10 November, di Indonesia diperingati sebagai Hari Pahlawan. Hanya perkembangan sekarang, tidak banyak masyarakat memperingatinya secara khusus karena sudah tergeser oleh kepentingan lain. Bagi saya pribadi, pahlawan kehidupan saya adalah orang tua. Kebetulan beliau (ayah alm.) meninggal tanggal 2 Nov. Mengenang jasa beliau toh tidak meninggalkan tradisi rasa hormat kepada leluhur.
Tidak perlu mengibarkan bendera, berteriak lantang, dan mengkultuskan figur setinggi menara eiffel; cukup mengirimkan sepenggal doa sebagai tanda hubungan batin bahwa kita pernah hidup bersama di dunia manusia yang fana. Ada ibu sebagai pendamping jiwa, kakak yang mewarisi watak, saya yang suka keluyuran, adik-adik yang berebut oleh-oleh makanan. Dan kini kami beranjak dewasa, tersebar mengikuti medan kerja di jalan yang engkau ajarkan -- guru -- Warisan inilah yang sebagian kami teruskan, sementara adik-adik yang lain mencoba bidang kerja berbeda. Masa-masa perjuangan dulu telah kami lalui dalam keprihatinan. Masa sekarang,
kami menyusuri jalan hidup berkeluarga masing-masing. Ketika kami berkumpul kembali dalam sesaat, nyatalah bahwa kerut dahi dan otot mencerminkan usia dan pengalaman hidup beragam.
Anak-anak yang terlahir begitu gembira bermain bersama seperti mengenangkan kembali masa kanak-kanak dulu: berkejar-kejaran, mandi di sungai, dan aneka permainan yang masih diminati anak seusia mereka ini.
Pahlawan, bukan tokoh heroik seperti dalam film dan cerita fiksi. Pahlawan realistik tergantung subjek, peran yang dibawa, dan warisan peradaban yang ditinggalkan untuk dikenang kembali menjadi jiwa hidup menatap masa depan yang lebih bermakna.
Tidak perlu mengibarkan bendera, berteriak lantang, dan mengkultuskan figur setinggi menara eiffel; cukup mengirimkan sepenggal doa sebagai tanda hubungan batin bahwa kita pernah hidup bersama di dunia manusia yang fana. Ada ibu sebagai pendamping jiwa, kakak yang mewarisi watak, saya yang suka keluyuran, adik-adik yang berebut oleh-oleh makanan. Dan kini kami beranjak dewasa, tersebar mengikuti medan kerja di jalan yang engkau ajarkan -- guru -- Warisan inilah yang sebagian kami teruskan, sementara adik-adik yang lain mencoba bidang kerja berbeda. Masa-masa perjuangan dulu telah kami lalui dalam keprihatinan. Masa sekarang,
kami menyusuri jalan hidup berkeluarga masing-masing. Ketika kami berkumpul kembali dalam sesaat, nyatalah bahwa kerut dahi dan otot mencerminkan usia dan pengalaman hidup beragam.
Anak-anak yang terlahir begitu gembira bermain bersama seperti mengenangkan kembali masa kanak-kanak dulu: berkejar-kejaran, mandi di sungai, dan aneka permainan yang masih diminati anak seusia mereka ini.
Pahlawan, bukan tokoh heroik seperti dalam film dan cerita fiksi. Pahlawan realistik tergantung subjek, peran yang dibawa, dan warisan peradaban yang ditinggalkan untuk dikenang kembali menjadi jiwa hidup menatap masa depan yang lebih bermakna.
Komentar