Langsung ke konten utama

PUNCAK GARUDA, MERAPI 2911mdpl

Naik gunung yang sebenarnya baru dimulai tahun 1984, sesudah melewati diklatsar di Wonolelo, Sawangan, Magelang. Sesuai lambang badge mapasadha merah-biru dalam kemesraan Merapi-Merbabu, kami mencoba mendaki Merapi lewat jalur selatan, dari Kinahrejo. Waktu itu bulan Juli. Kondisi medan masih asri menantang. Saat persiapan, kami tinggal di rumah mbah Maridjan/mbah Argo (jurukunci Merapi belum sepopuler sekarang). yang tidak berubah hanya keramahtamahan beliau kepada setiap pengunjung terutama teman-teman pendaki. Berdiang dan memasak di dapur merupakan ajang ngobrol sana-sini paling favorit sebelum istirahat malam. bahkan sampai larut malam masih banyak pendaki lain berdatangan ke sana. Rumah panjang yang dulu masih sebagian dindingnya bambu membuat angin malam nan dingin begitu leluasa masuk. Sekarang jauh berubah, dan tentu saja keramaian saat labuhan keraton yogyakarta hadiningrat. Nanti cerita labuhan di pos 2 Srimanganti sendiri saja. Pukul 00.30 dini hari biasanya kami sudah bangun untuk persiapan pendakian: bekal, jaket, senter, teh hangat (bila malam minggu ada warung 24 jam standby--masih ada nggak ya?). Rumah-rumah warga beberapa juga dipakai untuk menumpang pendaki yang lain. Tak ketinggalan tim SAR dadakan/lokal memantau geliat mereka yang mendaki.

Trek tanjakan sampai Petit Opak baru bisa istirahat karena agak datar. Pos 1 dan 2 baru ada shelter kerja gotongroyong sekber PPA DIY? terkenal dengan monumen perdamaian mengenang perang Malvinas Inggris-Argentina(rudal exocet). Jalur sesudah itu jalur longsoran pasir sebelum tanjakan ke Wendit/Kendit, batas vegetasi dengan batuan pasir lepas. Dari sini lebih aman jika sudah matahari terbit sehingga jalur kelihatan. jika masih gelap takut rambu jalur melenceng dan jatuhan batu lepas oleh pijakan pendaki terdahulu. Dianjurkan rombongan pendaki tidak satu jalur rapat agar aman. Sesudah alat seismograf jalur bergeser ke kanan. Di sana ada dinding batu yang licin kalau berembun, sedang jurang arah selatan sangat curam. Kami harus melewati cerukan batu dengan gas asap belerang untuk melanjutkan pendakian. Kami menyebutnya jembatan setan. Lepas dari sini jalur agak enakan sampai gerbang gas belerang ke kawah mati berupa hamparan pasir di bawah dinding batu tegak. Tempat ini dulu favorit saya utk istirahat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENIKMATI PUNCAK BUNTU, GUNUNG SUMBING

Setelah semalam diguyur hujan dalam tenda dome di pelataran Pestan, kami dibangunkan oleh suara-suara di luar yang tampaknya ada rombongan pendaki lain sampai di tempat kami berkemah. Menilik suaranya, tampaknya mereka baru naik sebab nafas dan langkahnya masih ringan bersemangat tinggi. Biasanya pendaki yang turun langkahnya lebih berat menghentak tanah. Benarn saja, ketika pintu tenda saya buka sebagian dari mereka duduk-duduk dan sebagian yang lain mulai memasang tenda baru yang sebelumnya tak terdapat tenda lain di sekitar kami. Tenda yang kemarin sore berada di sekitar kami telah dibongkar dan pendakinya telah turun ke basecamp. Saya keluar tenda untuk menunggu sunrise. Jam di tangan menunjukkan waktu pukul 04.55 WIB. Udara tidak terlalu dingin, angin tidak begitu kuat, tapi jangan coba menyentuh rumput, karena embun akan menangkap kulit Anda. Teman satu tenda saya bangunkan untuk menjerang air buat kopi pagi, sementara tenda sebelah yang masih serombongan saya tampaknya tak berge...

CATATAN SAYA KE GUNUNG-GUNUNG

1974, PLAWANGAN      Kekaguman akan wujud gunung yang paling nyata pertama kali saya hadapi ketika rombongan anak-anak paroki yang tergabung dalam putra-putri altar gereja katolik Maria Asumpta, Kumetiran berekreasi ke Kaliurang. Perubahan suasana kota dengan hiruk-pikuk keseharian menjadi suasana lingkungan alam pegunungan dan vila-vila taman sepanjang kompleks wisata Kaliurang yang terkenal itu menyejukkan hati para pengunjung. Terminal kedatangan selalu silih berganti mobil angkutan masuk dan keluar meninggalkannya menandai tempat rekreasi ini lebih akrab dengan suara alam, antara lain gemericik air sungai kecil, juga pancuran di sudut-sudut jalan yang digunakan oleh pedagang dan pengunjung, suara kicau burung di ranting pohon pinus, serta desau angin. Hawa sejuk khas pegunungan dan dingin air gunung sebelum terkena sinar matahari siang. Pemandian 'Tlogo Putri' masih tampak sepi, airnya sangat dingin. Sementara di sisi lain air gemericik di dinding 'Tlogo Muncar' te...

MENJENGUK PENGALAMAN, MERENUNGKAN HAKIKAT, MENANGKAP MAKNA

Meski tak seaktif dulu lagi, melakukan petualanagan ke alam menjadikan semangat hidup punya bara, paling tidak punya cerita yang bisa dibagikan. Tumpukan pengalaman, walaupun tercerai-berai menjadi fragmen-fragmentaris dalam rentang waktu lama, bisa direkonstruksi tahap demi tahap yang masih berseliweran pada berbagai kesempatan selama masih bernapas dan mampu memanggil suara ingatan. Tahap norma manusia dibagi dalam 5 tingkatan: masa kanak-kanak, mulai sekolah dasar, sekolah lanjutan, kuliah, dan bekerja. Selama masa itu, kita sangat banyak bergantung kepada orang-orang baik di sekitar kita. Keluarga inti tentu saja sangat kita kenal entah dalam kurun waktu lama atau hanya sekejap ingatan mampu menyimpannya. Sanak saudara dan tetangga dekat menjadi orang-orang yang mengajari hidup tanpa memperhitungkan untung rugi. Ia memberi bantuan pertolongan dengan sukarela, ikhlas hati, dan ramah. Bermain dan belajar bebas memilih waktu sesuai kesepakatan, bahkan kalau harus mengorbankan waktu-...