Lereng Merapi sisi selatan, setelah bencana yang mengharu biru rasa, selalu mengingatkan rindu untuk kembali mengunjunginya kapan pun sempat. Rasa pernah di sana sejak perkenalan jiwa gunung muda usiaku dulu tentu memeteraikan kesan yang dalam. Dan aku terpaksa harus ke sana dua kali karena tidak cukup hanya sekali kunjungan.
Bagian I: 23 Juni 2011, setelah istirahat semalam dari perjalanan mudik Palembang-Jogya, saya da anak saya yang kecil mendatangi loket sekaligus garasi bus yang juga sering sayagunakan selama ini untuk mudik liburan kerja guna memesan tiket pulang ke palembang nantinya. Selesai memperoleh tiket, motor saya arahkan ke jalan lingkar menuju Jalan Kaliurang yang semakin padat kendaraan terutama pelat luar kota yang menjamur saat musim libur sekolah seperti kemarin. Melenggang di antara lalu lalang kendaraan dan angin semilir semakin sejuk mendekati tanjakan Pakem menyadarkan aku lebih konsentrasi mengemudikan setang motor dengan lampu dan sign yang kokoh. Memasuki area Kepuhharjo saya membayar retribusi wisata lengkap dengan ongkos parkir motor.
Jejak keganasan erupsi masih terasa di antara puing-puing bangunan, pohon tumbang, tebing longsor, dan tanaman ranggas. Beberapa kali saya berhenti untuk mengamati sejenak pemandangan yang dalam benakku sangat jauh dari gambar dulu yang saya ingat. Tentu saja saya jepret beberapa keunikan gambar yang mengusik mata. Anakku mulai menikmati suasana dengan menghampiri warung minuman dan makanan ringan yang menjadi daya tariknya. Motor saya parkir di area yang diperbolehkan, karena petugas tidak memperbolehkan kami membawa motor sendiri ke lokasi lebih atas. Dari tempat parkir sudah disediakan motor trail sewaan atau ojek wisata dengan tarif 20 ribu rupiah pergi pulang.
Anak saya lebih suka menjajal kehebatan langkah kakinya sendiri dalam keceriaan. Saya tentu saja mengimbanginya dengan mengikuti jejaknya. Keterterikan anakku pada sosok turis asing sangat mendorong semangat untuk mendekati dan mencoba mengajak berkomunikasi sederhana dan ternyata nanti berlanjut pada setiap kesempatan ketemu turis.
Tiba di pelataran puing rumah mBah Maridjan almarhum, saya sempatkan hening sejenak dan berdoa dalam hati semoga jasanya mendapatkan kelimpahan anugerah keabadian di sana. Sejumlah warung dengan tanda milik ahli waris dipajang di setiap dinding untuk menandai kembali siapa pemilik atau keluarga ahli waris yang dulu menempati area tersebut. Sangat jauh dari kelayakan, sangat bersifat sementara tentu. Di sinilah kehidupan dibangun kembali, bangkit perlahan dari keterpurukan suasana lampau.
Dan alam sekitar, sejauh mata memandang, batuan, debu pasir vulkanik menutup hampir seluruh lapisan tanah sepanjang alur wedhus gembel bencana. Usaha penanaman kembali pohon dan tanaman lain tentu butuh waktu dan ketersediaan air serta unsur hara yang mendukung. Bersabarlah alam lereng Merapi. Dari luapan erupsi yang meluluhlantakkan sekitar tersimpan energi kesuburan di masa mendatang. Itulah rahmat Tuhan gratis yang harus dihayati sebagai manusia di tengah perubahan lingkungan alamnya. Menatap masa depan jauh lebih punya pengharapan daripada merenungi kehancuran tanpa daya.
Bagian II: Sekembali dari Kinahrejo, saya coba menyusuri jalan simpang ke arah jalur evakuasi ke Prambanan. Melalui jembatan kayu dan jalan-jalan memutar, termasuk salah mengambil jalan malah masuk area Kali Gendol tempat penambangan pasir dan batu secara besar-besaran. Truk dan alat berat menumpuk aktivitas di sini. Entah sudah berapa lama saya memutari jalan-jalan yang hampir sama mulusnya, sampai kembali ke jalur Jalan Kaliurang, barulah tersadar bahwa niat potong kompas jalur justru membingungkan diri sendiri. Ketika tiba di rumah ibu, anak saya cerita kepada isteriku bahwa kami telah sampai ke Kinahrejo. Betapa isteri ingin ikut melihat suasana di sana, maka hari berikutnya saya meluncur lagi ke jalur yang sama. Bedanya, isteri saya ikut. (Bersambung ahhh...)
Komentar