
Bekerja ke luar Jawa merupakan tantangan bagi saya yang baru selesaikan sarjana pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Sebelum selesai skripsi, sudah banyak tawaran kerja yang dipajang di papan pengumuman kampus, lengkap dengan berbagai fasilitas yang disediakan. Syukurlah pihak kampus memiliki jaringan penyediaan lapangan kerja cukup luas, sehingga alumni siap bekerja ke mana pun tawaran itu ada.
Keputusan saya bulat untuk berangkat ke salah satu lembaga pendidikan Tunas Karya di Bangka. Kebetulan dari jurusan lain seangkatan ada yang siap berangkat ke sana juga. Jadi kami berdua memulai petualangan darat ke sana. Rute yang kami tempuh melewati Yogya-Jakarta-Merak-Bakauheuni-Rajabasa-Palembang selama dua hari dua malam. Gila, di terminal Rajabasa dipaksa beli air mineral botol besar yang sebetulnya tidak kami butuhkan dalam todongan pisau. Daripada ribut berisiko di tanah seberang yang belum kami kenal, kami merelakan kocek berkurang. Tapi fenomena itu membentuk karakter selanjutnya.
Di Palembang, kami mencari tiket feri penyeberangan namun antrean ke sana padat karena musim libur sekolah. Terpaksa banting stir ke seberang Ampera/Ulu untuk menumpang kapal tongkang niaga antarpulau. Di sini kami harus menunggu muatan barang, hingga lepas magrib baru boleh naik ke geladak dan bilik nakhkoda. Beberapa penumpang lain memang ada yang ikut. Jjadi sedikit lega kami ada teman ngobrol, selain anak buah kapal yang sudah sarat pengalaman di laut. Kami harus melapor kepada syahbandar sebelum dizinkan keluar dari daerah muara Sungsang.
Sekitar pukul 22.00 hujan mulai deras, dan gelombang laut meninggi. Ini pengalaman pertama saya diterpa badai di selat Bangka. Selain lampu kapal yang tak terlalu jauh jangkauannya, hanya gelap dan suara hujan, angin dan sesekali kapal oleng menghindari terjangan ombak tinggi. Penumpang wanita mulai ketakutan dan histeris, sementara penumpang laki-laki mengumandangkan doa. Saya sempat melihat nakhoda berdiri tegar di belakang kemudi, memandang tajam ke depan haluan kapal sambil bibir komat-kamit dan sesekali menggerakkan kemudi ke kanan atau ke kiri.
Keputusan saya bulat untuk berangkat ke salah satu lembaga pendidikan Tunas Karya di Bangka. Kebetulan dari jurusan lain seangkatan ada yang siap berangkat ke sana juga. Jadi kami berdua memulai petualangan darat ke sana. Rute yang kami tempuh melewati Yogya-Jakarta-Merak-Bakauheuni-Rajabasa-Palembang selama dua hari dua malam. Gila, di terminal Rajabasa dipaksa beli air mineral botol besar yang sebetulnya tidak kami butuhkan dalam todongan pisau. Daripada ribut berisiko di tanah seberang yang belum kami kenal, kami merelakan kocek berkurang. Tapi fenomena itu membentuk karakter selanjutnya.
Di Palembang, kami mencari tiket feri penyeberangan namun antrean ke sana padat karena musim libur sekolah. Terpaksa banting stir ke seberang Ampera/Ulu untuk menumpang kapal tongkang niaga antarpulau. Di sini kami harus menunggu muatan barang, hingga lepas magrib baru boleh naik ke geladak dan bilik nakhkoda. Beberapa penumpang lain memang ada yang ikut. Jjadi sedikit lega kami ada teman ngobrol, selain anak buah kapal yang sudah sarat pengalaman di laut. Kami harus melapor kepada syahbandar sebelum dizinkan keluar dari daerah muara Sungsang.
Sekitar pukul 22.00 hujan mulai deras, dan gelombang laut meninggi. Ini pengalaman pertama saya diterpa badai di selat Bangka. Selain lampu kapal yang tak terlalu jauh jangkauannya, hanya gelap dan suara hujan, angin dan sesekali kapal oleng menghindari terjangan ombak tinggi. Penumpang wanita mulai ketakutan dan histeris, sementara penumpang laki-laki mengumandangkan doa. Saya sempat melihat nakhoda berdiri tegar di belakang kemudi, memandang tajam ke depan haluan kapal sambil bibir komat-kamit dan sesekali menggerakkan kemudi ke kanan atau ke kiri.
Komentar