Beberapa hari ini saya kena penyakit demam untuk menulis. alasannya sederhana. mesin ketik manual sudah lama saya simpan dan mungkin pitanya kering serta besinya berkarat. saya mendapat pinjaman uang dari pimpinan kantor untuk membeli laptop yang sudah sekian bulan saya impikan seperti mengandung bayi. Begitu permohonan pinjaman dikabulkan saya bersemangat untuk segera menggunakannya. Karena ada kemudahan lain, barang diterima sebelum dibayar. Syukur Tuhan tahun ini engkau membuka cakrawala teknologi informasi pada hidup kerja keseharianku.
Dengan sarana baru yang bisa dibawa dalam tas ada kecenderungan menggantikan fungsi buku harian. waktu luang atau istirahat bisa dimanfaatkan dengan mengaktifkan jendela elektronik berjaringan wireless frequency. paling dasar yang saya lakukan mengetik untuk disimpan atau diposting sendiri. Saya masih mengandalkan aji mumpung gratis di kantor (belum terbayar kalau langganan sendiri berhubung gaji terbatas). Maklum guru swasta golongan IIIc di Indonesia tingkat kesejahteraannya masih harus dicukupi dengan kreditan sana-sini: KPR rumah 15 tahun, motor 12 bulan, PC komputer 10 bulan, dll. yang masih bisa dicicil bulanan. Sampai hari ini belum pasang jaringan PDAM untuk rumah karena harus merancang budget berikutnya di antara pengeluaran rutin. Wah, meski tidak pernah kuliah manajemen dan akuntansi pajak BB, abonemen koran Kompas, abonemen listrik, dan telepon rumah tak pernah terlambat dibayarkan tiap bulan.
Syukurlah, punya isteri satu juga bekerja sehingga budget rumah tangga sangat ditunjang oleh gaji isteri walaupun isteri tidak memperoleh tunjangan macam-macam seperti status kepala keluarga. Meski sering beda keinginan, pendapat, sikap dan masih banyak lainnya kalau dianalisis toh komunikasi tetap harus nyambung.
Dengan dua anak laki-laki yang ternyata juga butuh ekstraperhatian sering terjebak sendiri pada perbedaan perlakuan antara yang tua dengan yang bungsu. pada saat bermain, mereka mau menang sendiri. atau mereka menuntut sesuatu sementara kondisi untuk mengabulkannya tidak tersedia pada waktunya. Di sini kita bercermin pada kesadaran mendidik, mendampingi anak yang beranjak "dewasa".
Demam seperti di atas membuat kami harus sungguh memperhitungkan ongkos hidup terutama bila banyak undangan pesta yang harus menyisihkan anggaran rutin. terpaksa banyak undangan yang berlabel ongkos tambahan tidak dipenuhi daripada gali utang untuk mencukupi kebutuhan makan setiap bulan. Maaf, ini mengurangi aspek sosialitas hidup Tapi kesadaran untuk melangkah ke sana secara bijak tentu harus disiasati.
Dengan sarana baru yang bisa dibawa dalam tas ada kecenderungan menggantikan fungsi buku harian. waktu luang atau istirahat bisa dimanfaatkan dengan mengaktifkan jendela elektronik berjaringan wireless frequency. paling dasar yang saya lakukan mengetik untuk disimpan atau diposting sendiri. Saya masih mengandalkan aji mumpung gratis di kantor (belum terbayar kalau langganan sendiri berhubung gaji terbatas). Maklum guru swasta golongan IIIc di Indonesia tingkat kesejahteraannya masih harus dicukupi dengan kreditan sana-sini: KPR rumah 15 tahun, motor 12 bulan, PC komputer 10 bulan, dll. yang masih bisa dicicil bulanan. Sampai hari ini belum pasang jaringan PDAM untuk rumah karena harus merancang budget berikutnya di antara pengeluaran rutin. Wah, meski tidak pernah kuliah manajemen dan akuntansi pajak BB, abonemen koran Kompas, abonemen listrik, dan telepon rumah tak pernah terlambat dibayarkan tiap bulan.
Syukurlah, punya isteri satu juga bekerja sehingga budget rumah tangga sangat ditunjang oleh gaji isteri walaupun isteri tidak memperoleh tunjangan macam-macam seperti status kepala keluarga. Meski sering beda keinginan, pendapat, sikap dan masih banyak lainnya kalau dianalisis toh komunikasi tetap harus nyambung.
Dengan dua anak laki-laki yang ternyata juga butuh ekstraperhatian sering terjebak sendiri pada perbedaan perlakuan antara yang tua dengan yang bungsu. pada saat bermain, mereka mau menang sendiri. atau mereka menuntut sesuatu sementara kondisi untuk mengabulkannya tidak tersedia pada waktunya. Di sini kita bercermin pada kesadaran mendidik, mendampingi anak yang beranjak "dewasa".
Demam seperti di atas membuat kami harus sungguh memperhitungkan ongkos hidup terutama bila banyak undangan pesta yang harus menyisihkan anggaran rutin. terpaksa banyak undangan yang berlabel ongkos tambahan tidak dipenuhi daripada gali utang untuk mencukupi kebutuhan makan setiap bulan. Maaf, ini mengurangi aspek sosialitas hidup Tapi kesadaran untuk melangkah ke sana secara bijak tentu harus disiasati.
Komentar