Mobil rental warna putih meraung melewati tanjakan Bandungan, Ambarawa. Waktu sudah mendekati jam wajib makan malam. Sambil mengamati jalan melingkar, mata kami mengharapkan ada deretan rumah makan yang ramah pengunjung sepanjang jalur wisata ini. Sampai mobil bisa berhenti untuk parkir secara aman di samping warung makan lesehan dengan menu utama 'sate kelinci' dan susu jahe yang menawan.
Sambil menunggu sajian pesanan masing-masing, percakapan kami mulai dengan penginapan yang bakal kami singgahi, rute perjalanan besok pagi, dan kegiatan touring selanjutnya. Jagoan kecilku beraksi menggigit daging panggang beraroma dari tusuknya. Sekali tarik, berlepotanlah mulutnya dengan bumbu yang bercampur dengan kecap sampai tangannya bergetar. Aku lebih suka menyeruput minuman hangat dengan menempelkan ujung gelas di mulut. Hangatnya merayapi kerongkongan sampai ke lambung. Satu porsi terlewat terasa kurang, terpaksa harus menambah jatah porsi makan malam ini. Kesibukan penjual sate ini tentulah rizki yang diharapkan mereka terima hari ini juga. Tentu, kami bukan satu-satunya pembeli saat itu. Sepasang muda-mudi baru saja berlalu sebelum kami duduk lesehan. Beberapa piring dan gelas kosong belum selesai diberesi dari meja kecil berjajar.
Usai membayar tagihan, kami meneruskan perjalanan dengan kondisi perut nyaman. Akibatnya, simpang ke arah kompleks Candi Gedongsongo terlewat. Maklum penerangan lampu pinggir jalan cukup berjauhan jaraknya. Tersadar saat menjumpai simpang pasar Sumowono-Temanggung sehingga harus memutar balik ke jalur semula. Tidak terlalu jauh memang, tapi harus sedikit lebih waspada lagi demi penghematan BBM. Hawa dingin pegunungan Ungaran dan kabut tipis menyeruak dari hutan pinus di kiri-kananjalan menanjak sampai berakhir di pelataran parkir kompleks Candi. Kami berhenti sebentar dan bertanya kepada penduduk yang masih berjaga di sekitar warung tentang b eberapa penginapan yang bisa kami singgahi. Seorang pemuda menunjukkan kepada kami satu penginapan yang terdapat halaman parkir cukup terlindung dari jalan langsung karena masuk pekarangan yang asri yang kebetulan beberapa kamar masih kosong.
Kami turun dan masuk kamar sesuai kunci yang diberikan. Sasaran pertama tentu mandi dan ganti pakaian setelah sehari perjalanan. Air dingin bukan halangan untuk kesegaran badan, meski anakku tak berani ikut mandi dan cukup cuci muka dan kaki. Selesai berbenah, kami minta izin kepada pemilik penginapan untuk memenuhi undangan teman di Semarang via telepon yang akan menyambut kami di rumahnya, Pedurungan, Semarang. Walau jam sudah menunjuk pukul 22.00 kami segera meluncur kembali mengikuti petunjuk kontak telepon. Tak sampai setengah jam kota Semarang menyambut kami dalam guyuran gerimis. Lampu-lampu kota menyalakan denyut kehidupan ibukota provinsi Jawa Tengah ini. Setelah beberapa kali berputar mengikuti arah jalur yang asing bagi kami, kami pun berjumpa Pak Bavo dan Ekly anaknya menunggu kami di pinggir jalur utama pantura. Dipandu tuan rumah, kami mengikuti jalan yang ditunjukkan sampai berhenti di sebuah rumah di dalam kompleks yang padat penduduk.
Keluarga Bavo, Susan, Ekly, dan adiknya menyambut kedatangan kami dengan senyum ramah. Keramahtamahan yang dulu juga kami rasakan ketika kami sama-sama kuliah dan awal bekerja di Palembang. Kami sempat diajak berkeliling seputar kota bersejarah ini terutama ikon yang populer yakni Tugu Muda dan Bangunan tua Lawang Sewu yang selalu heboh apalagi saat kami tiba bertepatan dengan Malam Jumat, menurut perhitungan penanggalan Jawa. Setelah bercengkerama sejenak di taman Tugu Muda, kami kembali ke rumah keluarga Bavo. Walau sudah lewat tengah malam, kami harus pamit kembali ke penginapan dengan kesan yang tentu tak cukup terwakili dengan kata. Terima kasih kawan atas penyambutan dadakan ini.
Setelah mengisi BBM di jalan, kami meluncur ke penginapan. Anak-anak sudah mulai terkapar menahan kantuk yang tak biasanya mereka alami di rumah. Begitu tiba kembali di penginapan kami segera menyerbu kasur utama yang sengaja kami dampingkan agar muat untuk kami semua. Barang lain terserak di lantai dan kursi tamu.
Pagi harinya, sesudah mandi, kami bersiap mengunjungi kompleks Candi Gedongsongo. Karena jarak penginapan dengan candi tak terlalu jauh, kami cukup berjalan kaki menuju pelataran candi. Tiket masuk kami bayar di loket gerbang kantor candi, selanjutnya jalan kaki menapaki jalur batu yang tersusun rapi mengikuti denah lokasi percandian. Tersedia jasa kuda sewaan jika mau menggunakannya, tetapi jagoanku lebih memilih jalan sendiri. Wah tanda menuruni bakat bapaknya kali ya. Sangat menikmati udara pagi pegunungan yang segar. Dari Gedong I , II, III, seterusnya dilahap dengan gembira seperti menikmati mainan barunya. Hingga tercium aroma belerang yang terbawa angin berasal dari kawah belerang di salah satu lembah terdapat sumber gas belerang. Dengan bujukan yang meyakinkan, toh kakinya melangkah juga mendekati sumber gas. Ketertarikannya pada suasana mengalahkan ketakutannya pada gangguan bau gas. Keyakinannya satu menyelesaikan peziarahan sejarah di tempat ini. Sampai pada kompleks Gedong V di puncak bukit kami berhenti cukup lama untuk istirahat sebelum kembali ke jalur masuk kompleks. Giliran makan pagi yang tertunda kami sempatkan di warung makan. Beberapa foto kami rekam utnuk dokumen cerita perjalanan nanti. Semoga pengenalan koleksi bangunan tua berkembang pada relung pengetahuan mereka yang melihat sejarah peradaban masa lalu, dalam pencerahan hidupnya mendatang atau sekedar cerita tutur yang diwariskan berikutnya.
Komentar