Langsung ke konten utama

ANAKKU BELAJAR AKTING

Sabtu, 21 Februari 2009

Pukul 14.30 saya masih berada di sekolah untuk membimbing ekstrakurikuler pencinta alam SMA Xaverius 1. Disiplin kerja yang saya bangun sejak lama di aktivitas mahasiswa adalah kalau saya sedang on fire di sana, saya tidak boleh diganggu kecuali sangat mendesak. Imbasnya adalah anak harus menunggu bermain, kecuali mau pulang naik angkot sendiri; Hp saya matikan atau saya tinggal di rumah supaya konsentrasi penuh pada aktivitas saat itu. Yang celaka kalau lupa membawa dompet atau uang.



Tiba-tiba, Rm. Agus, ekonom Seminari Menengah Santo Paulus memberitahu bahwa ada berita sms berkaitan dengan anak saya yang kedua bermasalah 'tertelan satu kartu gaple plastik saat main di rumah, sedang dalam perjalanan ke rumah sakit diantar mobil, akan menuju ke tempat saya, lalu bersama Romo ke UGD Rumah Sakit Charitas pusat. Keluhannya sudah tertelan ke perut, terus muntah berwarna cokelat, kesan suster muntah darah. Memang sedikit tegang dan terus bertanya-tanya di benak saya. Tindakan darurat harus dilakukan. Jadilah ke ruang UGD untuk periksa cepat. Baju penuh muntahan dilepas, diraba perawat pada perut yang diduga terdapat benda yang dimaksud sebelum diteruskan ke bagian rontgen untuk pengambilan foto.



Foto pertama tidak menunjukkan tanda keganjilan, diputuskan foto kedua lebih ke bagian rongga perut saja. Hasilnya nihil. Suster perawat rontgen bahkan dengan nada ketus bertanya ke anak usia lima tahun,"Kamu bohong ya, Nak!" Anak saya meandang dengan nada bingung, tak mau menjawab. Dalam situasi seperti itu, tidak bijak berkata tegas yang sulit dicerna anak.

Saya coba jelaskan situasinya, dan saya ajak bicara yang lain yang bisa nyambung. Lalu anak saya dibawa kembali ke dokter jaga UGD untuk selanjutnya menunggu laporan hasil pemeriksaan medis. Saya menunggu di depan loket radiologi, Isteri, anak dan Romo menunggu di ruang tunggu depan UGD. Anak saya minta makan dan kaos baru karena tidak bawa ganti dari rumah. Romo memberikan uang enam lembar lima puluh ribuan untuk bayar hasil pemeriksaan, karena uang saya simpan di tas yang tertinggal di kantor. Anak pertama terabaikan di kantor dan rupanya terpengaruh situasi adiknya tersebut jadi ikut sedih, menangis, dan hilang selera makannya walau sudah dibujuk suster Renata.



Pukul 17.30 kami baru kembali ke seminari dengan sedikit tenang karena hasil pemeriksaan yang tidak mengkhawatirkan, anak sudah lebih ceria, tenang, mau makan dan minum. Setelah berterima kasih kepada pihak seminari, kami berempat pulang naik motor dalam gambaran pikiran masing-masing tentang kasus tadi. Setelah mengambil motor di halaman rumah sakit Charitas cabang Kenten saya pulang ke rumah bersama si kecil, sementara yang sulung bonceng ibunya.

Rumah masih gelap dan sedikit berantakan saat ditinggalkan. Lampu saya nyalakan, bekas muntahan saya bersihkan dan televisi saya nyalakan. Keadaan sudah mulai tenang dan kembali seperti sebelumnya. Itulah fragmen ANAKKU BELAJAR AKTING yang harus diwaspadai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENIKMATI PUNCAK BUNTU, GUNUNG SUMBING

Setelah semalam diguyur hujan dalam tenda dome di pelataran Pestan, kami dibangunkan oleh suara-suara di luar yang tampaknya ada rombongan pendaki lain sampai di tempat kami berkemah. Menilik suaranya, tampaknya mereka baru naik sebab nafas dan langkahnya masih ringan bersemangat tinggi. Biasanya pendaki yang turun langkahnya lebih berat menghentak tanah. Benarn saja, ketika pintu tenda saya buka sebagian dari mereka duduk-duduk dan sebagian yang lain mulai memasang tenda baru yang sebelumnya tak terdapat tenda lain di sekitar kami. Tenda yang kemarin sore berada di sekitar kami telah dibongkar dan pendakinya telah turun ke basecamp. Saya keluar tenda untuk menunggu sunrise. Jam di tangan menunjukkan waktu pukul 04.55 WIB. Udara tidak terlalu dingin, angin tidak begitu kuat, tapi jangan coba menyentuh rumput, karena embun akan menangkap kulit Anda. Teman satu tenda saya bangunkan untuk menjerang air buat kopi pagi, sementara tenda sebelah yang masih serombongan saya tampaknya tak berge...

CATATAN SAYA KE GUNUNG-GUNUNG

1974, PLAWANGAN      Kekaguman akan wujud gunung yang paling nyata pertama kali saya hadapi ketika rombongan anak-anak paroki yang tergabung dalam putra-putri altar gereja katolik Maria Asumpta, Kumetiran berekreasi ke Kaliurang. Perubahan suasana kota dengan hiruk-pikuk keseharian menjadi suasana lingkungan alam pegunungan dan vila-vila taman sepanjang kompleks wisata Kaliurang yang terkenal itu menyejukkan hati para pengunjung. Terminal kedatangan selalu silih berganti mobil angkutan masuk dan keluar meninggalkannya menandai tempat rekreasi ini lebih akrab dengan suara alam, antara lain gemericik air sungai kecil, juga pancuran di sudut-sudut jalan yang digunakan oleh pedagang dan pengunjung, suara kicau burung di ranting pohon pinus, serta desau angin. Hawa sejuk khas pegunungan dan dingin air gunung sebelum terkena sinar matahari siang. Pemandian 'Tlogo Putri' masih tampak sepi, airnya sangat dingin. Sementara di sisi lain air gemericik di dinding 'Tlogo Muncar' te...

MENJENGUK PENGALAMAN, MERENUNGKAN HAKIKAT, MENANGKAP MAKNA

Meski tak seaktif dulu lagi, melakukan petualanagan ke alam menjadikan semangat hidup punya bara, paling tidak punya cerita yang bisa dibagikan. Tumpukan pengalaman, walaupun tercerai-berai menjadi fragmen-fragmentaris dalam rentang waktu lama, bisa direkonstruksi tahap demi tahap yang masih berseliweran pada berbagai kesempatan selama masih bernapas dan mampu memanggil suara ingatan. Tahap norma manusia dibagi dalam 5 tingkatan: masa kanak-kanak, mulai sekolah dasar, sekolah lanjutan, kuliah, dan bekerja. Selama masa itu, kita sangat banyak bergantung kepada orang-orang baik di sekitar kita. Keluarga inti tentu saja sangat kita kenal entah dalam kurun waktu lama atau hanya sekejap ingatan mampu menyimpannya. Sanak saudara dan tetangga dekat menjadi orang-orang yang mengajari hidup tanpa memperhitungkan untung rugi. Ia memberi bantuan pertolongan dengan sukarela, ikhlas hati, dan ramah. Bermain dan belajar bebas memilih waktu sesuai kesepakatan, bahkan kalau harus mengorbankan waktu-...