Langsung ke konten utama

PANTAI SIUNG, JEPITU, GUNUNG KIDUL DIY

Berangkat dari undangan teman-teman Mapasadha, USD, kami ikut Dikjut materi caving dan panjat tebing di daerah Wonosari, Gunung Kidul, DIY, 2-5 Juli 2009 lalu. Dari Pondok Mapasadha rombongan diangkut dua mobil kampus yang dipinjamkan. Beberapa anggota lain berkonvoi motocycle to highland. Mengisi BBM sejenak, lalu tancap gas ke arah Prambanan, belok kanan arah Boko, terus tanjakan mesra Piyungan, Patuk, Wonosari city, eee terus ke arah Pantai Baron, Kukup, Krakal, Drini, Sundak dan berhenti di pinggir jalan tanjakan. Sempat nylonong alias kebablasan sih karena miskomunikasi dengan sopir tentang drop area.



Logistik diturunkan, dipanggul menuju basecamp caving gua Kemucing. Mobil transpor kembali ke kampus. Dan matahari semakin redup di balik bukit kapur. Bias sinarnya masih menuntun langkah kami menuju lokasi camp 1 di bibir gua. Beberapa personil sempat nyasar karena camp berada di bawah di antara tanaman casava, pisang dan pepaya. Untunglah bulan membantu menghemat baterei senter kami untuk menunjukkan titik lokasi dapur umum. Penduduk sekitar yang masih di ladang dengan ramah menyambut kami, bahkan menunjukkan celah gua yang masih terhubung dengan lorong utama. Perkiraan awal dengan lemparan batu tampaknya cukup dalam dan cenderung miring. Setelah orientasi sejenak, kami berkumpul di lokasi mulut gua yang cukup lebar untuk persiapan peralatan, teknik jalur dan memasak untuk makan malam.



Sedianya disiapkan beberapa alternatif lokasi gua seperti Tlogo, Cokro, tetapi atas pertimbangan safety dan peralatan, diputuskan hanya dua lokasi caving vertical: gua Kemucing, dan gua horisontal: gua Mendala. Gua Mendala berjarak 2 km dari tempat camp ke arah pantai. Gua ini berupa lorong sungai bawah tanah yang oleh penduduk setempat digunakan sebagai sumber air bersih dan keperluan lain. Di mulut gua dapat kita jumpai potongan selang yang biasa dipakai untuk memompa air ke atas. Oleh karena itu, kami dianjurkan masuk ke gua malam hari agar tidak mengganggu kelangsungan hidup penduduk setempat. Dan malam itu kami memang menargetkan memasuki lorong gua pada malam hari saja. Dan benar juga kami pun mengambil persediaan air dari sini dengan botol-botol mineral kosong sebanyak-banyaknya.



Usai makan malam, kami briefing untuk pelaksanaan penelusuran gua horisontal. Informasi tim survei Mapasadha diputuskan untuk rombongan pertama dua peserta dipandu fasilitator tim masuk lebih dahulu sampai batas waktu tertentu kembali ke mulut gua. Untuk selanjutnya begitu juga rombongan masuk berikutnya.



Dengan penerangan lampu karbit dan senter, kami bergerak menuju lokasi gua Mendala. Malam dengan bulan hampir separuh dan semilir angin, terdengar napas dan langkah sepatu boot di atas jalan aspal naik turun. Hutan jati di kanan kiri jalan seperti bisu tidur dalam buaian sepi. Beberapa tulisan slogan tentang pohon jati yang memberi harapan kepada penduduk untuk setia menanam di lahan keras ini. Ketika kami sampai di lokasi, peserta dikjut diberi briefing terlebih dahulu untuk bekal mental memasuki lorong gua. Peserta lain menunggu giliran untuk masuk setelah mereka kembali. Sayang panorama gua tersebut tak dapat diabadikan dalam gambar karena permukaan air penuh sampai ke dinding atas lorong masuk(entrance) dan beberapa ruas di dalamnya. Hanya cerita mereka yang telah kembali dapat menggambarkan keindahan dalam perut bumi yang mereka saksikan, dan kami mendengarkannya dengan penuh minat untuk kesempatan yang akan datang... Terima kasih Mapasadha yang melibatkan kami Palaxsa, SMA Xaverius 1 Palembang menikmati kegiatan caving ini.



Jumat, 3 Juli

Kegiatan hari ini eksplore gua vertikal di gua Kemucing. Setelah sarapan, disiapkan pemasangan jalur ke mulut gua dengan sangat hati-hati. Tahap ini sangat menyita tenaga dan waktu karena perhitungan keamanan dan risiko seminimal mungkin. Hanya empat peserta saja yang masuk gua karena keterbatasan peralatan dan waktu eksplore. Peserta lain hanya mengamati dan mensport demi kelancaran penelusuran. Total penelusuran sehari penuh baru clearence peralatan. Sambil makan malam, tenda dan logistik kami kemas kembali karena tim kami akan berpindah ke lokasi panjat tebing untuk esok dan lusa di Pantai Siung yang berjarak 4 km dari tempat semula.



Begitu logistik dan peraltan masuk pack, tim bergerak ke pinggir jalan saat kami tiba. Beberapa motor sudah disiapkan untuk membawa barang-barang yang cukup berat menuju base camp 2. Saya dapat kehormatan membonceng motor fasilitator... takut kualat kali ye.. sama yg tua-tua.
Peserta lain jalan kaki kembali menembus malam dalam bayangan bulan.



Rumah warung di tepi pantai masih buka karena ada beberapa turis mancanegara sedang menikmati makan dan minum bir di sini. Setelah motor diparkir, kami menuju lokasi panjat di atas tanah datar blok E. Kawasan ini ternyata merupakan lokasi khusus panjat tebing alam yang bervariasi. Deburan ombak laut selatan menggema bertalu-talu. Suara alam ini akan berlanjut sampai telinga kita akrab mendengarnya, bahkan tak mengganggu konsentrasi kerja kita selanjutnya.

Bulan di atas berkejaran dalam awan, bintang memenuhi langit tak terhitung lagi. Beberapa gugus kami kenal sebagai pemandu navigasi pelaut. Sampai semua peserta bergabung, mendirikan tenda dan memasak untuk santap malam. Dan tidur hingga larut ke pagi.

Sabtu, 4 Juli

Walau matahari belum muncul di balik bukit, saya sudah terbangun dan keluar tenda untuk berburu sunrise. Kabut masih menutup sepi pantai bawah, lalu saya kembali ke pantai atas di antara karang-karang. Di sana kami bertemu rombongan fotografer Jakarta yang berkunjung ke pantai ini dalam paket perhelatan mereka. Peralatan canggih dimanfaatkan untuk mengambil gambar sesuai visi mereka masing-masing tentang pantai.

Ketika kami kembali ke tenda teman-teman sudah menyiapkan sarapan, peralatan panjat dan sebagian belanja untuk hari berikutnya. Saya lanjutkan menyusuri pantai bawah, mwmbidik sana-sini beberapa objek laut dan ombaknya seperti memang tak ada habisnya.

Teman-teman sudah memasang dua jalur pemanjatan untuk latihan panjat tebing hari ini. Satu demi satu pemanjatan dilakukan untuk beberapa kali sampai dipandang menemukan gaya panjat sendiri. Mereka menikmati cengkeraman dan pijakan batu itu walau kadang keras dan menjepit luka.

Siangnya saya pamit turun ke Jogja karena harus mengambil tiket bus untuk kembali ke Palembang pada tanggal 6 Juli 2009, pukul 15.30. Anak-anak saya titipkan kepada mereka untuk mengikuti kegiatan sampai Minggunya. SEkali lagi terima kasih teman-teman Mapasadha dengan penyambutannya, terutama Mas Mlongo, koordinator Dikjut, mas Sober kepala suku, mbak Bondhes, mbak Gendhing, dan mas Uwee, serta teman yang lain yang tak terlupakan, Os yang datang dengan teman ITB dari Bandung. Sampai bertemu pada kegiatan lainnya. Viva Mapasadha! Viva Palaxsa, SMA Xaverius 1 Palembang, dan selamanya jaya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENIKMATI PUNCAK BUNTU, GUNUNG SUMBING

Setelah semalam diguyur hujan dalam tenda dome di pelataran Pestan, kami dibangunkan oleh suara-suara di luar yang tampaknya ada rombongan pendaki lain sampai di tempat kami berkemah. Menilik suaranya, tampaknya mereka baru naik sebab nafas dan langkahnya masih ringan bersemangat tinggi. Biasanya pendaki yang turun langkahnya lebih berat menghentak tanah. Benarn saja, ketika pintu tenda saya buka sebagian dari mereka duduk-duduk dan sebagian yang lain mulai memasang tenda baru yang sebelumnya tak terdapat tenda lain di sekitar kami. Tenda yang kemarin sore berada di sekitar kami telah dibongkar dan pendakinya telah turun ke basecamp. Saya keluar tenda untuk menunggu sunrise. Jam di tangan menunjukkan waktu pukul 04.55 WIB. Udara tidak terlalu dingin, angin tidak begitu kuat, tapi jangan coba menyentuh rumput, karena embun akan menangkap kulit Anda. Teman satu tenda saya bangunkan untuk menjerang air buat kopi pagi, sementara tenda sebelah yang masih serombongan saya tampaknya tak berge...

CATATAN SAYA KE GUNUNG-GUNUNG

1974, PLAWANGAN      Kekaguman akan wujud gunung yang paling nyata pertama kali saya hadapi ketika rombongan anak-anak paroki yang tergabung dalam putra-putri altar gereja katolik Maria Asumpta, Kumetiran berekreasi ke Kaliurang. Perubahan suasana kota dengan hiruk-pikuk keseharian menjadi suasana lingkungan alam pegunungan dan vila-vila taman sepanjang kompleks wisata Kaliurang yang terkenal itu menyejukkan hati para pengunjung. Terminal kedatangan selalu silih berganti mobil angkutan masuk dan keluar meninggalkannya menandai tempat rekreasi ini lebih akrab dengan suara alam, antara lain gemericik air sungai kecil, juga pancuran di sudut-sudut jalan yang digunakan oleh pedagang dan pengunjung, suara kicau burung di ranting pohon pinus, serta desau angin. Hawa sejuk khas pegunungan dan dingin air gunung sebelum terkena sinar matahari siang. Pemandian 'Tlogo Putri' masih tampak sepi, airnya sangat dingin. Sementara di sisi lain air gemericik di dinding 'Tlogo Muncar' te...

MENJENGUK PENGALAMAN, MERENUNGKAN HAKIKAT, MENANGKAP MAKNA

Meski tak seaktif dulu lagi, melakukan petualanagan ke alam menjadikan semangat hidup punya bara, paling tidak punya cerita yang bisa dibagikan. Tumpukan pengalaman, walaupun tercerai-berai menjadi fragmen-fragmentaris dalam rentang waktu lama, bisa direkonstruksi tahap demi tahap yang masih berseliweran pada berbagai kesempatan selama masih bernapas dan mampu memanggil suara ingatan. Tahap norma manusia dibagi dalam 5 tingkatan: masa kanak-kanak, mulai sekolah dasar, sekolah lanjutan, kuliah, dan bekerja. Selama masa itu, kita sangat banyak bergantung kepada orang-orang baik di sekitar kita. Keluarga inti tentu saja sangat kita kenal entah dalam kurun waktu lama atau hanya sekejap ingatan mampu menyimpannya. Sanak saudara dan tetangga dekat menjadi orang-orang yang mengajari hidup tanpa memperhitungkan untung rugi. Ia memberi bantuan pertolongan dengan sukarela, ikhlas hati, dan ramah. Bermain dan belajar bebas memilih waktu sesuai kesepakatan, bahkan kalau harus mengorbankan waktu-...