17 Agustus 2008 menjadi peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-63. Peringatan itu menjadi lebih hingar bingar karena berbagai aksesoris dipasang; karena berbagai kegiatan dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat. Tidak ketinggalan tentu pengibaran bendera merah putih.
Yang menarik tentu bagaimana masyarakat memahami makna bendera itu. Ada berbagai ekspresi yang tampil. Bendera merah putih berkibar dalam berbagai ukuran dan variasi modifikasi lainnya. Akibatnya pemaknaan tidak hanya penghormatan jiwa sejarah kemerdekaan bangsa dari tangan penjajah, tetapi juga harga bisnis kain benderanya. Orang boleh saja mengganti bendera yang lama yang telah kusam, kusut atau rusak dengan yang baru, yang warnanya bersih cemerlang layaknya iklan walau butuh dana tambahan untuk mengadakannya. Lalu ke mana bendera-bendera yang lama? Disimpan?
Bendera itu meski lama, tetap saja merah putih jiwanya. Asal dipelihara, dicuci secara berkala, dan disimpan di almari secara baik, tetap layak berkibar untuk peringatan kemerdekaan negara ini. Mengapa dalam upacara detik-detik proklamasi yang dikibarkan bendera duplikat? Tentu karena yang asli sudah tua, tapi bukan ditinggalkan dan terabaikan.
Bagaimana kalau bendera itu ikut terbakar bersama rumah-rumah yang hangus tanpa sisa yang dapat diselamatkan? Meratapi puing-puing tentu bukan orang meredeka. Biarlah bendera itu berkibar di dalam dada rakyat yang tak berbendera kain tempat tinggal yang hilang, tergusur zaman. MERDEKA!
Yang menarik tentu bagaimana masyarakat memahami makna bendera itu. Ada berbagai ekspresi yang tampil. Bendera merah putih berkibar dalam berbagai ukuran dan variasi modifikasi lainnya. Akibatnya pemaknaan tidak hanya penghormatan jiwa sejarah kemerdekaan bangsa dari tangan penjajah, tetapi juga harga bisnis kain benderanya. Orang boleh saja mengganti bendera yang lama yang telah kusam, kusut atau rusak dengan yang baru, yang warnanya bersih cemerlang layaknya iklan walau butuh dana tambahan untuk mengadakannya. Lalu ke mana bendera-bendera yang lama? Disimpan?
Bendera itu meski lama, tetap saja merah putih jiwanya. Asal dipelihara, dicuci secara berkala, dan disimpan di almari secara baik, tetap layak berkibar untuk peringatan kemerdekaan negara ini. Mengapa dalam upacara detik-detik proklamasi yang dikibarkan bendera duplikat? Tentu karena yang asli sudah tua, tapi bukan ditinggalkan dan terabaikan.
Bagaimana kalau bendera itu ikut terbakar bersama rumah-rumah yang hangus tanpa sisa yang dapat diselamatkan? Meratapi puing-puing tentu bukan orang meredeka. Biarlah bendera itu berkibar di dalam dada rakyat yang tak berbendera kain tempat tinggal yang hilang, tergusur zaman. MERDEKA!
Komentar