Tahun pertama saya kerja di Palembang, Desember 1992, saya diajak mendampingi anak-anak Pecinta Alam SMA Xaverius 1 sekitar 20-an orang mendaki Gunung Dempo, Pagaralam,Lahat, Sumatera Selatan. Dari Palembang waktu itu berangkat sore hari sekitar pukul 17.30 dengan menyeberangi Sungai Musi naik perahu penyeberangan ke pool bus Telaga Biru di terminal 7 Ulu. Waktu itu terminal Karya Jaya belum selesai dibangun. Kami sengaja memilih perjalanan malam di bus karena berharap sampai sana cepat beradaptasi dengan situasi lingkungan. Untuk pertama kali itu juga yang saya ingat sepanjang perjalanan hanya sekali berhenti untuk makan malam di rumah makan padang Siang-Malam di Prabumulih. Selanjutnya semua serba gelap kecuali suara musik dari kaset sopir dengan lagu irama melayu.
Udara dingin menunjukkan perbedaan ketinggian tempat dan waktu yang sudah memasuki dini hari. Karena sudah melakukan kontak interlokal dengan Kepsek SMP Xaverius Pagaralam, rombongan kami diantar sampai ke pelataran sekolah. Masyarakat di sini masih terlelap dalam tidur, tetapi kami mengetuk pintu rumah Kepsek untuk membukakan gerbang sekolah yang masih terkunci. Pagi itu kami istirahat di ruang kelas yang karena siswa memang sedang libur akhir tahun, natal dan tahun baru. Karena kamar mandi di kantor hanya satu, terpaksa sebagian peserta putra mandi di luar ruang selagi masih gelap subuh, tetapi dingin air menusuk kulit. Atas saran salah satu guru muda di situ, sebagian lagi mandi di beberapa keluarga yang ditunjukkan secara bergilir.
Matahari merekah, langit tersibak dari kabut. Kami pandangi bayangan gunung menjulang tinggi, kemudian baru diketahui tingginya 3159 mdpl. Usai sarapan, kami mencari tumpangan truk pengangkut pemetik teh yang berjejer di sepanjang jalan ke arah gunung. Saat tulisan ini dibuat truk-truk ini tak boleh mengangkut penumpang lagi, karena sudah ada angkutan khusus ke kaki gunung. Dengan sedikit negosiasi harga, kami menuju kaki gunung.
Setiba di gerbang pabrik teh, kami turun untuk melapor ke petuga keamanan. Kami diperkenalkan dengan Pak Anton, kepala satuan keamanan sekaligus pelindung SAR Dempo bagi anak-anak PA yang datang ke sana. Rumah nya tak jauh dari pabrik. Sambutan pertama Emak, isteri Pak Anton begitu akrab di telinga dengan istilah Beruk . Gaya emak yang demikian cepat memberi shock terapy bagi kami Karena keakrabannya ini di samping rumah berdiri pondok bagi para pendaki yang mau menginap dengan menjaga kebersihan tempat.
Dari gerbang pabrik kita bisa berjalan menuju tangsi IV atau naik angdes sampai tangsi II baru berjalan melewati jalan berbatu ke arah kiri. Pemetik teh dan penduduk akan menyapa Anda dengan ramah. Di sini juga dapat ditemukan warung logistik. 200 m dari kampung terakhir ini terdapat shelter dekat mata air untuk camp persiapan sekaligus aklimatisasi tempat. Medan selanjutnya perkebunan teh menuju pintu rimba. Dulu ada papan penunjuk khusus ke arah ini dan bagi pendaki yang sering ke mari tentu tak asing lagi, tetapi bagi pemula atau yang baru sekali ke sini bisa berputar-putar sepanjang jalur perkebunan teh saja. Anda sebaiknya melakukan pendakian pagi hari sehingga dapat bertanya pada pekerja kebun teh yang Anda jumpai di pinggir jalan.
Jalur menuju pintu rimba memang memotong kebun teh ke arah kanan dan mulai menanjak yang memacu detak jantung, paru-paru dan langkah berkeringat. Begitulah awal pendakian gunung Dempo dimulai. (Bersambung)
Udara dingin menunjukkan perbedaan ketinggian tempat dan waktu yang sudah memasuki dini hari. Karena sudah melakukan kontak interlokal dengan Kepsek SMP Xaverius Pagaralam, rombongan kami diantar sampai ke pelataran sekolah. Masyarakat di sini masih terlelap dalam tidur, tetapi kami mengetuk pintu rumah Kepsek untuk membukakan gerbang sekolah yang masih terkunci. Pagi itu kami istirahat di ruang kelas yang karena siswa memang sedang libur akhir tahun, natal dan tahun baru. Karena kamar mandi di kantor hanya satu, terpaksa sebagian peserta putra mandi di luar ruang selagi masih gelap subuh, tetapi dingin air menusuk kulit. Atas saran salah satu guru muda di situ, sebagian lagi mandi di beberapa keluarga yang ditunjukkan secara bergilir.
Matahari merekah, langit tersibak dari kabut. Kami pandangi bayangan gunung menjulang tinggi, kemudian baru diketahui tingginya 3159 mdpl. Usai sarapan, kami mencari tumpangan truk pengangkut pemetik teh yang berjejer di sepanjang jalan ke arah gunung. Saat tulisan ini dibuat truk-truk ini tak boleh mengangkut penumpang lagi, karena sudah ada angkutan khusus ke kaki gunung. Dengan sedikit negosiasi harga, kami menuju kaki gunung.
Setiba di gerbang pabrik teh, kami turun untuk melapor ke petuga keamanan. Kami diperkenalkan dengan Pak Anton, kepala satuan keamanan sekaligus pelindung SAR Dempo bagi anak-anak PA yang datang ke sana. Rumah nya tak jauh dari pabrik. Sambutan pertama Emak, isteri Pak Anton begitu akrab di telinga dengan istilah Beruk . Gaya emak yang demikian cepat memberi shock terapy bagi kami Karena keakrabannya ini di samping rumah berdiri pondok bagi para pendaki yang mau menginap dengan menjaga kebersihan tempat.
Dari gerbang pabrik kita bisa berjalan menuju tangsi IV atau naik angdes sampai tangsi II baru berjalan melewati jalan berbatu ke arah kiri. Pemetik teh dan penduduk akan menyapa Anda dengan ramah. Di sini juga dapat ditemukan warung logistik. 200 m dari kampung terakhir ini terdapat shelter dekat mata air untuk camp persiapan sekaligus aklimatisasi tempat. Medan selanjutnya perkebunan teh menuju pintu rimba. Dulu ada papan penunjuk khusus ke arah ini dan bagi pendaki yang sering ke mari tentu tak asing lagi, tetapi bagi pemula atau yang baru sekali ke sini bisa berputar-putar sepanjang jalur perkebunan teh saja. Anda sebaiknya melakukan pendakian pagi hari sehingga dapat bertanya pada pekerja kebun teh yang Anda jumpai di pinggir jalan.
Jalur menuju pintu rimba memang memotong kebun teh ke arah kanan dan mulai menanjak yang memacu detak jantung, paru-paru dan langkah berkeringat. Begitulah awal pendakian gunung Dempo dimulai. (Bersambung)
Komentar