Agak lama saya tak mengunjungi blog karena terlalu asyik berkelana di jejaring facebook yang terasa lekat emosionalnya. Bukan karena tingkat interaktifnya yang memang sangat kompleks, melainkan karena kurang tekun menjaga motivasi menulis panjang-panjang. Kenangan dan pengalaman ini tak seharusnya saling meniadakan.
Baiklah saya mulai kelanjutan perjalanan lalu yang terputus itu.
Tiba di terminal Probolinggo masih cukup pagi untuk ukuran makan siang, kira-kira pukul 10.20 WIB. Kami turun di pintu masuk terminal karena ingin cepat beranjak ke tempat mangkal angkutan khusus jurusan Ngadisari, pintu masuk kawasan Taman Nasional Bromo-Semeru-Tengger. Di samping itu, anak saya yang kecil memang jago mabuk angkutan darat, khususnya bus umum yang berbahan bakar solar atau bensin. Baginya menjadi lebih banyak waktu untuk pemulihan fisik yang terkuras selama perjalanan sebelumnya. Warung makan menjadi sasaran kami istirahat sejenak. Setelah pesan sajian makan dan minum sesuai selera masing-masing, saya mencari kernet dan sopir yang memang sudah standby di depan warung karena warung makan persis berada di pinggir jalan raya antarprovinsi. Dua orang wisatawan asing sudah berada di dalam L300 warna hijau army. Setelah nego harga disepakati, barang-barang bawaan kami langsung dimasukkan bagasi oleh sang kernet. Kami kembali menghabiskan menu sarapan dan es dogan kopyor hingga tuntas.
Beberapa penumpang tambahan juga sudah masuk angkutan, dan sopir siap memberangkatkan kami ke arah tujuan. Bersama kami ada seorang ibu mendampingi putrinya yang masih duduk di kelas 3 SD sangat ramah untuk diajak ngobrol. Anak saya yang kecil juga melupakan mabuk dengan ngobrol bersama putrinya yang baru dikenalnya. Dunia anak memang lebih polos dalam bergaul. Hujan sempat turun sepanjang perjalanan, hingga udara di dalam angkutan menjadi pengap. Sesekali air menggenang di jalan harus dilalui sehingga menimbulkan bunyi ombak. Satu demi satu penumpang turun dan ada yang naik menggantikannya sampai jalur menanjak mendekati Ngadisari. Sisa debu vulkanik menumpuk di mana-mana. Puing kehancuran alam masih teronggok di lereng dan lembah. Bencana masih terasa dekat dirasakan para petani di sana. Saya harus bersyukur kepada wisatawan Chili yang memberikan informasi tempo hari bahwa kawasan wisata G. Bromo telah dibuka kembali saat ketemu di terminal Sukapura, Bondowoso sebelum saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan liburan kali ini.
Dua setengah jam perjalanan ke kawasan G. Bromo berhenti di pelataran warung dekat penginapan yang ditunjukkan sopir. Barang-barang bawaan kami cek sebelum kami bayar ongkos angkutan untuk memastikan bahwa tak ada barang yang tertinggal di mobil. Sementara anggota rombongan menunggu di warung, saya mencari penjaga losmen untuk bernegosiasi soal tarif menginap selama beberapa hari ke depan. Beberapa tempat yang ditunjukkan tergolong mahal terpaksa kami tolak untuk mencari tempat yang lebih ekonomis, sampai akhirnya kami sepakati menyewa dua kamar besar dengan bed ukuran keluarga.
Anak-anak mulai beradaptasi dengan keadaan. Meski cuaca agak cerah berawan, sore hari terasa dingin khas pegunungan. Bersih-bersih badan menjadi acara yang utama. Air bak melimpah dingin sampai ke tulang. Anak-anak belum berani mandi dengan air sedingin es itu. Mereka hanya cuci muka, gosok gigi dan ganti baju. Di smping kamar kami, juga menginap beberapa wisatawan asing. Mereka sesekali menyapa kami dan sedapat mungkin kami menanggapinya. Senja turun, saya dan anak sulung mencoba berkeliling menikmati suasana kampung penduduk sekitar penginapan. Hotel dan penginapan mulai ramai dikunjungi wisatawan ada yang diantar jemput, tetapi ada pula yang membawa mobil carteran atau mobil pribadi beragam merk dan plat kendaraan. Dari dinding timur kawasan lautan pasir Bromo, kami masih melihat samar-samar kepulan asap bercampur debu gunung membumbung setiap beberapa menit menandakan keaktifan magma di puncak. Sementara sekitar lembah pasir mulai tertutup kabut tipis. Cahaya matahari sore sempat menembus kabut menimbulkan bayangan yang tak terkatakan di mulut tapi dilihat dan dibatin saja. Begitulh fenomena alam selalu mengejutkan bagi orang yang mencintainya.
Ketika kami kembali ke penginapan, nasi goreng telah dipesan di warung terdekat untuk santap malam. Teh hangat dicampur jahe menjadi kawan makan hari ini. Fenomena unik penduduk di sini menghadapi dingin adalah tersedianya perapian arang bakar dan bahan bricket batubara di sebuah tungku kecil. Kaum muda-mudi yang asyik ngobrol di situ betah berkeliling perapian itu. Setelah makan dan membayar menu makan, kami kembali ke kamar penginapan. Kabut menambah dingin suhu di luar kamar. Dan kami segera menutup pintu kamar untuk mengurangi cuaca yang mulai mengganggu tubuh kami tanpa baju hangat dan selimut tebal. Untungnya pihak penginapan telah menyediakan bantal, guling, dan selimut standar bagi kami. Kami segera menyusun badan di atas kasur busa untuk beristirahat malam ini.
Hari masih pagi ketika ayam berkokok dan suara orang berjalan menyusur kabut pagi di pegunungan. Beberapa angkutan meraung-raung di tanjakan menuju kawasan lautan pasir. Bunyi sepatu kuda berjalan berirama semakin banyak terdengar. Dan kami bangun karena memang dingin semakin terasa. Mobil-mobil itu sebagian besar mengangkut wisatawan yang hendak menuju puncak panorama Pananjakan menyongsong fajar matahari 'sunrise' yang sangat fenomenal sedunia dari salah satu tujuan wisata dunia kawasan G. Bromo-Semeru ini. Mereka berangkat harus lebih pagi agar tak ketinggalan moment yang memang menawarkan daya tarik tersendiri sebagai paket unggulan di sini. Tentu saja anak-anak saya tak mau beringsut dari selimut dan tempat tidurnya. Biarlah mereka menikmati liburannya dengan caranya sendiri.
Pukul 05.30 cuaca cerah. Orang-orang sebagian pergi ke ladang. ada yang jalan kaki, ada yang naik motor, mobil modifikasi khas mengangkut hasil pertanian dengan bak terbuka, dan petani berkuda wisata. Saya ajak anak sulung untuk berkeliling kembali membiasakan suasana dingin dengan beraktivitas ringan. Meski sudah memakai jacket tebal, tetap saja udara dingin tak hilang dirasakan menyusup rongga dada juga bagian-bagian tubuh yang tak tertutupi. Dari tempat saya berdiri, matahari terbit terhalang beberapa punggungan puncak bukit sehingga tak sepenuhnya dapat diamati. Kami kembali ke penginapan untuk sarapan dan persiapan menuju puncak G. Bromo. Hebatnya lagi, anak-anak sangat bersemangat untuk jalan kaki menapaki lautan pasir dari Cemoro Lawang, meski beberapa tukang ojek menawarinya dengan tarif paling murah sekalipun. Kuda-kuda sewaan juga menawarkan jasanya mengikuti kami, namun tak ada yang berminat untuk menggunakannya. Ini patut dirayakan, karena mereka berarti ingin menguji kemampuan fisik dan menikmati panorama alam pegunungan yang memang jarang terjadi dalam kesehariannya dengan langkah kaki mereka sendiri. Saya bangga karenanya. Untuk sesaat kami berhenti untuk mengambil gambar sebelum melanjutkan perjalanan ke arah puncak. Langkah dan irama jalur terpisah membuat kami berpencar mengikuti irama kami dan kecepatan jelajah kaki bersama dengus napas serta keringat.
Gundukan pasir mulai ke arah tanjakan-tanjakan tak teratur. Wisatawan pengunjung semakin bergerombol di jalan menuju tangga puncak. Dan anakku yang kecil memutuskan berhenti untuk tidak melanjutkan ke puncak yang tinggal beberapa puluh meter di depan kami. Anggota keluarga yang lain sudah mulai menaiki tangga dan saya masih berusaha membujuk si kecil mengapa tidak mau ke puncak. Hujan abu tipis memang masih terasa setiap saat. Orang-orang yang turun dari puncak juga membawa abu vulkanik itu di sekujur tubuhnya meski sudah berbalut baju lengan panjag, jacket, topi maupun masker penutup hidung.
Saya harus menghormati keputusan anak saya yang kecil aga ego saya memahami karakter anak dengan benar. Bagi saya itu penting untuk mengukur perkembangan emosi anak dan orang lain yang ada bersama saya dalam perjalanan. Belakangan saya peroleh jawaban bahwa bayangan letusan G. Merapi 2010 yang ia saksikan di koran dan tv membuat bayangan yang sama baginya berbahaya bagi banyak nyawa.
Setelah yang lain turun dari puncak, saya masih berharap anak saya berubah ingin mencoba melihat ke puncak, tetapi ia tak bergeming dari keputusannya semula. Lalu kami turun melewati ceruk dan jalur tengah menuju pura pelataran Agung di lembah lautan pasir. Hampir semua bangunan pura tertutup lapisan debu vulkanik. Pintu gerbang pura juga terkunci rapat dengan gembok menggantung di engselnya. Kami hanya bisa menjenguk suasana dalam lewat celah yang dapat kami lihat. Tak lupa kami berfoto sejenak di sana. Si kecil tetap ingin jalan kaki sementara yang lain sudah menumpang mobil ranger perhutani keliling yang akan kembali ke pos Cemoro Lawang. Saya mengikuti langkah si kecil dari belakang dan memang dia tangguh dalam pendiriannya. Dia kuat berjalan di medan pasir. Bonusnya, setiba di taman Cemoro Lawang dia minta dua mangkok bakso ukuran sedang. Saya pun mengimbangi dengan menambah porsi pangsit yang renyah, jagung rebus yang masih hangat untuk mengisi perut lapar begitu cepat.
Tak banyak oleh-oleh yang kami beli di sini. Kami harus segera berkemas lagi siang ini untuk kembali ke Probolinggo dengan angkutan yang kemarin mengantar kami juga. Waktu penjemputan telah kami sepakati dan kami siap berangkat saat mobil itu tiba di depan warung. Ongkos penginapan kami beresi, kami pamit pada penjaga dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya selama menginap di sana. Pukul 12.30 mobil bergerak meninggalkan kawasan penginapan menuju kota transit Probolinggo. Sebagian dari kami menggunakan waktu ini untuk tidur. Ada juga wisatawan yang ikut mobil kami seorang musisi yang ramah dengan gitar akustik di tangan. Ia sangat menikmati liburannya. Kukira, ia memiliki komposisi lagu yang belum jadi dari objek Bromo. Semoga.
Dari Probolinggo, kami langsung menunggu angkutan bus umum di depan terminal agar dapat mengejar waktu kereta api dari stasiun Gubeng Surabaya. Suasana perjalanan yang panas dan gaduh di bus kelas ekonomi tak banyak kami nikmati. Beruntung anak saya tak mabuk di jalan. Tiba di terminal Surabaya, kami segera carter angkot/taxi ke stasiun. di stasiun ternyata ticket ekonomi sudah habis dan tinggal kelas eksekutif yang berlipat-lipat ongkos tarifnya selama musim liburan sekolah. Kami batalkan untuk naik kereta api dan kami cari angkot lagi untuk mengantarkan ke pool bus PATAS Surabaya-Jogja. Dengan seat terbatas, kami dapat berangkat ke Jogja dengan nyaman. Fasilitas bus PATAS cukup baik untuk ukuran perjalanan jauh. Di rumah makan yang ditentukan, kami dijamu makan gratis terkait harga tiket bus yang menjadi layanan armada ini. Menu nasi rawon khas Jawa Timur di Duta resto, Nganjuk kami santap dengan lahap.
Selanjutnya kami tidur sampai kernet membangunkan kami untuk bersiap turun memasuki kota Jogja kembali. Kami turun di bawah flyover Janti, lalu mencari taxi lokal untuk membawa kami kembali ke rumah ibu di Jalan Godean. Waktu telah larut malam saat kami beriringan masuk kampung Bener tempat transit bila kami berlibur ke Jogja. Ibu dan keluarga adikku memang tinggal di sini. Dan kami suka keramahtamahannya yang khas Jogja banget.
Baiklah saya mulai kelanjutan perjalanan lalu yang terputus itu.
Tiba di terminal Probolinggo masih cukup pagi untuk ukuran makan siang, kira-kira pukul 10.20 WIB. Kami turun di pintu masuk terminal karena ingin cepat beranjak ke tempat mangkal angkutan khusus jurusan Ngadisari, pintu masuk kawasan Taman Nasional Bromo-Semeru-Tengger. Di samping itu, anak saya yang kecil memang jago mabuk angkutan darat, khususnya bus umum yang berbahan bakar solar atau bensin. Baginya menjadi lebih banyak waktu untuk pemulihan fisik yang terkuras selama perjalanan sebelumnya. Warung makan menjadi sasaran kami istirahat sejenak. Setelah pesan sajian makan dan minum sesuai selera masing-masing, saya mencari kernet dan sopir yang memang sudah standby di depan warung karena warung makan persis berada di pinggir jalan raya antarprovinsi. Dua orang wisatawan asing sudah berada di dalam L300 warna hijau army. Setelah nego harga disepakati, barang-barang bawaan kami langsung dimasukkan bagasi oleh sang kernet. Kami kembali menghabiskan menu sarapan dan es dogan kopyor hingga tuntas.
Beberapa penumpang tambahan juga sudah masuk angkutan, dan sopir siap memberangkatkan kami ke arah tujuan. Bersama kami ada seorang ibu mendampingi putrinya yang masih duduk di kelas 3 SD sangat ramah untuk diajak ngobrol. Anak saya yang kecil juga melupakan mabuk dengan ngobrol bersama putrinya yang baru dikenalnya. Dunia anak memang lebih polos dalam bergaul. Hujan sempat turun sepanjang perjalanan, hingga udara di dalam angkutan menjadi pengap. Sesekali air menggenang di jalan harus dilalui sehingga menimbulkan bunyi ombak. Satu demi satu penumpang turun dan ada yang naik menggantikannya sampai jalur menanjak mendekati Ngadisari. Sisa debu vulkanik menumpuk di mana-mana. Puing kehancuran alam masih teronggok di lereng dan lembah. Bencana masih terasa dekat dirasakan para petani di sana. Saya harus bersyukur kepada wisatawan Chili yang memberikan informasi tempo hari bahwa kawasan wisata G. Bromo telah dibuka kembali saat ketemu di terminal Sukapura, Bondowoso sebelum saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan liburan kali ini.
Dua setengah jam perjalanan ke kawasan G. Bromo berhenti di pelataran warung dekat penginapan yang ditunjukkan sopir. Barang-barang bawaan kami cek sebelum kami bayar ongkos angkutan untuk memastikan bahwa tak ada barang yang tertinggal di mobil. Sementara anggota rombongan menunggu di warung, saya mencari penjaga losmen untuk bernegosiasi soal tarif menginap selama beberapa hari ke depan. Beberapa tempat yang ditunjukkan tergolong mahal terpaksa kami tolak untuk mencari tempat yang lebih ekonomis, sampai akhirnya kami sepakati menyewa dua kamar besar dengan bed ukuran keluarga.
Anak-anak mulai beradaptasi dengan keadaan. Meski cuaca agak cerah berawan, sore hari terasa dingin khas pegunungan. Bersih-bersih badan menjadi acara yang utama. Air bak melimpah dingin sampai ke tulang. Anak-anak belum berani mandi dengan air sedingin es itu. Mereka hanya cuci muka, gosok gigi dan ganti baju. Di smping kamar kami, juga menginap beberapa wisatawan asing. Mereka sesekali menyapa kami dan sedapat mungkin kami menanggapinya. Senja turun, saya dan anak sulung mencoba berkeliling menikmati suasana kampung penduduk sekitar penginapan. Hotel dan penginapan mulai ramai dikunjungi wisatawan ada yang diantar jemput, tetapi ada pula yang membawa mobil carteran atau mobil pribadi beragam merk dan plat kendaraan. Dari dinding timur kawasan lautan pasir Bromo, kami masih melihat samar-samar kepulan asap bercampur debu gunung membumbung setiap beberapa menit menandakan keaktifan magma di puncak. Sementara sekitar lembah pasir mulai tertutup kabut tipis. Cahaya matahari sore sempat menembus kabut menimbulkan bayangan yang tak terkatakan di mulut tapi dilihat dan dibatin saja. Begitulh fenomena alam selalu mengejutkan bagi orang yang mencintainya.
Ketika kami kembali ke penginapan, nasi goreng telah dipesan di warung terdekat untuk santap malam. Teh hangat dicampur jahe menjadi kawan makan hari ini. Fenomena unik penduduk di sini menghadapi dingin adalah tersedianya perapian arang bakar dan bahan bricket batubara di sebuah tungku kecil. Kaum muda-mudi yang asyik ngobrol di situ betah berkeliling perapian itu. Setelah makan dan membayar menu makan, kami kembali ke kamar penginapan. Kabut menambah dingin suhu di luar kamar. Dan kami segera menutup pintu kamar untuk mengurangi cuaca yang mulai mengganggu tubuh kami tanpa baju hangat dan selimut tebal. Untungnya pihak penginapan telah menyediakan bantal, guling, dan selimut standar bagi kami. Kami segera menyusun badan di atas kasur busa untuk beristirahat malam ini.
Hari masih pagi ketika ayam berkokok dan suara orang berjalan menyusur kabut pagi di pegunungan. Beberapa angkutan meraung-raung di tanjakan menuju kawasan lautan pasir. Bunyi sepatu kuda berjalan berirama semakin banyak terdengar. Dan kami bangun karena memang dingin semakin terasa. Mobil-mobil itu sebagian besar mengangkut wisatawan yang hendak menuju puncak panorama Pananjakan menyongsong fajar matahari 'sunrise' yang sangat fenomenal sedunia dari salah satu tujuan wisata dunia kawasan G. Bromo-Semeru ini. Mereka berangkat harus lebih pagi agar tak ketinggalan moment yang memang menawarkan daya tarik tersendiri sebagai paket unggulan di sini. Tentu saja anak-anak saya tak mau beringsut dari selimut dan tempat tidurnya. Biarlah mereka menikmati liburannya dengan caranya sendiri.
Pukul 05.30 cuaca cerah. Orang-orang sebagian pergi ke ladang. ada yang jalan kaki, ada yang naik motor, mobil modifikasi khas mengangkut hasil pertanian dengan bak terbuka, dan petani berkuda wisata. Saya ajak anak sulung untuk berkeliling kembali membiasakan suasana dingin dengan beraktivitas ringan. Meski sudah memakai jacket tebal, tetap saja udara dingin tak hilang dirasakan menyusup rongga dada juga bagian-bagian tubuh yang tak tertutupi. Dari tempat saya berdiri, matahari terbit terhalang beberapa punggungan puncak bukit sehingga tak sepenuhnya dapat diamati. Kami kembali ke penginapan untuk sarapan dan persiapan menuju puncak G. Bromo. Hebatnya lagi, anak-anak sangat bersemangat untuk jalan kaki menapaki lautan pasir dari Cemoro Lawang, meski beberapa tukang ojek menawarinya dengan tarif paling murah sekalipun. Kuda-kuda sewaan juga menawarkan jasanya mengikuti kami, namun tak ada yang berminat untuk menggunakannya. Ini patut dirayakan, karena mereka berarti ingin menguji kemampuan fisik dan menikmati panorama alam pegunungan yang memang jarang terjadi dalam kesehariannya dengan langkah kaki mereka sendiri. Saya bangga karenanya. Untuk sesaat kami berhenti untuk mengambil gambar sebelum melanjutkan perjalanan ke arah puncak. Langkah dan irama jalur terpisah membuat kami berpencar mengikuti irama kami dan kecepatan jelajah kaki bersama dengus napas serta keringat.
Gundukan pasir mulai ke arah tanjakan-tanjakan tak teratur. Wisatawan pengunjung semakin bergerombol di jalan menuju tangga puncak. Dan anakku yang kecil memutuskan berhenti untuk tidak melanjutkan ke puncak yang tinggal beberapa puluh meter di depan kami. Anggota keluarga yang lain sudah mulai menaiki tangga dan saya masih berusaha membujuk si kecil mengapa tidak mau ke puncak. Hujan abu tipis memang masih terasa setiap saat. Orang-orang yang turun dari puncak juga membawa abu vulkanik itu di sekujur tubuhnya meski sudah berbalut baju lengan panjag, jacket, topi maupun masker penutup hidung.
Saya harus menghormati keputusan anak saya yang kecil aga ego saya memahami karakter anak dengan benar. Bagi saya itu penting untuk mengukur perkembangan emosi anak dan orang lain yang ada bersama saya dalam perjalanan. Belakangan saya peroleh jawaban bahwa bayangan letusan G. Merapi 2010 yang ia saksikan di koran dan tv membuat bayangan yang sama baginya berbahaya bagi banyak nyawa.
Setelah yang lain turun dari puncak, saya masih berharap anak saya berubah ingin mencoba melihat ke puncak, tetapi ia tak bergeming dari keputusannya semula. Lalu kami turun melewati ceruk dan jalur tengah menuju pura pelataran Agung di lembah lautan pasir. Hampir semua bangunan pura tertutup lapisan debu vulkanik. Pintu gerbang pura juga terkunci rapat dengan gembok menggantung di engselnya. Kami hanya bisa menjenguk suasana dalam lewat celah yang dapat kami lihat. Tak lupa kami berfoto sejenak di sana. Si kecil tetap ingin jalan kaki sementara yang lain sudah menumpang mobil ranger perhutani keliling yang akan kembali ke pos Cemoro Lawang. Saya mengikuti langkah si kecil dari belakang dan memang dia tangguh dalam pendiriannya. Dia kuat berjalan di medan pasir. Bonusnya, setiba di taman Cemoro Lawang dia minta dua mangkok bakso ukuran sedang. Saya pun mengimbangi dengan menambah porsi pangsit yang renyah, jagung rebus yang masih hangat untuk mengisi perut lapar begitu cepat.
Tak banyak oleh-oleh yang kami beli di sini. Kami harus segera berkemas lagi siang ini untuk kembali ke Probolinggo dengan angkutan yang kemarin mengantar kami juga. Waktu penjemputan telah kami sepakati dan kami siap berangkat saat mobil itu tiba di depan warung. Ongkos penginapan kami beresi, kami pamit pada penjaga dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya selama menginap di sana. Pukul 12.30 mobil bergerak meninggalkan kawasan penginapan menuju kota transit Probolinggo. Sebagian dari kami menggunakan waktu ini untuk tidur. Ada juga wisatawan yang ikut mobil kami seorang musisi yang ramah dengan gitar akustik di tangan. Ia sangat menikmati liburannya. Kukira, ia memiliki komposisi lagu yang belum jadi dari objek Bromo. Semoga.
Dari Probolinggo, kami langsung menunggu angkutan bus umum di depan terminal agar dapat mengejar waktu kereta api dari stasiun Gubeng Surabaya. Suasana perjalanan yang panas dan gaduh di bus kelas ekonomi tak banyak kami nikmati. Beruntung anak saya tak mabuk di jalan. Tiba di terminal Surabaya, kami segera carter angkot/taxi ke stasiun. di stasiun ternyata ticket ekonomi sudah habis dan tinggal kelas eksekutif yang berlipat-lipat ongkos tarifnya selama musim liburan sekolah. Kami batalkan untuk naik kereta api dan kami cari angkot lagi untuk mengantarkan ke pool bus PATAS Surabaya-Jogja. Dengan seat terbatas, kami dapat berangkat ke Jogja dengan nyaman. Fasilitas bus PATAS cukup baik untuk ukuran perjalanan jauh. Di rumah makan yang ditentukan, kami dijamu makan gratis terkait harga tiket bus yang menjadi layanan armada ini. Menu nasi rawon khas Jawa Timur di Duta resto, Nganjuk kami santap dengan lahap.
Selanjutnya kami tidur sampai kernet membangunkan kami untuk bersiap turun memasuki kota Jogja kembali. Kami turun di bawah flyover Janti, lalu mencari taxi lokal untuk membawa kami kembali ke rumah ibu di Jalan Godean. Waktu telah larut malam saat kami beriringan masuk kampung Bener tempat transit bila kami berlibur ke Jogja. Ibu dan keluarga adikku memang tinggal di sini. Dan kami suka keramahtamahannya yang khas Jogja banget.
Komentar