Wayang menjadi seni pertunjukan yang saya kagumi sejak diperkenalkan oleh nenek almarhumah. Kedekatan dengan wayang dikembangkan dengan adanya gambar-gambar tokoh wayang populer: semar. gareng, petruk, bagong. Mereka ini tokoh rakyat yang lucu sekaligus punya analisis sosial yang lugas.
Orang menyebut punakawan. Kesederhanaan didukung prinsip hidup pengabdian dan berwawasan lingkungan justru sering dianggap rendah dan 'ndeso' Tetapi, di tangan sang dalang (baru kemudian saya tahu ada gaya solo dan yogya) ternyata peran punakawan, seperti ditulis Emha, dapat manjing, ajur, ajer dengan semua lapisan maysarakat: penguasa, pejabat, teknokrat, ilmuwan, seniman, bahkan petani. Mungkin yang perlu ditambahkan properti laut, perahu/rakit/satang, dan kampung nelayan dalam tradisi wayang.
Pertunjukan wayang sangat manjur untuk sarasehan, duduk bersama, introspeksi, refleksi, dan menyatukan tekad membangun niat baru untuk masa datang. Tentu saja butuh biaya besar jika memilih dalang kondang. Tapi tidak anarkis, lho!
Orang menyebut punakawan. Kesederhanaan didukung prinsip hidup pengabdian dan berwawasan lingkungan justru sering dianggap rendah dan 'ndeso' Tetapi, di tangan sang dalang (baru kemudian saya tahu ada gaya solo dan yogya) ternyata peran punakawan, seperti ditulis Emha, dapat manjing, ajur, ajer dengan semua lapisan maysarakat: penguasa, pejabat, teknokrat, ilmuwan, seniman, bahkan petani. Mungkin yang perlu ditambahkan properti laut, perahu/rakit/satang, dan kampung nelayan dalam tradisi wayang.
Pertunjukan wayang sangat manjur untuk sarasehan, duduk bersama, introspeksi, refleksi, dan menyatukan tekad membangun niat baru untuk masa datang. Tentu saja butuh biaya besar jika memilih dalang kondang. Tapi tidak anarkis, lho!
Komentar