Langsung ke konten utama

BERKERETA SRI TANJUNG KE KAWAH G. IJEN DAN G. BROMO (BAGIAN I)

Membawa keluarga ke bentuk wisata alam tentu merupakan sebuah nilai pendidikan tersendiri. Memang waktu yang dipilih saat mereka libur panjang, juga persiapan perlengkapan/perbekalan standar perjalanan jauh dan cadangan anggaran khusus agar tidak berpengaruh besar pada budget rutin selama ini.

Contoh pertama, objek kunjungan yang dipilih. Melaui obrolan santai di rumah, disepakati objek G.Bromo difavoritkan untuk dikunjungi. Informasi data objek dikumpulkan dan diikuti perkembangan berita terkininya.
Waktu itu diperoleh kabar bahwa stattus G.Bromo masih waspada. Kalau objek ini dipaksakan juga, ada kemungkinan jalur transportasi bergeser. Hal itu tentu akan mengganggu kenyamanan berlibur.

Maka, ditentukanlah objek kedua sebagai alternatif apabila rombongan sudah berada di lokasi untuk tidak berlama-lama kecewa. Berdasarkan informasi yang dapat dipercaya via internet, dipilih objek Kawah G. Ijen. Kedua objek ini memiliki daya tarik yang sangat berbeda karakteristiknya.

G. Bromo tentu tak asing lagi bagi wisatawan asing maupun wiatawan domestik dengan panorama lautan pasir, penduduk Tengger yang sangat ramah lingkungan beserta tradisi Hindu Jawanya yang menyatu. Transportasi kuda sewa yang ditawarkan penduduk sekitar untuk mengantar-jemput wisatawan dari Terminal wisata Cemoro Lawang ke Kaki Tangga Puncak G. Bromo. Kelompok pedagang makanan dan minuman yang menggelar barang dagangannya sepanjang rute pendakian dengan sabar. Bila subuh tiba menderu puluhan mobil berpenumpang berkonvoi menuju puncak G. Pananjakan untuk menikmati panorama eksotik pagi dengan sunrise, latar kabut, dan lanskap alam G.Bromo-Semeru dan sekitarnya di kejauhan. Akan sangat ramai dan berjejal bila upacara tradisional 'Kasada' dilaksanakan.

Kawah G. Ijen menjadi sangat fenomenal dengan aksi heroik pekerja tambang belerang silih berganti naik turun gunung menuju kawah belerang yang sangat kuat menyengat pernapasan untuk mendapatkan upah kerja harian atau mingguan yang tentu berisiko tinggi. Tanjakan terjal dan turunan tanah gunung harus ditapaki berulangkali dengan bongkah belerang di dua keranjang yang dihubungkan dengan kayu untuk dipikul di pundak seberat sekitar 75-80 kg. Petugas penimbangan akan menghitung seberapa banyak hasil yang dicapai para penambang untuk ditukarkan rupiah sebagai penyambung harapan hidup keluarganya.

Perjalanan keberankatan menuju objek dimulai dari Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Hari masih pagi ketika kami mulai mengantre tiket. Tiba giliran saya, petugas bertanya tujuan akhir kami berkereta. Dari dialog singkat itu diputuskan untuk berhenti di stasiun terdekat menuju rute perjalanan berikutnya yang kami kehendaki. Tujuan akhir perjalanan kereta api kami tetapkan di Stasiun Jember, karena menurut perhitungan waktu tempuh pukul 18.15 wib kami sudah sampai. Bila memilih tujuan akhir Stasiun Banyuwangi, diperkirakan tiba pukul 23.30 wib. Meski selisih harga tiket tidak terlalu jauh, namun rute yang kami rencanakan tidak terpenuhi.

Penumpang mulai memadati gerbong-gerbong yang disediakan. Pukul 06.40 kereta Sri Tanjung jurusan Jogyakarta-Banyuwangi bergerak meninggalkan Stasiun Lempuyangan. Udara pagi terasa menyejukkan hati. Lalu lalang orang-orang di lorong kereta, orang-orang di jalan yang terlihat dari jendela kereta, juga kendaraan berseliweran setiap beriringan dengan jalan raya atau antrean kendaraan di setiap palang pintu perlintasan. Sesekali kereta berhenti untuk memberikan kesempatan pada kereta lain lewat, baik arah yang sama maupun arah berlawanan. Maklum, beda kelas kereta dan jalur rel kereta yang mengharuskan pergantian jadwal melintas sesuai prosedur baku perkeretaapian yang diatur oleh otoritas PJKA.

Stasiun-stasiun antara kami lewati dengan suasana obrolan sana-sini dan menikmati ulah pedagang asongan di atas gerbong. Ada yang lucu tingkahnya, ada yang ramah dan menggoda saat menjajakan barang. Ungkapan khas Jawa yang menjadi perbendaharaan kata baru bahkan asing bagi telinga anak-anakku yang lahir di tanah Sumatera. Padatnya penumpang dan siang yang memang panas mengubah suasana di dalam gerbong pengap dan gerah. Sore hari kereta tiba di Stasiun Gubeng, Surabaya. Kereta berhenti sejenak untuk menurunkan barang-barang dan penumpang. Tak lupa kami mengisi perut dengan makanan yang dijajakan oleh para pedagang stasiun.

Beberapa penumpang naik bersama barang bawaan, kereta kembali melanjutkan perjalanan menuju rute selanjutnya. Tiba di daerah bencana Lumpur Lapindo, kereta melambat karena menjaga kestabilan beban rel di sini. Kepulan asap dan air berada di beberapa titik penglihatan karena tanggul tinggi yang dibangun untuk menahan lumpur agar tidak ke jalan utama transportasi darat. Tanda-tanda keganasan fenomena alam itu masih membekas di beberapa bangunan sepi yang ditinggalkan penghuninya untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Ketika kereta memasuki Stasiun Sidoarjo, senja sudah mulai gelap, sementara instalasi lampu di gerbong belum dihidupkan. Kata petugas yang kami tanyai saat lewat dekat kursi saya, lampu baru diperbaiki dan dinyalakan bila telah tiba di stasiun terdekat sekaligus istirahat sejenak. Seperti kereta Sherlock Holmes yang berwarna gelap tak berlampu, kereta berjalan menyusuri kermangan malam. Benar saja, ketika tiba di stasiun berikutnya, kereta berhenti untuk perbaikan instalasi listrik untuk beberapa saat. Begitu lampu dan kipas angin menyala, kereta bergerak kembali menuju stasiun tujuan berikutnya. Ternyata perkiraan waktu semula meleset. Kereta baru tiba di Stasiun Jember pukul 21.45.

Kami turun ke peron stasiun. Setelah pengecekan barang, kami keluar stasiun untuk mencari warung makan lebih dahulu. Restoran sudah pada tutup, tinggal menyisakan warung leehan dan bakso lesehan. Sambil makan bakso yang hangat kuahnya, saya menanyakan penginapan terdekat yang bisa kami tuju. Dengan sigap kami ditunjukkan hotel sederhana dengan tarif murah sekedar untuk melepas lelah. Selesai mandi, bersih badan, kami tidur di dua kamar besar yang berbeda pintu.

Pagi-pagi sekali kami sudah bangun dan mandi untuk bersiap meneruskan perjalanan darat. Tak sempat sarapan, setelah membayar ongkos penginapan, kami memesan taksi untuk mengantar ke terminal bus Jember. Tiba di sana kami ditunjukkan angkutan khusus penumpang yang langung mengantar sampai kaki gunung. Sambil menunggu jam keberangkatan, kami mencari sarapan seadanya di warung sebelah terminal. Teh hangat dan beberapa makanan seperti lontong atau arem-arem menghangatkan perut.

Ketika kami duduk, di dalam angkutan sudah ada beberapa penumpang dan salah satunya adalah turis asing dari Chile, seorang perempuan muda. Dengan bahasa Indonesia patah-patah ia bercerita bahwa ia baru saja dari G. Bromo dan akan meneruskan ke Kawah G. Ijen, lalu menyeberang ke Bali dan Lombok. Sepanjang perjalanan kami mencoba ngobrol sampai tujuan akhir di Pos Penjagaan Resort Kawah G. Ijen untuk melapor. Kami berpisah untuk sementara ke warung makan, kembali mengisi perut dan istirahat sejenak.

Karena cuaca cukup cerah, kami putuskan naik ke puncak hari itu juga. Barang-barang lain kami titipkan di Pos. Beberapa bekal perjalanan kami bawa. Tanda penunjuk arah sangat jelas terpasang, dan jalan tanah cukup lebar serta landai pada awalnya. Anak-anak bersemangat untuk berjalan di depan kami. Sesekali mereka meminta foto. Di beberapa ruas jalan tersandar keranjang pikulan belerang bongkahan yang sengaja ditinggal penambang karena diangkut aecara estafet. Penambang juga menawarkan benda soubenir dar bahan belerang aneka macam dengan imbalan uang sekedarnya.

Setelah melewati beberapa tanjakan, kami tiba di Pondok Bundar bekas Pos Penimbangan belerang peninggalan Belanda. Pos Penimbangan sekarang berupa rumah pondok biasa dengan warung kopi beberapa langkah dari bangunan lama. Dari sini jalan ke puncak semakin terbuka karena pohon semakin jarang dan bau gas belerang sudah mulai tercium. Bukit-bukit seberang semakin memacu semangat kami untuk segera menikmati pemandangan puncak kawah.

Tiba di bibir puncak kawah, kami tertegun memandang ke arah kawah. Danau jernih kehijauan menggenang di bawah, sementara asap terus mengepul dari sisi kawah belerang di pinggir danau. Dari jauh kelihatan puluhan orang penambang dan wisatawan yang mendekat ke pusat penambangan. Beberapa menambang berjalan menuruni atau menaiki dinding dengan keranjang belerang di pundaknya. Pekerjaan yang penuh risiko tentunya bagi para penambang terutama darisisi keselamatan dan kesehatan.

Kami ingin mendekat ke pusat penambangan, tetapi kami juga perlu menghemat tenaga dan persediaan air minum, serta daya tahan terhadap bau belerang yang sangat menyengat membuat pusing kepala. Terik matahari di atas juga berpotensi mempercepat dehidrasi. Jadi kami putuskan tidak turun ke kawah. Sebagai gantinya, kami berfoto sepuasnya di puncak kawah.

Kami turun ke Pos kembali, lalu mendirikan tenda untuk istirahat semalam di sini. Gerimis turun sore hingga menjelang malam. Bergantian kami ke warung untuk makan malam. Suasana warung malam hari sangat hingarbingar seperti layaknya kelab malam. Para wisatawan dan penambang larut dalam suasana dingin khas pegunungan dan musik karaoke Jawa Timuran.

Pagi harinya, seusai sarapan kami kembali ke Jember setelah dijemput angkutan yang kemarin mengantar kami. Dari Jember kami menggunakan bus umum menuju terminal bus Probolinggo, kota transit menuju objek G. Bromo. Meski cukup melelahkan jalur darat yang membus bukit dan pantai utara, panorama jalan siang hari dapat kami nikmati   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENIKMATI PUNCAK BUNTU, GUNUNG SUMBING

Setelah semalam diguyur hujan dalam tenda dome di pelataran Pestan, kami dibangunkan oleh suara-suara di luar yang tampaknya ada rombongan pendaki lain sampai di tempat kami berkemah. Menilik suaranya, tampaknya mereka baru naik sebab nafas dan langkahnya masih ringan bersemangat tinggi. Biasanya pendaki yang turun langkahnya lebih berat menghentak tanah. Benarn saja, ketika pintu tenda saya buka sebagian dari mereka duduk-duduk dan sebagian yang lain mulai memasang tenda baru yang sebelumnya tak terdapat tenda lain di sekitar kami. Tenda yang kemarin sore berada di sekitar kami telah dibongkar dan pendakinya telah turun ke basecamp. Saya keluar tenda untuk menunggu sunrise. Jam di tangan menunjukkan waktu pukul 04.55 WIB. Udara tidak terlalu dingin, angin tidak begitu kuat, tapi jangan coba menyentuh rumput, karena embun akan menangkap kulit Anda. Teman satu tenda saya bangunkan untuk menjerang air buat kopi pagi, sementara tenda sebelah yang masih serombongan saya tampaknya tak berge...

CATATAN SAYA KE GUNUNG-GUNUNG

1974, PLAWANGAN      Kekaguman akan wujud gunung yang paling nyata pertama kali saya hadapi ketika rombongan anak-anak paroki yang tergabung dalam putra-putri altar gereja katolik Maria Asumpta, Kumetiran berekreasi ke Kaliurang. Perubahan suasana kota dengan hiruk-pikuk keseharian menjadi suasana lingkungan alam pegunungan dan vila-vila taman sepanjang kompleks wisata Kaliurang yang terkenal itu menyejukkan hati para pengunjung. Terminal kedatangan selalu silih berganti mobil angkutan masuk dan keluar meninggalkannya menandai tempat rekreasi ini lebih akrab dengan suara alam, antara lain gemericik air sungai kecil, juga pancuran di sudut-sudut jalan yang digunakan oleh pedagang dan pengunjung, suara kicau burung di ranting pohon pinus, serta desau angin. Hawa sejuk khas pegunungan dan dingin air gunung sebelum terkena sinar matahari siang. Pemandian 'Tlogo Putri' masih tampak sepi, airnya sangat dingin. Sementara di sisi lain air gemericik di dinding 'Tlogo Muncar' te...

MENJENGUK PENGALAMAN, MERENUNGKAN HAKIKAT, MENANGKAP MAKNA

Meski tak seaktif dulu lagi, melakukan petualanagan ke alam menjadikan semangat hidup punya bara, paling tidak punya cerita yang bisa dibagikan. Tumpukan pengalaman, walaupun tercerai-berai menjadi fragmen-fragmentaris dalam rentang waktu lama, bisa direkonstruksi tahap demi tahap yang masih berseliweran pada berbagai kesempatan selama masih bernapas dan mampu memanggil suara ingatan. Tahap norma manusia dibagi dalam 5 tingkatan: masa kanak-kanak, mulai sekolah dasar, sekolah lanjutan, kuliah, dan bekerja. Selama masa itu, kita sangat banyak bergantung kepada orang-orang baik di sekitar kita. Keluarga inti tentu saja sangat kita kenal entah dalam kurun waktu lama atau hanya sekejap ingatan mampu menyimpannya. Sanak saudara dan tetangga dekat menjadi orang-orang yang mengajari hidup tanpa memperhitungkan untung rugi. Ia memberi bantuan pertolongan dengan sukarela, ikhlas hati, dan ramah. Bermain dan belajar bebas memilih waktu sesuai kesepakatan, bahkan kalau harus mengorbankan waktu-...