Langsung ke konten utama

ORANG GUNUNG PAKAI BATIK

Siapa mau ke gunung pakai kain batik? Jawaban umum: Kurang kerjaan.

Lalu ke gunung sendiri apakah sebuah pekerjaan? Gunung tidak meminta apalagi memerintahkan, tetapi memanggil rasa ingin tahu. Gunung tidak mewajibkan apalagi mengharuskan untuk didaki, tetapi menggugah kesadaran berjalan pada permukaan tanah yang berbeda kemiringan dan ketinggiannya di atas permukaan air laut.

Lalu ke gunung pakai batik sendiri apakah sebuah pemikiran? Gunung tidak berpikir, tetapi dipikirkan. Batik tidak dipikirkan, tetapi dipakai dengan pikiran.

1. Catwalk alam

Banyak peragawan dan peragawati, apalagi kontes miss universe, berlomba di ajang
bergengsi. Banyak pihak berkepentingan terhadap ajang gengsi ini, baik yang pro maupun
yang kontra. Tahapan dilewati dengan berbagai bonus sponsor, dukungan, tetapi juga hujatan.
Mata-mata juri, mata-mata penonton fokus tertuju pada lenggak-lenggok penampil kontes
mengikuti sorot lampu dan kamera paparrazi.

Dalam keheningan gunung, jauh dari dewan juri, jauh dari penonton, kita tunjukkan bahwa
batik bisa eksis, matching dengan alam yang sebenarnya, di bawah sorot lampu matahari,
dalam balutan kabut, jalan setapak, dan tebing terjal.

2. Tamu alam

Orang pergi bertamu dengan pakaian paling pantas, terpilih, dan berdandan untuk mematut
diri. Sejak persiapan berangkat, berjalan, tiba, mengetuk pintu, dan hadir di tempat itu kita
hayati sebagai tamu ke rumah gunung.

Dengan niat bertamu, motivasi kita menjadi baik adanya, mengenal lingkungan,
mengembangkan sosialitas yang harmonis antara manusia dengan alam sekitarnya.

3. Sahabat alam

Omong kosong kita hidup tanpa peduli alam sekitar kita. Manusia sebagai bagian dari alam
membentuk komunitas dunia yang bersimbiosis mutualisma. Ketika keseimbangan dicuekin,
muncul ketimpangan sikap peduli.

Hanya orang yang mampu mejaga keseimbanganlah yang dapat menikmati hidup di alam
sebagai jalan hidup di ALAM.

Jika tulisan ini menggugah peminat batik: perajin, pengusaha, penjual, pembeli, masyarakat, pendidik, pejabat, pendaki, pemerhati sosial; mari kita sosialisasikan batik di lereng gunung, di kaki gunung, di puncak gunung untuk membangun pasar raya batik di alam terbuka dalam bentuk pasar kaget, kedai musiman, kios sovenir, dan seni pertunjukan sepanjang jalur pendakian sebagai bagian dari wisata petualangan. Dirgahayu Batik di negeri sendiri maupun di negeri seberang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENIKMATI PUNCAK BUNTU, GUNUNG SUMBING

Setelah semalam diguyur hujan dalam tenda dome di pelataran Pestan, kami dibangunkan oleh suara-suara di luar yang tampaknya ada rombongan pendaki lain sampai di tempat kami berkemah. Menilik suaranya, tampaknya mereka baru naik sebab nafas dan langkahnya masih ringan bersemangat tinggi. Biasanya pendaki yang turun langkahnya lebih berat menghentak tanah. Benarn saja, ketika pintu tenda saya buka sebagian dari mereka duduk-duduk dan sebagian yang lain mulai memasang tenda baru yang sebelumnya tak terdapat tenda lain di sekitar kami. Tenda yang kemarin sore berada di sekitar kami telah dibongkar dan pendakinya telah turun ke basecamp. Saya keluar tenda untuk menunggu sunrise. Jam di tangan menunjukkan waktu pukul 04.55 WIB. Udara tidak terlalu dingin, angin tidak begitu kuat, tapi jangan coba menyentuh rumput, karena embun akan menangkap kulit Anda. Teman satu tenda saya bangunkan untuk menjerang air buat kopi pagi, sementara tenda sebelah yang masih serombongan saya tampaknya tak berge...

CATATAN SAYA KE GUNUNG-GUNUNG

1974, PLAWANGAN      Kekaguman akan wujud gunung yang paling nyata pertama kali saya hadapi ketika rombongan anak-anak paroki yang tergabung dalam putra-putri altar gereja katolik Maria Asumpta, Kumetiran berekreasi ke Kaliurang. Perubahan suasana kota dengan hiruk-pikuk keseharian menjadi suasana lingkungan alam pegunungan dan vila-vila taman sepanjang kompleks wisata Kaliurang yang terkenal itu menyejukkan hati para pengunjung. Terminal kedatangan selalu silih berganti mobil angkutan masuk dan keluar meninggalkannya menandai tempat rekreasi ini lebih akrab dengan suara alam, antara lain gemericik air sungai kecil, juga pancuran di sudut-sudut jalan yang digunakan oleh pedagang dan pengunjung, suara kicau burung di ranting pohon pinus, serta desau angin. Hawa sejuk khas pegunungan dan dingin air gunung sebelum terkena sinar matahari siang. Pemandian 'Tlogo Putri' masih tampak sepi, airnya sangat dingin. Sementara di sisi lain air gemericik di dinding 'Tlogo Muncar' te...

MENJENGUK PENGALAMAN, MERENUNGKAN HAKIKAT, MENANGKAP MAKNA

Meski tak seaktif dulu lagi, melakukan petualanagan ke alam menjadikan semangat hidup punya bara, paling tidak punya cerita yang bisa dibagikan. Tumpukan pengalaman, walaupun tercerai-berai menjadi fragmen-fragmentaris dalam rentang waktu lama, bisa direkonstruksi tahap demi tahap yang masih berseliweran pada berbagai kesempatan selama masih bernapas dan mampu memanggil suara ingatan. Tahap norma manusia dibagi dalam 5 tingkatan: masa kanak-kanak, mulai sekolah dasar, sekolah lanjutan, kuliah, dan bekerja. Selama masa itu, kita sangat banyak bergantung kepada orang-orang baik di sekitar kita. Keluarga inti tentu saja sangat kita kenal entah dalam kurun waktu lama atau hanya sekejap ingatan mampu menyimpannya. Sanak saudara dan tetangga dekat menjadi orang-orang yang mengajari hidup tanpa memperhitungkan untung rugi. Ia memberi bantuan pertolongan dengan sukarela, ikhlas hati, dan ramah. Bermain dan belajar bebas memilih waktu sesuai kesepakatan, bahkan kalau harus mengorbankan waktu-...