Mengenal lingkungan sekitar dengan jalan kaki atau bersepeda onthel menjadi awal ketertarikan saya pada lingkungan di luar rumah. Kesadaran ke luar rumah mulai dengan bermain dan menelusuri suasana pedesaan. kalau cuaca cerah pemandangan yang selalu tampak adalah bayangan gunung Merapi dan gunung Merbabu yang waktu itu terkesan sangat tinggi dan angker. saya sebut angker karena hampir tiap malam melelehkan lahar panas memerah ke arah barat dan tenggara. sampai suatu saat saya bersama kawan-kawan berwisata ke Kaliurang, tempat rekreasi di lembah kawasan Merapi yang semakin dekat saja.
Dengan semangat 45 saya naik ke Pos Pengamatan gunung Merapi di Plawangan 1275mdpl. Saya merasa berhadapan langsung dengan wajah anggunnya. tapi kabut sering tak mau bersahabat. Dapatkah saya lebih dekat lagi? Kapan ya? (Bersambung)
...Lanjutan 1
Pengenalan saya selanjutnya merambah desa Kinahrejo, kaki Merapi, tempat juru kunci mBah Hargo (mBah Maridjan). Setiap malam minggu datang berbondong-bondong nongkrong di rumah-rumah warung sekaligus menginap, kelompok pendaki maupun kelompok penggembira. ada obrolan sana-sini, pemusik dadakan, masak bersama di dapur yang berdekatan dengan kandang kambing, ayam, atau sapi. Turis asing sekelas backpacker hobi bergabung dengan kami meski bingung dengan logat Inggris-Jawa gado-gado Indonesia.
Penerangan masih mengandalkan petromak dan senter, sebelum dialiri listrik kemudian. Bila operasi SAR berlangsung, entah sudah berapa kali, dapur umum logistik selalu penuh sesak dikunjungi. Pejabat dan warga biasa tak ada bedanya kecuali seragam dan sistem kerja fulltime or parttime.
Pada bulan Suro, kalender Jawa, di sini diadakan upacara tradisi kraton kasultanan Yogyakarta
yang dikenal dengan upacara Labuhan Merapi. Prosesi awal diikuti petugas kerabat kraton dengan pakaian Jawa di ruang utama lengkap dengan umbul-umbul payung, pusaka keris dan tombak, serta tak ketinggalan gaharu dan kemenyan yang dibakar di antara kembang tujuh warna. Menjelang pagi prosesi dilanjutkan menuju jalur pendakian ke Srimanganti, tempat perhentian sekaligus tujuan akhir upacara. Suatu kali mBah Maridjan bercerita, bahwa beliau meneruskan laku labuhan ke pusat kawah sendirian sebagai bentuk tanggung jawab penjaga keselamatan wilayah kraton.
Dengan semangat 45 saya naik ke Pos Pengamatan gunung Merapi di Plawangan 1275mdpl. Saya merasa berhadapan langsung dengan wajah anggunnya. tapi kabut sering tak mau bersahabat. Dapatkah saya lebih dekat lagi? Kapan ya? (Bersambung)
...Lanjutan 1
Pengenalan saya selanjutnya merambah desa Kinahrejo, kaki Merapi, tempat juru kunci mBah Hargo (mBah Maridjan). Setiap malam minggu datang berbondong-bondong nongkrong di rumah-rumah warung sekaligus menginap, kelompok pendaki maupun kelompok penggembira. ada obrolan sana-sini, pemusik dadakan, masak bersama di dapur yang berdekatan dengan kandang kambing, ayam, atau sapi. Turis asing sekelas backpacker hobi bergabung dengan kami meski bingung dengan logat Inggris-Jawa gado-gado Indonesia.
Penerangan masih mengandalkan petromak dan senter, sebelum dialiri listrik kemudian. Bila operasi SAR berlangsung, entah sudah berapa kali, dapur umum logistik selalu penuh sesak dikunjungi. Pejabat dan warga biasa tak ada bedanya kecuali seragam dan sistem kerja fulltime or parttime.
Pada bulan Suro, kalender Jawa, di sini diadakan upacara tradisi kraton kasultanan Yogyakarta
yang dikenal dengan upacara Labuhan Merapi. Prosesi awal diikuti petugas kerabat kraton dengan pakaian Jawa di ruang utama lengkap dengan umbul-umbul payung, pusaka keris dan tombak, serta tak ketinggalan gaharu dan kemenyan yang dibakar di antara kembang tujuh warna. Menjelang pagi prosesi dilanjutkan menuju jalur pendakian ke Srimanganti, tempat perhentian sekaligus tujuan akhir upacara. Suatu kali mBah Maridjan bercerita, bahwa beliau meneruskan laku labuhan ke pusat kawah sendirian sebagai bentuk tanggung jawab penjaga keselamatan wilayah kraton.
Komentar