Betapa tersentuh rasa hati saat me mbaca beberapa musibah yang menimpa para pendaki gunung, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Orang-orang yang memilih jalan kegemaran ke gunung-gunung tentu sadar risiko yang menghadang. Meminjam gagasan alm. Norman Edwin, bahwa bahaya di kegiatan alam bebas itu dapat dikategorikan bahaya objektif tak terhindarkan dan bahaya subjektif yang dapat diupayakan antisipasi dan penanganannya sebelumnya. Lebih lanjut, orang-orang yang menekuni olah raga berisiko tinggi ini terus-menerus perlu membina dan berlatih diri untuk meminimalkan bahaya objektif menjadi bahaya subjektif.
Secara individual apalagi kelompok perlu memiliki standar prosedur 'aman' dalam merancang, melaksanakan, serta mempertanggungjawabkan petualangannya. Ada perbedaan mendasar antara kegiatan yang rekreatif belaka dengan petualangan untuk mengembangkan potensi humanitas yang lebih teruji mental, fisik, spiritual, emosional, dan penghayatan hidup yang ramah lingkungan.
Pengalaman jelajah ke gunung-gunung memang akan terasa 'sukses' bila mampu menggapai puncak tertingginya. Akan tetapi siapkah kita bila suatu kali dengan berbagai pertimbangan, harus 'mengalah' untuk tidak harus sampai ke puncak demi tanggung jawab yang lebih besar bernama 'keselamatan' itu sendiri. Pasti ada rasa kecewa di sana, lokasi impian yang tinggal beberapa langkah digapai harus rela dilepaskan untuk jangka waktu yang akan datang dalam hitungan detik sebelum risiko fatal menimpa.
Tak ayal saya sering harus meyakinkan pihak lembaga penyantun dana kegiatan manakala mereka menuntut imbal jasa dengan sekian bukti prestasi yang terukur seperti juara, hadiah uang ataupun piala yang harus kami bawa sebagai bukti bahwa kami berprestasi nyata dalam kegiatan.
Dengan keyakinan bukan piala, melainkan 'kembali dalam keadaan selamat'-lah kami pelan-pelan menunjukkan eksistensi kegiatan alam bebas ke gunung itu masih dalam lindungan Yang Maha Esa. Menghormati masyarakat setempat dengan adat istiadat yang barangkali berbeda dengan pemahaman kita sendiri. Dari situlah, makna belajar untuk hidup itu dikembangkan sebagaimana ungkapan dalam bahasa Latin yang berbunyi "Non scholae set vitae discimus" (kita belajar bukan untuk sekolah melainkan untuk hidup).
Nikmatilah alam ciptaan-Nya dan pujilah Dia yang telah menciptakannya untuk masa yang diberikan-Nya. Salam Gunung.
Secara individual apalagi kelompok perlu memiliki standar prosedur 'aman' dalam merancang, melaksanakan, serta mempertanggungjawabkan petualangannya. Ada perbedaan mendasar antara kegiatan yang rekreatif belaka dengan petualangan untuk mengembangkan potensi humanitas yang lebih teruji mental, fisik, spiritual, emosional, dan penghayatan hidup yang ramah lingkungan.
Pengalaman jelajah ke gunung-gunung memang akan terasa 'sukses' bila mampu menggapai puncak tertingginya. Akan tetapi siapkah kita bila suatu kali dengan berbagai pertimbangan, harus 'mengalah' untuk tidak harus sampai ke puncak demi tanggung jawab yang lebih besar bernama 'keselamatan' itu sendiri. Pasti ada rasa kecewa di sana, lokasi impian yang tinggal beberapa langkah digapai harus rela dilepaskan untuk jangka waktu yang akan datang dalam hitungan detik sebelum risiko fatal menimpa.
Tak ayal saya sering harus meyakinkan pihak lembaga penyantun dana kegiatan manakala mereka menuntut imbal jasa dengan sekian bukti prestasi yang terukur seperti juara, hadiah uang ataupun piala yang harus kami bawa sebagai bukti bahwa kami berprestasi nyata dalam kegiatan.
Dengan keyakinan bukan piala, melainkan 'kembali dalam keadaan selamat'-lah kami pelan-pelan menunjukkan eksistensi kegiatan alam bebas ke gunung itu masih dalam lindungan Yang Maha Esa. Menghormati masyarakat setempat dengan adat istiadat yang barangkali berbeda dengan pemahaman kita sendiri. Dari situlah, makna belajar untuk hidup itu dikembangkan sebagaimana ungkapan dalam bahasa Latin yang berbunyi "Non scholae set vitae discimus" (kita belajar bukan untuk sekolah melainkan untuk hidup).
Nikmatilah alam ciptaan-Nya dan pujilah Dia yang telah menciptakannya untuk masa yang diberikan-Nya. Salam Gunung.
Komentar