Dengan ketinggian 3428 mdpl, gunung Slamet tercatat sebagai gunung tertinggi di wilayah Jateng. Sesudah cari info sana-sini, kami rancang berangkat juga ke Purwokerto dengan bus umum dari terminal Jogya. Biasanya kami turun sebelum terminal, simpang jembatan Sukaraja lalu sambung bus engkel jurusan Pemalang lewat kota Purbalingga. Turun di pertigaan Pratin(waduh lupa), sambung dengan angkutan pedesaan sampai pasar Kutabawa, Bambangan(izin di BKSDA Purbalingga dan Polsek Kutabawa). Di sini bisa nambah bekal sayur-mayur, makanan kecil, dan kebutuhan lain. Untuk mencapai desa Bambangan, kita jalan kaki sekitar 4 km karena jalan masih berbatu, belum diaspal-- entah sekarang-- dengan keramahan warga Banyumas yang khas. Di desa ini kita lapor ke Pak Kamitua (juru kunci) sekaligus Base Camp para pendaki, walau agak sedikit ke atas sudah dibangun Pondok Pendaki Gunung Slamet tapi sepi.
Mendaki pada malam hari membutuhkan konsentrasi pengenalan jalur pendakian dengan baik, salah-salah tidak ketemu jalur yang benar (info tentang korban di Slamet cukup menciutkan nyali). Tapi kalau cuaca cerah, bulan terang jadi romantis juga dingin-dingin di gunung, ha...ha. Seingat saya, jalur selepas ladang lebih banyak ke kanan dan baru trek kiri tanjakan full pacet. Ada sumber air di beberapa titik, namun harus sedikit turun(?) sampai Pos Samaranthu. Cerita Erna, salah satu cewek anggota kami sedikit heboh di sini(sebetulnya juga di tempat lain juga). Modal utamanya jangan remehkan 'kode etik' dan bekal spiritualitas, religiositas, dan penguasaan medan pendakian, serta teknik manajemen pendakian yang aman. Meski sering timbul keraguan, kekhawatiran, dan tersesat, tanamkan hobi baru membangun mentalitas 'tahan banting' untuk masa yad. menjadi motivasi yang terus dipupuk setiap penggiat aktivitas ini(baca beberapa referensi pasti). Alhasil, keramahtamahan penduduk, orientasi medan, cuaca, dan ketakutan menjadi sahabat di perjalanan gunung. Ini bukan khotbah, ini permenungan/refleksi saya jauh sesudah itu.
Semua tanjakan sebelumnya akan diberi bonus bila kita sampai di Wendit, batas vegetasi dengan batuan pasir ke puncak. Bila pagi merekah, kabut tersibak, jalan ke puncak sungguh menakjubkan di depan mata. Apalagi sudah ada kawan pendaki lain naik atau turun dengan nafas dan langkah memburu oksigen di ketinggian. Ning dan Tutik sampai harus menyebut 'mama' sebagai ungkapan penambah stamina (waktu itu belum terpikir dopping). Pada episode pendakian dengan siswa yang saya dampingi dari Palembang, malah lebih seru. Ceritanya ketika kami turun dari puncak, saya ada di paling akhir. Sampai di Wendit, Shang Hyang Rangkah atau Jampang(?) anak ini belum tiba, padahal waktu turun selisih 15 menit dari rombongan terakhir. Naluri saya bergerak naik lagi dengan sedikit berlari, nafas ngos-ngosan sampai di dataran sebelum puncak(monumen anak SMA 78 Jakarta, Yudha) saya temukan anak saya ini kebingungan sendirian. Ketika saya tanya, kamu tadi kan sudah turun duluan, kenapa masih di sini? Jawabannya, mencengangkan, karena katanya ia mendengar teriakan saya memanggilnya untuk naik ke puncak lagi. Waduh, ini harus diterapi dulu supaya tenang dan saya ajak turun untuk berkumpul dengan robongan lainnya. Istirahat cukup lama, kalau bisa tidur. Tugas masak untuk mengisi perut lengkap dengan teh seduh panas di lidah, dingin di tangan ala gunung.
Jalur turun jauh lebih menguji stamina karena fisik ngedrop, licin, dan tak putus-putus seperti tak sampai-sampai. Gejala halusinasi berkelebat di antara sumpah serapah emosi spontan yang tak bisa dibendung lagi. Saya lebih suka mendengarnya daripada dipendam dalam hati dan stress sendiri. Pengalaman Mas Lukas lebih mencengangkan karena melalui jalur lain lurus ke lembah mengikuti arah lampu di desa terdekat di depan, padahal jalurnya berbelok ke kanan menuju ladang penduduk. Di Pos I, jika kita tidak teliti juga dapat mengambil jalur lurus ke jalur Pos Baturaden, karena saya pernah berpapasan dengan rombongan lain dari mapala UNSUD, Purwokerto yang naik dari sana. Justru di ladang ini tanah terbuka di sana sini masih ada batang pinus yang ditebang oleh penduduk untuk pembukaan ladang baru. Karena angin cukup kuat, ada pohon pisang hutan yang bergetar hebat dan itu membuat bulu kuduk Array sang ketua suku bergidik. Pernah ketika sampai di jalur sungai, sesudah turun hujan lebat jalur tergenang sehingga kami sempat kehilangan orientasi saat pulang. Tim cowok kami sebar menyisir pinggir sungai untuk menemukan sambungan jalur di seberang sungai, padahal hari hampir gelap sekitar pukul 17.30. Matahari berada di balik bayangan gunung, gerimis merembes ke tubuh lewati jas hujan yang kami pakai. Sekitar setengah jam berikutnya salah satu anggota kami, Ludo menemukan kepastian jalur ke ladang seberang karena ada pagar bambu untuk tanaman kacang-kacangan. Kami coba berenang, ternyata sebatas dada masih bisa berjalan. Tiba di seberang sungai, terdengar azan magrib dari masjid desa Bangbangan berkumandang. Syukurlah kami tiba di kaki gunung dengan selamat, dan kami berkumpul kembali di depan tungku dapur Pak Kamitua setelah ganti pakaian. Entah siapa yang memulai, tapi kami harus tidur untuk kembali ke Yogya pada hari berikutnya.
Hallo, kawan-kawan yang membaca tulisan saya ini baik yang dulu pernah bersama terlibat dan punya cerita sendiri maupun yang simpati dengan gunung Slamet, silakan angkat bicara! Salam Rimba! (Ditulis kembali di Palembang, belum sempat lihat arsip catatan perjalanan)
Mendaki pada malam hari membutuhkan konsentrasi pengenalan jalur pendakian dengan baik, salah-salah tidak ketemu jalur yang benar (info tentang korban di Slamet cukup menciutkan nyali). Tapi kalau cuaca cerah, bulan terang jadi romantis juga dingin-dingin di gunung, ha...ha. Seingat saya, jalur selepas ladang lebih banyak ke kanan dan baru trek kiri tanjakan full pacet. Ada sumber air di beberapa titik, namun harus sedikit turun(?) sampai Pos Samaranthu. Cerita Erna, salah satu cewek anggota kami sedikit heboh di sini(sebetulnya juga di tempat lain juga). Modal utamanya jangan remehkan 'kode etik' dan bekal spiritualitas, religiositas, dan penguasaan medan pendakian, serta teknik manajemen pendakian yang aman. Meski sering timbul keraguan, kekhawatiran, dan tersesat, tanamkan hobi baru membangun mentalitas 'tahan banting' untuk masa yad. menjadi motivasi yang terus dipupuk setiap penggiat aktivitas ini(baca beberapa referensi pasti). Alhasil, keramahtamahan penduduk, orientasi medan, cuaca, dan ketakutan menjadi sahabat di perjalanan gunung. Ini bukan khotbah, ini permenungan/refleksi saya jauh sesudah itu.
Semua tanjakan sebelumnya akan diberi bonus bila kita sampai di Wendit, batas vegetasi dengan batuan pasir ke puncak. Bila pagi merekah, kabut tersibak, jalan ke puncak sungguh menakjubkan di depan mata. Apalagi sudah ada kawan pendaki lain naik atau turun dengan nafas dan langkah memburu oksigen di ketinggian. Ning dan Tutik sampai harus menyebut 'mama' sebagai ungkapan penambah stamina (waktu itu belum terpikir dopping). Pada episode pendakian dengan siswa yang saya dampingi dari Palembang, malah lebih seru. Ceritanya ketika kami turun dari puncak, saya ada di paling akhir. Sampai di Wendit, Shang Hyang Rangkah atau Jampang(?) anak ini belum tiba, padahal waktu turun selisih 15 menit dari rombongan terakhir. Naluri saya bergerak naik lagi dengan sedikit berlari, nafas ngos-ngosan sampai di dataran sebelum puncak(monumen anak SMA 78 Jakarta, Yudha) saya temukan anak saya ini kebingungan sendirian. Ketika saya tanya, kamu tadi kan sudah turun duluan, kenapa masih di sini? Jawabannya, mencengangkan, karena katanya ia mendengar teriakan saya memanggilnya untuk naik ke puncak lagi. Waduh, ini harus diterapi dulu supaya tenang dan saya ajak turun untuk berkumpul dengan robongan lainnya. Istirahat cukup lama, kalau bisa tidur. Tugas masak untuk mengisi perut lengkap dengan teh seduh panas di lidah, dingin di tangan ala gunung.
Jalur turun jauh lebih menguji stamina karena fisik ngedrop, licin, dan tak putus-putus seperti tak sampai-sampai. Gejala halusinasi berkelebat di antara sumpah serapah emosi spontan yang tak bisa dibendung lagi. Saya lebih suka mendengarnya daripada dipendam dalam hati dan stress sendiri. Pengalaman Mas Lukas lebih mencengangkan karena melalui jalur lain lurus ke lembah mengikuti arah lampu di desa terdekat di depan, padahal jalurnya berbelok ke kanan menuju ladang penduduk. Di Pos I, jika kita tidak teliti juga dapat mengambil jalur lurus ke jalur Pos Baturaden, karena saya pernah berpapasan dengan rombongan lain dari mapala UNSUD, Purwokerto yang naik dari sana. Justru di ladang ini tanah terbuka di sana sini masih ada batang pinus yang ditebang oleh penduduk untuk pembukaan ladang baru. Karena angin cukup kuat, ada pohon pisang hutan yang bergetar hebat dan itu membuat bulu kuduk Array sang ketua suku bergidik. Pernah ketika sampai di jalur sungai, sesudah turun hujan lebat jalur tergenang sehingga kami sempat kehilangan orientasi saat pulang. Tim cowok kami sebar menyisir pinggir sungai untuk menemukan sambungan jalur di seberang sungai, padahal hari hampir gelap sekitar pukul 17.30. Matahari berada di balik bayangan gunung, gerimis merembes ke tubuh lewati jas hujan yang kami pakai. Sekitar setengah jam berikutnya salah satu anggota kami, Ludo menemukan kepastian jalur ke ladang seberang karena ada pagar bambu untuk tanaman kacang-kacangan. Kami coba berenang, ternyata sebatas dada masih bisa berjalan. Tiba di seberang sungai, terdengar azan magrib dari masjid desa Bangbangan berkumandang. Syukurlah kami tiba di kaki gunung dengan selamat, dan kami berkumpul kembali di depan tungku dapur Pak Kamitua setelah ganti pakaian. Entah siapa yang memulai, tapi kami harus tidur untuk kembali ke Yogya pada hari berikutnya.
Hallo, kawan-kawan yang membaca tulisan saya ini baik yang dulu pernah bersama terlibat dan punya cerita sendiri maupun yang simpati dengan gunung Slamet, silakan angkat bicara! Salam Rimba! (Ditulis kembali di Palembang, belum sempat lihat arsip catatan perjalanan)
Komentar