"Iringan bendera kemenangan...."
Penggal lagu itu sekedar mengingatkan masa muda kuliah dengan bergabung pada unit kegiatan mapala di USD (dulu IKIP) bernama MAPASADHA Jogyakarta. Jiwa muda yang energik perlu diwadahi dan difasilitasi layaknya para pembalap liar yang menemukan trek sirkuit relatif permanen. Pemberontakan kreatif sejalan pencarian eksistensi, pembentukan karakter, pengembangan bakat dan minat perlu didengar, diakomodasikan oleh almamater sebagai Ibu Pawiyatan olah pikir dan olah rasa individual dan sosial. Generasi penerus bangsa disiapkan dan dipilih menurut jurusannya masing-masing.
Pada zaman IKIP, orientasi lulusan/alumnus jelas jadi 'guru' terpaksa atau kesadaran. Walaupun tidak semua alumnus (termasuk yang terkena DO, lolos sebelum waktunya) pada akhirnya menjadi tenaga pengajar atau pendidik tangguh di tempat kerjanya, paling tidak bekal akta IV yang bergabung dengan ijazah resminya menjadi acuan dalam etos kerja hariannya (kecuali lupa). Orientasi mapala yang saya bayangkan dulu juga sekaligus membekali alumnus untuk mendampingi salah satu kegiatan ekstrakurikuler di sekolah atau menggerakkan generasi muda kampung untuk mencintai tanah air secara berjenjang lokal, nasional, dan internasional (istilah sekarang mengglobal).
Perubahan IKIP menjadi USD tentu membawa perbedaan cakrawala pandang para pemegang stake holder untuk diterjemahkan ke dalam statuta, AD/ART, dan semacamnya sebagai arah dan dasar berpijak, berproses, dan bercita-cita ke depan menjangkau ke masa depan (futuristik). Tokoh Driyarkara yang dulu patung perunggunya dipajang di tangga hall sering membuat terkejut mahasiswa baru yang kebetulan lewat jalan itu sore/malam hari karena lampu di situ kurang terang, sampai-sampai Pak Cip (penjaga kampus dengan pasukan anjingnya) harus membawa senter besar saat berkeliling. Salam untuk keluarga Bu Cip dengan pecelnya di Pringwulung(?). Kawan-kawan aktivis yang dulu terpaksa bermalam di hall sering dibangunkan daripada menanggung malu saat ketangkap basah masih 'ngiler' oleh beberapa dosen, karyawan, dan mahasiswa super rajin datang ke kampus. Maaf, saya tidak ikut reuni terakhir jadi agak 'katrok'. Tolong bantu saya kuliah jarak jauh untuk perubahan orientasi kiblat civitas akademika yang baru bernama USD.
Walaupun begitu, sejak beberapa alumni mapasadha yang dulu pernah beraktivitas di kampus ingin berkumpul dengan adik-adik angkatan merasa canggung, tidak saling kenal lagi (Mas Lukas H, dkk. angkatan sepuh) lalu dicairkan kembali dalam ajang kegiatan bareng di lapangan, bakti sosial, reuni anggota mapala lintas angkatan, kunjungan ke rumah, dll. Teman-teman alumni yang berdomisili di Jogya tentu lebih mudah dihubungi dan diajak berkumpul. Latar pekerjaan dan kesibukan menjadi kendala utama mengatur waktu 'reuni' dalam jumlah besar, dan tentu butuh persiapan, pendanaan, berikut thethek bengek-nya.
Mungkin susah mengumpulkan sejumlah besar alumni dengan keluarganya diboyong sekaligus, walau pasti rame dan didambakan banyak pihak. Yang barangkali mungkin dicari lagi, dikumpulkan lagi data arsip yang masih terlacak sebagai contact person via e-mail (beberapa tahun lalu ada jago mailinglist (Mas Gepeng, t4mp4h, soel, dll. di website dan friendster Mapasadha, juga blognya. Siapa penjaga gawang arus informasi sekarang di luar trend Face Book yang sangat laris dan blak-blakan untuk dikonsumsi dalam jaringan?
Dinamika managerial intern maupun ekstern selalu menyertai perjalanan aktivitas organisasi. Hal itu tak dapat dihindari. Yang tua harus lebih dewasa menghadapinya tanpa kehilangan fungsi kontrol berupa saran demi kebangkitan dan kemajuan generasi muda mapasadhawan/wati yang akan melanjutkan aktivitas ini.
Yang muda dan energik di dalam Pondok maupun di luar pondokan(kost) harus terus mau membaca tanda-tanda zaman (pinjam istilah Pater Dick almarhum di Basis) bernama peradaban manusia baru (habitus baru) di sela pergumulan tugas utama akademik, aktivitas sosial keseharian, dan aktivitas sosial kemahasiswaan (termasuk kisah klasik bernama perjalanan cinta).
Hai, saudara ketua suku (tibute untuk Tilik Bessy almarhum)! Perjuanganmu takkan dilupakan oleh sahabat di rimba aktivitas ini. Beristirahatlah di puncak kenangan para sahabat. Doa kami mengalir dari hati yang penuh harapan pada hari yang bersejarah ini.
Hai, saudara muda anggota Mapasadha di Pondok Aktivitas! Apa rencana jangka pendek atau jangka panjang yang boleh diinformasikan sebagai undangan resmi untuk ditanggapi, dicarikan dana, dikonsolidasikan, ditetapkan sebagai prioritas program. Kami (saya khususnya) berupaya membuka ruang diskusi SERSAN (serius tapi santai) lewat e-mail, FS, Blog, maupun FB.
Kumpulkan energi, ide, keluh, serapah yang konstruktif, khusus untuk penggalangan dana yang tidak mengikat (sukarela). Siapa buka nomer rekening bank untuk alumni(boleh sepengetahuan pembimbing di kampus) dan siapa buka nomer rekening untuk anggota/pengurus intern.
Buang dan hapus energi expired, destruktif, dan sedikit boros kecuali tenaga cadangan berlebih dan ada intensi khusus yang dapat diterima sesama anggota.
28 Tahun tentu sebuah usia angka yang cukup untuk melangkah lebih mencerminkan kematangan pribadi, kualitas manusia independen(Bebas kayak anaknya Mas Markus, si Marsell Bebas Merdeka). Paham demokrasi tentu memberi peluang kepada setiap anggota untuk didengar sebagai somebody yang punya potensi andil. Dan tak kalah pentingnya laporan pertanggungjawaban kepada publik pemerhati aktivitas ini.
Salam dari Rimba Aktivitas!
DIRGAHAYU UNTUK MAPASADHA
PADA USIA KE-28
10 OKTOBER 2009
EKA RST. 155MPSD83
Penggal lagu itu sekedar mengingatkan masa muda kuliah dengan bergabung pada unit kegiatan mapala di USD (dulu IKIP) bernama MAPASADHA Jogyakarta. Jiwa muda yang energik perlu diwadahi dan difasilitasi layaknya para pembalap liar yang menemukan trek sirkuit relatif permanen. Pemberontakan kreatif sejalan pencarian eksistensi, pembentukan karakter, pengembangan bakat dan minat perlu didengar, diakomodasikan oleh almamater sebagai Ibu Pawiyatan olah pikir dan olah rasa individual dan sosial. Generasi penerus bangsa disiapkan dan dipilih menurut jurusannya masing-masing.
Pada zaman IKIP, orientasi lulusan/alumnus jelas jadi 'guru' terpaksa atau kesadaran. Walaupun tidak semua alumnus (termasuk yang terkena DO, lolos sebelum waktunya) pada akhirnya menjadi tenaga pengajar atau pendidik tangguh di tempat kerjanya, paling tidak bekal akta IV yang bergabung dengan ijazah resminya menjadi acuan dalam etos kerja hariannya (kecuali lupa). Orientasi mapala yang saya bayangkan dulu juga sekaligus membekali alumnus untuk mendampingi salah satu kegiatan ekstrakurikuler di sekolah atau menggerakkan generasi muda kampung untuk mencintai tanah air secara berjenjang lokal, nasional, dan internasional (istilah sekarang mengglobal).
Perubahan IKIP menjadi USD tentu membawa perbedaan cakrawala pandang para pemegang stake holder untuk diterjemahkan ke dalam statuta, AD/ART, dan semacamnya sebagai arah dan dasar berpijak, berproses, dan bercita-cita ke depan menjangkau ke masa depan (futuristik). Tokoh Driyarkara yang dulu patung perunggunya dipajang di tangga hall sering membuat terkejut mahasiswa baru yang kebetulan lewat jalan itu sore/malam hari karena lampu di situ kurang terang, sampai-sampai Pak Cip (penjaga kampus dengan pasukan anjingnya) harus membawa senter besar saat berkeliling. Salam untuk keluarga Bu Cip dengan pecelnya di Pringwulung(?). Kawan-kawan aktivis yang dulu terpaksa bermalam di hall sering dibangunkan daripada menanggung malu saat ketangkap basah masih 'ngiler' oleh beberapa dosen, karyawan, dan mahasiswa super rajin datang ke kampus. Maaf, saya tidak ikut reuni terakhir jadi agak 'katrok'. Tolong bantu saya kuliah jarak jauh untuk perubahan orientasi kiblat civitas akademika yang baru bernama USD.
Walaupun begitu, sejak beberapa alumni mapasadha yang dulu pernah beraktivitas di kampus ingin berkumpul dengan adik-adik angkatan merasa canggung, tidak saling kenal lagi (Mas Lukas H, dkk. angkatan sepuh) lalu dicairkan kembali dalam ajang kegiatan bareng di lapangan, bakti sosial, reuni anggota mapala lintas angkatan, kunjungan ke rumah, dll. Teman-teman alumni yang berdomisili di Jogya tentu lebih mudah dihubungi dan diajak berkumpul. Latar pekerjaan dan kesibukan menjadi kendala utama mengatur waktu 'reuni' dalam jumlah besar, dan tentu butuh persiapan, pendanaan, berikut thethek bengek-nya.
Mungkin susah mengumpulkan sejumlah besar alumni dengan keluarganya diboyong sekaligus, walau pasti rame dan didambakan banyak pihak. Yang barangkali mungkin dicari lagi, dikumpulkan lagi data arsip yang masih terlacak sebagai contact person via e-mail (beberapa tahun lalu ada jago mailinglist (Mas Gepeng, t4mp4h, soel, dll. di website dan friendster Mapasadha, juga blognya. Siapa penjaga gawang arus informasi sekarang di luar trend Face Book yang sangat laris dan blak-blakan untuk dikonsumsi dalam jaringan?
Dinamika managerial intern maupun ekstern selalu menyertai perjalanan aktivitas organisasi. Hal itu tak dapat dihindari. Yang tua harus lebih dewasa menghadapinya tanpa kehilangan fungsi kontrol berupa saran demi kebangkitan dan kemajuan generasi muda mapasadhawan/wati yang akan melanjutkan aktivitas ini.
Yang muda dan energik di dalam Pondok maupun di luar pondokan(kost) harus terus mau membaca tanda-tanda zaman (pinjam istilah Pater Dick almarhum di Basis) bernama peradaban manusia baru (habitus baru) di sela pergumulan tugas utama akademik, aktivitas sosial keseharian, dan aktivitas sosial kemahasiswaan (termasuk kisah klasik bernama perjalanan cinta).
Hai, saudara ketua suku (tibute untuk Tilik Bessy almarhum)! Perjuanganmu takkan dilupakan oleh sahabat di rimba aktivitas ini. Beristirahatlah di puncak kenangan para sahabat. Doa kami mengalir dari hati yang penuh harapan pada hari yang bersejarah ini.
Hai, saudara muda anggota Mapasadha di Pondok Aktivitas! Apa rencana jangka pendek atau jangka panjang yang boleh diinformasikan sebagai undangan resmi untuk ditanggapi, dicarikan dana, dikonsolidasikan, ditetapkan sebagai prioritas program. Kami (saya khususnya) berupaya membuka ruang diskusi SERSAN (serius tapi santai) lewat e-mail, FS, Blog, maupun FB.
Kumpulkan energi, ide, keluh, serapah yang konstruktif, khusus untuk penggalangan dana yang tidak mengikat (sukarela). Siapa buka nomer rekening bank untuk alumni(boleh sepengetahuan pembimbing di kampus) dan siapa buka nomer rekening untuk anggota/pengurus intern.
Buang dan hapus energi expired, destruktif, dan sedikit boros kecuali tenaga cadangan berlebih dan ada intensi khusus yang dapat diterima sesama anggota.
28 Tahun tentu sebuah usia angka yang cukup untuk melangkah lebih mencerminkan kematangan pribadi, kualitas manusia independen(Bebas kayak anaknya Mas Markus, si Marsell Bebas Merdeka). Paham demokrasi tentu memberi peluang kepada setiap anggota untuk didengar sebagai somebody yang punya potensi andil. Dan tak kalah pentingnya laporan pertanggungjawaban kepada publik pemerhati aktivitas ini.
Salam dari Rimba Aktivitas!
DIRGAHAYU UNTUK MAPASADHA
PADA USIA KE-28
10 OKTOBER 2009
EKA RST. 155MPSD83
Komentar