Langsung ke konten utama

SILATURAHMI CANDI G 9







Mobil rental warna putih meraung melewati tanjakan Bandungan, Ambarawa. Waktu sudah mendekati jam wajib makan malam. Sambil mengamati jalan melingkar, mata kami mengharapkan ada deretan rumah makan yang ramah pengunjung sepanjang jalur wisata ini. Sampai mobil bisa berhenti untuk parkir secara aman di samping warung makan lesehan dengan menu utama 'sate kelinci' dan susu jahe yang menawan.

Sambil menunggu sajian pesanan masing-masing, percakapan kami mulai dengan penginapan yang bakal kami singgahi, rute perjalanan besok pagi, dan kegiatan touring selanjutnya. Jagoan kecilku beraksi menggigit daging panggang beraroma dari tusuknya. Sekali tarik, berlepotanlah mulutnya dengan bumbu yang bercampur dengan kecap sampai tangannya bergetar. Aku lebih suka menyeruput minuman hangat dengan menempelkan ujung gelas di mulut. Hangatnya merayapi kerongkongan sampai ke lambung. Satu porsi terlewat terasa kurang, terpaksa harus menambah jatah porsi makan malam ini. Kesibukan penjual sate ini tentulah rizki yang diharapkan mereka terima hari ini juga. Tentu, kami bukan satu-satunya pembeli saat itu. Sepasang muda-mudi baru saja berlalu sebelum kami duduk lesehan. Beberapa piring dan gelas kosong belum selesai diberesi dari meja kecil berjajar.

Usai membayar tagihan, kami meneruskan perjalanan dengan kondisi perut nyaman. Akibatnya, simpang ke arah kompleks Candi Gedongsongo terlewat. Maklum penerangan lampu pinggir jalan cukup berjauhan jaraknya. Tersadar saat menjumpai simpang pasar Sumowono-Temanggung sehingga harus memutar balik ke jalur semula. Tidak terlalu jauh memang, tapi harus sedikit lebih waspada lagi demi penghematan BBM. Hawa dingin pegunungan Ungaran dan kabut tipis menyeruak dari hutan pinus di kiri-kananjalan menanjak sampai berakhir di pelataran parkir kompleks Candi. Kami berhenti sebentar dan bertanya kepada penduduk yang masih berjaga di sekitar warung tentang b eberapa penginapan yang bisa kami singgahi. Seorang pemuda menunjukkan kepada kami satu penginapan yang terdapat halaman parkir cukup terlindung dari jalan langsung karena masuk pekarangan yang asri yang kebetulan beberapa kamar masih kosong.

Kami turun dan masuk kamar sesuai kunci yang diberikan. Sasaran pertama tentu mandi dan ganti pakaian setelah sehari perjalanan. Air dingin bukan halangan untuk kesegaran badan, meski anakku tak berani ikut mandi dan cukup cuci muka dan kaki. Selesai berbenah, kami minta izin kepada pemilik penginapan untuk memenuhi undangan teman di Semarang via telepon yang akan menyambut kami di rumahnya, Pedurungan, Semarang. Walau jam sudah menunjuk pukul 22.00 kami segera meluncur kembali mengikuti petunjuk kontak telepon. Tak sampai setengah jam kota Semarang menyambut kami dalam guyuran gerimis. Lampu-lampu kota menyalakan denyut kehidupan ibukota provinsi Jawa Tengah ini. Setelah beberapa kali berputar mengikuti arah jalur yang asing bagi kami, kami pun berjumpa Pak Bavo dan Ekly anaknya menunggu kami di pinggir jalur utama pantura. Dipandu tuan rumah, kami mengikuti jalan yang ditunjukkan sampai berhenti di sebuah rumah di dalam kompleks yang padat penduduk.

Keluarga Bavo, Susan, Ekly, dan adiknya menyambut kedatangan kami dengan senyum ramah. Keramahtamahan yang dulu juga kami rasakan ketika kami sama-sama kuliah dan awal bekerja di Palembang. Kami sempat diajak berkeliling seputar kota bersejarah ini terutama ikon yang populer yakni Tugu Muda dan Bangunan tua Lawang Sewu yang selalu heboh apalagi saat kami tiba bertepatan dengan Malam Jumat, menurut perhitungan penanggalan Jawa. Setelah bercengkerama sejenak di taman Tugu Muda, kami kembali ke rumah keluarga Bavo. Walau sudah lewat tengah malam, kami harus pamit kembali ke penginapan dengan kesan yang tentu tak cukup terwakili dengan kata. Terima kasih kawan atas penyambutan dadakan ini.

Setelah mengisi BBM di jalan, kami meluncur ke penginapan. Anak-anak sudah mulai terkapar menahan kantuk yang tak biasanya mereka alami di rumah. Begitu tiba kembali di penginapan kami segera menyerbu kasur utama yang sengaja kami dampingkan agar muat untuk kami semua. Barang lain terserak di lantai dan kursi tamu.

Pagi harinya, sesudah mandi, kami bersiap mengunjungi kompleks Candi Gedongsongo. Karena jarak penginapan dengan candi tak terlalu jauh, kami cukup berjalan kaki menuju pelataran candi. Tiket masuk kami bayar di loket gerbang kantor candi, selanjutnya jalan kaki menapaki jalur batu yang tersusun rapi mengikuti denah lokasi percandian. Tersedia jasa kuda sewaan jika mau menggunakannya, tetapi jagoanku lebih memilih jalan sendiri. Wah tanda menuruni bakat bapaknya kali ya. Sangat menikmati udara pagi pegunungan yang segar. Dari Gedong I , II, III, seterusnya dilahap dengan gembira seperti menikmati mainan barunya. Hingga tercium aroma belerang yang terbawa angin berasal dari kawah belerang di salah satu lembah terdapat sumber gas belerang. Dengan bujukan yang meyakinkan, toh kakinya melangkah juga mendekati sumber gas. Ketertarikannya pada suasana mengalahkan ketakutannya pada gangguan bau gas. Keyakinannya satu menyelesaikan peziarahan sejarah di tempat ini. Sampai pada kompleks Gedong V di puncak bukit kami berhenti cukup lama untuk istirahat sebelum kembali ke jalur masuk kompleks. Giliran makan pagi yang tertunda kami sempatkan di warung makan. Beberapa foto kami rekam utnuk dokumen cerita perjalanan nanti. Semoga pengenalan koleksi bangunan tua berkembang pada relung pengetahuan mereka yang melihat sejarah peradaban masa lalu, dalam pencerahan hidupnya mendatang atau sekedar cerita tutur yang diwariskan berikutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENIKMATI PUNCAK BUNTU, GUNUNG SUMBING

Setelah semalam diguyur hujan dalam tenda dome di pelataran Pestan, kami dibangunkan oleh suara-suara di luar yang tampaknya ada rombongan pendaki lain sampai di tempat kami berkemah. Menilik suaranya, tampaknya mereka baru naik sebab nafas dan langkahnya masih ringan bersemangat tinggi. Biasanya pendaki yang turun langkahnya lebih berat menghentak tanah. Benarn saja, ketika pintu tenda saya buka sebagian dari mereka duduk-duduk dan sebagian yang lain mulai memasang tenda baru yang sebelumnya tak terdapat tenda lain di sekitar kami. Tenda yang kemarin sore berada di sekitar kami telah dibongkar dan pendakinya telah turun ke basecamp. Saya keluar tenda untuk menunggu sunrise. Jam di tangan menunjukkan waktu pukul 04.55 WIB. Udara tidak terlalu dingin, angin tidak begitu kuat, tapi jangan coba menyentuh rumput, karena embun akan menangkap kulit Anda. Teman satu tenda saya bangunkan untuk menjerang air buat kopi pagi, sementara tenda sebelah yang masih serombongan saya tampaknya tak berge...

CATATAN SAYA KE GUNUNG-GUNUNG

1974, PLAWANGAN      Kekaguman akan wujud gunung yang paling nyata pertama kali saya hadapi ketika rombongan anak-anak paroki yang tergabung dalam putra-putri altar gereja katolik Maria Asumpta, Kumetiran berekreasi ke Kaliurang. Perubahan suasana kota dengan hiruk-pikuk keseharian menjadi suasana lingkungan alam pegunungan dan vila-vila taman sepanjang kompleks wisata Kaliurang yang terkenal itu menyejukkan hati para pengunjung. Terminal kedatangan selalu silih berganti mobil angkutan masuk dan keluar meninggalkannya menandai tempat rekreasi ini lebih akrab dengan suara alam, antara lain gemericik air sungai kecil, juga pancuran di sudut-sudut jalan yang digunakan oleh pedagang dan pengunjung, suara kicau burung di ranting pohon pinus, serta desau angin. Hawa sejuk khas pegunungan dan dingin air gunung sebelum terkena sinar matahari siang. Pemandian 'Tlogo Putri' masih tampak sepi, airnya sangat dingin. Sementara di sisi lain air gemericik di dinding 'Tlogo Muncar' te...

MENJENGUK PENGALAMAN, MERENUNGKAN HAKIKAT, MENANGKAP MAKNA

Meski tak seaktif dulu lagi, melakukan petualanagan ke alam menjadikan semangat hidup punya bara, paling tidak punya cerita yang bisa dibagikan. Tumpukan pengalaman, walaupun tercerai-berai menjadi fragmen-fragmentaris dalam rentang waktu lama, bisa direkonstruksi tahap demi tahap yang masih berseliweran pada berbagai kesempatan selama masih bernapas dan mampu memanggil suara ingatan. Tahap norma manusia dibagi dalam 5 tingkatan: masa kanak-kanak, mulai sekolah dasar, sekolah lanjutan, kuliah, dan bekerja. Selama masa itu, kita sangat banyak bergantung kepada orang-orang baik di sekitar kita. Keluarga inti tentu saja sangat kita kenal entah dalam kurun waktu lama atau hanya sekejap ingatan mampu menyimpannya. Sanak saudara dan tetangga dekat menjadi orang-orang yang mengajari hidup tanpa memperhitungkan untung rugi. Ia memberi bantuan pertolongan dengan sukarela, ikhlas hati, dan ramah. Bermain dan belajar bebas memilih waktu sesuai kesepakatan, bahkan kalau harus mengorbankan waktu-...