Langsung ke konten utama

MEMAKNAI SUMPAH PEMUDA

Bulan Oktober selalu identik dengan aktivitas peringatan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, yang berisikan Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu - bangsa Indonesia, bertanah air satu - tanah air Indonesia, dan menjunjung tinggi bahasa persatuan - bahasa Indonesia.



Menjadi gerakan yang sarat kepentingan nasionalisme ketika tahun ini diberi gerakan 100 Tahun Kebangkitan Nasional - Indonesia Bisa! Secara formal, bangsa Indonesia memang satu; tanah air Indonesia juga satu; bahasa Indonesia resmi menjadi bahasa nasional dan bahasa negara. Tetapi, gejolak reformasi dan globalisasi justru memberikan tantangan tersendiri untuk disimak. Banyak orang berebut kekuasaan, berebut kekayaan, dan berebut memikat wanita. Otak saja tidak cukup jernih berpikir ke masa depan, uang berhamburan dengan mengorbankan moralitas, massa dimobilisasi dengan janji kesejahteraan, emosi rakyat dibakar dalam perlakuan hukum dan lapangan kerja. Tak punya modal dan ketrampilan menjadi tumbal kemanusiaan yang disebut peradaban modern.



Generasi muda kita sampai di mana? Prestasi akademik harus berbiaya mahal dan bersaing keras dengan negara lain. Prestasi olah raga hanya berkembang jika disponsori pabrik rokok, bahkan di luar negeri disponsori oleh pabrik minuman beralkohol. Kampus dan sekolah tidak lagi bebas narkoba! Kriminalitas jalanan dimotori oleh kaum muda dan setumpuk prestasi karbitan lain yang memang tak memiliki akar 'jati diri' yang heroik seperti dalam komik cerita silat, sinetron-sinetron tv, film dan hingar bingar musik. Kreativitas harus bergerilya di antara nafas kehidupan kota-kota besar sebagai cermin kemajuan peradaban.



Lalu hamparan sawah dan ladang tersengat matahari sepanjang tahun, terendam banjir sepanjang musim, dan habis modal setelah panen tiba. Sementara hasil kerja tak terjual atau laku dengan harga di bawah standar karena memang kualitas hasil rendah. Jadilah sawah dan ladang seperti layar datar televisi. Ada siaran kalau disorot kamera wartawan. Begitu siaran berakhir, tinggal bintik-bintik derita para petani yang tetap ada daya tetapi tak berdaya.



Deretan artis ibu kota dikoleksi gambarnya, padahal kehidupannya tak seglamour penampilannya. Deretan kasus hukum dikemas dalam selimut keadilan bukan kebenaran. Puncaknya pada sandiwara wakil rakyat di gedung parlemen. Tapi, mereka, termasuk kita, juga manusia? Jadi peran yang mana cocok untuk pemuda masa kini?



Ada banyak pilihan dan kesempatan yang selalu harus dimulai dari sebuah keputusan dasar: Tertarikkah Anda pada pilihan yang tak terlalu menarik? Belajar dari alam, dan belajar dari manusia untuk hidup dalam persaingan teknologi informasi. Sedikit idealisme dan melihat realitas, berkreasilah sampai Anda menemukan jalan yang memang berguna untuk diri sendiri, untuk orang lain, dan bangsa kita tercinta. Viva Pemuda Indonesia!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENIKMATI PUNCAK BUNTU, GUNUNG SUMBING

Setelah semalam diguyur hujan dalam tenda dome di pelataran Pestan, kami dibangunkan oleh suara-suara di luar yang tampaknya ada rombongan pendaki lain sampai di tempat kami berkemah. Menilik suaranya, tampaknya mereka baru naik sebab nafas dan langkahnya masih ringan bersemangat tinggi. Biasanya pendaki yang turun langkahnya lebih berat menghentak tanah. Benarn saja, ketika pintu tenda saya buka sebagian dari mereka duduk-duduk dan sebagian yang lain mulai memasang tenda baru yang sebelumnya tak terdapat tenda lain di sekitar kami. Tenda yang kemarin sore berada di sekitar kami telah dibongkar dan pendakinya telah turun ke basecamp. Saya keluar tenda untuk menunggu sunrise. Jam di tangan menunjukkan waktu pukul 04.55 WIB. Udara tidak terlalu dingin, angin tidak begitu kuat, tapi jangan coba menyentuh rumput, karena embun akan menangkap kulit Anda. Teman satu tenda saya bangunkan untuk menjerang air buat kopi pagi, sementara tenda sebelah yang masih serombongan saya tampaknya tak berge...

CATATAN SAYA KE GUNUNG-GUNUNG

1974, PLAWANGAN      Kekaguman akan wujud gunung yang paling nyata pertama kali saya hadapi ketika rombongan anak-anak paroki yang tergabung dalam putra-putri altar gereja katolik Maria Asumpta, Kumetiran berekreasi ke Kaliurang. Perubahan suasana kota dengan hiruk-pikuk keseharian menjadi suasana lingkungan alam pegunungan dan vila-vila taman sepanjang kompleks wisata Kaliurang yang terkenal itu menyejukkan hati para pengunjung. Terminal kedatangan selalu silih berganti mobil angkutan masuk dan keluar meninggalkannya menandai tempat rekreasi ini lebih akrab dengan suara alam, antara lain gemericik air sungai kecil, juga pancuran di sudut-sudut jalan yang digunakan oleh pedagang dan pengunjung, suara kicau burung di ranting pohon pinus, serta desau angin. Hawa sejuk khas pegunungan dan dingin air gunung sebelum terkena sinar matahari siang. Pemandian 'Tlogo Putri' masih tampak sepi, airnya sangat dingin. Sementara di sisi lain air gemericik di dinding 'Tlogo Muncar' te...

MENJENGUK PENGALAMAN, MERENUNGKAN HAKIKAT, MENANGKAP MAKNA

Meski tak seaktif dulu lagi, melakukan petualanagan ke alam menjadikan semangat hidup punya bara, paling tidak punya cerita yang bisa dibagikan. Tumpukan pengalaman, walaupun tercerai-berai menjadi fragmen-fragmentaris dalam rentang waktu lama, bisa direkonstruksi tahap demi tahap yang masih berseliweran pada berbagai kesempatan selama masih bernapas dan mampu memanggil suara ingatan. Tahap norma manusia dibagi dalam 5 tingkatan: masa kanak-kanak, mulai sekolah dasar, sekolah lanjutan, kuliah, dan bekerja. Selama masa itu, kita sangat banyak bergantung kepada orang-orang baik di sekitar kita. Keluarga inti tentu saja sangat kita kenal entah dalam kurun waktu lama atau hanya sekejap ingatan mampu menyimpannya. Sanak saudara dan tetangga dekat menjadi orang-orang yang mengajari hidup tanpa memperhitungkan untung rugi. Ia memberi bantuan pertolongan dengan sukarela, ikhlas hati, dan ramah. Bermain dan belajar bebas memilih waktu sesuai kesepakatan, bahkan kalau harus mengorbankan waktu-...