Langsung ke konten utama

EPISODE KERINCI, JAMBI: PENDAKIAN AKHIR TAHUN 2008

27 Desember 2008 s.d. 3 Januari 2009



"Kita memilih hobi yang aneh, jadilah kita orang-orang aneh yang selalu rindu berkeliaran ke hutan, gunung, sungai dan tempat-tempat yang memiliki tantangan sendiri", (percakapan di shelter 1 gunung Kerinci dengan rombongan Himawan cs, pendaki tertua Indonesia dari Bandung 29 Desember 2008)



Tak dapat subsidi sekolah, bukan halangan untuk membatalkan niat pergi ke gunung saat libur sekolah. Kapan lagi ekskul yang fokus bertualang ke alam bebas ini dapat berjalan kalau bukan masa liburan. Proposal sudah diupayakan, prosedeur formal sudah ditempuh, persiapan sudah dilakukan, niat sudah bulat, berangkat dengan restu orang-orang terdekat dean sepengetahuan pihak sekolah. Jadilah semua biaya ditanggung peserta, itulah intinya: penanaman Kemandirian!



Tim berjumlah 10 orang (Pak Eka Rst., Ari, Budi S., JK, Wirawan, Quina, Mumut, Leni, Hanna, dan Derry) ini menyiapkan diri di antara kesibukan belajar dan ulangan akhir semester untuk melakukan pendakian akhir tahun 2008 ke Gunung Kerinci, Jambi dengan ketinggian 3805 mdpl. Jadwal latihan fisik tidak sepenuhnya terlaksana, pengadaan dan pengecekan peralatan belum maksimal, toh kami mencoba bergerak dengan semangat baja. Ini yang saya suka!



27 Desember

Hari masih pagi, ketika saya datang ke pelataran sekolah, anak-anak sudah siap di tempat dengan diantar keluarga masing-masing. Quina, alumni palaxsa yg kuliah di FHUI ternyata ikut dalam rombongan. Saya titipkan motor ke garasi Seminari Menengah St. Paulus, samping gedung SMA Xaverius 1, lalu terlibat ngobrol sana-sini dengan Bapak Y. Supriyo, S.H. ortu Quina. Ada Jojo, Monik, Andien, Os dan siapa lagi yang sempat mengantar Tim Kerinci di pelataran sekolah membuat heboh suasana. Dengan dua angkutan mobil, dan jabat tangan pengantar kami bergerak menuju pool bus IMI jurusan Palembang Jambi di KM 9.



Tiketing berjalan lancar dan kami memilih bus AC agar tak terlalu gerah sepanjang perjalanan (beda 10 rb dengan bus ekonomi). Bencana mulai di sini. Kamera tidak dibawa karena kesalahan kordinasi, bus tidak dapat mengangkut sejumlah besar carrier yang kami bawa sehingga saya memilih berangkat dengan bus berikutnya sambil menjaga barang. Saat tiba di terminal Simpang Kawat Jambi, ada barang berisi nesting dan ponco pinjaman tertinggal di bus. Ini peringatan untuk packing persiapan tidak boleh ada barang yang masih di luar carrier atau day pack!



Dengan bantuan operator bus, kami dicarikan angkutan travel Anak Anum Kerinci yang mengangkut Tim menuju Sungai Penuh. Sekian tahun lalu armada ke Sungai Penuh dilayani beberapa bus, sekarang lebih banyak travel karena mobilitas yang tinggi dan sarana jalan yang sempit. Tentu saja biaya transport menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan tiket bus reguler. Kami sepakat untuk iuran membeli kamera baru agar kegiatan terdokumentasikan. Sebuah tragedi perjalanan yang harus diatasi: omong kosong kegiatan tanpa bukti dokumentasi foto sebagai jaminan. Pelajaran berharga jika Anda tidak teliti dalam perencanaan dan distribusi kerja tim yang jelas. Travel berangkat pukul 18.30. Celakanya kami hanya dapat 9 kursi karena jatah kursi terjual ke penumpang lain. Dasar agen travel serakah!



Perjalanan menembus kegelapan malam tidak begitu kami hiraukan toh tak banyak yang dapat kami nikmati. Paling yang dapat diingat sekedar berhenti mengisi solar, turun di rumah makan tanpa selera sekedar mengurangi penat, minum teh, kopi susu, dan membuang urine di toilet rumah makan. Mungkin ritual ini wajib agar tak jenuh saja selama perjalanan jauh. Kota-kota terasa asing saja kecuali bangunan khas dan lampu-lampu hias sepanjang jalan utama. Musik yang diputar melalui pita cakram lebih berfungsi mengurangi kebisingan mesin yang monotn di telinga. Klakson mobil justru jarang dibunyikan. Jalanan berlubang, berdebu, berliku, dan sempit terasa tak habis-habis kami susuri. Hujan yang mengguyur di beberapa ruas mengaburkan kaca penglihatan. Tidur kami tersiksa malam itu. Hanya tekad untuk sampai ke tujuanlah yang membesarkan hati kami untuk menjalaninya.



Sampai fajar tiba, kami memasuki wilayah Sungai Penuh, tujuan antara berikutnya ke Kayu Aro, desa Kersik Tuo, di kaki gunung Kerinci. Anak-anak muda berlari pagi sepanjang jalan, berbanding terbalik dengan orang tua yang tampak menuju masjid, rumah sembahyang yang megah dibandingkan bangunan rumah penduduk biasa. Bayangan akan ketemu demonstrasi massa yang terjadi belakangan lewat berita koran menghantui kami sejenak. Ternyata tidak ada sesuatu yang menghambat kami sampai hari ini, 28 Desember 2008.



28 Desember 2008

Kami turun di loket travel di kota Sungai Penuh. Udara pagi masih segar dan sejuk khas daerah pegunungan. Kabut tipis berangsur lenyap, dan kegairahan hidup kerja beranjak ramai. Setelah barang diturunkan, sebagian dari kami menyerbu warung nasi uduk yang tentu saja penjualnya menjadi kewalahan melayani kami. Petugas operator membantu kami mencarikan angkutan menuju desa Kersik Tuo, Kayu Aro, tujuan kami selanjutnya. Rintik hujan terasa dingin di kulit, pertanda perubahan cuaca yang drastis. Kabut kembali menebal, dan suzuki carry yang membawa kami tampak mengerang membawa kami yang sarat beban. Pasar, dan terminal mulai ramai, tetapi jalan kota masih sepi kecuali lalu-lalang mobil lintas provinsi dan motor anak muda memecah pagi. Dua jam perjalanan kami tiba di pelataran rumah Home Stay Subandi. Beberapa rombongan lain sudah bersiap untuk mendaki. Belakangan diketahui, mereka adalah Tim Pendukung Pendaki Tertua untuk memecahkan rekor MURI puncak gunung ke-5. Aa dan Teteh Himawan (72 tahun) dari Bandung bersama crew Metro TV Jakarta, beberapa wartawan Kompas perwakilan Jambi dan rombongan lokal tersebar. Karena kami baru tiba, kami putuskan untuk sarapan dan pengecekan logistik sebelum meneruskan perjalanan yang sebenarnya menuju puncak. Di sini kami berkenalan dengan beberapa personil dari Petugas PHPA Kerinci, Tim Pendukung Aa Himawan, crew Metro TV, dan Pak Subandi pemilik home stay. Beberapa barang dalam tas kecil kami titipkan untuk ganti kepulangan kami nanti.



Jika rombongan lain memilih naik angkutan ke Gerbang Rimba yang berjarak sekitar 6 km, kami justru memilih jalan kaki untuk pemanasan sekaligus melapor ke petugas jagawana. Dengan begitu ada waktu aklimatisasi medan awal pendakian bagi kami. Test drive menjadi pembuka perjalanan menuju pintu gerbang pendakian yang sebenarnya. Di luar area perkebunan teh ternyata petani mengembangkan hasil pertanian lain 'palawija' yang menggantikan pohon kayu manis, yang menurut cerita penduduk tidak prospektif untuk kesejahteraan mereka. Berbeda dengan lereng gunung Dempo, Pagaralam, yang justru mengeksplorasi kebun teh ke area lereng gunung, di Lereng Kerinci dikembangkan pertanian penduduk setempat. Kabar lain yang kami peroleh ternyata area pertanian ini pernah menjadi sengketa dengan penduduk sekitar yang mengklaim ahli waris tanah nenek moyang dengan tanah yang telah diperjualbelikan/digadaikan kepada penduduk pendatang. Hak dimenangkan oleh penduduk pendatang yang memang punya bukti pembelian tanah secara sah.



Di gerbang Rimba, kami istirahat sejenak sambil briefing singkat. Beberapa pendaki turun melewati kami dengan langkah dan tenaga tersisa. Ada keramahan setiap bertemu sesama pendaki lain di jalan pendakian. Anehnya standar perlengkapan mereka berbeda dengan standar yang kami pelajari. Mungkin gaya dan kecepatan mereka juga jauh berbeda.



Kami mulai memasuki hutan lereng Kerinci, ditandai jalan setapak, pisang-pisangan hutan, dan pohon tinggi menjulang. Suara-suara satwa di kejauhan dan lumpur bekas hujan di kaki menyelaraskan langkah menuju pos 1. Pos 1 merupakan sisa bangunan besi persis memotong jalan setapak menuju Pos 2. Dari Pos 1 ke Pos 2 jalan mulai menanjak, beberapa pohon tumbang membuat ekstra tengaga keluar. Pos 2 tinggal alas beton tanpa atap. Beberapa lembar seng bekas atap menumpuk di sudut.



Menuju Shelter 1 terdengar suara gemericik air pertanda persediaan air akan tercukupi, karena perhitungan kami setiap peserta dengan 2 lt aqua tidak cukup untuk logistik memasak. Karena jalan semakin menanjak, Tim kami terpecah menjadi dua, depan yang stamina cukup baik dan belakang yang stamina dan endurance-nya tertinggal cukup jauh. Pendaki pemula dengan medan Kerinci adalah dua acungan jempol dari Tim Pendukung Rekor MURI. Akibatnya, Derry, Hanna, dan saya tercecer dan keburu gelap menyergap langkah kami. Terpaksa kami dijemput oleh personil yang sudah lebih dahulu tiba di Shelter 1. Mas Aak, JK, dan Quina menjemput kami untuk membawa barang naik ke Shelter. Di sini kam bergabung dengan Tim yang telah mendirikan Camp I. Dalam cuaca gelap dan gerimis, kami menambah tenda kami memanfaatkan sisa tempat yang tersedia. Fly sheet yang kami bawa membantu dapur umum dan tempat sembahyang bagi teman pendaki lain. Malam itu kami habiskan untuk ngobrol gaya remaja dan tidur sampai pagi berikutnya.



29 Desember

Pohon besar di Shelter 1 menjadi tiang tambat tali-tali fly sheet. Dalam waktu hampir bersamaan kami bongkar tenda-tenda untuk perjalanan berikutnya ke Shelter 2. Waktu istirahat semalam cukup memulihkan kondisi fisik kami kecuali lapar dan haus yang harus segera didaur ulang. Maka, acara memasak pagi ini menjadi pemandangan umum sebelum meneruskan perjalanan ke puncak. Seduhan teh, STMJ, dan kopi menjadi pilihan kami. Berikutnya nasi dengan mie instant, ikan sardin mengisi perut kami.

Setelah pengepakan kembali rombongan awal mendahului kami meneruskan perjalanan ke Shelter 2. Jalur terjal dengan kemiringan 70 derajat menghambat laju penambahan ketinggian kami. Sejam perjalanan, kami berhasil menyusul rombongan pertama sehingga bergabung untuk istirahat sejenak. Badai angin dari atas terus menggila, udara dingin bertambah menggigilkan badan yang terlalu lama berhenti. Kondisi itu memaksa kami terus berjalan untuk menambah ketinggian sekaligus mengurangi rasa dingin. Lepas tengah hari kami tiba di Shelter 2. Area bawah yang terbatas untuk mendirikan tenda, memaksa kami memisahkan tenda agak ke atas walau mereka meminta kami bergabung. Maklum, pengalaman di Sheltimbrung di tenda kami,er 1 yang agak luas areanya, mereka sedikit terganggu dengan riuhnya suara kami yang gaduh sampai larut padahal mereka butuh istirahat lebih lama. Bedanya, saat kami mendirikan tenda cuaca tidak gelap dan tidak gerimis, hanya angin badai dan kabut. Tenda dan fly sheet pun berdiri, dan kami bagi tugas untuk mengambil air sementara yang lain menyiapkan makanan untuk makan siang/sore.

Menu hari ini terasa istimewa karena persediaan air melimpah dan logistik cukup banyak, terutama beras. Jadilah kami menanak nasi cukup banyak, sebagian dibuat nasi goreng. Juru masak masih dipegang sang ketua, Leni, dibantu Mumut dan Quina. Malam harinya giliran masak JK, Wirawan dan Hanna "Castangel". Keceriaan mereka sangat membantu suasana malam-malam dingin di pegunungan. Terbukti salah seorang Tim Pendukung Aa Himawan ada yang ikut nimbrung di tenda kami sampai pagi. Mas Aak juga bersedia mminjamkan kompornya untuk memasak, sebelum kami menerima kembali kompor milik kami yang mereka temukan di Shelter 1 dan itu artinya kami harus membalasnya dengan dua kotak parafin sebagai ganti rugi.

30 Desember
Gerimis, badai, kabut tak surut dan reda sejak subuh. Rombongan bawah saya dengar bersiap menuju puncak dalam cuaca tak bersahabat. Di sini kami diuji, mau ikut menyusul mereka ke puncak atau menunggu cuaca berubah cerah. Sampai menjelang tengah hari ternyata cuaca tak banyak berubah, dan kemungkinan besar tim mereka tidak sanggup meneruskan ke puncak. Benar saja, sekitar pukul 16.00 rombongan mereka kembali ke Shelter 2 dalam hening, tidak menunjukkan kegembiraan. Saya tidak berani menanyakan apakah mereka berhasil menjejakkan kaki di puncak. Kami putuskan hari itu kami istirahat di Shelter 2 sambil mengatur strategi ke puncak esok hari. Jadi kami mundur sehari dari rencana semula, jika kondisi cerah kami teruskan naik ke puncak. Namun, bila kondisi tidak mendukung, kami pun rela kembali untuk mengejar target ke Gunung Tujuh. Sambil menghitung kembali persediaan logistik untuk perjalanan berikutnya, kami adakan pengarahan apa yang harus dilakukan besok pagi.

Untuk menjaga kondisi fisik kami benar-benar istirahat sesudah makan malam dengan gaya sepuasnya. Bahkan setelah makan, banyak peralatan dibiarkan begitu saja di luar tenda kecuali persediaan makan dan peralatan pokok memasak sempat dimasukkan ke tenda demi keamanan. Derry yang berbadan besar agak kesulitan menyesuaikan diri keluar masuk tenda yang memang melebihi kapasitas. Kita tunggu cerita-cerita mimpi mereka selama di sini dalam tulisan yang berbeda.

31 Desember
Saat pintu tenda saya buka, angin dingin menerpa wajah. Badai reda, gerimis tak ada, beberapa bintang masih tampak berkedip di pinggir batas penglihatan. Saya bersemangat membangunkan teman-teman yang lain untuk segera bergegas dan mencoba ke puncak. Setelah mereka bangun, saya instruksikan untuk menghangatkan air dan menyiapkan baju hangat, jaket, day pack, minuman, snack, dll yand dapat dibawa ke puncak. Setengah jam persiapan selesai.

06.30 kami mulai melangkahkan kaki meninggalkan tenda dan carrier perbekalan di Shelter 2. Di ufuk timur matahari terbit kekuning-kuningan memecah gelap. Langkah kami semakin bersemangat karena panorama menggoda kamera untuk mengabadikannya. Ada lima orang cowok rombongan lain mengikuti kami ke puncak dengan pakaian dan bekal seadanya gaya pendaki ulung mereka melejit mendahului kami yang memang pemula. Tetapi ketika mereka berhenti, nyatalah bahwa hawa dingin tak dapat melindungi mereka dari perhentian yang lama bagi mereka. Setiap celah matahari terbuka, cuaca terang kami manfaatkan menambah ketinggian. Dua jam menuju puncak membuat nafas kami memburu bayangan puncak yang semakin dekat. Di pelataran monumen Adi dan Yudha kami berhenti untuk makan bekal yang kami bawa, minum sekedarnya agar tidak terasa kering di tenggorokan. Dua orang kakak beradik memutuskan tinggal di sini, tidak ikut ke puncak. Kami terus merangkak naik menuntaskan perjalanan ke puncak yang memang tinggal beberapa meter lagi di atas kami.

Syukur kepada Tuhan! Dengan kesabaran dan semangat luar biasa, kami menjejakkan kaki di puncak Ke3rinci pada pukul 10.15. Satu torehan lagi ekspedisi Palaxsa berhasil mencapai puncak gunung pada Pendakian Akhir Tahun 2008 -- di Puncak tertinggi Gunung di Sumatera. Sebagai tanda syukur saya mencium batu puncak di bibir kawah, lalu kami minum bergiliran dimulai dari peserta termuda. Lagu syukur karya Kusbini berkumandang di puncak sebelum kami berdoa kepada-Nya atas anugerah yang tak terhingga ini.

Asap belerang yang menyengat membuat kami tersedak, tercekat di tenggorokan, dan memaksa kami segera meninggalkan tempat itu setelah kami abadikan beberapa gambar dengan kamera hp karena motor kamera baru ngadat tak mau dioperasikan. Langkah turun lebih ringan walau pijakan tak lebih mudah untuk dipilih. (Bersambung)

(Lama saya biarkan tak selesai tentu bukan untuk melupakannya... Inilah kelanjutannya...)
Ceritanya sewaktu turun dari monumen Yudha itu rombongan depan udah jauh meninggalkan kami di belakang. Kabut mulai menutupi jalur kami. Anak-anak yang ada di depan saya terus jalan tanpa memperhatikan petunujk jalur. Mereka ini mengambil turunan ke kanan, padahal seharusnya berbelok ke kiri. Mungkin keasyikan berjalan, sampai saya tersadar ketika melewati cerukan terjal yang mengingatkan kembali peristiwa yang sama saat mengawal adik saya sendiri turun gunung Merapi, DIY, jalur kinahrejo, tahun 1988 dulu. Adikku terjebak salah jalur di atas jurang menganga yang sangat terjal, terpaksa saya suruh naik lagi untuk menemukan jalur yang benar.

Tentu anak-anak itu menggerutu karena harus menguras tenaga ke jalur semula yang telah mereka lewati tanpa dosa. Sambil menunggu mereka berkumpul, saya orientasikan kembali pandangan saya mencari tanda pengenal jalur. Dan matahari yang setengah terbuka telah membuka jalan kembali ke shelter 2. Beberapa anak memburu langkahnya karena gembira dan terbebas dari kecemasan tersesat. Bayangan cerita kesesatan menjadikan mereka lebih waspada mengambil langkah. Saya kira, persoalan inilah yang sering diabaikan oleh para pendaki pemula yang tak mengenal medan pendakian dengan baik, dengan risiko fatal.

Tiba di shelter 3, sebagian besar telah berdiri tenda-tenda rombongan lain yang akan menanti malam tahun baru di atas gunung ini. Ada sekitar 8 kelompok pendaki dengan satu sampai tiga tenda pada tiap kelompok itu. Ada yang memasak, tetapi ada juga yang santai bermain gitar atau ngobrol. Tentu saja kami lewat untuk ke shelter 2. Di jalan turun kami masih berpapasan beberapa rombongan lagi yang bergerak menuju shelter 3, karena tak ada tempat lagi di shelter 2. Dengan sisa tenaga yang masih ada, kami tiba kembali di shelter untuk menghangatkan badan dan mengisi perut yang mulai lapar. Lalu kami bagi tugas, mengambil air, menyiapkan masak, dan mencuci piring. Muti, yang sudah tak sanggup lagi menahan kantuk segera terlelap dalam sleepingbag di tenda 2. Walau begitu kami bersyukur telah mencapai puncak tertinggi di gunung ini dengan selamat.

Menu nasi goreng dengan lauk telor, sosis, dan sardin menjadi santap malam kami ditemani nescafe hangat, lemon tea hangat dan suasana akrab di gunung. Lalu gelap merayap di luar, kabut kembali membalut, dan gerimis mengajak kami tidur lebih awal. Rencana menyambut malam pergantian tahun tak menarik lagi untuk dibicarakan. Di lubuk hati kami hanya kemauan untuk istirahat dan esok kami turun ke home stay. Dengkur dan helaan napas bersahutan di tenda kami malam itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENIKMATI PUNCAK BUNTU, GUNUNG SUMBING

Setelah semalam diguyur hujan dalam tenda dome di pelataran Pestan, kami dibangunkan oleh suara-suara di luar yang tampaknya ada rombongan pendaki lain sampai di tempat kami berkemah. Menilik suaranya, tampaknya mereka baru naik sebab nafas dan langkahnya masih ringan bersemangat tinggi. Biasanya pendaki yang turun langkahnya lebih berat menghentak tanah. Benarn saja, ketika pintu tenda saya buka sebagian dari mereka duduk-duduk dan sebagian yang lain mulai memasang tenda baru yang sebelumnya tak terdapat tenda lain di sekitar kami. Tenda yang kemarin sore berada di sekitar kami telah dibongkar dan pendakinya telah turun ke basecamp. Saya keluar tenda untuk menunggu sunrise. Jam di tangan menunjukkan waktu pukul 04.55 WIB. Udara tidak terlalu dingin, angin tidak begitu kuat, tapi jangan coba menyentuh rumput, karena embun akan menangkap kulit Anda. Teman satu tenda saya bangunkan untuk menjerang air buat kopi pagi, sementara tenda sebelah yang masih serombongan saya tampaknya tak berge...

CATATAN SAYA KE GUNUNG-GUNUNG

1974, PLAWANGAN      Kekaguman akan wujud gunung yang paling nyata pertama kali saya hadapi ketika rombongan anak-anak paroki yang tergabung dalam putra-putri altar gereja katolik Maria Asumpta, Kumetiran berekreasi ke Kaliurang. Perubahan suasana kota dengan hiruk-pikuk keseharian menjadi suasana lingkungan alam pegunungan dan vila-vila taman sepanjang kompleks wisata Kaliurang yang terkenal itu menyejukkan hati para pengunjung. Terminal kedatangan selalu silih berganti mobil angkutan masuk dan keluar meninggalkannya menandai tempat rekreasi ini lebih akrab dengan suara alam, antara lain gemericik air sungai kecil, juga pancuran di sudut-sudut jalan yang digunakan oleh pedagang dan pengunjung, suara kicau burung di ranting pohon pinus, serta desau angin. Hawa sejuk khas pegunungan dan dingin air gunung sebelum terkena sinar matahari siang. Pemandian 'Tlogo Putri' masih tampak sepi, airnya sangat dingin. Sementara di sisi lain air gemericik di dinding 'Tlogo Muncar' te...

MENJENGUK PENGALAMAN, MERENUNGKAN HAKIKAT, MENANGKAP MAKNA

Meski tak seaktif dulu lagi, melakukan petualanagan ke alam menjadikan semangat hidup punya bara, paling tidak punya cerita yang bisa dibagikan. Tumpukan pengalaman, walaupun tercerai-berai menjadi fragmen-fragmentaris dalam rentang waktu lama, bisa direkonstruksi tahap demi tahap yang masih berseliweran pada berbagai kesempatan selama masih bernapas dan mampu memanggil suara ingatan. Tahap norma manusia dibagi dalam 5 tingkatan: masa kanak-kanak, mulai sekolah dasar, sekolah lanjutan, kuliah, dan bekerja. Selama masa itu, kita sangat banyak bergantung kepada orang-orang baik di sekitar kita. Keluarga inti tentu saja sangat kita kenal entah dalam kurun waktu lama atau hanya sekejap ingatan mampu menyimpannya. Sanak saudara dan tetangga dekat menjadi orang-orang yang mengajari hidup tanpa memperhitungkan untung rugi. Ia memberi bantuan pertolongan dengan sukarela, ikhlas hati, dan ramah. Bermain dan belajar bebas memilih waktu sesuai kesepakatan, bahkan kalau harus mengorbankan waktu-...