Langsung ke konten utama

MENDUNG MENGGANTUNG DI SITU GINTUNG

Peristiwa jebolnya tanggul resapan situ gintung, tangerang, menyisakan persoalan lingkungan sosial perkotaan yang mendasar. Pembangunan kembali, penataan ruang kembali dan pemberdayaan manusia pengambil kebijakan bersama korban perlu diupayakan secara komprehensif yang menjangkau jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.

Adanya otonomi daerah yang telah dipatenkan lewat undang-undang harus didorong proaktif tanpa menunggu komando pusat pemerintahan walau lokasi pusat pemerintahan tidak jauh dari tempat kejadian. Harus disadarkan bahwa tanggung jawab komponen teritoriallah yang berperan penuh terhadap pengembalian fungsi awal sambil dilakukan penataan ulang relokasi pemukiman penduduk dan peluang usaha/kerja yang menopang kelangsungan hidup korban.

Tentu, kondisi semula tidak mungkin diwujudkan. Data penduduk resmi yang masih tersimpan bisa menjadi acuan izin pembangunan rumah penduduk untuk menempati area aman, walau mengorbankan sebagian fungsi awal situ dibangun masa sebelum ledakan penduduk tercatat seperti sekarang ini. Ini bumi Indonesia, yang belum semua warganya hidup dalam kesadaran hukum yang sama, kesejahteraannya merata, akses informasinya cukup, tingkat pendidikannya memadai, dan masih sederet 'keterpurukan' lainnya.

Jepang pernah dan punya ancaman permanen gempa serta kehancuran lain, tetapi mampu bangkit dan membangun kembali negaranya dengan masyarakat yang sadar dan usaha gaya samurai. Siapa warga Indonesia yang punya daya pikir samurai untuk membangun kembali puing-puing warisan ini?

Jangan menggerutu, tetapi bangkit dan mengejar matahari baru menuju tanah terjanji yang dibangun kembali dari bencana bertumpuk. Doa dan upaya semoga menjadi motivasi usaha konkret bertindak yang terencana untuk kebutuhan bersama masyarakat di situ gintung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENIKMATI PUNCAK BUNTU, GUNUNG SUMBING

Setelah semalam diguyur hujan dalam tenda dome di pelataran Pestan, kami dibangunkan oleh suara-suara di luar yang tampaknya ada rombongan pendaki lain sampai di tempat kami berkemah. Menilik suaranya, tampaknya mereka baru naik sebab nafas dan langkahnya masih ringan bersemangat tinggi. Biasanya pendaki yang turun langkahnya lebih berat menghentak tanah. Benarn saja, ketika pintu tenda saya buka sebagian dari mereka duduk-duduk dan sebagian yang lain mulai memasang tenda baru yang sebelumnya tak terdapat tenda lain di sekitar kami. Tenda yang kemarin sore berada di sekitar kami telah dibongkar dan pendakinya telah turun ke basecamp. Saya keluar tenda untuk menunggu sunrise. Jam di tangan menunjukkan waktu pukul 04.55 WIB. Udara tidak terlalu dingin, angin tidak begitu kuat, tapi jangan coba menyentuh rumput, karena embun akan menangkap kulit Anda. Teman satu tenda saya bangunkan untuk menjerang air buat kopi pagi, sementara tenda sebelah yang masih serombongan saya tampaknya tak berge...

CATATAN SAYA KE GUNUNG-GUNUNG

1974, PLAWANGAN      Kekaguman akan wujud gunung yang paling nyata pertama kali saya hadapi ketika rombongan anak-anak paroki yang tergabung dalam putra-putri altar gereja katolik Maria Asumpta, Kumetiran berekreasi ke Kaliurang. Perubahan suasana kota dengan hiruk-pikuk keseharian menjadi suasana lingkungan alam pegunungan dan vila-vila taman sepanjang kompleks wisata Kaliurang yang terkenal itu menyejukkan hati para pengunjung. Terminal kedatangan selalu silih berganti mobil angkutan masuk dan keluar meninggalkannya menandai tempat rekreasi ini lebih akrab dengan suara alam, antara lain gemericik air sungai kecil, juga pancuran di sudut-sudut jalan yang digunakan oleh pedagang dan pengunjung, suara kicau burung di ranting pohon pinus, serta desau angin. Hawa sejuk khas pegunungan dan dingin air gunung sebelum terkena sinar matahari siang. Pemandian 'Tlogo Putri' masih tampak sepi, airnya sangat dingin. Sementara di sisi lain air gemericik di dinding 'Tlogo Muncar' te...

MENJENGUK PENGALAMAN, MERENUNGKAN HAKIKAT, MENANGKAP MAKNA

Meski tak seaktif dulu lagi, melakukan petualanagan ke alam menjadikan semangat hidup punya bara, paling tidak punya cerita yang bisa dibagikan. Tumpukan pengalaman, walaupun tercerai-berai menjadi fragmen-fragmentaris dalam rentang waktu lama, bisa direkonstruksi tahap demi tahap yang masih berseliweran pada berbagai kesempatan selama masih bernapas dan mampu memanggil suara ingatan. Tahap norma manusia dibagi dalam 5 tingkatan: masa kanak-kanak, mulai sekolah dasar, sekolah lanjutan, kuliah, dan bekerja. Selama masa itu, kita sangat banyak bergantung kepada orang-orang baik di sekitar kita. Keluarga inti tentu saja sangat kita kenal entah dalam kurun waktu lama atau hanya sekejap ingatan mampu menyimpannya. Sanak saudara dan tetangga dekat menjadi orang-orang yang mengajari hidup tanpa memperhitungkan untung rugi. Ia memberi bantuan pertolongan dengan sukarela, ikhlas hati, dan ramah. Bermain dan belajar bebas memilih waktu sesuai kesepakatan, bahkan kalau harus mengorbankan waktu-...