Pengalaman menapaki gunung sebenarnya baru mulai kelas 2 SMA. Motivasi awalnya hanya rekreasi plus membuang stress karena tahun 1977-1978 sistem tahun ajaran mengalami perpanjangan semester. Pelajaran yang sebelumnya berlangsung Januari hingga Desember, diperpanjang sampai Juni tahun berikutnya. Saya merasa tidak naik kelas secara massal.
Saya ngambek sebagai bentuk protes remaja yang merasa dirugikan, karena rapor saya masuk peringkat lima besar paralel. Saya banting 'ayam jago' celengan uang saku selama satu tahun, lalu saya kumpulkan teman lain yang berminat sama.
Kami berempat, cowok semua berangkat dengan persiapan seadanya. Meski protes pada keadaan, kami tetap minta izin ortu agar ditambah uang saku dan restu. Jadilah kami 'empat sekawan' pengembara gunung lawu. Baru di perjalanan ke Tawangmangu, kami sadar bahwa tak satu pun dari kami yang punya pengalaman mendaki gunung. Modal kami nekad saja.
Sore hari, Jumat, lupa tanggal, bulan Juli 1978 kami sudah berada di Cemoro Kandang, pos pendakian gunung Lawu. Lewat info penjaga warung, ada pos lagi di Cemoro Sewu, dekat pemancar relay tvri kira-kira 1 km dari tempat kami berada. Sambil ngobrol sana-sini dengan rombongan pendaki lain, kami menyiapkan bekal, senter, dan jaket karena kabut dan suhu mulai terasa dingin. Beruntung, cuaca cerah malam itu. Bintang berlompatan dan bulan terang menuntun langkah kami menyusuri jalan setapak menuju pos I. Pada shelter yang kami tuju ternyata sudah penuh sesak pendaki lain, terpaksa kami terus menuju pos II.
Jalan semakin berliku, menanjak, membuat sport jantung menggila. Gemuruh angin di pucuk pinus sedikit menurunkan mental kami. Hutan membawa suasana malam di lereng gunung terasa mencekam. Ada suara-suara: binatang entah apa, sumpah serapah pendaki lain yang lewat, tapi juga gerutu kami dalam hati. Jalan tak berujung, mendaki, dan kantuk dini hari menyerang. Kaki dan mata tak sejalan dengan kemauan kami. Seorang di antara kami memaksa istirahat: itu berarti tambah dingin karena tambah tinggi tempat angin lebih terasa; itu berarti waktunya merebahkan diri sambil memandang langit. Akhirnya kami tertidur meski tak cukup lama, rasanya nikmat juga.
Begitu bangun, waktu matahari terbit masih lama rupanya. Jam menunjuk pukul 04.15. Kami bangun karena tubuh menggigil hebat, semua yang melekat di tubuh seperti beku, dingin ketika disentuk. Gawat, semua telah bangun dalam irama menggigil yang sama, bersahut-sahutan. Terpaksa bekal kami bongkar untuk mengganjal perut kami yang meronta, dan segera menghangatkan tenggorokan dengan secangkir ginger drink. Serpihan kayu, rumput kering dan ranting kami kumpulkan untuk api unggun sejenak. Di sinilah persahabatan itu terasa sungguh dibutuhkan.
Target berikutnya kami menuju pos II Srimanganti. Ternyata pos ini tak begitu jauh dari tempat semula kami berhenti untuk istirahat. Dari dalam shelter mengepul asap pembakaran unggun rombongan lain. Belakangan baru kami tahu mereka ini penduduk yang mencari jenis tanaman obat di lereng gunung. Ada banyak tumpukan karung plastik besar penuh tanaman obat sejenis daun, rerumputan berdaun lebar. Lima meter ke arah depan terdapat mata air di dinding yang ditampung dalam cerukan "sendang mawar" karena terdapat sesaji bunga mawar di sekitarnya. Samar-samar panorama lepas mulai terkuak, karena sinar matahari semakin terang. Jalan ke puncak membentang di depang mata, tapi masih terasa jauh.
Dari pos II inilah mental kami ngedrop, pertimbangan lain ada yang esok lusa sudah sekolah lagi. Jadi kami putuskan tidak melanjutkan ke puncak. Kami harus turun, mengejar waktu, mengejar transportasi, mengejar rindu dendam gunung kapan-kapan kami akan kembali ke puncakmu, Lawu. (Bersambung)
Saya ngambek sebagai bentuk protes remaja yang merasa dirugikan, karena rapor saya masuk peringkat lima besar paralel. Saya banting 'ayam jago' celengan uang saku selama satu tahun, lalu saya kumpulkan teman lain yang berminat sama.
Kami berempat, cowok semua berangkat dengan persiapan seadanya. Meski protes pada keadaan, kami tetap minta izin ortu agar ditambah uang saku dan restu. Jadilah kami 'empat sekawan' pengembara gunung lawu. Baru di perjalanan ke Tawangmangu, kami sadar bahwa tak satu pun dari kami yang punya pengalaman mendaki gunung. Modal kami nekad saja.
Sore hari, Jumat, lupa tanggal, bulan Juli 1978 kami sudah berada di Cemoro Kandang, pos pendakian gunung Lawu. Lewat info penjaga warung, ada pos lagi di Cemoro Sewu, dekat pemancar relay tvri kira-kira 1 km dari tempat kami berada. Sambil ngobrol sana-sini dengan rombongan pendaki lain, kami menyiapkan bekal, senter, dan jaket karena kabut dan suhu mulai terasa dingin. Beruntung, cuaca cerah malam itu. Bintang berlompatan dan bulan terang menuntun langkah kami menyusuri jalan setapak menuju pos I. Pada shelter yang kami tuju ternyata sudah penuh sesak pendaki lain, terpaksa kami terus menuju pos II.
Jalan semakin berliku, menanjak, membuat sport jantung menggila. Gemuruh angin di pucuk pinus sedikit menurunkan mental kami. Hutan membawa suasana malam di lereng gunung terasa mencekam. Ada suara-suara: binatang entah apa, sumpah serapah pendaki lain yang lewat, tapi juga gerutu kami dalam hati. Jalan tak berujung, mendaki, dan kantuk dini hari menyerang. Kaki dan mata tak sejalan dengan kemauan kami. Seorang di antara kami memaksa istirahat: itu berarti tambah dingin karena tambah tinggi tempat angin lebih terasa; itu berarti waktunya merebahkan diri sambil memandang langit. Akhirnya kami tertidur meski tak cukup lama, rasanya nikmat juga.
Begitu bangun, waktu matahari terbit masih lama rupanya. Jam menunjuk pukul 04.15. Kami bangun karena tubuh menggigil hebat, semua yang melekat di tubuh seperti beku, dingin ketika disentuk. Gawat, semua telah bangun dalam irama menggigil yang sama, bersahut-sahutan. Terpaksa bekal kami bongkar untuk mengganjal perut kami yang meronta, dan segera menghangatkan tenggorokan dengan secangkir ginger drink. Serpihan kayu, rumput kering dan ranting kami kumpulkan untuk api unggun sejenak. Di sinilah persahabatan itu terasa sungguh dibutuhkan.
Target berikutnya kami menuju pos II Srimanganti. Ternyata pos ini tak begitu jauh dari tempat semula kami berhenti untuk istirahat. Dari dalam shelter mengepul asap pembakaran unggun rombongan lain. Belakangan baru kami tahu mereka ini penduduk yang mencari jenis tanaman obat di lereng gunung. Ada banyak tumpukan karung plastik besar penuh tanaman obat sejenis daun, rerumputan berdaun lebar. Lima meter ke arah depan terdapat mata air di dinding yang ditampung dalam cerukan "sendang mawar" karena terdapat sesaji bunga mawar di sekitarnya. Samar-samar panorama lepas mulai terkuak, karena sinar matahari semakin terang. Jalan ke puncak membentang di depang mata, tapi masih terasa jauh.
Dari pos II inilah mental kami ngedrop, pertimbangan lain ada yang esok lusa sudah sekolah lagi. Jadi kami putuskan tidak melanjutkan ke puncak. Kami harus turun, mengejar waktu, mengejar transportasi, mengejar rindu dendam gunung kapan-kapan kami akan kembali ke puncakmu, Lawu. (Bersambung)
Komentar