Meski masih dalam persiapan, suasana perbincangan tentang gunung selalu seru di antara anggota di ruang sekretariat. Apalagi sebagian besar anggota berstatus remaja sma yang baru selesai mengikuti ulangan semester. Keinginan untuk mendaki gunung rata-rata menjadi motivasi awal mereka masuk dan bergabung dengan anggota lama yang sebagian memang sudah mendekati kelas akhir sehingga semester depan tidak aktif daripada di-recall kepsek. Lima pertanyaan dasar yang sering muncul: berapa biayanya? apa saja yang perlu dibawa? menginap di mana? bagaimana kondisi medan pendakian? dan berapa lama sampai ke puncak?
Prosedur formal yang harus mereka lewati adalah: mematangkan rencana dalam bentuk proposal ke kepala sekolah, latihan fisik, pengenalan rute medan pendakian, konsolidasi anggota, pengecekan peralatan dan perbekalan, perizinan ortu secara tertulis, dan pembagian tugas individu. Inilah cara pelatihan kemandirian bagi anak terhadap proses manajerial ekspedisi petualangan di alam bebas. Dengan demikian, bimbingan yang terarah dan kerjasama antara siswa, guru pendamping, kepala sekolah dalam institusi dengan orang tua siswa merupakan mata rantai pendidikan humaniora yang harmonis. Karena subjeknya orang muda, mereka ini harus diberi peluang dan kesempatan untuk merancang idenya sendiri, memilih teman kerjanya, melaksanakan rencana kerjanya, dan mengevaluasi hasil kerja mereka dalam batas-batas kepengawasan semua pihak yang terkait. Doa restu, kewaspadaan, komunikasi, subsidi dana, dan berbagai kemudahan yang mendukung keberhasilan aktivitas mereka ini akan menjadi prestasi yang tak ternilai.
Kerinci, sebagai gunung tertinggi di pulau Sumatera, kami pilih karena kedekatan lokasi, karena memiliki tantangan medan tersendiri, dan karena kami ingin ke sana. Anggota lama, alumni, dan simpatisan lain berencana bergabung dalam pendakian kali ini. Semoga kehadiran mereka semakin memotivasi langkah kerja kami demi pengembangan orientasi aktivitas kerja mereka kelak di dunia kerja sebenarnya. Majulah Tim Pendakian Akhir Tahun -- Palaxsa -- ke Gunung Kerinci dan Danau Gunung Tujuh, Jambi, 27 Desember 2008 s.d. 2 Januari 2009.
DI ALAM KITA JAYA, DI SEKOLAH KITA BERKARYA!
Prosedur formal yang harus mereka lewati adalah: mematangkan rencana dalam bentuk proposal ke kepala sekolah, latihan fisik, pengenalan rute medan pendakian, konsolidasi anggota, pengecekan peralatan dan perbekalan, perizinan ortu secara tertulis, dan pembagian tugas individu. Inilah cara pelatihan kemandirian bagi anak terhadap proses manajerial ekspedisi petualangan di alam bebas. Dengan demikian, bimbingan yang terarah dan kerjasama antara siswa, guru pendamping, kepala sekolah dalam institusi dengan orang tua siswa merupakan mata rantai pendidikan humaniora yang harmonis. Karena subjeknya orang muda, mereka ini harus diberi peluang dan kesempatan untuk merancang idenya sendiri, memilih teman kerjanya, melaksanakan rencana kerjanya, dan mengevaluasi hasil kerja mereka dalam batas-batas kepengawasan semua pihak yang terkait. Doa restu, kewaspadaan, komunikasi, subsidi dana, dan berbagai kemudahan yang mendukung keberhasilan aktivitas mereka ini akan menjadi prestasi yang tak ternilai.
Kerinci, sebagai gunung tertinggi di pulau Sumatera, kami pilih karena kedekatan lokasi, karena memiliki tantangan medan tersendiri, dan karena kami ingin ke sana. Anggota lama, alumni, dan simpatisan lain berencana bergabung dalam pendakian kali ini. Semoga kehadiran mereka semakin memotivasi langkah kerja kami demi pengembangan orientasi aktivitas kerja mereka kelak di dunia kerja sebenarnya. Majulah Tim Pendakian Akhir Tahun -- Palaxsa -- ke Gunung Kerinci dan Danau Gunung Tujuh, Jambi, 27 Desember 2008 s.d. 2 Januari 2009.
DI ALAM KITA JAYA, DI SEKOLAH KITA BERKARYA!
Komentar