direkonstruksi tahap demi tahap yang masih berseliweran pada berbagai kesempatan selama masih bernapas dan mampu memanggil suara ingatan. Tahap norma manusia dibagi dalam 5 tingkatan: masa kanak-kanak, mulai sekolah dasar, sekolah lanjutan, kuliah, dan bekerja. Selama masa itu, kita sangat banyak bergantung kepada orang-orang baik di sekitar kita. Keluarga inti tentu saja sangat kita kenal entah dalam kurun waktu lama atau hanya sekejap ingatan mampu menyimpannya. Sanak saudara dan tetangga dekat menjadi orang-orang yang mengajari hidup tanpa memperhitungkan untung rugi. Ia memberi bantuan pertolongan dengan sukarela, ikhlas hati, dan ramah. Bermain dan belajar bebas memilih waktu sesuai kesepakatan, bahkan kalau harus mengorbankan waktu-...